Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : Di balik Punggung
Aku berjalan gontai menjauhi gerbang sekolah. Suara knalpot motor Luq perlahan menjauh, membuat hatiku mencelos. Aku benar-benar sendirian sekarang. Ejekan Rizkia tadi masih berdengung di telingaku, membuat langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Namun, saat Pulang sekolah Aku baru saja sampai di tikungan jalan, suara deru mesin yang sangat kukenal berhenti tepat di sampingku. Aku menoleh. Luq ada di sana, mematikan mesin motornya di pinggir jalan yang sepi. Dia tidak pergi. Dia menungguku.
"Naik," katanya singkat, tanpa menoleh.
"Hah?" aku mengerjap, bingung. "Tadi katanya Kakak ada urusan?"
Luq menoleh sedikit, menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan—masih ada sisa-sisa amarah karena kejadian di depan gerbang tadi. "Urusan gue sekarang cuma memastikan kamu sampai rumah dengan selamat. Buruan naik, keburu sore."
Aku tidak membantah. Dengan tangan yang masih gemetar, aku naik ke boncengannya. Kali ini, aku tidak menjaga jarak. Aku memegang ujung jaketnya—sebuah gerakan refleks yang membuatku merutuki diri sendiri. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya ada suara angin dan deru motor. Tapi, suasana kali ini terasa lebih berat.
"Kenapa Kakak lakuin itu?" tanyaku akhirnya, memecah keheningan saat kami terjebak lampu merah. Suaraku nyaris hilang tertiup angin.
"Lakuin apa?" tanya Luq balik.
"Bela aku di depan Rizkia. Kakak nggak perlu repot-repot. Aku bisa handle sendiri."
Luq menarik napas panjang. Dia mematikan mesin motornya sejenak. "Rea, denger ya. kamu pikir gue peduli karena kamu adiknya Hazel? Enggak."
DEGG!
Jantungku berdegup kencang. "Lalu karena apa?"
"Gue peduli karena kamu Rea. Karena dari dulu gue liat kamu itu anak yang rajin, anak yang punya mimpi, dan anak yang berani jujur sama diri sendiri. Gue nggak suka liat orang-orang kayak mereka ngerusak kepercayaan diri kamu."
Kata-katanya seperti es yang mencairkan kecemasanku. Dia mengenalku. Dia melihatku sebagai Rea, bukan hanya sebagai "adik dari temannya."
"Tapi, Kak..." suaraku bergetar. "Aku cuma anak SMP yang nggak tahu apa-apa. Rizkia bener, duniaku sama dunia Kakak beda jauh. Aku takut kalau aku terus-terusan dekat sama Kakak, aku malah bikin Kakak dapet masalah. Atau Kakak yang bakal diejek temen-temen Kakak."
Luq kembali menyalakan motornya. Sebelum melaju, dia berkata dengan nada yang sangat tenang, "Dunia kamu, dunia gue, itu cuma masalah waktu. Nanti juga kamu bakal gede, bakal SMA. Masalahnya bukan di perbedaan umur, Rea. Masalahnya di kamu yang terlalu sibuk dengerin suara orang lain sampai kamu lupa dengerin suara gue."
"Suara Kakak?" tanyaku bingung.
"Iya. Suara gue yang bilang kalau lo itu berharga. Titik."
Dia kembali menjalankan motornya. Aku terdiam mematung di boncengan. Punggungnya yang lebar kini terasa seperti perisai yang melindungiku dari dunia luar yang kejam.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamarku diketuk keras oleh Hazel.
"Rea, keluar! Gue mau ngomong," suara Hazel terdengar lebih serius dari biasanya.
Aku membuka pintu dengan gugup. Hazel berdiri di sana, melipat tangan di dada. "Tadi Luq yang anterin lo?"
Aku membuka pintu dengan tenang. Hazel berdiri di sana, melipat tangan di dada. "Tadi Luq yang anterin lo?"
"Iya, Kak Hazel tadi kan sibuk di bengkel," jawabku dengan santai.
Hazel menatapku lurus. kami adik-kakak, dia tahu persis kalau ada sesuatu yang disembunyikan. "Luq itu sahabat gue, Rea. Gue percaya sama dia. Tapi gue nggak mau lo jadi bahan gosip di sekolah atau malah jadi alasan orang-orang aneh ngeganggu lo. Gue denger dari temen-temen lo, ada yang iseng ngomongin lo sama Luq. Kalau ada apa-apa, bilang gue. Jangan malah bikin Luq repot bolak-balik jemput lo kalau lo belum cerita apa yang sebenernya terjadi."
