NovelToon NovelToon
Ketika CEO & Perdana Menteri Saling Menghancurkan...Dan Saling Menginginkan

Ketika CEO & Perdana Menteri Saling Menghancurkan...Dan Saling Menginginkan

Status: tamat
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶

Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.

Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Jatuh

Gala Musim Gugur di Villa d'Este bukan sekadar pesta dansa, itu adalah teater kemunafikan yang dilapisi emas murni dan diterangi oleh ribuan lampu kristal yang menyilaukan. Aroma parfum mahal, sampanye vintage, dan bunga lili putih memenuhi aula besar itu, mencoba menutupi bau busuk dari konspirasi yang sedang dimasak di setiap sudut ruangan. Bagi Lyra Selene De la Vega, setiap langkah yang ia ambil di atas lantai marmer yang licin itu terasa seperti berjalan di atas hamparan belati yang tersembunyi.

Lyra melangkah dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menuju medan perang. Gaun merah darahnya memiliki belahan tinggi yang menantang, memperlihatkan jenjang kakinya yang mulus setiap kali ia melangkah, memberikan kontras yang tajam dengan topeng renda hitam yang menutupi separuh wajahnya. Warna merah itu adalah pernyataan, sebuah simbol darah, gairah, dan peringatan. Di sampingnya, Count Julian dari Utara terus menggenggam lengannya dengan kepemilikan yang arogan. Julian adalah pria yang tampan dengan cara yang membosankan, produk dari garis keturunan bangsawan yang merasa dunia adalah milik mereka karena hak istimewa lahiriah. Setiap kali tangan Julian menyentuh kulitnya, Lyra merasakan gelombang mual yang luar biasa, seolah-olah seekor reptil dingin sedang merayap di tubuhnya.

Dari kejauhan, Elian Theron Valerius mengawasi. Sebagai Perdana Menteri, ia berdiri di pusat gravitasi politik malam itu. Ia tampak seperti patung obsidian yang dingin dalam setelan jas hitamnya yang sempurna. Di sampingnya adalah Isabella Von Strauss, yang terus tersenyum manis kepada para kamera dan jurnalis, tidak menyadari bahwa ia hanyalah bidak dalam permainan yang jauh lebih besar. Tatapan Elian dan Lyra bertemu di antara kerumunan tamu yang bersulang. Meski terhalang topeng, kilatan kemarahan, kecemburuan, dan gairah yang membakar di mata Elian tidak bisa disembunyikan.

Rencana Penghancuran dan Pemberontakan

Di tengah kebisingan musik orkestra, Lyra dan Elian sudah memulai operasi mereka. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup, ini tentang serangan balik. Lyra telah menggunakan jaringan intelijen internal De la Vega untuk menggali rahasia tergelap Count Julian. Ia menemukan bahwa keluarga Count di Utara sedang terlibat dalam skema pencucian uang besar-besaran untuk mendanai faksi separatis. Sementara itu, Elian melalui badan intelijen negara telah mengantongi bukti bahwa ayah Isabella, sang Menteri Dalam Negeri, sedang merencanakan kudeta administratif untuk menggulingkan Elian jika pernikahan itu gagal terjadi.

"Julian," bisik Lyra dengan suara manis yang mematikan saat mereka berdansa di tengah aula. "Aku dengar pengiriman logistikmu di pelabuhan Utara mengalami... sedikit masalah teknis semalam?"

Wajah Julian menegang sejenak sebelum ia berhasil memasang kembali topeng ketenangannya. "Hanya masalah kecil dengan serikat pekerja, Lyra. Tidak perlu kau cemaskan."

"Oh, aku tidak cemas," balas Lyra sambil tersenyum di balik topeng rendanya. "Aku hanya berpikir, alangkah sayangnya jika publik tahu bahwa 'logistik' yang kau maksud sebenarnya adalah pasokan senjata ilegal."

