Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditipu habis-habisan
Alma mengusap kasar tetes airmata di pipinya. Netranya kini berkilat tajam penuh kebencian, mengubah rasa pedih di dadanya menjadi tekad yang membara.
"Nish, aku butuh bantuanmu segera. Datanglah ke rumahku sekarang juga!" pinta Alma setengah memaksa lewat telepon, lalu memutus sambungan sepihak.
Tak berapa lama, Danish tiba. Wajah pemuda itu tampak khawatir. "Ada apa, Al? Kamu membuatku panik."
"Antar aku ke laboratorium, Nish. Aku butuh hasil pemeriksaan secepat mungkin. Adikmu dokter kan, pasti dia punya akses untuk bisa mempercepat prosesnya," ucap Alma penuh desakan, memperlihatkan bungkusan plastik itu ke hadapan sahabatnya.
Danish mengembuskan napas kasar. "Baiklah, ayo, berangkat sekarang!" ucapnya, lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Tanpa membuang waktu sedikit pun, keduanya langsung mendatangi rumah sakit tempat Davin bekerja.
Begitu bertemu Davin, Alma langsung mengambil bungkusan plastik dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Davin.
"Dok, tolong saya... Tolong periksa isi bungkusan ini secara rinci. Saya mau tahu persis, zat apa saja yang terkandung di dalam serbuk ini dan apa bahayanya buat janin. Saya mohon, hasilnya secepat mungkin."
Davin menerima bungkusan itu sambil mengerutkan kening. Namun, sebagai dokter yang sudah berpengalaman, dia pun langsung mengangguk paham.
"Baiklah, saya akan meminta tim laboratorium untuk memprioritaskan pemeriksaan ini di atas yang lain. Saya pastikan hasilnya keluar secepat mungkin," jawab Davin serius, lalu segera bergerak cepat meninggalkan mereka menuju ruang laboratorium.
Detik berlalu terasa sangat lamban bagi Alma. Pikirannya dipenuhi segala kemungkinan buruk. Semua kepingan ingatan masa lalu, kini seolah perlahan menyatu, membentuk satu kenyataan memilukan yang membuat darahnya mendidih.
Tak butuh waktu lama, Davin kembali membawa selembar kertas laporan hasil analisis. Dia menatap Alma dengan pandangan serius, tetapi seakan ada sedikit keraguan di matanya untuk menyampaikan apa yang tertulis pada kertas di tangannya.
"Kenapa, Dok? Katakan saja apa adanya!" desak Alma tegas, sudah siap menerima kenyataan sepahit apapun.
Davin mengangkat kertas tersebut, tangannya menunjuk pada baris hasil pemeriksaan. "Begini, serbuk itu bukan lah ramuan penyubur kandungan, bukan juga teh herbal. Tapi, di dalam serbuk ini terkandung zat aktif obat penggugur kandungan dan senyawa pencegah pembuahan yang cukup kuat."
Deggg...
Seketika dunia Alma seakan berhenti berputar. Ia meraih kertas dari tangan Davin dan menatapnya dengan pandangan nanar. Membaca setiap baris tulisan yang tertera pada kertas tersebut. "Jadi benar... Nova sengaja melakukannya padaku. Rupanya dia sama sekali tak menginginkan keturunan dariku, makanya dia menggugurkan kandunganku tanpa aku sadari."
"Sungguh, dia benar-benar lelaki bi*d*b yang pernah aku kenal. Dia telah merampas hakku menjadi seorang ibu," ucapnya dengan suara rendah, netranya menyiratkan kebencian yang mengerikan.
Danish yang mendengar itu langsung mengepal tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan amarah yang meluap. Ia tak menyangka Nova ternyata sekejam itu, sampai tega melenyapkan darah dagingnya sendiri sebelum sempat melihat dunia. Dia menatap Alma dengan pandangan yang sulit diartikan.
Alma melipat kertas laporan itu rapi, lalu menyimpannya di dalam tas. Ia akan mengumpulkannya bersama bukti-bukti lain untuk memberi pelajaran lelaki bi*d*b itu.
"Terima kasih, atas bantuannya, Dok," ucap Alma pelan seraya menunduk hormat.
"Dia bukan hanya menipuku, tapi juga seorang pembunuh. Dia merampas segalanya dariku: cinta, harga diri, dan anak yang bahkan belum sempat aku lahirkan." Suara Alma bergetar menahan amarah yang menggelegak.
"Kali ini aku nggak akan memberi dia ampun lagi. Semua yang telah dia berikan padaku, akan aku kembalikan padanya dengan berlipat ganda sampai dia hancur dan kehilangan segalanya."
.
