"No way! Ngga akan pernah. Gue ngga sudi punya keturunan dari wanita rendahan seperti Dia. Kalau Dia sampai hamil nanti, Gue sendiri yang akan nyingkirin bayi sialan itu dengan tangan gue sendiri. Lagipula perempuan itu pernah hamil dengan cara licik! Untungnya nyokap gue dan Alexa berhasil bikin Wanita sialan itu keguguran!"
Kalimat kejam keluar dengan lincah dari bibir Axel, membawa pedang yang menusuk hati Azizah.
Klontang!!!
Suara benda jatuh itu mengejutkan Axel dan kawan-kawannya yang tengah serius berbincang.
Azizah melangkah mundur, bersembunyi dibalik pembatas dinding dengan tubuh bergetar.
Jadi selama ini, pernikahan yang dia agung-agungkan itu hanyalah kepalsuan??
Hari itu, Azizah membuat keputusan besar dalam hidupnya, meninggalkan Suaminya, meninggalkan neraka berbalut pernikahan bersama dengan bayi yang baru tumbuh di dalam rahimnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAMIT
"Lho... jadi Mbak Azizah mau pindah toh? Kok Mas Axel ndak bilang yo?"
Bu Willy terlihat sangat terkejut saat Azizah datang lengkap dengan ranselnya untuk berpamitan.
"Iya Bu, maaf mendadak. Mas Axel mau buka cabang di luar pulau dan mungkin memakan waktu yang cukup panjang. Jadi saya harus ikut pindah."
"Oalah, ngono toh... Ya sudah tidak apa-apa Mbak, mudah-mudahan lancar di perjalanan yo."
"Iya Bu Willy, terima kasih selama ini sudah sangat baik sama saya," ujar Azizah dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak berbohong jika saat ini dia sangat sedih. Bu Willy dan ibu-ibu lain di komplek ini sangat solid dan baik. Mereka sangat perhatian satu sama lain. Apalagi Bu Willy, beliau sangat sering mengirimi Azizah makanan karena tahu bahwa wanita itu tinggal sendiri. Suaminya jarang pulang, bahkan bisa dua bulan sekali baru datang.
"Oh, ya Bu, saya bisa titip ini? Katanya nanti Mas Axel akan ke sini pamit juga sama Ibu. Saya orangnya pelupa dan teledor. Bisa minta tolong kasihkan ini sama Mas Axel?"
Azizah menyodorkan sebuah kotak kayu yang cantik dan terkunci rapat. Terdapat gembok kecil di sana lengkap dengan kuncinya.
"Apa ini Mbak?"
"Itu isinya mas kawin saya, Bu. Saya takut kelupaan karena setelah ini saya mau mampir ke rumah sakit dulu."
"Lho... Kenapa dititipkan segala Mbak? Saya takut hilang."
"Malah kalau di saya lebih rawan hilang, Bu. Ibu ingat, kan, kalau saya pernah kehilangan uang satu juta karena lupa menaruh dompet begitu saja di warung?"
"Hissh, Mbak Azizah ini... mbok ya ditaruh di tas gitu."
"Tasnya sudah penuh, Bu. Tolong ya... Paling nanti sore Mas Axel ke sini. Soalnya masih ada barang-barang di rumah."
"Ya sudah Mbak... Insya Allah saya akan jaga amanahnya ini."
"Terima kasih ya Bu, maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa Mbak... Hati-hati yo Mbak... Sering kabar-kabar kalau sudah sampai."
"Siap Bu... kalau begitu saya pamit."
Azizah kemudian memeluk Bu Willy. Di saat yang bersamaan, Grabcar yang ia pesan juga datang. Setelah berpamitan dengan Bu Willy dan suami, serta beberapa tetangga yang kebetulan lewat, Azizah memasuki mobil itu dan melaju menuju ke rumah sakit untuk berpamit dengan Kakek Adhitama.
Axel keluar dari ruangannya saat jam makan siang bersama kedua sahabatnya, Darren dan Radit.
Sangat kebetulan hari ini Axel tidak memiliki meeting yang urgent atau penting, jadi bisa ditunda esok hari. Saat melihat Axel datang, Linda yang tengah sibuk tiba-tiba menghadap Axel.
"Pak, saya minta maaf karena membiarkan Ibu Azizah masuk. Beliau memaksa saya, jadi..."
Belum selesai berbicara, Axel dengan cepat menyela, "Tunggu-tunggu, Azizah datang ke sini?"
"Iya, Pak."
Axel mengerutkan keningnya. Azizah datang ke kantornya? Tapi Axel sama sekali tidak melihat wanita itu.
"Lalu di mana dia sekarang?"
Pertanyaan Axel jelas membuat Linda bingung. Niatnya melapor hanya untuk membela diri siapa tahu tiba-tiba Axel memecatnya karena membiarkan istri tak diharapkan itu masuk. Linda dengan bingung menjawab, "Sudah pergi Pak, kira-kira 30 menit yang lalu."
"Apa? Tapi dia tidak menemui saya."
"Benarkah? Tapi tadi...."
"Ya sudah, tidak penting. Lain kali jangan biarkan dia masuk, oke?"
"Baik, Pak."
