Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Play
Lenguhan dan rintihan yang sejak tadi mengisi seluruh ruangan kamar hotel president suit itu menandakan bahwa dua insan yang sedang memanas itu begitu menikmati permainan mereka.
Sesekali sang wanita memohon untuk berhenti sejenak, namun pria bertubuh kekar itu tidak memberinya ampun sedetikpun.
Hingga suara ketukan pintu yang tidak berjeda itu membuatnya sangat kesal karena terpaksa harus menghentikan permainan yang belum usai itu.
“Ada apa? Apa kau tidak melihat?” Pria dengan perawakan tinggi tegap itu menunjuk pada bagian bawah tubuhnya.
Pria yang mengetuk itu dan masuk tanpa izin itu memalingkan pandangan nya.
“Shitttt!”
Pria itu berbalik dan pergi menuju kamar mandi. Tidak berselang lama dia kembali.
“Bisakah aku menyelesaikan nya terlebih dahulu. Ayolah, apa aku harus pergi dalam keadaan dia masih berdiri. Apa kau tahu bagaiaman rasanya?”
“Lima menit.”
“What?”
Pria pengetuk pintu itu kembali keluar dan menutup pintu atasan nya.
“Oke, hanya lima menit. Ayo, selesaikan ini dengan cepat.”
Usai sudah permainan nya. Dia segera membersihkan badan nya dengan detail.
“Ambillah.”
“Terimkasih, Pak. Apa nanti Bapak akan memanggil saya lagi untuk—“
“Pergilah.”
Wanita itu segera mengambil uang gepokan yang ada di atas ranjang. Dia bergegas masuk ke kamar mandi.
Setelah berpakaian rapi, pria tinggi itu pun keluar.
“Udah?” Tanya orang yang mengetuk pintu tadi.
“Angga, apa kau benar-benar pria? Sangat kejam!”
Angga, dia adalah seorang asisten dari pria kaya yang suka sekali tidur dengan para wanita muda dan tentunya masih gadis murni. Untuk itulah dia berani membayar mahal pada dara itu untuk memuaskan hasratnya.
Dia adalah Rez Eniar Azmir. Pengusaha sukses yang memegang berbagai macam bisnis.
“Hari ini kita akan meeting dengan anggota dewan untuk membicarakan pembangunan jalan tanpa hambatan pukul lima belas tiga puluh, setelah itu malam nya sekitar pukul delapan malam kita akan bertemu dengan Pak Sharga.”
Rex menghentikan langkah kakinya saat Setyaningtias yang biasa dipanggil Tias itu membacakan jadwal pertemuan kedua.
“Sharga siapa?”
Tias dan Angga saling melirik.
“Apa kau benar-benar lupa? Kebanyakan main sih.”
“Bulan ini gajimu akan aku potong.”
“Maaf, Pak.”
“Ck!”
Hubungan Angga dan Rex memang bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, tapi mereka juga adalah sahabat yang sudah seperti sodara.
Tidak heran jika angga lebih sedikit berani pada Rex ketimbang pegawai lain.
Selain Angga yang berperan sebagai asisten pribadinya, dan juga Tias yang menjadi sekretaris peribadinya, Rex juga memiliki ajudan utama yaitu Dwisasono. Ajudan sekaligus supir yang siap sedia mengantar nya ke mana saja, kapan saja.
Butuh sekitar satu jam dari hotel menuju tempat pertemuan Rex dengan anggota dewan untuk membicarakan pembangunan jalan bebas hambatan.
Begitu sampai di tempat, Rex berubah drastis. Dia terlihat lebih dingin dan tidak banyak bicara.
“Selamat siang, Pak Rex.”
“Siang.”
Setelah saling menyapa basa basi, mereka duduk di sebuah ruangan privat.
“Bagaimana perjalanan Bapak tadi menuju ke sini? Pasti melelahkan. Apa Bapak terjebak macet? Di luar cuaca sedang panas, saya akan sedikakan yang segar-segar untuk bapak.”
Anggota dewan bernama Ruditama itu meminta asisten nya untuk keluar. Tidak lama kemudian dia kembali dengan dua wanita cantik dengan pakaian elegan namun terlihat seksi.
Rex menyunggingkan sebuah senyuman sinis.
