NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS

Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab. Bu Vero terdiam, wajahnya menegang. Polisi saling bertukar pandang singkat. Dan untuk sepersekian detik tidak ada yang bergerak.

Pertanyaan itu menggantung di udara. Dan justru dari keheningan itulah, Ella semakin yakinb ahwa memang ada sesuatu. Sesuatu yang mereka semua tahu tapi tidak ingin ia ketahui.

Tekanan itu akhirnya berubah arah, tidak lagi sekadar pertanyaan, tapi dorongan yang terus diulang, semakin tajam setiap kali tidak mendapat jawaban yang mereka inginkan.

Polisi yang sejak tadi tampak tenang kini mulai kehilangan kesabaran, suaranya tetap terkontrol, tapi nadanya jelas menekan. “Coba diingat lagi, Mbak Ella. Hal kecil sekalipun bisa penting,” katanya, untuk kesekian kali.

Ella menghela napas panjang, rasa lelah mulai menumpuk di tubuhnya. Sejak pagi ia belum benar-benar berhenti, dari lokasi kecelakaan, ke rumah yang dipenuhi wartawan, lalu penggeledahan yang tak kunjung selesai.

“Apa yang harus saya ingat?” balasnya akhirnya, suaranya tidak lagi setenang sebelumnya. “Saya sudah jawab dari tadi. Nggak ada yang lain.”

Namun pertanyaan itu kembali diulang, dengan bentuk yang sedikit berbeda, dengan tekanan yang sedikit lebih kuat.

Bu Vero pun ikut mendekat lagi, suaranya kini tidak kalah mendesak, seolah jawaban itu harus keluar sekarang juga. “Ella, ini bukan main-main. Kalau kamu tahu sesuatu, lebih baik kamu bilang.”

Ella menatapnya, lelah sekaligus jengkel. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam semua ini, bukan hanya soal apa yang dicari, tapi cara mereka mencarinya.

Akhirnya Ella mengangkat tangannya, menghentikan semuanya. “Cukup,” katanya tegas. Ia menarik napas, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. “Saya mau didampingi RT atau RW. Ini sudah terlalu lama, dan pertanyaannya itu-itu saja.”

Polisi itu langsung menggeleng kecil. “Kan sudah saya katakan, begini prosedurnya.”

Ella menatapnya, kali ini tanpa ragu. “Prosedur apa? Ini tidak seperti ini.” Suasana kembali menegang.

Polisi itu sedikit maju, suaranya diturunkan, tapi tekanannya jelas terasa. “Mbak Ella, kami ini penegak hukum. Anda harus bekerja sama dengan kami.”

Ella tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya. Ia mengangkat ponselnya, layar yang sejak tadi ia genggam kembali menyala. “Saya memang bukan orang hukum,” katanya pelan, tapi setiap katanya terdengar jelas, “tapi saya bisa cari informasi. Semua ada. Prosedurnya jelas. Harus ada saksi lingkungan, harus ada batasan waktu, harus jelas apa yang dicari.” Ia menggeser layar itu sedikit, menunjukkannya langsung. “Kalian sudah salah langkah.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, polisi itu tidak langsung menjawab. Ia saling bertukar pandang dengan rekannya. Lalu dengan Bu Vero.

Hening beberapa detik yang terasa panjang. Ekspresi mereka berubah, tidak lagi seyakin tadi. Ada sesuatu yang retak, entah keyakinan, atau rencana.

Akhirnya, polisi itu menarik napas pendek. “Baik,” katanya singkat.

Tanpa banyak penjelasan, mereka mulai merapikan barang-barang yang tadi dibuka, gerakannya cepat, seperti ingin segera menyelesaikan semuanya. “Kami akan kembali nanti,” tambahnya sebelum berbalik menuju pintu.

Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi pertanyaan. Pintu rumah terbuka. Dan beberapa detik kemudian tertutup kembali.

Sunyi.

Ella berdiri di tempatnya, ponsel masih di tangan. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya justru semakin tajam. Karena sekarang ia tahu bukan hanya ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi juga ada sesuatu yang membuat mereka tidak berani melanjutkan.

***

Setelah polisi pergi meninggalkan rumahnya, Ella langsung masuk ke kamarnya. Ia yak berminat berbincang dengan siapapun di rumah ini.

Tanto Halim, seorang pejabat yang saat ini menjadi terduga korupsi mengalami kecelakaan di jurang. Mobil hancur. Tapi jasad TH tidak ditemukan.

Kalimat itu kini ikut muncul di layar televisi, berulang-ulang, disusun dengan nada yang sama seperti sebelumnya, pasti, meyakinkan, seolah tidak ada celah untuk diragukan.

Ella berdiri beberapa langkah dari televisi yang kembali ia nyalakan, tubuhnya masih terasa lelah setelah berjam-jam menghadapi polisi, tapi pikirannya justru semakin terjaga. Di layar, gambar mobil yang ringsek di dasar jurang ditampilkan dari berbagai sudut, diiringi narasi baru yang lebih tajam dari sebelumnya.

“Selain dugaan keterlibatan dalam kasus korupsi besar, muncul fakta baru bahwa jasad korban hingga saat ini belum ditemukan…”

Ella menegang. Belum ditemukan. Bukan meninggal di tempat. Bukan dievakuasi. Tapi tidak ditemukan.

Suara pembawa berita terus berjalan, menambahkan spekulasi, menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang semakin liar. Ada yang menyebut kondisi medan menyulitkan pencarian. Ada yang mulai mengaitkan dengan “kemungkinan lain” yang belum bisa dikonfirmasi. Dan di bawah layar, judul besar itu tetap menyala:

PEJABAT TERDUGA KORUPSI HILANG SETELAH MOBIL MASUK JURANG

Hilang. Bukan tewas. Kata itu terasa berbeda. Sangat berbeda. Napas Ella perlahan berubah. Dadanya naik turun lebih cepat, tapi bukan karena panik. Karena sesuatu mulai tersusun. Jika jasadnya tidak ditemukan berarti ada kemungkinan. Kemungkinan yang selama ini tidak ia beri ruang. Ayahnya belum tentu mati.

Pikiran itu datang begitu saja, tajam dan terang, membuat segala hal lain di sekitarnya seolah meredup. Ia teringat kembali ke lokasi tadi pagi. Ke jurang itu. Ke mobil yang hancur. Dan ke fakta bahwa tidak ada siapa pun yang benar-benar menunjukkan padanya jasad ayahnya.

Tidak ada konfirmasi langsung. Tidak ada perpisahan. Hanya asumsi. Dan berita. Serta tuduhan yang muncul terlalu cepat. Terlalu rapi. Ella menatap layar itu lebih lama. Setiap kata yang diucapkan kini tidak lagi ia terima begitu saja. Ia menyaring. Memilah. Mencari celah. Karena jika satu bagian dari cerita itu tidak benar maka bagian lain pun bisa dipertanyakan. Dan jika ayahnya tidak benar-benar ada di dasar jurang itu maka ke mana ia pergi? Atau siapa yang membawanya pergi?

Tangan Ella perlahan mengepal. Pesan terakhir itu kembali muncul di benaknya. Jangan percaya siapa pun. Cari sepatu kacamu. Kini terasa berbeda. Lebih mendesak. Lebih hidup. Seolah bukan pesan dari seseorang yang akan mati tapi dari seseorang yang tahu ia masih punya waktu.

Ella menarik napas dalam. Matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang menyala di sana. Bukan hanya kehilangan. Bukan hanya kemarahan. Tapi kemungkinan. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia mulai bertanya bukan hanya tentang kebenaran tapi tentang keberadaan.

Apakah ayahnya benar-benar hilang atau sengaja menghilang?

Pertanyaan itu tidak pergi. Ia justru menetap. Mengendap di kepala Ella, mengubah cara ia melihat setiap detail kecil yang sebelumnya terasa biasa. Jika ayahnya benar-benar hilang, bukan tewas maka semuanya berubah. Kecelakaan itu bukan akhir. Tuduhan korupsi itu bukan sekadar skandal. Dan pesan yang ia terima bukan pesan terakhir.

Ella mematikan televisi. Kali ini bukan karena ia tidak tahan melihatnya, tapi karena ia tidak ingin pikirannya dipenuhi suara orang lain. Ia butuh ruang untuk menyusun semuanya sendiri.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!