Axel pun berlalu dari hadapan Linda yang mengangguk hormat padanya. Pria itu sesaat berpikir, Azizah datang ke kantornya tapi tidak menemuinya?
'Ah, palingan mau minta duit,' batin Axel. Dia ingat bahwa bulan ini dia belum mentransfer uang bulanan Azizah.
"Perempuan itu, benar-benar mata duitan. Dia pasti berpikir bisa hidup mewah setelah menikah denganku. Mimpi!" gumam Axel yang tengah memasuki kendaraannya. Tentu saja kalimat itu didengar oleh Radit dan Darren.
"Emang lo kasih bulanan berapa buat dia?"
"Iya, gue juga penasaran. Berapa sih uang bulanan istri seorang Axel William Djaja? Haha, sudah mirip wartawan belum gue?" tanya Radit pada sahabatnya Darren, membuat Darren ikut terkikik.
"Satu setengah. Kenapa emang?"
"Miliar?" Kali ini Darren yang menatap tak percaya ke arah Axel.
"Juta lah! Banyak amat 1,5 M. Sepuluh juta saja gue ogah ngasihnya. Masih untung gue kasih."
"Gila lo, parah banget. Minimal walaupun nggak bisa kasih cinta lo, kasihlah nafkah yang layak. 1,5 mah sama pembantu gue aja gajinya lebih gede pembantu gue."
"Iya, kebangetan lo."
"Lagian lo sendiri yang cerita, bahkan lo bisa beli barang buat Alexa dengan harga miliaran. Benar-benar raja tega lo."
"Sudah deh, itu semua bukan urusan lo berdua. Dia bahkan nggak layak buat jadi pembantu di rumah gue."
Mendengar ucapan Axel, Radit dan Darren hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka memang kasihan karena Axel harus menikah karena perjodohan, tapi sebagai laki-laki sejati tidak sepantasnya dia bahkan memberikan nafkah lahir sejumlah itu. Come on, bahkan perusahaannya termasuk lima besar perusahaan properti tersukses di negara ini.
"Hati-hati Bro, nanti lo kualat."
"Kualat kenapa?" ucap Axel sedikit emosi.
"Jadi suami zalim."
"Ck... diam lo. Kayak lo benar aja."
"Setidaknya gue nggak pernah menyakiti perempuan sampai segitunya," ucap Darren mengakhiri perdebatan mereka.
Axel hanya diam. Sebenarnya kata-kata Darren sedikit mencubit relung hatinya. Yah, sebenarnya dia memang sedikit keterlaluan. Tapi itu semua karena kebenciannya pada Azizah. Kalau saja wanita itu menolak menikah dengannya, dia pasti sudah bersama Alexa sekarang sebagai suami istri.
Lama berpikir, Axel kemudian meraih ponselnya dan menghubungi sekretarisnya, Linda.
"Halo Lin, tolong transfer uang tiga juta ke rekening Azizah. Thanks."
'Alah, cuma nambah sejuta setengah doang. Dasar pelit,' batin Radit dan Darren mencibir.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam. Keheningan itu tidak terpecahkan sampai ketiga pria itu sampai di parkiran gedung perkantoran milik Axel.
Merasa tidak nyaman untuk berbincang lagi, akhirnya Darren dan Radit memutuskan untuk kembali ke kantor mereka masing-masing. Sungguh suasana menjadi sangat dingin dan suram. Baru beberapa langkah mereka menuju ke luar gedung, mereka berdua bertemu dengan Alexa. Wajahnya sangat sumringah dengan banyak paper bag di tangannya.
"Hai, kalian berdua ketemu Axel?"
"Ya menurut lo ketemu siapa? Satpam?" ucap Darren sebal. Entah kenapa setelah mendengar cerita Axel tentang Alexa, yang menurutnya tidak sebaik yang Axel pikirkan, membuatnya muak untuk berbasa-basi. Baginya, wanita terhormat tidak seharusnya tetap mengejar laki-laki yang sudah beristri, apalagi sampai memeras hartanya.
"Nggak menyangka ya, seorang putri dari pejabat bisa-bisanya jadi simpanan pria beristri. Benar-benar prestasi yang membanggakan. Orang tua kamu pasti bangga."
Kali ini kalimat sarkasme itu keluar dari bibir Radit. Dia kemudian menepuk pundak Darren agar segera berlalu. Terlalu lama bersama dengan pelakor tidak baik untuk kesehatan mental. Mereka bukan pria baik-baik, tapi mereka tidak pernah menyakiti wanita. Bahkan dalam melakukan one-night stand, mereka tidak pernah sembarangan memilih wanita, dan tetap menghormati mereka karena dasarnya hubungan satu malam itu adalah suka sama suka; simbiosis mutualisme.
Mereka berdua tidak menyangka jika Axel bahkan sangat merendahkan istrinya sendiri, membuat mereka sedikit terkejut dan kecewa.
Alexa memandang kedua pria yang baru saja berlalu dari hadapannya dengan wajah memerah. Berani-beraninya mereka menghinanya seperti itu. 'Awas saja. Dia akan memberikan pelajaran untuk kedua pria itu. Lihat saja nanti,' batin Alexa.
lu lupa ucapan lu!
ibu mana yg tk akan lakukan perlindungan pd anak anaknya!!
balasan sesuai perbuatan!!