“Masih fresh, Pak. Ranum. Bapak silakan pilih mau yang mandarin atau Bali?”
Rex memang suka perempuan, tapi dia tidak suka direndahkan seperti saat ini.
“Silakan ajukan proposalnya pas asisten saya. Akan saya kabari nanti.”
Tanpa basa basi Rex langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
Anggota dewan dan asisten hanya diam saling pandang, tanpa mengerti bahwa mereka telah menyinggung harga diri Rex.
“Angga, cari pejabat lain yang bisa menangani proyek ini.”
“Baik, Pak.”
“Tias, berapa jam perjalanan dari sini ke rumah siapa itu namanya?”
“Sharga.”
“Iya, itu.”
“Sekitar satu jam kalau tidak macet.”
“Kita berangkat sekarang.”
“Ini terlalu awal, Pak.”
“Hubungi mereka, katakan aku on the way sekarang. Jika mereka tidak siap, maka bayar saja hutang nya jika mampu.”
“Baik, Pak.”
Tias terlihat sangat sibuk mencatat lalu menelpon pihak Sharga dalam keadaan berjalan cepat. Tias bahkan kesulitan mengatur nafasnya.
Rex dan ke tiga perintilan nya itu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi menuju rumah Sharga. Pengusaha mobil mewah yang memilik hutan menumpuk pada Rex.
“Pak, saya sudah mendapatkan pejabat yang bersedia menangani proyek kita,” ujar Angga.
“Good. Tias, carikan waktu untuk bisa bertemu dengan pejabat itu.”
“Baik, Pak. Akan saya jadwalkan.”
“Oh iya, apa kita perlu membawa sesuatu?”
“Sesuatu?”
“Bagaimana pun kita akan menyambangi rumah mertuaku bukan?”
“Hahaha, serius kau menganggap dia mertua?” Tanya Angga. “Kau tahu? Dia akan menghabiskan uangmu, Rex.”
“Maka ambil semua yang dia miliki hingga tak tersisa.”
Angga dan Tias yang duduk di depan hanya saling melirik.
Benar kata Tias, perjalanan butuh waktu satu jam jika tidak macet, mereka datang tepat waktu karena perjalanan begitu lancar. Seolah Tuhan memang merestui dan meridhoi Rex untuk menuju rumah Sharga. Rumah penguasa yang rela menjual putrinya demi melunasi hutang.
“Rumah yang cukup mewah,” gumam Rex.
“Percuma kalau punya banyak hutang,” bisik Angga.
“Itulah kenapa manusia harus bisa mengukur kemampuan. Jangan seperti lilin, ingin terlihat bersinar, tapi membakar dirinya sendiri.”
“Bukankah lilin menyinari orang lain dia mengorbankan dirinya?”
“Itu lebih bodoh lagi.”
Rex merapikan pakaiannya. Dia berjalan santai dengan elegan dan penuh percaya diri.
Pintu terbuka, dua pelayan pria menyambut mereka, mengantar mereka masuk ke ruangan di mana sang tuan rumah sudah menunggu.
Begitu Red datang, mereka yang sedang duduk pun segera berdiri, menyambut. Basa basi pun terjadi.
“Silakan diminum, Pak. Ini matcha terbaik yang didatangkan langsung dari Jepang.”
“Wah, mewah sekali. Angga, coba kamu belikan saya juga.”
“Siap, Pak.
Sharga terlihat canggung saat Rex menyindir dirinya.
“Hemm, kalau asli dari Jepang nya memang beda ya.”
“Hahaha. Memang sangat enak dan—“
“Rasa rumputnya begitu kenatara.”
Sharga terdiam tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Rex.
“Maaf pak Sharga, Pak Rex tidak suka Ocha atau matcha atau apapun yang berjenis teh.”
“Saya minta maaf, Pak Rex. Saya tidak tahu jika bapak tidak menyukai nya.”
“Tidak masalah. Toh kita baru juga mau mulai menjalin hubungan menantu dan mertua. Mungkin lama kelamaan Pak Sharga akan tahu. Oh, tidak. Bukan Pak Sharga, tapi … ayah.”
Perkataan Rex yang diucapkan dengan muka datar itu membuat Sharga dan istrinya tidak bisa menebak apakah itu gurauan, sindiran atau … entahlah. Mereka terlihat sangat canggung dan kaku.