Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Dasar laki - laki tidak tahu malu, mengakui yang bukan milik nya!" Ujar Arini dengan geram.
"Apa maksud mu? Dan kau siapa? Kenapa kau ikut campur urusan keluarga ku!" Mama Wina maju dan membela putra nya.
"Dasar mertua dan suami Zalim, enak saja mengakui mobil Maira sebagai mobil nya. Dengar ya kalian semua, dulu sebelum menikah dengan putra mu, Maira bekerja keras untuk bisa membeli mobil itu dengan hasil kerja keras nya sendiri. Dan sekarang enak saja kalian mengakui itu mobil nya Azam, dasar orang stres!" Arini berkata sambil mengarah kan telunjuk nya ke wajah Mama Wina.
Mama Wina dan Nia kaget mendengar nya, pandangan kedua nya bertemu seakan memberi kode.
"Azam, benar kah semua yang di katakan oleh wanita itu?" Tanya Mama Wina pada Azam.
"Katakan mas pada mereka siapa pemilik mobil itu yang sebenar nya!" Maira berkata sambil tangan bersedekap di dada.
"I,,, itu, Ma!" Azam tampak gugup.
"Katakan Zam, bahwa mobil itu milik mu!" Bentak Mama Wina.
"Mobil itu memang milik Maira Ma, dia membeli nya sebelum menikah dengan ku!" Azam berkata dengan nada lirih.
Seketika Mama Wina dan Nia langsung terperangah, selama ini mereka mengira bahwa Azam lah pemilik mobil itu. Tapi hari ini mereka tahu kenyataan nya bahwa Maira lah pemilik yang sebenar nya.
"Walaupun Maira yang membeli nya, tetap saja Azam punya hak. Azam adalah suami nya Maira, dan apapun yang menjadi milik nya Maira juga milik nya Azam!" Mama Wina berkata dengan cepat.
"Belajar dari mana Mama jika harta istri juga milik suami?" Tanya Maira dengan nada mengejek.
Wajah Maam Wina langsung memerah, hari ini Maira berhasil mempermalukan nya di depan Nia. Dia selama ini mengakui bahwa Azam lah pemilik mobil itu.
"Mai, apakah benar mobil itu sudah kamu jual?" Tanya Azam lagi, tapi kali ini nada suara nya menjadi lebih lembut.
"Benar, lalu kau mau apa Mas?" Tanya Maira singkat.
"Kalau benar begitu, uang nya berikan sama Mas. Biar mas bisa beli mobil lain, mobil second juga tidak papa!" Azam menadahkan tangan nya dengan tidak tahu malu.
"Mas, kalau kamu mau beli mobil gunakan uang mu sendiri. Bukan nya kamu seorang manager ya? Tentu saja gaji nya besar dong!" Ejek Maira lagi.
Azam menggaruk kepala nya yang tidak gatal, di depan keluarga nya dia memang mengaku bahwa dia adalah seorang manager. Tapi pada kenyataannya dia bukan lah seorang manager, dia adalah staf biasa.
"Rin, makasih ya kamu udah anterin aku pulang!" Maira berkata pada Arini.
"Sama - sama Mai, ya udah deh aku pamit pulang dulu. Kamu juga diri baik - baik ya, kasih tahi aku jika kau butuh bantuan!" Arini berkata sambil menepuk bahu Maira.
Arini lalu segera pergi dari rumah nya Maira, Maira langsung masuk ke dalam rumah setelah Arini pergi.
"Maira, di mana uang hasil penjualan mobil itu? Berikan pada Mama, biar Mama yang simpan!" Mama Wina langsung menodong kan tangan nya di hadapan Maira.
"Ma, udah aku bilang kan, itu mobil ku dan uang nya juga milik ku. Jika Mama butuh uang aa busa minta sama putra Mama sendiri, atau mbak Nia!" Jawab Maira dengan tegas.
