Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Zoya, apa yang kamu lakukan?”
Suara Reno terdengar berat saat melihat Zidan menangis sesegukan di pangkuan Zoya. Namun jelas, emosi lelaki itu bukan semata karena tangisan anaknya, melainkan karena fakta yang baru saja ia ketahui di rumah sakit.
Zoya yang beberapa menit lalu sempat membentak dan mengancam Zidan agar diam buru-buru mengusap punggung anak itu pelan, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Zidan ngantuk, Ren,” ucapnya berusaha terdengar tenang. “Dia pengen tidur.”
Reno mengembuskan napas kasar sambil menyugar rambutnya ke belakang dengan jemarinya. Rahangnya tampak mengeras sejak tadi.
“Tidurin Zidan dulu,” katanya singkat. “Ada yang perlu aku bicarakan sama kamu.”
Nada bicara Reno membuat dada Zoya langsung terasa tidak nyaman. Gerak-gerik lelaki itu terlalu berbeda dari biasanya. Tatapannya dingin, sementara ekspresinya terlihat seperti seseorang yang sedang menahan amarah besar.
Zoya tahu, Reno pasti sudah mengetahui sesuatu. Akhirnya wanita itu hanya mengangguk pelan lalu membawa Zidan masuk ke kamar. Butuh beberapa menit sampai tangisan anak itu mereda dan tertidur karena kelelahan. Saat kembali ke ruang tengah, langkah Zoya terasa berat.
“Ren…” panggilnya pelan.
Reno masih duduk di sofa dengan posisi yang sama. Namun caranya diam justru terasa mengintimidasi. Bukan seperti seseorang yang sedang menunggu penjelasan, melainkan seperti hakim yang sudah siap menjatuhkan vonis.
Tatapan tajam Reno langsung terangkat ke arah Zoya. “Ada yang perlu kamu katakan?”
Zoya menelan ludah susah payah. “Aku—”
“Ingat, Zoya,” potong Reno cepat dengan suara rendah penuh tekanan. “Aku cuma kasih satu kali kesempatan. Jadi jangan muter-muter.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Zoya tanpa berkedip. “Karena kalau kamu masih bohong…” rahangnya mengeras. “Kamu tahu aku bisa lebih gila dari ini.”
Ucapan itu sukses membuat wajah Zoya memucat. Ia paham betul bagaimana sifat Reno sebenarnya. Lelaki itu memang mudah meledak, posesif, dan sangat sulit mengendalikan emosi ketika dikhianati. Dulu, saat bisnis Reno hampir bangkrut dan hidup mereka berantakan, Zoya memilih pergi setelah melahirkan karena tidak sanggup hidup susah bersama lelaki itu.
Namun empat tahun berlalu, semuanya berubah. Reno yang dulu terpuruk kini berhasil bangkit dan membangun bisnis arsitektur serta konstruksi yang berkembang pesat. Meski cabangnya belum tersebar luas, penghasilannya lebih dari cukup untuk hidup nyaman, itulah alasan Zoya mati-matian kembali.
Awalnya ia datang dengan dalih ingin menebus kesalahan pada Zidan. Namun jauh di dalam hatinya, ia juga tidak ingin kehilangan kehidupan nyaman yang kini dimiliki Reno.
Zoya langsung menunduk. Jantungnya berdegup tidak karuan melihat tatapan Reno yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi sorot lembut ataupun rasa khawatir seperti yang selalu lelaki itu tunjukkan padanya beberapa minggu terakhir. Yang ada sekarang hanya kemarahan yang ditahan mati-matian.
“Aku bisa jelasin semuanya, Ren…” ucap Zoya pelan mencoba mencari celah.
Namun Reno justru tertawa hambar sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Jelasin?” ulangnya lirih. “Kamu mau jelasin bagian mana dulu? Bagian waktu kamu bohong soal kondisi Zidan, atau bagian waktu kamu nyuap asisten dokter buat nyalahin Inara?”
Tubuh Zoya langsung menegang. Jadi benar… Reno sudah tahu semuanya?
“Aku ngelakuin itu karena aku takut kehilangan kamu,” ucapnya cepat. “Aku cuma pengen kita balik seperti dulu, Ren.”
“Dengan cara menghancurin Inara?” potong Reno tajam.
Zoya langsung terdiam.
Reno mengusap wajahnya kasar sebelum kembali menatap wanita itu penuh tekanan.
“Kamu tahu apa yang aku lakuin ke Inara gara-gara semua kebohongan itu?” tanyanya dengan suara rendah. “Aku nuduh dia, bentak dia, bahkan nampar dia tanpa kasih kesempatan buat jelasin apa pun.”
