⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tak Peduli Keadaanmu, Aku tetap akan Menikahimu
"Valen... Sayangku... Kau sudah sadar..." ucap Zyro dengan suara yang tersendat-sendat karena tangisnya yang tertahan, suaranya terdengar begitu pilu dan menyayat hati. "Lihat aku, Valen... Lihat aku... Aku di sini... Aku datang menjemputmu..."
Mendengar suara itu, suara yang begitu lembut namun terdengar begitu menyakitkan telinganya saat ini, Valencia mengangkat wajahnya dengan susah payah menatap mata Zyro. Ia melihat kesedihan yang mendalam di sana, melihat rasa sakit yang sama besarnya dengan rasa sakit yang ia rasakan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping melihat pria yang dicintainya menangis karena dirinya.
"Zyro..." panggilnya dengan suara yang sangat lemah dan serak, suaranya hampir tak terdengar. Air matanya mengalir semakin deras, tak sanggup ia menahannya lagi. "Maafkan aku... Maafkan aku, Zyro..."
"Jangan bicara begitu, Sayang... Kumohon jangan bicara begitu..." potong Zyro cepat, tangannya mengusap lembut air mata di pipi Valencia dengan ibu jarinya, gerakannya begitu lembut seolah takut wanita itu akan hancur jika disentuh terlalu keras. Matanya pun tak henti meneteskan air mata.
"Aku di sini... Aku ada di sampingmu... Jangan takut lagi... Semuanya sudah berakhir..."
"Maafkan aku, Zyro..." isak Valencia kembali, tubuhnya berguncang hebat menahan tangisnya. Ia mencengkeram lengan Zyro dengan tangannya yang lemah, seolah takut pria itu akan pergi meninggalkannya.
"Aku kotor, Zyro... Aku sudah tidak suci lagi... Aku sudah rusak... Aku sudah bukan wanita yang kau kenal dulu lagi... Maafkan aku... Maafkan aku..."
"Jangan katakan itu!!" teriak Zyro lirih, namun nadanya begitu penuh kepedihan. Ia mendekap tangan Valencia ke dalam genggamannya yang erat.
"Kau tidak kotor, Valen! Kau tidak rusak! Bagiku, kau tetaplah wanita yang sama... Wanita yang paling murni, paling indah, dan paling sempurna di seluruh dunia! Kau tidak salah apa-apa! Kau korban, Valen... Kau korban keadaan..."
"Tapi aku sudah membiarkannya terjadi padaku..." bisik Valencia dengan suara putus asa, matanya menatap takut ke arah Ansel yang masih berdiri di sana dengan wajah yang sulit diartikan.
"Dia... Dia mengambil segalanya dariku... Segalanya yang seharusnya milikmu... Aku malu, Zyro... Aku sangat malu menatap wajahmu... Aku tidak pantas lagi bersamamu... Aku tidak pantas menjadi pendampingmu..."
Zyro menundukkan kepalanya, air matanya jatuh mengenai tangan Valencia yang dipegangnya. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala rasa sakit dan amarah yang ia pendam.
"Apakah kau pikir aku akan melepaskan mu hanya karena hal ini? Apakah kau pikir cintaku padamu hanya sebatas kesucian fisikmu saja, Valen?" tanya Zyro dengan suara gemetar, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap mata Valencia lekat-lekat.
"Dengarkan aku baik-baik, Sayang... Aku mencintaimu karena hatimu, karena jiwamu, karena kebaikanmu, dan karena dirimu apa adanya. Tidak peduli apa yang terjadi padamu, tidak peduli apa yang sudah berlalu... Cintaku padamu tidak akan pernah berubah sedikitpun. Tidak akan pernah berkurang, dan tidak akan pernah hilang. Bahkan jika seluruh dunia menolaknya, aku tetap akan memelukmu erat-erat. Aku tetap akan menikahi mu, Valen. Aku tetap ingin mendampingi mu seumur hidupku."
"Zyro..." isak Valencia semakin menjadi-jadi, hatinya terasa sakit namun juga terasa hangat mendengar janji tulus itu.
"Kaulah hidupku, Valen... Tanpamu, aku bukan siapa-siapa," jawab Zyro tegas, tangannya mengelus lembut rambut wanita itu.
"Jangan minta aku untuk pergi... Karena aku tidak akan pernah sanggup melakukannya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak peduli apa pun yang terjadi."
