Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Mati Rasa
Raka terlihat sangat gusar. Berkali-kali ia mengecek layar ponselnya, namun tetap saja Zira tidak bisa dihubungi. Perasaan tidak tenang itu ia bawa kembali ke dalam ruang pemeriksaan rumah sakit, tempat Ivy berbaring. Raut wajah wanita muda itu tampak pucat, namun ada kilatan kepanikan yang berbeda di matanya saat menyadari Raka masuk dengan ekspresi kesal yang kentara.
"Maafkan aku, Raka. Aku melakukan itu supaya kamu datang. Kamu sudah terlalu lama tidak menjengukku dan anak kita," ucap Ivy dengan suara bergetar dan tatapan memelas yang dibuat-baik agar terlihat rapuh.
"Jika kamu terus-menerus berbohong seperti ini, aku tidak akan pernah bisa percaya lagi padamu, Ivy! Beruntung keadaan kandunganmu tidak apa-apa, dokter bilang itu hanya ketegangan otot akibat panik yang berlebihan. Kenapa kamu harus sepanik itu? Takut kebohonganmu ketahuan? Apa ada kebohongan yg lebih besar lagi dari ini?" sentak Raka, yang seketika membuat Ivy terdiam seribu bahasa.
Ivy menunduk, namun pikirannya berkecamuk. Ia teringat akan sosok Thomas yang datang ke apartemennya seperti hantu dari masa lalu. Ia tahu pria itu akan kembali menagih uang, dan satu-satunya tempat persembunyian yang aman adalah berada di bawah pengawasan Raka secara langsung.
"Raka, aku mohon ... bisakah aku tinggal bersamamu dan Kak Zira saja di rumah besar? Aku tidak bisa tinggal sendiri lagi. Bagaimana jika terjadi hal darurat seperti tadi?" Ivy meraih tangan Raka, mencoba memberikan sentuhan lembut untuk meluluhkan hati pria itu.
Raka segera menarik tangannya dan berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Ia benar-benar bingung. Pikirannya terbagi antara kewajiban menjaga bayi itu dan ketakutannya akan reaksi Zira.
"Kamu tidak nyaman dengan apartemen mewah itu? Kita bisa pindah ke unit lain yang lebih besar, tapi jangan tinggal bersama Zira. Dia pasti akan marah besar jika tahu kamu ada di rumah kami," ucap Raka dengan nada suara yang melunak namun tetap tegas menolak.
"Ini bukan soal nyaman atau tidak, Raka. Tapi aku takut sendirian!"
"Aku kan sudah menyewa asisten rumah tangga untuk menemanimu!"
"Itu tidak cukup, Raka!" sentak Ivy, air matanya mulai mengalir deras membasahi pipi. "Anak yang kukandung ini juga anak Kak Zira, anak kalian! Apa kalian tidak bisa memberiku satu tempat di mana aku merasa benar-benar aman dan nyaman? Jika terjadi apa-apa dengan janin ini karena aku stres sendirian, kamu akan menyesal seumur hidup!" ancam Ivy dengan nada suara yang meninggi.
Raka terdiam membeku. Ia tidak berkutik jika sudah diberi ancaman soal keselamatan calon ahli warisnya. Selama sepuluh tahun ia mendambakan kehadiran suara tangis bayi di rumahnya, dan kini impian itu ada di depan mata. Setelah terdiam cukup lama dalam kebimbangan, akhirnya Raka mengangguk pelan.
"Aku akan mencoba membicarakannya dengan Zira. Tapi ingat, jika dia menolak mentah-mentah ... mau tidak mau kamu harus tetap di apartemen itu. Kamu harus tahu satu hal, Ivy, aku jauh lebih takut kehilangan Zira daripada apa pun, meskipun aku sangat menginginkan bayi itu," ucap Raka dingin sebelum berlalu pergi, meninggalkan Ivy yang menatap punggungnya dengan tatapan hancur sekaligus dendam yang kian memupuk.
.
.
.
.
Di sisi lain, di bawah langit biru yang membentang luas, Kayden dan Zira sedang menikmati waktu berdua di tepi pantai. Mereka berdiri menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajah. Panas matahari London yang menyengat tidak membuat mereka merasa terganggu. Zira justru memanfaatkan momen itu untuk memejamkan matanya, meresapi harmoni antara deburan ombak dan semilir angin yang seolah mencoba mencuci segala luka di hatinya.
Kayden, yang tetap terlihat modis dengan kacamata hitamnya, menoleh perlahan. Ia memperhatikan Zira yang memejamkan mata dengan seulas senyuman manis yang tampak dipaksakan. Ia tahu betul, di balik ketenangan itu, Zira ingin sekali berteriak dan menangis untuk meluapkan beban yang menghimpit batinnya. Namun, wanita itu memilih untuk diam dan menyimpan semuanya sendiri.
"Menangislah, Zira. Jika kamu sudah tidak mampu lagi menampung semuanya di dalam hatimu, jangan dipaksa untuk terlihat kuat," ucap Kayden tiba-tiba.
Zira membuka matanya perlahan. Ia menoleh, menatap Kayden yang sedang memperhatikannya dengan lekat. Dalam hati, Zira harus mengakui bahwa pria di hadapannya ini memang sangat tampan dan memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.
"Menangis untuk apa, Kay? Air mata tidak akan bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi," sahut Zira dengan senyum lembut yang getir.
"Bisa. Kamu bisa mengubah keadaan jika kamu mau mengambil keputusan besar," ucap Kayden dengan nada suara yang dalam dan serius.
"Bisa?" Zira tampak bingung.
Kayden mengubah posisi tubuhnya agar menghadap sepenuhnya ke arah Zira. Ia sedikit menyipitkan mata, fokus menatap wajah cantik wanita yang selama ini ia puja. "Bercerailah dengannya, Zira. Tinggalkan Raka."
Zira tersentak. Jantungnya berdegup kencang mendengar kata itu secara langsung. Bercerai? Selama ini ia belum pernah berpikir sejauh itu. Usianya sudah hampir memasuki kepala empat, ia merasa terlalu tua untuk memulai hidup baru dari nol. Ia merasa memiliki kekurangan besar sebagai wanita karena tidak bisa memberikan keturunan.
"Kay ... bayi yang ada di kandungan wanita itu adalah anakku dan Raka. Itu berasal dari sel telurku. Secara medis dan hukum, dia akan menjadi anakku setelah lahir nanti. Bagaimana mungkin aku pergi? Aku akan bertahan dengan Raka demi membesarkan anak itu bersama-sama," ucap Zira dengan nada memelas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri atas keputusan pahit yang ia ambil.
Kayden menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang penuh misteri. Ia melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zira bisa merasakan aura dominan dari pria itu. Kayden mendekatkan wajahnya ke telinga Zira, membisikkan kata-kata yang seketika meruntuhkan seluruh fondasi keyakinan wanita itu.
"Kamu begitu yakin bahwa anak itu adalah anakmu dari hasil sel telurmu sendiri, Zira? Bagaimana jika kenyataannya tidak seindah itu?"
Zira mengerutkan kening, menatap Kayden dengan tatapan tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika mereka sudah bermain jauh sebelum prosedur medis itu dilakukan, Zira? Bagaimana jika janin itu murni hasil hubungan gelap mereka dan kamu hanya dijadikan tameng legalitas?" bisik Kayden dengan tatapan mata yang tajam, menanamkan benih keraguan yang sangat mematikan di hati Zira.
Zira diam sejenak, sebelum kembali membuka suara, "Aku sudah memikirkan hal itu tapi ...," Zira menatap Kayden dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Biarkan aku mati rasa, sampai aku tidak lagi berat untuk melangkah pergi Kay,"
___________________________