Napas Zoya mulai tidak teratur.
“Aku gak bermaksud sejauh itu…”
“Tapi kamu nikmatin waktu aku terus nyalahin dia, kan?” sahut Reno cepat. “Kamu diam aja lihat aku makin benci sama perempuan yang justru jagain anakku semalaman.”
Zoya mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Karena selama ini yang selalu ada di hati kamu cuma dia!” balasnya mulai kehilangan kendali. “Aku ini ibu kandung Zidan, Ren! Tapi tiap ada apa-apa kamu lebih percaya sama Inara!”
Reno langsung bangkit dari duduknya. “Karena dia pantas dipercaya!” bentaknya.
Zoya sampai mundur selangkah karena kaget melihat ledakan emosi Reno.
“Dia yang jagain Zidan waktu sakit! Dia yang gak tidur semalaman! Sementara kamu?” Reno tertawa sinis penuh amarah. “Kamu malah pergi spa!”
“Aku capek!” teriak Zoya tak kalah emosi. “Aku baru balik dan harus ngurus semuanya sendiri!”
“Dan Inara udah ngelakuin itu selama empat tahun tanpa ngeluh!” Kalimat Reno langsung membuat rumah mendadak hening.
Zoya menatap Reno dengan mata memerah. Baru kali ini lelaki itu benar-benar membela Inara di depannya tanpa ragu sedikit pun.
Sementara Reno sendiri kini mulai sadar betapa besar pengorbanan wanita yang selama ini justru terus ia sakiti.
“Empat tahun…” gumamnya lirih penuh penyesalan. “Dia jagain anakku, sayang sama anakku, bahkan lebih peduli dibanding ibu kandungnya sendiri.”
Zoya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
“Aku cuma pengen keluarga aku balik lagi…”
“Keluarga?” Reno tertawa hambar. “Kamu ninggalin aku sama Zidan waktu aku jatuh, Zo. Kamu pergi saat aku bahkan hampir bangkrut.”
Zoya langsung memucat.
“Dan sekarang waktu hidupku udah enak, kamu datang sambil bawa semua kekacauan ini.”
“Bukan gitu—”
“Cukup!” bentak Reno lagi.
Reno menatap wanita itu lama sekali sebelum akhirnya berkata dengan suara lebih rendah, tetapi justru terdengar lebih mengerikan.
“Aku bisa maafin banyak hal, Zoya. Tapi bukan kalau itu menyangkut anakku… dan bukan kalau kamu sengaja menghancurin orang yang tulus sama Zidan.”
Suara Reno yang meninggi tadi sempat membuat Zoya diam. Namun tidak lama kemudian wanita itu justru tertawa pelan dengan wajah hambar berbeda jauh dengan sebelumnya.
“Ren,” ucapnya sambil menatap Reno lurus, “kamu ngomong kayak semua ini salah aku.”
Mata Reno langsung menyipit. “Bukannya memang begitu?”
“Enggak.” Zoya menggeleng pelan. “Yang bikin hubungan kalian hancur itu bukan aku, tapi kamu sendiri.”
Reno langsung berdiri dari duduknya. “Zoya!”
“Apa?” sahut wanita itu tanpa takut. “Aku memang nutupin beberapa hal, tapi siapa yang selalu ada di pihakku tanpa mikir perasaan Inara? Kamu, Ren.”
Reno terdiam sesaat.
“Kalau aja dari awal kamu mau denger penjelasan Inara, apa mungkin semuanya bakal sejauh ini?” lanjut Zoya dengan nada tenang. “Aku gak pernah maksa kamu buat marahin dia.”
Rahang Reno mengeras. Ia ingin membantah, tetapi ucapan itu justru terasa menampar dirinya sendiri. Karena kenyataannya memang begitu. Ia terlalu sibuk percaya pada emosinya sendiri sampai tidak pernah benar-benar mencari tahu kebenaran.
Zoya kemudian melipat kedua tangannya di dada. “Dan sekarang semuanya juga udah terlambat.”
“Apa maksud kamu?”
“Zidan.” Zoya menatap Reno lekat. “Sekarang dia lebih dekat sama aku.”
Suasana mendadak hening.
“Kalau kamu mau nyalahin aku terus juga silakan,” lanjutnya lagi. “Tapi jangan lupa, aku ibu kandungnya. Kalau memang harus, kita bisa urus semuanya lewat pengadilan.”
Tatapan Reno langsung berubah dingin.
Sementara Zoya memilih membuang muka lebih dulu. Meski terlihat tenang, sebenarnya jantungnya berdetak kencang karena sadar Reno bukan tipe lelaki yang akan diam setelah mengetahui semua fakta ini.