"Maira, jangan lupa aku ini adalah mertua mu. Aku lah yang mengatur semua keuangan di rumah ini!" Mama Wina tetap bersikeras mengingin kan uang itu.
"Silahkan Ma, tapi uang nya bisa Mama minta sama mas Azam. Kan dia adalah kepala keluarga di rumah ini!" Jawab Maira lagi.
Maira tidak ingin berdebat dengan Mama Wina lebih jauh, dia memilih untuk masuk ke dlam kamar nya. Sebentar lagi waktu magrib akan tiba, Maira segera membersihkan diri untuk melaksanakan kewajiban nya.
Maira sudah memutuskan kan, dia tidak akan membiarkan diri nya di manfaatkan lagi oleh suami dan juga keluarga nya. Sudah cukup selama 5 tahun Maira mengalah, bahkan Maira mengikuti keinginan suami nya untuk minum obat kontrasepsi demi bisa mengurus Ayu.
'Terima kasih mas kau sudah meminta ku menunda kehamilan ku, jadi akan lebih mudah bagi ku untuk berpisah dengan ku kelak jika kau benar - benar menikahi Mbak Nia!' Batin Nia sambil berendam di dalam bath up.
Adzan magrib sudah berkumandang, Maira segera menyudahi acara mandi nya. Dia tidak ingin terlambat sholat magrib, Maira sholat di dalam kamar nya sendirian. Maira tidak melihat keberadaan suami nya, mungkin dia sedang berkumpul bersama Mama nya dan juga Nia.
Pintu kamar terbuka ketika Maira sudah selesai sholat magrib, Azam masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di tepi tempat tidur.
"Dek, mas mau bicara sama kamu!" Azam berkata dengan nada yang begitu lembut.
Maira sudah bisa menebak apa yang di bicarakan oleh Azam pada nya, karena jika tidak ada mau nya maka Azam pasti akan bersikap dingin pada nya.
"Katakan Mas!" Jawab Maira sambil melipat mukena nya.
"Dek, bagai mana kalau kita beli mobil lain. Kan jika kita punya mobil lebih mudah bagi kita intuk bekerja. Mas bisa mengantar dan menjemput mu, seperti biasa nya!" Azam mulai membujuk Maira lagi.
"Mas, untuk saat ini aku belum butuh mobil. Aku nisa naik ojek online jika mau ka kantor, atau jika memamg ingin naik mobil aku nisa pesan taksi online saja!" Maira menolak keinginan suami nya.
"Ya udah kalau memang kamu tidak mau beli mobil, mas minta sama kamu berikan sebagian uang nya sama Mama. Kan bulan ini kamu belum memberikan uang sama Mama, Lara dan juga Nia!" Azam kembali berkata.
"Mas, dari awal kan aku udah bilang, mereka semua bukan tanggung jawab ku. Dan aku sudah memutuskan aku mengembalikan semua tanggung jawab di rumah ini pada mu, termasuk semua kebutuhan mereka!" Maira mengingat kan kembali ucapan nya bebrapa hari yang lalu.
"Mai, kau benar - benar keterlaluan Mai. Kau berbeda dari Nia, dia begitu baik nya pada ibu. Wajar saja ibu tidak menyukai mu!" Azam bicara dengan nada tinggi.
Karena gagal membujuk Maira, Azam pun akhir nya pergi dari kamar nya mereka.
Braaakkkkk.
Suara pintu yang di banting oleh Azam membuat Maira terlonjak kaget.
"Astagfirullah hal adzim, dasar manusia tidak tahu diri!" Gumam Maira sambil mengelus dada nya.
Kini Maira tahu seperti apa sifat suami nya yang sebenar nya, belum satu bulan Maira menghentikan aliran dana untuk keluarga nya. Azam sudah menunjuk kan kemarahan dan kekecewaan nya, lalu bagai mana dengan diri nya yang tidak pernah di berikan nafkah oleh suami nya itu selama bertahun - tahun.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH