Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Keluar dari Neraka dan Dekrit Penaklukan Jurang Dewa
Satu bulan berlalu bagaikan sebutir pasir yang jatuh di dalam jam pasir kosmik. Namun, bagi sepuluh ribu Murid Pelataran Luar Sekte Puncak Awan, satu bulan ini terasa lebih panjang daripada sepuluh kali siklus reinkarnasi di dasar neraka.
Di dalam Lembah Penempaan yang diciptakan oleh tiga Murid Inti, jeritan kesakitan, raungan amarah, dan letupan energi Qi tidak pernah berhenti sedetik pun.
BZZZZT! CRAT!
Di sudut barat lembah, sebuah jaring Niat Pedang yang ditinggalkan oleh Ye Fan menyapu udara. Seorang pemuda bergegas menerjang jaring itu tanpa menghindar. Niat pedang itu mengiris kulit dan dagingnya, menyemprotkan darah segar.
Namun, alih-alih menjerit, pemuda itu justru tertawa buas. Ia adalah Jiang Han.
"Bakar! Sutra Dewa Iblis Pembakar Darah... Serap lukaku dan jadikan Qi Sejati!" raung Jiang Han. Darah yang mengalir dari tubuhnya mendadak menguap menjadi kabut merah yang sangat pekat. Kabut itu tersedot kembali ke dalam pori-porinya, memperbaiki lukanya dalam hitungan detik sekaligus memadatkan kultivasinya.
BUM!
Fluktuasi energi meledak dari Dantian-nya. Ia berhasil menembus tahap Kondensasi Qi Lapis ke-8! Hanya dalam satu bulan, ia melompat dari manusia fana tanpa akar roh menjadi ahli lapis akhir Kondensasi Qi! Kecepatan yang akan membuat leluhur sekte biasa gantung diri karena malu!
Di sisi lain lembah, suhu anjlok hingga mencapai titik beku absolut. Formasi gravitasi dan ilusi ketakutan milik Su Yue dan Lin Tian menyelimuti area tersebut.
Di tengah badai salju buatan itu, Su Qingxue duduk bersila. Ilusi Pangeran Zhao—pria yang dulu menghancurkan meridiannya—berdiri di depannya, tertawa mengejek dengan pedang di tangan. Namun, Su Qingxue bahkan tidak membuka matanya.
Kulitnya kini tampak seputih pualam dan setransparan es. Tulang-tulangnya telah sepenuhnya digantikan oleh Kaca Es Abadi sesuai dengan ajaran Seni Kaca Es Pembeku Surga.
"Ilusi fana... hancur," bisik Su Qingxue.
Gelombang hawa dingin meletus dari tubuhnya. Ilusi Pangeran Zhao, formasi gravitasi, dan bahkan ilusi ketakutan di sekitarnya langsung membeku menjadi patung es sebelum akhirnya hancur berkeping-keping. Kultivasinya juga memancarkan fluktuasi stabil di Kondensasi Qi Lapis ke-8.
Hal yang sama terjadi di seluruh lembah. Sepuluh ribu murid itu didorong ke batas absolut kewarasan mereka. Jika mereka hampir mati, Pil Penempa Tulang Bintang yang mereka makan setiap pagi akan meledak dengan energi penyembuhan, memaksa mereka bangkit dan disiksa kembali.
Ini bukan sekadar pelatihan; ini adalah proses memurnikan besi rongsokan menjadi pedang pusaka pembelah surga.
DENG! DENG! DENG!
Suara lonceng kuno dari puncak Benua Melayang bergema ke seluruh lembah, memecah belenggu formasi latihan. Tiga dentuman lonceng itu adalah penanda bahwa batas waktu satu bulan telah berakhir.
"Waktu habis! Semua belatung, merangkak ke pelataran utama sekarang!" raung Lin Tian dari atas langit, suaranya dipenuhi arogansi iblis.
Sepuluh ribu murid itu menghentikan kultivasi mereka. Mereka membuka mata.
Tidak ada lagi tatapan ketakutan, tidak ada lagi kepanikan. Hanya ada keheningan yang dingin, mematikan, dan haus darah. Mereka bergerak serempak, melesat ke udara menuju pelataran utama dengan formasi yang begitu rapi hingga menyerupai satu organisme raksasa.
