NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: SABOTASE DI ATAS PANGGUNG DAN PERTAHANAN BAMBU

Suasana di Arena Agung Kota Langit Abadi mencapai titik didihnya. Sorak-sorai puluhan ribu penonton bergemuruh bagaikan ombak samudra yang menghantam tebing. Di panggung utama yang megah, cahaya matahari sore memantul dari ubin marmer putih, menciptakan aura kemegahan yang kontras dengan penampilan sederhana Ye Xuan.

​Putri Ling melangkah maju dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak yang dialasi kain sutra ungu. Di atasnya terletak sebuah medali emas murni dan, yang paling penting bagi Ye Xuan, sebuah botol kristal kecil berisi esensi Garam Samudra Terbawah—garam yang konon bisa memberikan rasa pada masakan para dewa.

​Ye Xuan berdiri kaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada ribuan penonton, tapi karena ia takut menjatuhkan botol garam impiannya itu. Tangannya yang kasar karena mencangkul sedikit gemetar saat ia memegang kincir bambu buatannya.

​"Ye Xuan," suara Putri Ling terdengar lembut namun berwibawa di dekat telinganya. "Hari ini, kau tidak hanya memenangkan sebuah turnamen. Kau telah membuka mata kekaisaran ini bahwa kekuatan sejati tidak selalu lahir dari kekerasan, melainkan dari ketulusan hati seorang petani."

​Tepat ketika jemari lentik Putri Ling hendak menyematkan medali itu ke dada Ye Xuan, sebuah firasat buruk menghantam atmosfer. Burung-burung yang terbang di sekitar arena mendadak jatuh mati, dan suhu udara merosot tajam hingga embun beku muncul di lantai marmer.

​"SEKARANG!" sebuah teriakan parau menggelegar dari arah tribun VIP yang ditempati oleh delegasi Klan Ye.

​Tiba-tiba, langit di atas arena yang tadinya cerah berubah menjadi merah pekat seperti darah yang membusuk. Puluhan agen rahasia Klan Ye yang menyamar di antara kerumunan melemparkan jubah mereka, memperlihatkan zirah hitam yang dipenuhi rune terlarang. Mereka tidak datang untuk memprotes; mereka datang untuk melakukan pembersihan massal.

​Tiga javelin (tombak pendek) energi yang berpendar dengan cahaya korosif merah gelap meluncur dari tiga sudut berbeda. Kecepatannya melampaui suara, membelah udara dengan bunyi jeritan yang memilukan. Targetnya sangat spesifik: jantung Ye Xuan dan kincir bambu yang ia pegang.

​"Ini adalah Sarang Bayangan Pembunuh Sukma!" teriak salah satu juri dengan wajah pucat. "Formasi itu... itu adalah racun bagi jiwa! Siapa pun yang terkena akan hancur hingga ke tingkat molekul!"

​Putri Ling bereaksi dengan kecepatan cahaya. Ia tidak lari. Sebaliknya, ia melompat ke depan Ye Xuan, menghunus pedang tipisnya yang memancarkan aura es biru. "Berani-beraninya kalian! Di hadapanku, kalian hanyalah tikus got!"

​Putri Ling menghentakkan kakinya, memicu formasi pertahanan internal di panggung. Namun, sabotase Klan Ye telah merusak sirkuit bawah tanah. Formasi pelindung arena gagal menyala. Putri Ling kini sendirian menjadi tameng bagi Ye Xuan.

​Ye Xuan, yang secara mental masih seorang pemuda dari Bumi, merasa waktu berjalan sangat lambat. Di matanya, tombak-tombak merah itu terlihat seperti rudal yang siap meledak.

​Sial! Kalau itu meledak, botol garamku pasti pecah! batin Ye Xuan dengan panik.

​Ketakutan akan kehilangan garam mengalahkan ketakutan akan kematian. Tanpa sadar, ia menggenggam kincir bambunya lebih erat. Minyak Eternal Motion yang ia oleskan pada poros bambu mulai bereaksi terhadap niat tulus (dan sedikit egois) dari pemiliknya.

​Kriet... wush!

​Kincir bambu yang tadinya berputar santai tiba-tiba berputar dengan kecepatan yang mustahil dilihat mata telanjang. Bunyi putarannya berubah dari gesekan kayu menjadi senandung surgawi yang dalam.