Suasana begitu hening menyelimuti ruangan sempit di dalam mobil yang mereka tumpangi. Sesekali Danish melirik sahabatnya itu, tetapi tak ada keberanian untuk bertanya. Pemuda itu paham, Alma pasti sangat terguncang menerima kenyataan pahit yang tak pernah dibayangkannya.
Sementara Alma sendiri, terdiam sembari menatap ke arah jendela, dengan pandangan kosong.
"Aku ingin segera mengurus gugatan cerai," ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangan.
"Mau sekarang atau kapan? Sopir pribadimu ini siap mengantarmu ke mana pun kamu mau," sahut Danish cepat, dengan suara lembut.
Alma mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang dingin. "Sekarang saja, aku sudah nggak mau lagi ada ikatan apapun dengannya!"
"Apa berkas persyaratannya sudah lengkap kamu bawa? Termasuk buku nikah?" tanya Danish memastikan.
Alma mengangguk. "Sudah kusiapkan semuanya."
Danish pun segera melajukan kendaraannya menuju pengadilan agama. Namun, kemudian ponselnya berdering. Demi keselamatan dia menepikan mobilnya lantas mengangkat panggilan tersebut.
Hanya sebentar dia berbicara, lalu panggilan terputus. Kemudian langsung memutar setir, mengubah arah kendaraan menjauhi jalan yang semula mereka tuju.
"Kita mau ke mana. Ini kan, bukan arah jalan ke pengadilan agama?" tanya Alma, merasa aneh dengan jalan yang dilalui tiba-tiba berbeda.
"Kita akan menemui Om Barra. Barusan beliau telepon, ada sesuatu yang ingin disampaikan pada kita," jawab Danish, wajahnya mendadak serius.
Alma mengangguk singkat, lalu diam tak bertanya lagi. Hingga kemudian mobil yang Danish kendarai berhenti di sebuah restoran yang cukup terkenal.
Keduanya masuk ke dalam restoran, dipandu oleh seorang pramusaji menuju ruangan khusus tamu VIP. Di sana Papa Barra tampak duduk menunggu dengan tenang. Begitu melihat mereka masuk, pria paruh baya itu langsung berdiri menyambut.
"Selamat siang, Om," sapa Danish sopan lalu berjabat tangan, disusul oleh Alma yang ikut menundukkan kepala sebagai tanda salam.
"Selamat siang, Mas Danish, Mbak Alma. Mari, silakan duduk," ucap Papa Barra ramah, tetapi wajahnya terlihat serius.
"Saya memanggil kalian kemari karena ada satu kenyataan pahit lagi yang harus kalian ketahui. Sesuatu yang baru saja dikonfirmasi oleh tim kami di lapangan," sambungnya, setelah Danish dan Alma duduk di hadapannya.
"Ada apa lagi, Pak? Apa ada yang masih disembunyikan oleh Nova?" tanya Alma, jantungnya berdebar kencang tiba-tiba.
Papa Barra tidak menjawab, melainkan menyerahkan sebuah map berisi berkas tentang hasil penelusuran timnya selama dua hari ini.
Tangan Alma menyentuh sampul berkas itu dengan gemetar lalu mengeluarkan isinya. Dibacanya satu persatu satu berkas tersebut, hingga netranya menangkap foto buku nikahnya.
"Ini... Kenapa ada foto buku nikah saya di sini?" tanyanya bingung.
"Maaf, sebelumnya jika tim kami juga meretas ponsel Mbak Alma. Kami menemukan foto buku nikah itu, dan setelah kami selidiki ternyata..." Papa Barra tak melanjutkan ucapannya. Pria paruh baya itu menatap Alma dengan pandangan iba.
"Ada apa sebenarnya, Om? Apa ada yang salah dengan buku nikah itu?" tanya Danish tak sabar.
"Setelah kami mengecek data ke kantor urusan agama, ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Nama Pak Nova dan Mbak Alma tidak tercatat dalam data negara sebagai pasangan suami istri. Jadi, buku nikah yang ada pada Mbak Alma itu palsu. Itu berarti selama ini kalian hanya menikah secara siri. Dan semua itu sudah mereka rencanakan sebelumnya."
Deggg...
Jantung Alma seolah berhenti berdetak, bahunya luruh seketika. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Hanya netranya yang melotot tak percaya menatap buku nikah di atas meja itu. Selama ini ia menyangka menjadi istri pertama, tetapi nyatanya hanya istri kedua. Lalu sekarang harus menerima kenyataan lebih pahit lagi. Dunianya terasa jungkir balik dalam sekejap. Dirinya merasa ditipu habis-habisan, diperas tenaga dan pikirannya tanpa memiliki hak untuk menuntut.
"Jadi... selama ini..." suara Alma bergetar hebat, nyaris tak terdengar, airmatanya kembali menetes bukan karena sedih, melainkan rasa muak yang tak terkira.