Di samping mereka, Ansel yang melihat adegan haru itu hanya diam terpaku. Wajahnya yang tadinya angkuh dan dingin kini tampak berubah muram dan sedikit terguncang. Mendengar pengakuan cinta yang begitu tulus dan mendalam dari Zyro, ia sadar betapa besarnya perasaannya pada Valencia. Namun, tekad di hatinya tak sedikitpun luntur. Ia mencintai wanita itu, dan ia bertekad untuk bertanggung jawab sepenuhnya, sekalipun ia harus bersaing dengan cinta yang sekuat itu.
"Kau mendengarnya sendiri kan, Ansel?" kata Zyro tiba-tiba menoleh menatap tajam ke arah Ansel, matanya masih basah namun sorot matanya kini penuh tekad baja.
"Wanita ini milikku! Dia kekasihku, dan dia adalah wanita yang akan ku nikahi! Tidak peduli apa yang telah kau lakukan padanya, hatinya tetap milikku! Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambilnya dariku!"
Ansel mengangkat dagunya, menatap balik Zyro dengan pandangan yang tak kalah tajam dan penuh tekad.
"Aku mendengar mu dengan baik, Tuan Pembalap," jawab Ansel dengan suara berat dan dingin.
"Tapi aku juga sudah berkata dengan jelas. Dia sudah menjadi milikku malam ini. Aku yang mengambilnya, dan aku yang akan bertanggung jawab. Aku tidak peduli seberapa besar cintamu padanya, atau seberapa dalam hubungan kalian selama ini. Fakta tetaplah fakta: kehormatannya ada di tanganku, dan aku berhak atas dirinya. Aku tidak akan melepaskannya. Tidak akan pernah."
"Kau..." Zyro kembali mengepalkan tangannya erat, urat-urat di lengannya menonjol menahan amarah yang meluap-luap hingga hampir meledak. Ia menatap tajam tepat ke manik mata Ansel dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Kau pikir dengan mengambil kesuciannya, kau berhak memilikinya selamanya? Kau salah besar, Ansel!" bentak Zyro dengan suara yang bergetar karena marah. "Kau tidak akan pernah mendapatkan Valen, tidak peduli sekeras apa pun kau berusaha, dan meskipun kaulah yang telah mengambil mahkota kesuciannya! Hatinya tetap milikku, dan hanya aku yang ada di hatinya! Kau hanyalah orang asing yang telah merusak hidupnya dengan kejam!"
"Kau yang salah, Zyro!" balas Ansel tak mau kalah, wajahnya pun memerah menahan emosi. "Aku yang menjadi pria pertama dalam hidupnya! Tubuhnya kini telah menyatu denganku! Tidak peduli apa pun yang kau katakan atau lakukan, fakta itu tidak akan pernah bisa diubah! Aku yang berhak atas dirinya, dan aku yang akan menikahinya! Kau hanyalah masa lalu yang harus menyingkir!"
"Dasar orang gila!!" teriak Zyro tak tahan lagi. Tanpa aba-aba ia langsung menerjang tubuh Ansel dan memukul wajah pria itu sekuat tenaga.
BUG!
Ansel terhuyung ke belakang karena pukulan keras itu, namun ia segera bangkit dan membalas pukulan itu dengan keras pula mengenai rahang Zyro.
PLAK!
Perkelahian pun tak terelakkan lagi. Kedua pria itu saling memukul, menendang, dan bergulat di lantai ruangan itu dengan liar. Amarah dan kebencian mereka seolah meledak habis saat itu juga. Mereka saling ingin melumpuhkan satu sama lain demi membuktikan siapa yang paling berhak memiliki Valencia. Suara bentakan, hantaman, dan bunyi benda yang jatuh terdengar bersahutan, seisi ruangan menjadi kacau balau.
"Berhenti!!"
Teriakan lantang namun lemah itu keluar dari mulut Valencia. Ia menatap kedua pria itu bergantian dengan mata yang basah dan penuh kepedihan yang mendalam. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, namun ketakutan melihat mereka saling menyakiti membuatnya berusaha sekuat tenaga untuk bersuara.
"Berhentilah... Kumohon berhentilah..." isaknya lagi, air matanya mengalir semakin deras membasahi pipinya yang pucat. Napasnya mulai memburu dan terasa sesak seakan dadanya dihimpit beban yang sangat berat.
"Jangan berkelahi lagi karen aku... Aku sudah hancur... Aku sudah rusak dan kotor... Apa gunanya kalian memperebutkan wanita yang tidak berharga sepertiku? Lebih baik kalian lupakan saja aku... Biarkan aku pergi dari sini... Biarkan aku pergi menjauh..."