NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Nathan menutup bukunya sebentar, menyela pembicaraan.

"Biarkan saja dulu. Wajar kalau dia butuh ruang. Cuma aku berharap suatu saat nanti, dia bisa mengubah pandangannya tentang kakaknya. Rasanya sakit sekali melihat dia menyimpan semua kebencian itu sendirian."

"Aku juga merasa begitu," tambah Tamma sambil meminum sisa minuman kaleng itu. "Sudah bertahun-tahun kita kenal dia, baru kali ini aku lihat sisi dia seperti itu. Dingin, penuh dendam, dan seolah-olah semua orang adalah musuh. Ini bukan Judika yang kita kenal."

"Apakah cuma aku yang merasa kalau akhir-akhir ini kamu mulai bicara seperti orang dewasa, Tamma?" tanya Nathan tiba-tiba. Dia menatap Tamma dengan ekspresi takjub.

Wajah Tamma langsung berseri-seri, matanya berbinar. Ini pertama kalinya dia dipuji secara tulus oleh kakaknya yang paling jenius itu.

"Tidak, itu cuma perasaanmu saja, Nathan." Yongki menyela sambil menggelengkan kepala, langsung mematikan kebahagiaan Tamma dalam sekejap.

Wajah ceria Tamma seketika langsung berubah masam. Dia melotot kesal ke arah Yongki.

"Kamu emang paling jujur sedunia ya, kak. Sampai bikin orang sakit hati saja."

Yongki hanya mendengus. Dia tidak menggubris keluhan itu. Dia kemudian kembali membuka buku tebal yang selalu dia bawa kemana-mana. Buku itu disebutnya 'buku keramat', di mana setiap lembarnya penuh dengan coretan, potongan kalimat, dan draf lirik lagu.

Dari buku itulah semua karya mereka lahir. Yongki kembali fokus, mencoret-coret halaman baru, merangkai kata demi kata untuk lagu selanjutnya.

 ***

Di lokasi yang berbeda, namun di waktu yang bersamaan, disebuah taman belakang sekolah itu luas dan asri, dipenuhi deretan pohon sakura yang saat ini sedang mekar sempurna. Angin sepoi-sepoi berhembus, menerbangkan kelopak bunga berwarna merah muda itu melayang kemana-mana, menciptakan pemandangan yang indah dan damai. Karena jam pelajaran masih berlangsung, tempat ini terasa sangat sepi, hanya ada suara dedaunan dan kicau burung. Tempat yang sempurna untuk menyendiri, pikir Judika.

Judika duduk di bangku kayu di bawah pohon terbesar. Dia memasang kembali earphone kesayangannya. Musik hasil karya Yongki mengalir masuk ke telinganya. Perlahan membawa pikirannya jauh dari kenyataan yang menyakitkan.

Tanpa sadar, kepalanya mulai mengangguk mengikuti irama. Bibirnya ikut bergerak menyanyikan lirik yang sudah hafal betul.

That’s lie, you’re such a liar

See me, see me, ya you’re a hypocrite

Why are telling to go a different path? Take care of your self

Penggalan kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, namun begitu dia sadar apa yang dia nyanyikan, tiba-tiba suasana hatinya berubah drastis.

"Sialan! Kenapa harus lirik ini yang aku ucap," tanya Judika kesal.

Judika langsung mencopot earphone dan melemparkannya sembarangan di sampingnya.

Judika menutup matanya rapat-rapat, berusaha menekan semua ingatan yang mulai menyerbu masuk ke dalam pikirannya.

Tapi semakin dia berusaha melupakan, semakin jelas bayangan masa lalu itu muncul kembali.

"Kakak! Tolong aku! Jangan tinggalkan aku!"

"Maaf, Dika. Kakak tidak bisa bawa kamu. Jalan kita udah beda sekarang. Jaga diri baik-baik ya."

"Apa maksudmu, kak?! Meninggalkan aku sama Ayah?! Kakak!! Ibu!!"