"Bukan gitu, Kak..."
"Ya udah, intinya jangan terlalu sering ngerepotin Luq. Dia juga punya dunianya sendiri di SMK," kata Hazel sebelum berbalik pergi. Kata-katanya terasa seperti tamparan dingin. Dia benar. Aku hanyalah beban bagi mereka.
Besok paginya, aku kembali ke sekolah dengan perasaan yang jauh lebih buruk. Aku merasa terjepit di antara rasa syukur karena Luq membelaku, dan rasa malu karena Kak Hazel pun sampai tahu. Saat aku berjalan masuk ke lorong sekolah, Rizkia dan gengnya masih ada di sana, menungguku.
"Eh, udah dapet pengawalan pribadi lagi nih?" sindir Siska.
Kali ini, aku tidak menunduk. Aku ingat kata-kata Luq. Jangan dengerin suara orang lain.
"Kalian kenapa sih?" suaraku cukup lantang, membuat beberapa siswa di sekitar menoleh. "Apa yang kalian lakuin itu bukan keren, itu cuma nunjukin kalau hidup kalian nggak punya tujuan sampai harus ngurusin hidup orang lain."
Rizkia tertegun. Dia tidak menyangka aku akan melawan. "Wah, udah berani ya sejak dibelain cowok?"
"Bukan karena dibelain," balasku dengan napas yang mulai teratur. "Tapi karena aku sadar, aku nggak perlu validasi dari orang yang bahkan nggak bisa menghargai dirinya sendiri dengan cara bertingkah kayak gini. Kalau kalian mau ngomongin aku, silakan. Tapi jangan kaget kalau aku nggak bakal dengerin lagi."
Aku berjalan melewati mereka dengan kepala tegak, meskipun kakiku masih gemetar hebat. Aku masuk ke kelas dan duduk di bangkuku. Aku merasa menang, tapi di saat bersamaan, aku merasa kesepian..
Saat istirahat, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Luq.
[Kak Luq] : "Gue denger dari Hazel lo kena masalah lagi di sekolah pagi ini. Lo nggak apa-apa?"
Aku menatap layar itu lama. Haruskah aku jujur? Haruskah aku bilang kalau aku lelah menjadi kuat? Aku akhirnya mengetik dengan jari yang sedikit gemetar.
Andrea: "Aku baik-baik aja, Kak. Aku udah lawan mereka tadi."
Tak lama, jawabannya muncul.
[Kak Luq] : "Pinter. Gue bangga sama kamu. Jangan pernah biarin mereka menang, ya? Gue percaya kamu bisa."
"Gue percaya kamu bisa." Kalimat sederhana itu bagaikan bahan bakar. Aku menyimpan ponselku dan menarik napas dalam. Mungkin duniaku dan Luq memang berbeda. Mungkin aku masih kelas 2 SMP dan dia sudah SMK. Mungkin ada batasan-batasan yang tidak bisa kulanggar.
Tapi untuk saat ini, batasan itu tidak lagi terasa seperti tembok yang mengurungku. Itu hanya sebuah jarak yang harus kutempuh perlahan. Aku akan tumbuh, aku akan masuk SMA, dan aku akan mengejar ketertinggalan itu.
Malam itu, aku duduk di meja belajarku, menatap buku Mandarin yang sempat kutinggalkan. Aku tidak lagi pusing. Aku justru mengambil pulpen dan mulai menulis karakter-karakter itu satu per satu dengan Mantapp. Aku punya Luq yang mendukungku, aku punya Hazel yang meskipun bawel tapi tetap peduli, dan yang paling penting, aku punya diriku sendiri yang baru.
Rumah terasa sunyi, namun di luar sana, aku tahu malam ini sedang berjalan dengan tenang. Di sekolah yang berbeda, di dunia yang berbeda, mungkin Luq juga sedang menatap langit yang sama. Aku tersenyum tipis. Tidak perlu terburu-buru. Cinta tidak harus berarti memiliki sekarang juga. Kadang, cinta adalah tentang tumbuh bersama, meskipun dari jarak yang berbeda.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak merasa seperti adik kecil yang hanya bisa mengintip di balik sofa. Aku adalah Rea. Dan aku siap untuk episode selanjutnya dalam hidupku.