Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Masa Lalu
Foto itu jatuh dari sela-sela buku. Zahra sedang di ruang baca, bukan untuk membaca, tapi nyari referensi tambahan untuk skripsinya. Di antara koleksi buku Rafandra yang ternyata lumayan relevan untuk penelitiannya. Waktu ia menarik satu buku tebal dari rak, sesuatu meluncur keluar dan jatuh ke lantai.
Foto. Ukuran postcard. Sudah menguning di pinggirnya. Zahra mengambilnya. Dua orang laki-laki sama-sama muda, mungkin akhir dua puluhan. Berdiri di depan sebuah gedung, tertawa. Bukan senyum tipis atau ekspresi formal, tapi tertawa sungguhan, jenis yang bikin mata ikut melengkung.
Yang kiri Zahra tidak kenal. Yang kanan Zahra kenal. Lebih muda, tanpa garis-garis tegas yang sekarang ada di wajahnya, tapi tidak bisa salah.
Rafandra. Dan di sampingnya, lengan merangkul bahunya dengan cara yang sangat akrab, pria yang setelah Zahra perhatikan lebih lama, wajahnya agak familiar dengan cara yang tidak langsung bisa dia identifikasi.
Zahra membalik foto itu. Tulisan tangan di belakang, bukan tulisan Rafandra yang rapi, tapi tulisan yang lebih bulat, lebih bebas:
Rafa & Hendra — Jakarta, 2009.
Zahra membeku.
Hendra. Nama ayahnya.
.
.
.
Tangannya tidak gemetar waktu dia turun ke lantai satu. Tapi langkahnya lebih cepat dari biasanya. Rafandra ada di studio pintu setengah terbuka. Zahra mengetuk sekali lalu masuk tanpa menunggu jawaban.
Rafandra menoleh, ekspresinya siap untuk percakapan biasa, sampai dia melihat apa yang ada di tangan Zahra.
Sesuatu di matanya berubah.
"Ini Papa gue." Zahra meletakkan foto itu di meja di depannya. Bukan pertanyaan. "Di foto ini. Sama Om rafa. Tahun 2009."
Rafandra menatap foto itu. Ia takmenjawab langsung.
"Om Rafa." Suara Zahra turun. "Gue butuh penjelasan. Jangan diem aja!."
"Dari mana kamu menemukan ini?"
"Dari buku di ruang baca." Zahra menarik kursi, duduk di depan mejanya, bukan di sofa sudut seperti biasanya. Tapi tepat di depan Rafandra. "Tahun 2009 gue masih sembilan tahun. Om sudah kenal Papa gue dari segitu lamanya?"
Rafandra menutup laptopnya.
"Aku mengenal ayahmu sejak 2006," katanya akhirnya.
Zahra diam. Menghitung. "Om waktu itu dua puluh tahun?"
"Dua puluh satu."
"Dan Papa waktu itu..."
"Tiga puluh delapan." Rafandra menatap Zahra. "Usia yang sama denganku sekarang."
Sesuatu yang dingin merayap di punggung Zahra.
"Kalian kenal di mana?"
"Bisnis." Rafandra memilih kata-katanya. "Ayahku yang memperkenalkan. Mereka menjadi mitra, lalu lebih dari sekadar mitra."
"Sahabat?"
"Ya."
Zahra menatap foto itu lagi. Ayahnya yang tertawa bebas, tanpa beban, dengan tangan di bahu pemuda yang sekarang duduk di depannya sekarang sebagai suaminya.
"Om dekat sama Papa?"
Hening sebentar.
"Cukup dekat," jawab Rafandra. Hati-hati.
"Cukup dekat artinya?"
Rafandra menatapnya dengan ekspresi yang lebih terbuka dari biasanya. Seperti sedang mempertimbangkan seberapa jauh ia akan cerita.
"Ayahmu yang pertama tahu waktu ayahku sakit," katanya akhirnya. "Dia yang menemani selama pengobatan. Waktu ayahku meninggal, ayahmu yang mengurus pemakamannya. Semua."
Zahra menarik napas pelan. "Papa nggak pernah cerita ini."
"Jadi...kesepakatan antara dua keluarga itu," kata Zahra pelan. "Itu muncul kapan?"
"Sebelum ayahku meninggal." Rafandra menatap meja sebentar. "Dia yang memulainya. Bukan sebagai transaksi bisnis, lebih sebagai... harapan. Bahwa dua keluarga ini akan tetap menjalin silatirahmi yang baik."
"Dengan cara menikahkan anaknya."
"Dengan cara apapun yang terasa tepat waktu itu." Rafandra mendongak. "Aku waktu itu dua puluh enam. Kamu baru empat belas."
Zahra menghitung lagi. "Om tau soal gue dari waktu itu?"
"Aku tahu kamu ada." Rafandra memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Tapi bukan seperti yang mungkin kamu pikirkan."
"Terus seperti apa?"
Rafandra tidak langsung menjawab.
"Ayahku minta aku menjaga keluarga Hendra," katanya akhirnya. "Itu yang aku lakukan. Dari jarak yang wajar, selama bertahun-tahun. Sampai situasinya berubah dan jarak itu tidak lagi cukup."
Zahra menatapnya lama. Menjaga keluarga Hendra. Dari jarak yang wajar? Selama bertahun-tahun!
"Om pernah ketemu gue?" tanya Zahra. "Sebelum semua ini. Secara langsung."
Rafandra diam terlalu lama untuk artinya tidak.
"Kapan?" suara Zahra lebih pelan.
"Beberapa kali." Rafandra menatap tangannya sendiri. "Waktu kamu masih kecil, kamu tidak ingat aku. Aku hanya salah satu dari banyak tamu yang datang ke rumahmu."
Zahra mengingat-ingat, foto-foto lebaran, orang-orang dewasa yang datang dan pergi yang wajahnya tidak dia hafal karena waktu itu yang penting adalah kue dan THR.
"Setelah itu?"
"Setelah itu aku menjaga jarak." Suaranya datar tapi ada sesuatu di baliknya. "Karena tidak pantas."
Ruangan itu sunyi.
Zahra menatap foto yang masih ada di meja, ayahnya yang tertawa, Rafandra muda yang tertawa, tahun 2009 yang terasa seperti dunia lain.
"Om seharusnya kasih tau gue Dari awal," kata Zahra.
"Ya."
"Kenapa nggak?"
Rafandra menatapnya.
"Karena aku tidak tahu bagaimana caranya." Jujur, jenis kejujuran yang terdengar seperti sesuatu yang jarang dia keluarkan. "Semua yang berkaitan dengan ini... tidak mudah untuk disampaikan."
Zahra mengangguk pelan. Mengambil foto itu dari meja. Melihatnya sekali lagi.
"Om kangen Papa gue?" tanya Zahra tiba-tiba dan ia sendiri tidak tahu dari mana pertanyaan itu datang.
Rafandra diam.bLama sekali.
"Ya," katanya akhirnya. Satu kata yang terdengar seperti pintu yang sudah lama tertutup, terbuka sedikit.
Zahra meletakkan foto itu kembali ke meja, tapi tidak mendorongnya kembali ke Rafandra.
Membiarkannya di tengah. Di antara mereka berdua.
"Gue minta foto ini ya," kata Zahra. "Gue mau tunjukin ke Papa kalau ketemu nanti."
Rafandra menatap foto itu. Lalu mengangguk. Zahra berdiri, mengambil foto itu, berjalan ke pintu.
"Om Rafa."
"Hmm?"
"Terima kasih udah jawab pertanyaan zahra." Zahra berhenti di ambang pintu.
Rafandra tidak menjawab. Tapi waktu Zahra melangkah keluar dan melirik sekilas ke belakang ada sesuatu di wajah pria itu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bukan ketenangan. Atau kehangatan.
Sesuatu di antaranya seperti seseorang yang sudah lama memikull beban yang berat dan baru saja diizinkan untuk menurunkannya, meski hanya sedikit.
Zahra berjalan ke tangga dengan foto itu di tangannya, untuk pertama kali, ia tidak merasa seperti orang asing yang kebetulan tinggal di rumah ini.
Ia merasa seperti seseorang yang baru saja menemukan satu lagi keping dari puzzle besar yang belum selesai dan keping itu, entah kenapa terasa seperti miliknya juga.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