Ketika mereka berbaris di pelataran giok putih, aura yang mereka pancarkan telah berubah total. Mereka bukan lagi sepuluh ribu anak muda yang kebingungan. Mereka adalah sepuluh ribu serigala iblis. Setiap dari mereka memancarkan aura minimal Kondensasi Qi Lapis ke-6, jauh melampaui syarat yang diberikan Lin Chen. Beberapa monster jenius seperti Jiang Han dan Su Qingxue bahkan telah menyentuh batas Lapis ke-8.
Di atas singgasananya, Lin Chen menyesap teh spiritual dengan santai. Mata Evaluasi-nya memindai barisan murid itu.
"Hmm," gumam Lin Chen pelan. "Setidaknya kalian sudah terlihat seperti anjing penjaga yang bisa menggigit, bukan sekadar menggonggong."
Mendengar "pujian" yang begitu arogan itu, sepuluh ribu murid justru serempak menjatuhkan satu lutut ke tanah dan berteriak, "Terima kasih atas anugerah penempaan Yang Mulia Master Sekte!"
Mereka tidak marah dihina. Mereka sadar betul, tanpa "Neraka" yang diciptakan Lin Chen, mereka tidak akan pernah merasakan kekuatan sebesar ini seumur hidup mereka.
Lin Chen berdiri. Jubah putihnya berkibar dengan elegan. Ia melangkah maju menatap cakrawala utara.
"Satu bulan telah berlalu. Tulang kalian sudah mulai mengeras, namun pedang yang tak pernah meneteskan darah musuh hanyalah pajangan dinding," ucap Lin Chen, suaranya membawa resonansi Hukum Dao yang membakar semangat para murid.
"Di ujung utara Benua Tengah, terdapat sebuah area terlarang bernama Jurang Dewa Runtuh (Abyss of the Fallen Gods). Sepuluh ribu tahun lalu, tempat itu adalah medan pertempuran di mana dewa-dewa palsu dari era kuno saling membantai. Kini, segel ruang tempat itu telah terbuka."
Lin Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman tiran yang sedang merencanakan perampokan besar-besaran.
"Sekte dan Klan Kuno Tersembunyi dari Utara, Barat, dan Timur yang tidak berani tunduk pada Kekaisaran Langit Naga dulu, kini sedang berkumpul di sana. Mereka membawa para jenius muda mereka dengan harapan menemukan warisan dewa kuno, artefak suci, dan darah ilahi yang tertinggal."
Lin Chen menatap lurus ke arah sepuluh ribu muridnya. Matanya memancarkan cahaya keemasan dari Inti Surgawi Absolut.
"Sekte Puncak Awan kita saat ini sedang kekurangan ornamen kuno untuk menghiasi taman. Oleh karena itu, Kursi Ini memutuskan... kita akan menjadikan Jurang Dewa Runtuh sebagai tempat perburuan pertama kalian."
Mendengar kata "Perburuan", mata Lin Tian dan Ye Fan di belakang Lin Chen menyala terang, disusul oleh seringai buas dari Jiang Han dan sepuluh ribu murid pelataran luar.
"Dengarkan titahku!" Lin Chen mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Di dalam Jurang Dewa, kalian tidak pergi untuk 'bertahan hidup'. Kalian pergi untuk mendominasi. Jika kalian melihat rumput spiritual, cabut hingga ke akarnya. Jika kalian melihat artefak, masukkan ke cincin penyimpanan kalian. Jika jenius dari Klan Kuno Tersembunyi mana pun berani menatap kalian dengan tidak sopan..."
"Congkel matanya dan jadikan tengkoraknya sebagai cangkir arak!" sambung Lin Tian dengan tawa gila.
"Tepat sekali," angguk Lin Chen santai. "Kursi Ini tidak akan ikut campur dalam pertarungan antar generasi muda. Jika kalian dibunuh oleh seseorang yang seumuran dengan kalian, itu berarti kalian hanya seonggok sampah yang membuang-buang pil sekte. Paham?!"
