NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Keesokan paginya, Xin Yuning dan ibunya, Huo Feilin, baru saja turun ke ruang makan. Makanan pagi sudah tertata rapi di atas meja, namun suasana masih terasa tenang karena Kakek dan Nenek Xin belum turun dari kamar mereka.

Xin Yuning melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia menoleh ke arah pelayan yang sedang melayani.

"Bibi Ming, Xin Yi sudah bangun belum?" tanyanya santai.

Bibi Ming segera mengambilkan botol selai ke sisi piring sang tuan muda dengan sigap, lalu menjawab dengan senyum:

"Oh Tuan Muda, Nona sudah bangun sejak pukul lima pagi. Dia lari keliling kompleks, baru saja berangkat ke sekolah... tapi dia tidak naik mobil, dia naik sepeda."

Huo Feilin yang sedang mengoleskan selai pada rotinya sedikit terhenti, matanya membelalak sedikit karena kaget.

"Naik sepeda? Anak itu sungguh-sungguh sangat suka bersekolah? Atau memang begini gaya hidupnya?"

"Iya, Nyonya. Nona itu juga menyiapkan bekal makan siangnya sendiri tadi di dapur. Rajin dan sangat mandiri sekali," tambah Bibi Ming penuh pujian.

Huo Feilin menggigit rotinya pelan sambil mengangguk setuju. Sejak kedatangan Xin Yi, wanita itu memang tidak pernah terlalu terlibat. Terkadang ia bahkan merasa keberadaan gadis itu samar-samar, seperti angin yang lewat, tidak merepotkan dan tidak mengganggu privasinya. Dan jujur, itu justru membuat Huo Feilin merasa cukup nyaman.

Sementara itu, Xin Yuning menghela napas pelan. Terlalu disiplin.

Gadis seusia Xin Yi biasanya baru bangun tidur saat waktu sekolah sudah hampir mepet, terburu-buru dan masih mengantuk. Tapi adiknya ini? Jam lima sudah lari, jam enam sudah siap, hidupnya teratur seperti robot militer. Benar-benar berbeda dengan remaja pada umumnya.

Di sekolah.

Xin Yi mengayuh sepedanya dengan santai hingga sampai di area gerbang sekolah. Ia memarkirkan sepeda gunung berwarna hitam mengkilap itu di area parkir khusus staf dan pekerja sekolah.

Memang, di sekolah elit ini hampir tidak ada tempat parkir sepeda. Hampir seluruh siswa diantar dan dijemput menggunakan mobil mewah dengan supir pribadi.

Tapi Xin Yi tidak peduli. Ia lebih suka menggunakan tenaganya sendiri, dan jarak dari rumah ke sekolah terbilang cukup dekat, jadi bersepeda adalah pilihan terbaik baginya.

Begitu ia mematangkan sepedanya dan hendak berjalan masuk, ia menyapa penjaga gerbang dengan sopan.

"Pagi, Pak."

Penjaga gerbang itu tersenyum lebar dan membalas salamnya dengan hormat. Di dalam hatinya ia merasa terharu. Sudah bertahun-tahun dia bekerja di sini, melihat anak-anak orang kaya lewat setiap hari. Banyak dari mereka yang sombong, tidak tahu sopan santun, bahkan meludah seenaknya.

Tapi gadis ini berbeda.

Dulu saat pertama datang dia diantar mobil mewah, hari ini dia datang naik sepeda. Walaupun sepedanya jelas terlihat mahal dan berkualitas tinggi, tapi kerendahan hatinya itu yang membuatnya istimewa.

"Pagi juga Nona!" seru penjaga itu.

Xin Yi mengangguk singkat, lalu berjalan masuk melewati gerbang utama, memulai hari keduanya di dunia yang penuh dengan aturan dan orang-orang aneh ini.

Xin Yi berjalan tenang menyusuri koridor lantai dua yang ramai. Tiba-tiba, sekelompok siswa berjalan beriringan dengan ceroboh. Salah satu dari mereka sengaja mendorong bahunya keras dari samping, membuat langkahnya sedikit terhenti.

"Heh, minggir! Jangan menghalangi jalan!" seru salah satu dari mereka sambil tertawa mengejek, lalu berlalu begitu saja.

Alis Xin Yi berkerut tipis. Tatapannya meredup sedikit, namun ia tidak berhenti atau membalas. Ia hanya menepuk-nepuk bahunya pelan seolah tak terjadi apa-apa, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas 12B.