Lyra merasakan cengkeraman Julian di pinggangnya mengeras, hampir menyakitkan. Di sisi lain ruangan, Elian sedang melakukan manuver serupa terhadap Isabella dan ayahnya. Ia memberikan informasi bocoran kepada pers mengenai "dana tak terduga" di rekening luar negeri Von Strauss. Mereka tidak hanya memberontak terhadap perjodohan; mereka sedang menghancurkan fondasi kekuasaan musuh-musuh mereka dari dalam.

Pertemuan di Ruang Kerja

Begitu musik berganti menjadi tempo yang lebih cepat, Lyra memberi isyarat halus kepada Elian. Dengan alasan ingin memperbaiki riasannya, Lyra menyelinap keluar dari aula menuju sayap pribadi gedung yang jarang dilalui tamu. Ia masuk ke dalam ruang kerja ayahnya yang kosong, sebuah ruangan yang penuh dengan dokumen rahasia dan aroma kayu mahoni.

Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja itu terbuka. Elian masuk dengan langkah cepat dan langsung mengunci pintu di belakangnya. Suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi panas. Elian tidak membuang waktu untuk bicara soal politik. Ia melangkah maju, mencengkeram pinggang Lyra, dan menariknya hingga dada mereka bersentuhan.

"Kamu terlihat sangat menggoda dalam warna merah itu, Lyra," geram Elian, suaranya serak oleh hasrat yang ia tahan sepanjang malam saat melihat Julian menyentuh Lyra. "Tapi aku benci melihat tangannya ada padamu."

"Itu tidak akan lama lagi, Elian," balas Lyra, tangannya merayap ke kerah jas Elian. "Semua bukti sudah di tangan pers. Tak lama lagi, Julian dan Von Strauss akan menjadi sejarah."

Elian menatap mata kekasih rahasianya itu dengan intensitas yang mematikan. Ia bisa melihat api pemberontakan yang sama di mata Lyra. Mereka adalah dua penguasa yang sedang membakar dunia demi bisa bersama. Elian menunduk, mencium leher Lyra dengan penuh gairah, meninggalkan jejak panas yang akan tersembunyi di balik kerah gaunnya.

Perpisahan yang Membakar

Elian tahu ia harus segera kembali ke aula sebelum ketidakhadirannya memicu kecurigaan. Namun, berat baginya untuk melepaskan Lyra saat ini. Ia menarik wajah Lyra ke arahnya, menatap bibir merah yang selalu menghantuinya setiap malam.

"Operasi ini harus bersih, Lyra. Jangan tinggalkan jejak," bisik Elian, napasnya terasa panas di kulit wajah Lyra.

"Aku tahu apa yang aku lakukan, Elian. Khawatirkan saja Isabella-mu itu," balas Lyra dengan nada menggoda yang tajam.

Sebelum Elian berbalik untuk meninggalkan ruangan, ia memberikan satu kecupan panas yang sangat dalam di bibir Lyra. Kecupan itu bukan hanya tentang gairah, itu adalah janji setia dalam perang yang sedang mereka kobarkan. Lidah mereka bertemu sejenak dalam tarian yang menuntut, sebuah ciuman yang meninggalkan rasa manis sampanye dan pahitnya pengkhianatan di lidah masing-masing.

Elian melepaskan Lyra dengan enggan, merapikan jasnya, dan memberikan satu tatapan terakhir yang penuh janji sebelum menyelinap keluar pintu. Lyra berdiri di sana, menyentuh bibirnya yang masih terasa panas, matanya berkilat dengan kepuasan. Topeng telah jatuh, dan sekarang, saatnya membakar panggung sandiwara ini hingga menjadi abu.

1
T28J
Awwwww... baru eps 4 udah enak enak 🤭👍
lanjutkan kak
Amila FM,IG:amilaeditslife: semoga suka ya kak 🙏
total 1 replies
T28J
hadir kk✍️
Amila FM,IG:amilaeditslife: terimakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!