"KAMI PAHAM! MATI UNTUK SEKTE PUNCAK AWAN!" raung sepuluh ribu murid itu serempak, Niat Bertarung mereka meledak membelah awan.
Lin Chen menjentikkan jarinya.
ROAAAAAAARRR!
Sembilan Naga Banjir Emas yang kini memakai kekang Emas Astral mengaum dari pelabuhan udara. Kapal Perang Pembelah Bintang raksasa sepanjang dua ratus meter itu melesat membelah langit, melayang tepat di atas pelataran utama. Bayangan besinya menutupi matahari pagi.
"Naiklah ke kapal," titah Lin Chen, melayang anggun kembali ke anjungan utamanya. "Mari kita tunjukkan pada sisa-sisa klan kuno Benua Tengah, bahwa era mereka telah berakhir, dan era Puncak Awan baru saja dimulai."
Dalam sekejap, sepuluh ribu murid itu melesat naik ke atas geladak kapal bagaikan kawanan belalang yang sangat disiplin. Kapal perang yang dikhususkan untuk menampung puluhan ribu orang itu sama sekali tidak terasa sesak.
Begitu semua orang telah naik, Ye Fan berdiri di haluan kapal dan mencabut Pedang Pemutus Surga-nya.
"Berangkat!"
BOOOOOOOOOOM!
Kapal Perang Pembelah Bintang meledak dengan kecepatan yang merobek kekosongan ruang. Sembilan naga mengaum membelah langit, meninggalkan jejak awan berbentuk gelombang tsunami di angkasa. Raksasa besi hitam itu meluncur lurus ke arah Utara, membawa sepuluh ribu iblis muda yang kelaparan menuju panggung pembantaian pertama mereka.
Sementara itu, di Ujung Utara Benua Tengah...
Di perbatasan Jurang Dewa Runtuh, langit berwarna ungu kehitaman, diselimuti badai kosmik dan petir yang menyambar tanpa henti. Bau darah kuno dan Qi busuk tercium pekat di udara.
Di sekitar mulut jurang raksasa yang tampak seperti mulut monster yang terbuka lebar itu, berkumpul ratusan kapal perang dan kereta terbang dari berbagai faksi kuno.
Bendera-bendera berkibar megah: Klan Kaisar Tersembunyi Xiao, Tanah Suci Pedang Es Utara, dan Kuil Buddha Iblis Barat. Faksi-faksi raksasa ini adalah penguasa tersembunyi yang usianya jauh lebih tua dari Kekaisaran Langit Naga yang baru saja runtuh.
Di atas sebuah perahu naga berwarna biru es, seorang pemuda berambut perak dengan pedang di punggungnya menatap ke arah jurang dengan arogan. Dia adalah Xiao Tian, Putra Mahkota Klan Kaisar Xiao, yang kultivasinya telah mencapai Puncak Pembangunan Yayasan (Peak Foundation Establishment) di usianya yang baru dua puluh tahun.
"Hmph. Kudengar ada sekte baru yang baru saja menghancurkan Kekaisaran Langit Naga di wilayah pusat," ucap Xiao Tian dengan nada meremehkan. "Sekte Puncak Awan? Nama yang sangat kampungan."
Seorang tetua di sampingnya terkekeh pelan. "Tuan Muda benar. Kekaisaran Langit Naga hanyalah macan kertas yang dimanjakan oleh Sembilan Urat Nadi Bumi. Mengalahkan mereka bukanlah bukti kekuatan sejati. Jika sekte kampungan itu berani datang ke Jurang Dewa Runtuh ini..."
Tetua itu mengelus janggutnya dengan mata memancarkan Niat Membunuh yang dingin. "...Maka jenius muda kita dari Klan Xiao akan mengajarkan pada mereka, apa arti dari fondasi kuno yang sesungguhnya."
Tepat saat kata-kata itu diucapkan, sebuah bayangan hitam raksasa tiba-tiba menelan langit dari arah selatan, menutupi sinar matahari sepenuhnya dan membuat seluruh armada klan kuno di bawahnya tampak seperti mainan anak-anak.
GRRRRUUUMMBBLLLEE!