Anak-anak kaya yang bosan., batinnya mencibir.

Baru saja ia sampai di depan kelas, ponsel di saku roknya bergetar. Xin Yi mengeluarkannya, layar menampilkan nama 'Ibu Huo'.

Ia mengangkat telepon itu dengan nada datar. "Halo?"

Di seberang sana, Huo Feilin terdengar sangat sibuk. Suara ketikan keyboard dan lembaran dokumen yang dibalik terdengar jelas. Wanita itu sedang berada di kantor pusat perusahaan Keluarga Huo.

"Xin Yi, dengarkan. Ayahmu akan kembali besok sore. Dan karena ada undangan resmi dari Asosiasi Bisnis, besok malam kita semua harus hadir di sebuah pesta gala. Jadi besok pagi kamu jangan kemana-mana, tetap di rumah," ucap Huo Feilin tegas namun tenang.

Xin Yi mengangguk meski tak terlihat. "Besok Minggu kan? Aku tahu. Tidak ke sekolah."

"Benar. Nanti siang akan ada penjahit datang ke rumah untuk mengukur badan dan membuatkan gaun yang pantas untukmu. Jangan kemana-mana," pesan Huo Feilin lagi, sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.

Tut... tut...

Xin Yi menyimpan kembali ponselnya, lalu mendorong pintu kelas dan masuk.

Suasana di dalam kelas langsung berubah hening seketika. Semua mata diam-diam melirik ke arahnya, lalu berbisik-bisik dengan wajah penasaran dan sedikit takut.

"Eh, lihat tuh... dia masuk."

"Gila, dia kelihatan biasa aja? Padahal kemarin baru saja membuat kaki orang cidera."

"Tapi sepertinya tidak masuk akal, hanya diinjak hingga membuat tulang bergeser? Mungkin Jian Nam aja yang kerangkanya rapuh?"

"Siapa tahu tuh... sebenarnya gadis desa itu punya kekuatan supranatural? Atau dia tahu bela diri?"

Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di telinga Xin Yi yang peka. Ia tahu, kabar soal insiden kemarin sudah menyebar luas. Murid bernama Jian Nam yang kakinya diinjak sampai bergeser itu sampai sekarang belum masuk sekolah, mungkin masih dirawat atau dipasang gips.

Mereka heran, mereka tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang gadis mungil dengan kulit sawo matang itu bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Tapi fakta berbicara lain.

Xin Yi pura-pura tidak mendengar apa-apa. Ia berjalan santai menuju bangkunya di pojok, meletakkan tas di samping kursi, dan menyelipkan kotak bekalnya ke bawah meja dengan rapi.

Baru saja ia duduk, bel masuk berbunyi dan guru pengajar masuk ke dalam kelas. Hari kedua dimulai, dan tantangan baru menantinya besok malam: sebuah pesta mewah.

Siang itu matahari bersinar sangat terik, suhu udara terasa panas dan menyengat. Xin Yi tidak pergi ke atap sekolah seperti kemarin, ia ingin mencari tempat yang lebih teduh dan benar-benar sepi.

Kakinya membawanya berjalan menjauh dari gedung utama, melewati taman, hingga sampai ke sebuah bangunan tua yang tampaknya dulunya adalah gudang atau perpustakaan lama yang sudah tidak digunakan.

Tempat itu tidak menyeramkan. Justru terlihat sangat estetik dan alami. Tanaman merambat mulai tumbuh liar menutupi sebagian besar dinding bata, dan di antara dedaunan hijau itu, terlihat bunga-bunga kecil berwarna ungu dan putih yang mekar indah.

Angin berhembus pelan di sana, membuat suasana terasa damai.

Xin Yi memilih duduk di atas sebuah struktur besi tua yang kokoh di samping bangunan itu. Tempatnya agak tinggi sedikit dari tanah, bersih, dan teduh.

Dengan gerakan cekatan, ia mengeluarkan kotak bekal makan siangnya. Sebelum mulai makan, ia terlebih dahulu mengelap kedua tangannya dengan tisu basah hingga bersih—kebiasaan bersih yang ia jaga baik-baik meski hidup sederhana.

Hari ini menunya sangat sehat dan bergizi: dada ayam kukus yang empuk, tumis sayuran hijau, beberapa potong sosis, serta potongan buah segar seperti anggur dan buah persik. Ia juga membawa botol air mineral dan susu cair.

Menggunakan sumpit dengan sangat terampil, gadis itu mulai menyantap makanannya dengan lahap dan tenang, menikmati setiap suapan jauh dari keramaian dan tatapan aneh teman-temannya.

Namun, beberapa meter dari tempatnya duduk, tepat di balik tembok tinggi pembatas sekolah...

Terdengar suara gesekan dan napas terengah-engah.

Tiga orang siswa laki-laki sedang berusaha sekuat tenaga memanjat tembok tinggi itu. Mereka tampak baru saja datang terlambat atau mungkin baru pulang dari luar sekolah, dan berniat masuk lewat jalan tikus agar tidak ketahuan guru.

"Awas, Tahan dulu sial! Cepat naik!" bisik salah satu dari mereka dengan panik.

Mereka tidak menyadari bahwa hanya terpisah oleh satu dinding tebal, ada seorang gadis yang sedang menikmati makan siangnya dengan tenang.

Xin Yi baru saja meneguk susu cair untuk menghabiskan makan siangnya, ketika tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh bersamaan dengan teriakan panik.

BRUK!

"ADUH! SIALAN!"

Gadis itu menoleh dengan mulut masih sedikit terbuka. Matanya membelalak tak percaya melihat pemandangan di dekat tembok pembatas sekolah yang agak jauh dari sana.

Tiga orang pemuda itu baru saja berhasil melompat turun dari atas tembok, tapi malah jatuh bertumpuk-tumpuk seperti tumpukan sampah. Mereka saling mendesak, saling menginjak, dan berusaha berdiri dengan susah payah.

Yang paling lucu dan membuat Xin Yi hampir tersedak adalah saat salah satu pemuda yang memakai kaos dalam hitam di balik seragamnya, karena kesal dan panik, dia malah mencengkeram dan menarik keras rambut temannya yang ada di bawahnya.

"Qin Yuwu kau menarik rambut ku sialan!"teriak temannya kesakitan.

Xin Yi segera menutup mulutnya dengan punggung tangan, menahan tawa agar tidak terdengar. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin itu kini sedikit berkerut menahan geli.

Sial... lucu sekali. Apa mereka ini manusia atau tumpukan jerami? batinnya bergumam geli.

Mereka terlihat sangat kacau, berantakan, dan benar-benar tidak kompeten sama sekali. Xin Yi menyeka sedikit susu yang menetes di sudut bibirnya dengan tisu, lalu kembali duduk tenang menyimak aksi komedi gratis itu dari jauh.

Ternyata, selain ada orang sombong dan orang jahat, di sekolah ini juga ada tipe orang yang... ceroboh dan bodoh lucu seperti mereka.

"Rong Tian! Singkirkan Pantatmu dari wajahku!!" teriak Xu Xian mati-matian mendorong tubuh temannya yang berat itu menjauh dari wajahnya.

Wajahnya sudah memerah padam, napasnya tersengal hebat karena hampir tercekik.

Di atasnya, Qin Yuwu yang badannya besar sedang berusaha bangun, tapi kakinya malah terjepit di antara tubuh Rong Tian dan Xu Xian.

"Jangan tarik rambut ku bodoh!" jerit Qin Yuwu sambil memukul lengan Rong Tian yang tangannya masih mencengkeram kuat rambutnya karena keseimbangan.

"Sialan kaki ku! Kaki ku terjepit! BANGUN DULU KALIAN!!" teriak Rong Tian tak kalah keras.

Ketiganya berguling-guling, saling menimpa, saling memarahi, dan saling menyalahkan, namun tidak ada satu pun yang berhasil berdiri tegak. Mereka bertiga terlihat seperti gumpalan daging yang sedang bergerak-gerak kacau di bawah tembok.

Di tempat yang agak tinggi dan tersembunyi, Xin Yi menyaksikan seluruh aksi komedi tragis itu akhirnya dengan tenang.

Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dagunya sedikit terangkat, dan matanya menyipit penuh selidik sekaligus hiburan.

Dasar tiga orang bodoh., batinnya mencibir. Hanya untuk turun dari tembok saja caranya bisa serumit dan seberantakan ini. Kalau begini caranya, mungkin sampai sore pun mereka tidak akan bisa berdiri.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!