NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Aset Pertama

[Progress: 5%]

Panel layar transparan itu memudar. Lebur ke dalam udara berpendingin yang menusuk kulit leher.

Sri Arsila masih duduk kaku. Napasnya dangkal. Matanya terkunci pada deretan angka hijau di layar ponselnya. Dua ratus juta. Nominal sinting itu sudah berpindah tangan begitu saja.

Fais menatapnya lurus. Ia tidak tersenyum. Ia tidak terlihat lega.

Sebenarnya, otaknya sendiri belum mencerna apa yang baru saja terjadi. Jari telunjuknya yang tadi mengetuk tombol layar masih terasa sedikit kebas.

Ia membuang uang. Membuang. Murni melempar rentetan angka nol ke udara kosong.

Hanya saja, raut wajahnya menolak menampilkan kepanikan itu. Fais diam. Membiarkan keheningan mengunyah sisa-sisa kewarasan wanita di depannya.

Mereka berpindah. Malam semakin pekat menggerogoti kota.

Mobil sedan Sri membelah aspal menuju pinggiran barat kota. Tidak ada percakapan. Hanya deru mesin dan suara angin yang menghantam kasar kaca jendela.

Tujuan mereka. Sebuah gudang logistik tua.

Gerbang besinya berkarat parah. Engselnya menjerit ngilu saat didorong paksa oleh satu-satunya satpam sewaan yang tampak kurang gizi di sana.

Lampu-lampu pendar di dalam bangunan raksasa itu redup. Berkedip lelah.

Bau debu. Bau pelumas mesin basah. Tumpukan kardus membusuk menggerogoti hidung Fais. Bangunan ini sunyi. Mati.

Ini adalah bangkai. Sisa kejayaan Sri Arsila yang kini teronggok menumpuk karat.

Langkah sepatu mereka menggema. Bertabrakan dengan dinding beton kusam.

Mata Fais tertuju pada satu benda di tiang penyangga utama. Sebuah jam dinding raksasa. Kaca pelindungnya retak memanjang, membagi angka dua belas menjadi dua. Jarumnya membeku tepat di angka tiga.

Jam itu mati. Benda sialan itu diam total.

Selama ini, Fais hanya tahu satu jenis kematian. Kematian fisik. Tulang rusuk patah. Dada berlubang. Napas berhenti. Bau amis darah di ujung aspal.

Tapi menatap isi gudang raksasa ini, ia mencerna sesuatu yang baru. Kematian punya bentuk lain.

Kematian fungsi. Bangunan utuh, mesin masih di tempatnya, lantai belum runtuh. Tapi tidak ada yang bernyawa. Sistemnya mati tercekik.

Sri mulai merapal isi kepalanya. Menjelaskan rincian aset yang tersisa.

"Database klien kita utuh. Tiga ratus kontak aktif dari vendor tingkat menengah." Suara Sri memantul di antara pilar beton. "Jalur logistik pelabuhan utara bisa kita tembus. Software distribusi ini... enkripsinya terpisah dari server utama yang sudah disita."

Fais berjalan pelan. Tangannya masuk ke saku jaket.

Jaringan operasional gelap. Celah hukum. Suap tingkat lokal. Pajak daerah. Sri menyebutkan rentetan istilah itu seolah sedang membacakan menu makan malam.

Fais merasakan otot rahangnya menegang. Ia menunduk menatap tangannya sendiri.

Tangan kasar. Tangan yang puluhan bulan dihabiskan untuk memegang adukan semen. Menahan makian mandor proyek. Menghancurkan rahang penagih utang dengan batu bata.

Dunia lamanya terasa sangat primitif. Kekerasan fisik adalah bahasa orang bawah.

Di dalam ruangan yang berbau karat ini, miliaran rupiah bisa berpindah tangan hanya lewat tumpukan data. Lewat koneksi. Lewat celah informasi. Tanpa perlu ada tulang yang dipatahkan secara langsung.

Sri terus bicara. Lisensi. Distribusi. Izin operasional distrik.

Semakin banyak wanita itu memuntahkan kata-kata, semakin aneh pandangan Fais ke depan.

Dunia di depan matanya mendadak berubah warna. Titik-titik cahaya berkumpul.

Garis-garis tipis biru berpendar halus. Teks melayang bermunculan menutupi mesin-mesin tua. Menumpuk tepat di atas rak-rak besi yang kosong melompong.

[Probabilitas operasi berjalan: 8%]

[Saran: Observasi diam-diam.]

Fais nyaris menahan napas. Angka delapan persen itu menyala merah. Berdenyut konstan.

Selama lima tahun belakangan berbaur dengan sistem, ia mengira kekuatannya adalah murni soal tubuh. Otot yang menguat dua kali lipat. Kelincahan tingkat monster. Refleks membunuh yang di luar nalar manusia.

Malam ini, di tengah bangkai bangunan komersial, pencerahan itu datang menghantam isi kepalanya.

Kemampuan mutlak yang sistem tanam di otaknya adalah membaca kemungkinan. Analisis probabilitas tingkat sinting.

Sistem ini tidak hanya memberitahu ke arah mana ia harus mengayunkan tinju. Sistem ini memberitahu kapan ia harus menutup mulut rapat-rapat.

Terlalu banyak bicara justru menurunkan probabilitas keberhasilan. Mulut yang terbuka lebar sering kali menjadi celah masuknya peluru atau kebodohan. Makanya sistem selalu memberikan opsi pasif di situasi rumit.

Fais mematuhi deretan teks biru itu. Ia menelan semua kebingungannya kembali ke kerongkongan.

Ia hanya berdiri tegak. Menatap deretan kontainer berdebu. Mengawasi. Sepi keparat yang menyerap semua kebisingan.

"Untuk masalah izin operasional di distrik ini..." Sri berbicara cepat. Tangannya menunjuk setumpuk dokumen usang di atas meja kerja di sudut ruangan. "Kita butuh setidaknya dua tanda tangan dari aparat lokal. Risikonya adalah—"

Sri menghentikan kalimatnya mendadak.

Tenggorokan wanita itu terasa tercekik pasir. Ia menoleh ke arah Fais. Ia mengharapkan melihat wajah pria yang kebingungan dihantam bahasan korporat.

Tapi apa yang ia lihat membuat perutnya bergejolak hebat.

Ia terlihat tenang, sangat tenang malah. Terlalu berbeda jika dibandingkan tatapan diam yang ia tunjukan di restoran.

Sri mundur satu langkah tanpa sadar. Tumit sepatunya mengenai kaki meja.

"Ada masalah dengan izinnya?" Suara Fais memecah udara lembap.

Datar. Tanpa nada ancaman sama sekali. Tapi di telinga Sri, intonasi itu terdengar seperti bilah pisau yang menempel di leher.

Sri memaksakan senyum di wajahnya. Otot pipinya menolak bekerja sama. "Tidak. Semuanya masih dalam batas wajar. Aku bisa mengurus itu."

Fais diam. Ia tahu wanita itu berbohong soal ketakutannya. Bau panik merembes dari cara Sri menarik napas.

Biarkan saja. Ketakutan adalah fondasi ketaatan yang paling bagus dalam rantai makanan apa pun.

Di luar gedung sana. Jauh dari cahaya lampu pendar yang sekarat.

Di balik semak-semak liar yang membelah jalan raya sepi.

Suara rana kamera mengoyak pelan hening malam. Lensa tele menjulur panjang dari celah kaca mobil yang mesinnya dimatikan total.

Satu jepretan. Dua jepretan. Tiga kali.

Bayangan Fais dan Sri Arsila yang berdiri mematung di ambang pintu masuk gudang terekam sempurna. Warna gelap, kontras pencahayaan, semuanya masuk ke dalam galeri digital.

Jemari bersarung tangan di atas layar ponsel bergerak lincah. Menekan satu tombol hijau.

Pesan terkirim cepat menembus jaringan sinyal.

Di belahan kota yang berlawanan. Di ruangan berlantai marmer di lantai tertinggi gedung kaca raksasa.

Wawan menatap layar ponsel yang menyala di atas meja kerjanya. Ruangan itu kedap suara. Keheningan absolut yang nyaris memekakkan telinga.

Asap cerutu mengepul pelan dari sela jarinya. Mengular abu-abu ke arah lampu kristal di langit-langit.

Kepingan puzzle yang beberapa hari ini membuat kepalanya berdenyut menyakitkan mulai berserakan di layar. Tumpukan informasi acak.

Dan sekarang, benang merah itu ditarik lurus. Terhubung keras.

Wawan mengetuk ujung jarinya di atas permukaan meja kayu jati. Ritmenya pelan. Konstan.

Gudang logistik barat. Aliran dana misterius. Sri Arsila yang kembali merangkak dari jurang kebangkrutan. Dan entitas antah-berantah bernama Fais.

Semuanya menyatu bulat. Kabut tebal yang menutupi pikirannya selama berhari-hari menguap tak bersisa.

Sudut bibir Wawan tertarik pelan ke atas. Senyum tipis yang merobek ketenangan di wajah kotak itu.

"Sri Arsila..." Suara Wawan serak parah. Menggema pelan seperti gesekan lempeng baja. "Kalian berdua ingin membuka bisnis?"

Tatapannya memfokus perlahan. Sorot mata Wawan menajam seketika, menusuk lurus menembus pemandangan kota di balik dinding kaca ruangannya. Mengarah lurus tepat ke distrik barat kota.

Peta kekuasaan baru saja dibentangkan lebar-lebar. Umpan sudah ditelan. Arah gerakan Fais mulai memiliki pola.

"Coba, tunjukkanlah bagaimana kalian bertindak." Tawa menggem di ruangan itu. "Dan Fais, coba tunjukkan apa yang kau punya."

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!