Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 7
Nadhira melangkah cepat menyusuri koridor kantor yang panjang, seolah-olah udara di belakangnya telah berubah menjadi racun yang siap mence-kik paru-parunya. Begitu sampai di bilik toilet yang paling ujung, ia mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk toilet.
Air mata yang sejak tadi di tahan kini tumpah tanpa suara. Sesak di dadanya bukan lagi sekadar hanya sesak biasa itu adalah rasa sakit fisik yang nyata. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mere-mas jantungnya kuat-kuat.
Bisikan Diana saat memeluknya tadi terus terngiang seperti kaset rusak.
“Kenapa kamu datang lagi ke dalam kehidupan Andra?”
Kalimat itu tajam, dingin, dan penuh racun, kontras dengan senyum manis yang wanita itu tunjukkan pada suaminya. Semuanya sama seperti lima tahun lalu.
Nadhira menutup wajah dengan kedua tangannya. Lima tahun. Dia sudah membuang waktu lima tahun untuk mencoba melupakan ancaman Diana selama ini. Dia sudah berusaha keras untuk membangun hidup baru di kampung dan menutup semua jenis komunikasi dengan Andra.
Hanya saja dia tak mengira jika pada akhirnya malah bertemu kembali dengan Andra. Jika saja dia tak terikat kontrak dengan perusahaan? Maka dia akan benar-benar pergi dari sana. Namun di sisi lain dia juga memikirkan keadaan ibunya yang sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan penyakit yang di derita ibunya. Saat ini yang dia miliki hanyalah sang ibu. Namun, hanya dalam hitungan menit, benteng yang dia bangun dengan susah payah runtuh tak bersisa.
Rasa khawatir mulai dia rasakan, dia tahu bagaimana sifat asli Diana yang tak di ketahui oleh Andra. Selama ini yang Andra tahu hanya satu sisi saja dari istrinya. Tanpa Andra tahu sisi lain dari Diana. Nadhira tahu itu. oleh karena itulah, Diana selalu mengancam dia sebelum pada akhirnya mereka berhasil menyingkirkan Nadhira sebelum pernikahan Andra dan Diana terjadi.
Nadhira berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Matanya sembap, hidungnya memerah. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba mematikan rasa perih di hatinya.
"Kamu cuma staf accounting, Dhira. Ingat posisimu," bisiknya pada diri sendiri.
"Dia bukan sahabatmu lagi. Dia bosmu. Dan wanita itu... dia adalah penguasa di sini. Jika kuat bertahan, jika tidak pergilah!" Nadhira mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer. Dia tidak boleh terlihat lemah. Jika dia menangis, itu berarti Diana menang. Jika dia mundur tanpa rencana, itu berarti dia membiarkan ketakutan Kemabli mengatur hidupnya.
Namun, saat dia keluar dari toilet dan melihat meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen audit, rasa lelah yang luar biasa menghantamnya. Dokumen-dokumen itu adalah bukti kecurangan perusahaan, tapi hatinya sendiri terasa seperti sedang diaudit oleh masa lalu.
Nadhira kembali duduk, jemarinya gemetar saat menyentuh keyboard. Dia tahu, hari-hari ke depan bukan lagi sekadar tentang menghitung angka, melainkan tentang bagaimana dia bertahan hidup di tengah badai yang diciptakan oleh orang-orang dari masa lalunya.
Nadhira menutup pintu kontrakan. Di kedua tangannya membawa kantong plastik berisi buah-buahan yang dia beli di pinggir jalaan. Harusnya ia merasa lega bisa pulang, tapi firasatnya justru berdenyut di ujung jari.
"Bu? Dhira pulang," panggilnya lirih.
Tidak ada sahutan. Nadhira melempar tas kerjanya sembarang arah dan berlari ke dalam rumah. Di sana, dia menemukan ibunya tergeletak di lantai dingin di dekat dapur.
"Ibu! Ya Allah, Ibu!" Nadhira menjerit.
Dia merengkuh tubuh ibunya yang dingin dan basah oleh keringat. Napas ibunya pendek-pendek, matanya berputar ke atas.
Nadhira berusaha mengangkat tubuh ibunya untuk duduk di kursi. Namun tenaganya terkuras habis oleh stres di kantor tadi. Dia jatuh terduduk di lantai sambil memeluk ibunya, terisak dalam keheningan malam yang mencekam.
Di saat itulah, kemarahan yang sejak tadi dia tekan di kantor meledak. Dia ingat wajah cantik Diana yang penuh kemenangan.
"Kenapa kamu datang lagi ke kehidupan Andra?"
Suara Diana terngiang, seolah wanita itu sedang berdiri di sudut kamar sambil menertawakan kemiskinannya.
"Apa yang harus aku lakukan!" ucap Dhira pelan.
"Bu ..." panggil Dhira pelan mencoba membangunkan ibunya.
"Nak ..."jawab Bu Mila pelan.
Tangan Nadhira gemetar hebat saat meraba saku blazer kantornya, mencari ponsel dengan penglihatan yang kabur oleh air mata. Di pelukannya, sang ibu mulai mengerang lirih, sebuah suara parau yang lebih mirip rintihan kesakitan daripada sebuah panggilan.
"Ibu, tahan ya... Dhira panggil ambulans," isak Nadhira.
Jemarinya menekan nomor darurat berkali-kali namun sinyal di kontrakan sempit itu seolah sedang mengkhianatinya. Dunia hari ini sepertinya sedang tak berpihak kepada Nadhira. Kenapa hari ini benar-benar membuat dia merasa tak berguna sama sekali. Kenapa hari ini semuanya harus terjadi. Rasanya dia sangat kesal, kenapa harus bertemu lagi dengan mereka. Dia kira setelah lima tahun, Diana akan berubah padanya. Namun ternyata masih sama.
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk di ponselnya. Bukan dari rumah sakit, bukan dari tetangga. Sebuah nomor yang sudah tersimpan di sana. Nomor yang seharusnya sudah dia bloki tadi.
Andra.
"Dhira, aku tahu kamu tadi menangis di kantor. Tolong jangan menghindar lagi. Aku di depan kontrakanmu."
Darah Nadhira seolah membeku. Bagaimana Andra bisa berada di sana? Apa bersama dengan Diana juga? Namun, sebelum dia sempat memproses rasa takutnya, pintu rumahnya diketuk dengan keras. Bukan ketukan lembut seorang tamu, melainkan ketukan penuh urgensi.
"Dhira! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" suara Andra menggelegar dari balik pintu kayu yang mulai lapuk. Nadhira tidak punya pilihan. Saat ini dia butuh bantuan.
"Masuk saja! Pintu tidak di kunci!" teriak Nadhira yang tak bisa meninggalkan ibunya.
Begitu pintu terbuka, sosok Andra yang masih mengenakan kemeja kantor mewah berdiri di sana, Andra segera mendekat ke arah Nadhira yang berada di lantai sambil memeluk ibunya.
"Ada apa ini Dhira?" Andra ikut berlutut di dekat Nadhira.
"Andra... tolong... Ibu..." Nadhira akhirnya tak punya pilihan.
Dia kembali meminta tolong kepada mantan Sahabatnya. Orang yang seharusnya dia hindari selamanya.
Tanpa memedulikan jas mahalnya, Andra langsung menggendong Bu Mila.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Cepat? Kenapa masih diam saja di sana!" teriak Andra kepada Dhira yang masih berdiri kaku di sana.
"Iya!" jawab Nadhira berlari ke kamar ibunya mengambil semua berkas milik ibunya dan menyambar tasnya. Selama ini pengobatan ibunya menggunakan program kesehatan berbayar dari pemerintah. Hanya saja ada beberapa obat yang tak bisa di cover dan pada akhirnya harus membeli terpisah.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh