Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Sejak Jaiden duduk, Arlo diam-diam terus memperhatikannya. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah Tuan Muda Winarto sudah memberitahukan tentang kejadian sebelumnya… bahwa ia pernah membawa seorang wanita ke apartemennya.
Semakin banyak Arlo menebak-nebak, pikirannya justru semakin kacau.
Lalu… mengapa Tuan Muda Saksomo mulai mendekati Zoya? Apa yang akan ia lakukan?
Pikiran itu membuat Arlo tiba-tiba teringat pada sebuah kejadian lama. Ia masih ingat dengan jelas.
Dulu, ada seorang rekan kerja wanita yang hanya sempat berbicara satu kalimat terlalu akrab kepadanya di depan banyak orang.
Namun beberapa hari kemudian, wanita itu dipindahkan dari proyek penting yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan. Reputasinya hancur perlahan, kesempatan kariernya menghilang satu per satu, hingga akhirnya ia memilih mengundurkan diri sendiri.
Seluruh prosesnya berlangsung bersih.
Tidak ada bukti bahwa Tuan Muda Saksomo terlibat, tetapi semua orang tahu siapa yang melakukannya.
Semua orang tahu Tuan Muda Saksomo adalah sosok yang tak masuk akal dan terbiasa melakukan apa pun yang ia mau. Setiap kritik terhadapnya selalu berakhir sia-sia karena ia selalu punya cara membuat lawannya diam, terlebih lagi ia nyaris kebal hukum. Meski begitu, ia sangat protektif terhadap adiknya.
Memikirkan semua itu, hati Arlo terasa berat. Wajahnya bahkan tampak semakin pucat. Ia tidak ingin menyeret Zoya ke dalam masalah seperti ini. Arlo mulai berpikir bahwa ia harus menjelaskan kepada Tuan Muda Saksomo kalau hubungannya dengan Zoya tidak lebih dari sekadar dosen dan mahasiswa.
Namun sesaat kemudian, ia kembali terdiam.
Tuan muda pasti akan menyelidikinya. Dan jika itu terjadi, pria itu akan mengetahui bahwa mereka cukup sering bersama di kampus. Memikirkan hal itu membuat alis Arlo mengernyit pelan.
Mungkin mulai sekarang…
ia tidak boleh terlalu sering terlihat berbicara dengan Zoya.
Tetapi anehnya, begitu memikirkan bahwa interaksi mereka akan berkurang, muncul rasa tidak rela di dalam hatinya. Perasaan yang terasa asing. Arlo mencoba mencari alasannya sendiri.
Mungkin karena ia terlalu menyukai masakan Zoya…
jadi tanpa sadar ia tidak ingin menjauh darinya.
Arlo benar-benar merasa tidak berdaya.
Ia belum pernah mengalami perasaan seperti ini sebelumnya.
Dulu, saat mengetahui rekan kerja wanita itu berada dalam masalah, ia hanya merasa kasihan sesaat. Setelah itu, ia tidak pernah lagi memikirkan bagaimana nasib wanita itu, apa untung ruginya, atau bagaimana kehidupannya selanjutnya.
Namun sekarang berbeda.
Entah mengapa, setiap memikirkan Zoya, Arlo justru tanpa sadar terus mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa merugikannya.
Ia khawatir…. Khawatir kalau dirinya akan membawa masalah bagi gadis itu. Perasaan itu membuat dadanya terasa aneh dan tidak nyaman.
Arlo perlahan mendongak.
Tatapannya berpindah ke arah Zoya… lalu ke Jaiden. Pria itu beberapa kali terlihat melirik ke arah Zoya dengan santai, seolah sedang mengamati sesuatu. Dan anehnya, melihat itu membuat Arlo merasa sedikit jengkel. Perasaan tersebut muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ia sendiri bahkan tidak menyadarinya.
Yang Arlo tahu hanyalah… ia tidak terlalu suka melihat perhatian Jaiden tertuju pada Zoya terlalu lama.
Setelah pelajaran selesai, Zoya seperti biasa berjalan menghampiri Arlo. Namun hari ini, ia tidak membawa buku catatan ataupun lembar pertanyaan seperti biasanya. Zoya berhenti di depan meja dosen, lalu tersenyum manis.
“Profesor, maaf… mungkin pertanyaannya lain kali saja.” Ia tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Mm…”
Zoya menoleh ke arah Jaiden yang berdiri tidak jauh dari sana, kedua tangannya terlipat di depan dada sambil memandangnya dengan santai.
“Saya ada urusan hari ini,” katanya pelan, meski terdengar sedikit berat hati. Padahal hari ini ia sebenarnya ingin berbicara lebih lama dengan Arlo. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan tambahan semalam. Namun semuanya gagal karena kakak keduanya tiba-tiba muncul. Memikirkan itu, Zoya diam-diam mengeluh dalam hatinya.
Ini semua gara-gara kakak keduanya!
Benar, menurut Zoya, kakak keduanya pasti sudah menyelidiki dirinya dan mengetahui bahwa ia sedang mengejar dosennya sendiri.
Arlo mendongak menatap Zoya. Entah mengapa, tiba-tiba muncul perasaan tidak nyaman di dalam hatinya. Dengan ragu, ia akhirnya bertanya untuk memastikan sesuatu.
“Apakah kamu mengenal pria itu?” tanyanya pelan sambil melirik Jaiden.
“Eh… iya,” jawab Zoya tanpa ragu. “Dia teman saya.”
Teman…Arlo menunduk sedikit sambil bergumam pelan. Di dalam hati, pikirannya mulai kacau. Kenapa bisa sekebetulan ini?
Namun di luar, ia hanya mengangguk tenang tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Tatapannya mengikuti sosok Zoya yang berjalan pergi menuju Jaiden tanpa ragu sedikitpun.
Jadi… mungkin Tuan Muda Winarto memang tidak mengatakan apapun tentang hubungan mereka. Tetapi melihat interaksi keduanya, Arlo merasa hubungan mereka sepertinya tidak sesederhana “teman”.
Entah mengapa, perasaan tidak nyaman di dadanya semakin jelas. Bahkan untuk sesaat, muncul dorongan aneh di dalam dirinya… keinginan untuk menghentikan Zoya dan menyuruhnya tidak pergi bersama pria itu. Pikiran itu membuat Arlo sendiri terkejut.
Kenapa ia berpikir seperti itu?
Arlo memijat pangkal hidungnya perlahan.
Kepalanya terasa semakin kacau.
Sebelum pergi, Jaiden melirik Arlo sekilas.
Meski tadi terlihat santai, sebenarnya ia terus memperhatikan Arlo yang ngobrol dengan adiknya.
Dan ia menyadari sesuatu yang tidak biasa.
Saat Arlo berbicara dengan Zoya, tatapannya tertuju langsung pada mata gadis itu… tenang, lembut, bahkan penuh perhatian. Ia juga mendengarkan setiap ucapan Zoya dengan sabar, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa terganggu.
Padahal biasanya, Arlo sangat enggan berbicara terlalu lama dengan orang lain. Menatap lawan bicara secara langsung saja jarang, apalagi menunjukkan kesabaran seperti itu.
Perubahan kecil itu... Mungkin bahkan Arlo sendiri tidak menyadarinya.
Namun Jaiden melihatnya dengan jelas.
Begitu seseorang mulai bertindak berbeda dari biasanya, berarti ada sesuatu yang telah mengubahnya.
Dan apalagi yang bisa mengubah pria seperti Arlo… seseorang dengan kecerdasan emosional rendah yang bahkan tidak memahami arti cinta… kalau bukan karena perasaan itu sendiri?
Memikirkan kemungkinan tersebut, sudut bibir Jaiden perlahan terangkat.
Jadi benar…
Arlo mungkin menyukai Zoya. Entah sejak kapan, tapi jelas ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Jaiden hampir tertawa kecil.
Orang seperti adiknya… kenapa harus repot-repot mengejar seorang pria? Seharusnya, Adiknya lah yang dikejar. Namun sesaat kemudian, sesuatu terlintas di benaknya.
Senyum Jaiden berubah samar… terlihat licik.
Kalau begitu…
bukankah akan lebih menarik jika Arlo yang mulai gelisah lebih dulu?