Judika seketika tersentak keras. Dia hampir nyaris terjatuh dari bangku. Ternyata dia tidak sadar sudah tertidur sebentar dengan posisi yang salah membuat kepalanya kini berdenyut hebat.

Judika seketika memijat pelipisnya kuat-kuat, berusaha mengusir rasa pusing dan bayangan menyakitkan itu.

Namun belum sempat dia tenang sepenuhnya, bayangan yang muncul selanjutnya bukanlah ingatan masa lalu, melainkan sosok nyata yang berdiri tepat di hadapannya.

Seorang pria jangkung, tampan, dengan rambut hitam pendek yang rapi. Mengenakan jaket coklat tua dipadukan celana jeans dan sepatu boot kulit membuat penampilannya terlihat tegas namun tetap menarik dipandang. Wajahnya terlihat dingin dan serius, tapi sorot matanya terasa hangat.

Judika menatap wajah itu. Dia merasa sangat familiar seolah pernah melihatnya, tapi entah di mana, dan dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.

"Maaf mengganggu istirahatmu," suara pemuda itu terdengar berat dan rendah. Namun terdengar dewasa padahal raut wajahnya masih terlihat muda.

Judika mengangkat wajah, mengedipkan matanya beberapa kali.

"Ah... tidak apa-apa. Kamu orang baru ya? Aku belum pernah lihat kau berkeliaran di sekitar sini sebelumnya."

Pemuda itu tersenyum tipis hingga menampakkan lesung pipi samar.

"Iya. Saya baru datang hari ini. Namaku Yohan Areksa." pemuda itu menjawab pertanyaan dari Judika sembari mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

"Judika," jawab Judika sambil menyambut uluran tangan itu.

"Kamu murid sekolah Harmoni High School ya?" tanya Yohan lagi.

Judika mengangguk ragu. Tatapannya masih penuh kewaspadaan dan rasa ingin tahu.

"Kalau gitu, berarti foto ini memang benar tempatnya."

Yohan mengeluarkan ponselnya. Kemudian dia memperlihatkan sebuah gambar seragam sekolah milik Harmoni.

"Kepala sekolahmu mengirimkan foto ini lewat email. Katanya wilayah sekolah ini tidak rumit kalau cuma lihat alamat saja. Takut aku nyasar. Makanya dia kirim foto ini sebagai petunjuk."

"Kepala sekolah? Ada hubungan apa kamu sama dia?"

"Aku dokter baru yang akan bertugas di ruang UKS sekolahmu mulai hari ini," jelas Yohan sambil tetap tersenyum. Wajahnya memang terkesan dingin dan angkuh kalau diam, tapi begitu bicara, sikapnya sangat sopan dan ramah.

"Oalah, jadi begitu. Maaf ya Dokter, aku sempat curiga tadi," ucap Judika buru-buru, langsung membungkukkan badan meminta maaf.

"Haha, santai saja. Jangan kaku begitu." Yohan melambaikan tangan, "Untung aja aku ketemu kamu. Sudah hampir setengah jam aku muter-muter keliling sini, tapi belum juga nemu gerbang utamanya."

"Syukurlah ketemu juga. Aku juga mau balik ke sekolah. Kalau begitu ikut aku saja ya, Dokter!"

Setelah melewati sederetan lorong panjang di sekolah. Judika sadar betul bahwa hampir seluruh pandangan orang tertuju pada sosok yang berjalan di sampingnya. Apalagi para siswi yang sedari tadi asyik bergosip dan tertawa seketika membisu dan menatap lekat-lekat begitu ia dan dokter muda itu lewat di hadapan mereka.

"Orang tampan benar-benar punya pengaruh besar ya di sini," gumam Judika dalam hati sambil melirik sekilas ke arah pemuda di sebelahnya.

Berbanding terbalik dengan perhatian yang Judika dapatkan. Sang dokter malah sibuk menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengan siapa saja, seolah berusaha menghindari tatapan orang lain.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!