​"Sistem Proteksi Frekuensi Alami: Aktif."

​Sebuah kubah cahaya berwarna indigo bercampur emas meledak keluar dari pusat kincir bambu. Saat tombak korosif milik Klan Ye menghantam kubah tersebut, tidak ada ledakan besar. Sebaliknya, tombak-tombak itu mendadak kehilangan momentum. Mereka terlihat seperti lalat yang terjebak di dalam madu yang sangat kental.

​Energi merah korosif itu mulai terurai. Kincir bambu Ye Xuan bertindak seperti filter kosmik; ia menghisap kebencian dan racun dari serangan itu, memutarnya di dalam poros bambu, dan mengeluarkannya kembali sebagai energi murni yang harum.

​Penonton yang tadinya menjerit ketakutan tiba-tiba mencium aroma bunga persik yang segar. Tekanan udara yang menyesakkan menghilang seketika, digantikan oleh rasa damai yang luar biasa.

​Putri Ling, yang sudah siap mengorbankan nyawanya, tertegun. Ia melihat punggung Ye Xuan yang tampak begitu kokoh di balik kubah cahaya indigo. Ia merasa seolah-olah sedang berdiri di bawah perlindungan sebuah gunung dewa yang tak tergoyahkan.

​"Senior Ye..." bisik Putri Ling, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa selama ini ia meremehkan betapa dalamnya "kedalaman" pemuda di depannya ini.

​Di sudut lain, para Master Formasi yang menyamar sebagai kuli—Master Mo dan kawan-kawan—tidak bisa lagi menahan diri. Master Mo merobek pakaian dekilnya, memperlihatkan jubah emas Master Formasi Kelas Satu.

​"Klan Ye! Kalian telah melewati batas!" suara Master Mo menggelegar bagaikan guntur. "Kalian menyerang saat penyerahan hadiah, mengabaikan hukum kekaisaran, dan mencoba mencelakai seorang suci yang bahkan tidak ingin membalas kalian dengan kekerasan!"

​Master Mo melemparkan tujuh batang tongkat perak ke udara, membentuk Formasi Penjara Langit. Para agen Klan Ye yang tadinya sombong tiba-tiba merasa tubuh mereka seberat timah. Mereka tersungkur ke tanah, tidak mampu menggerakkan satu jari pun.

​Ye Xuan, melihat situasi mulai terkendali, perlahan menurunkan kincir bambunya. Putarannya melambat, kembali menjadi benda kayu biasa yang terlihat rapuh. Ia menyeka keringat dingin di dahinya.

​"Hah... hampir saja," gumam Ye Xuan. Ia menatap ke arah agen-agen hitam yang tertelungkup di tanah. "Kalian ini kenapa sih? Kalau mau ubi, bilang saja baik-baik. Jangan pakai lempar-lempar besi tajam begitu, itu sangat berbahaya untuk kesehatan."

​Agen-agen Klan Ye yang mendengar itu ingin muntah darah. Berbahaya untuk kesehatan?! Kami mencoba menghapus jiwamu, dan kau hanya khawatir soal kesehatan?!

​Putri Ling berbalik menghadap Ye Xuan, matanya penuh dengan kekaguman yang baru. "Senior Ye, maafkan ketidakmampuan kami dalam menjaga keamanan. Klan Ye akan menerima konsekuensi yang sangat berat atas tindakan pengecut ini."

​Ye Xuan hanya tersenyum canggung. Ia melihat peti garam di tangan Putri Ling masih utuh. Itu adalah satu-satunya hal yang ia pedulikan. "Ah, tidak apa-apa Tuan Putri. Yang penting... garamnya selamat, kan?"

​Mendengar itu, seluruh arena terdiam sejenak sebelum meledak dalam tawa yang penuh rasa hormat. Mereka mengira Ye Xuan sedang bercanda atau memberikan metafora tentang "Garam Kehidupan", padahal Ye Xuan benar-benar hanya memikirkan bumbu dapurnya.

​Namun, di balik tawa itu, para pemimpin sekte besar yang hadir mencatat satu hal dalam hati mereka: Jangan pernah mengusik kedamaian petani ini, atau kincir bambunya akan menghapus seluruh eksistensimu dari sejarah

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!