NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Sisa Debu dan Kehangatan

# 📖 BAB 32: Sisa Debu dan Kehangatan

Suara desis ombak yang menghantam lambung kapal pesiar mewah *The Phoenix* menjadi melodi latar yang menenangkan setelah simfoni ledakan yang meruntuhkan markas *The Obsidian*. Matahari mulai terbit di ufuk timur, membiaskan warna emas, merah jambu, dan ungu di atas permukaan laut Pasifik yang luas.

Seolah-olah alam semesta sedang mencoba meminta maaf atas kegilaan berdarah yang terjadi semalam, menawarkan kedamaian sementara di atas puing-puing kehancuran.

Di dalam kabin utama yang luas, aroma teh melati yang mengepul dan wangi roti panggang mentega memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sangat kontras dengan bau belerang, logam terbakar, dan amis darah yang masih melekat kuat dalam ingatan mereka. Di sini, di atas karpet beludru yang empuk, perang terasa seperti mimpi buruk yang mulai memudar, meski luka-lukanya masih sangat nyata.

### ☕ Fragmen Kebahagiaan yang Dicuri

Gu Beichen duduk di sofa kulit yang menghadap ke jendela besar. Matanya tertutup kain kasa tipis yang melingkar di kepalanya. Proses sinkronisasi saraf ekstrem yang ia lakukan untuk memecahkan kunci kematian di otak Qingyu telah meninggalkan dampak sementara pada penglihatannya—sebuah kebutaan fungsional akibat beban berlebih pada saraf optik. Namun, sebagai gantinya, indra-indra lainnya menjadi jauh lebih tajam, hampir seperti radar yang mampu menangkap setiap getaran di sekitarnya.

Ia bisa mendengar suara langkah kaki kecil Chenyu yang sedang berlari-lari di dek atas, mencoba menghibur adik-adiknya. Ia bisa mencium aroma sabun bayi yang lembut dari arah boks bayi di sudut ruangan. Dan yang paling penting, ia bisa merasakan kehadiran Lin Qingyan bahkan sebelum wanita itu menyentuhnya.

"Beichen, jangan dipaksakan untuk bangun dulu. Dokter bilang kau butuh waktu agar sarafmu pulih sepenuhnya," suara lembut Qingyan terdengar mendekat.

Qingyan meletakkan cangkir teh porselen di meja kayu mahoni di depan Beichen, lalu duduk dengan perlahan di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami, menghirup aroma maskulin Beichen yang kini bercampur dengan aroma obat antiseptik.

"Aku hanya sedang menikmati suara ini, Sayang," bisik Beichen. Tangannya yang dipenuhi bekas luka bakar kecil mencari tangan Qingyan, menggenggamnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.

"Suara napas kalian... ocehan bayi kita... tawa Chenyu. Ini adalah harta karun yang hampir saja aku hilangkan karena kesombonganku."

Qingyan memejamkan matanya, merasakan kehangatan tangan Beichen.

"Kita sudah melewati bagian tersulit, Beichen. Markas mereka sudah tenggelam ke dasar laut, Tetua Agung berada dalam sel isolasi yang paling ketat, dan Qingyu... lihatlah dia."

Beichen menoleh ke arah boks bayi, meski pandangannya hanya berupa bayangan kabur dan pendaran cahaya yang tak menentu. Di sana, bayi Qingyu sedang menggeliat kecil, jemari mungilnya mencoba menangkap mainan gantung di atasnya. Mata kristalnya yang semula menyala perak mengerikan kini telah kembali menjadi warna biru jernih yang tenang, sedalam samudera yang mengelilingi mereka. Tidak ada lagi pendaran energi destruktif. Bayi itu tampak seperti bayi manusia biasa yang tidak berdosa.

### 🛡️ Bayangan yang Muncul dari Dasar Samudera

Ketenangan itu hancur saat pintu kabin terbuka dengan suara yang sedikit terburu-buru. Commander Phoenix masuk dengan langkah berat yang bergema di lantai kayu. Wajahnya yang biasanya kaku seperti batu kini tampak pucat, dan ada ketegangan di antara alisnya yang menandakan bahwa kemenangan mereka semalam mungkin hanyalah permulaan dari sesuatu yang lebih buruk.

"Tuan Gu, maaf mengganggu momen keluarga Anda. Tapi ada sesuatu yang harus Anda lihat. Secara pribadi," kata Commander dengan nada suara yang sangat rendah, hampir berbisik, agar tidak menarik perhatian Chenyu yang baru saja turun dari dek.

Beichen mengangguk pelan. Ia berdiri dengan bantuan sandaran tangan sofa dan bimbingan lembut dari Qingyan. Mereka berjalan menuju ruang komando di bagian belakang kapal, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan monitor holografik dan perangkat pemantau satelit yang berkedip tanpa henti.

"Buka kasanya sedikit, Qingyan," perintah Beichen.

Saat kain kasa itu dibuka, Beichen meringis menahan perih. Cahaya monitor terasa seperti tusukan jarum di matanya, namun ia memaksakan diri untuk melihat. Layar besar itu menampilkan rekaman satelit yang diambil sepuluh menit yang lalu di koordinat bekas reruntuhan *The Obsidian*.

Layar itu menunjukkan sebuah pemandangan yang menentang logika fisika. Di tengah pusaran air tempat markas klan tenggelam, tidak ada gelembung udara atau minyak yang muncul. Sebaliknya, sebuah struktur logam kuno berbentuk piramida terbalik mulai muncul perlahan ke permukaan. Struktur itu tidak memiliki sambungan baut, tidak memiliki kabel, dan permukaannya terbuat dari material hitam legam yang seolah-olah menghisap semua cahaya matahari yang menyentuhnya.

"Kami menyebutnya 'Anomaly 0'," jelas Commander Phoenix dengan suara gemetar.

"Tetua Agung tidak berbohong. Klan Tua selama ini ternyata bukan membangun markas untuk kekuasaan semata; mereka membangun sebuah *penjara* raksasa di atas sesuatu yang jauh lebih purba. Ledakan energi saraf yang Anda lepaskan kemarin untuk menyelamatkan Qingyu... ledakan itu bertindak sebagai kunci frekuensi yang membuka segelnya."

### 👣 Jejak Nol Derajat

Beichen terdiam, tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan denyut aneh di dalam darahnya—getaran resonansi yang menyakitkan, seolah-olah darah Naga di dalam dirinya sedang bereaksi terhadap kehadiran struktur hitam itu.

"Bukan hanya bangunannya, Tuan. Lihat ini," Commander memperbesar rekaman di pesisir pantai terdekat yang hanya berjarak beberapa mil dari pusat anomali.

Kamera pemindai suhu (*thermal*) menangkap sepuluh sosok manusia yang berjalan keluar dari air. Mereka tidak mengenakan seragam tempur atau baju selam. Mereka memakai jubah panjang berbahan perak metalik yang tampak menyatu dengan riak ombak. Mereka tidak berjalan seperti manusia normal; gerakan mereka meluncur halus di atas pasir pantai.

"Perhatikan indikator suhunya," tunjuk Qingyan dengan tangan yang mulai dingin.

Pada monitor, angka suhu tubuh kesepuluh sosok itu menunjukkan angka **0°C**. Mereka tidak memiliki panas tubuh. Di mata pemindai termal, mereka tampak seperti lubang hitam yang bergerak di tengah lingkungan yang hangat. Mereka bukan lagi manusia, melainkan entitas yang belum pernah didefinisikan dalam catatan medis mana pun.

"Mereka sedang bergerak menuju daratan utama," lanjut Commander. "Dan berdasarkan kalkulasi lintasan mereka... mereka tidak mencari markas klan. Mereka sedang mengunci posisi kapal ini. Mereka sedang mengunci Anda, Tuan Gu."

### 🌌 Tarik Ulur Takdir: Perpisahan di Ambang Badai

Beichen kembali menutup matanya, membiarkan kegelapan meredakan rasa sakit di saraf optiknya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kedamaian singkat yang mereka nikmati pagi ini hanyalah

"mata badai"—pusat ketenangan di tengah angin puting beliung yang akan segera menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya.

"Qingyan," kata Beichen sambil memutar tubuhnya menghadap sang istri, memegang kedua bahunya dengan cengkeraman yang kuat namun penuh kasih.

"Bawa anak-anak. Gunakan unit helikopter siluman di dek belakang sekarang juga. Pergilah ke Islandia, ke benteng bawah tanah yang dikelola oleh tim cadangan Phoenix."

"Tidak! Tidak lagi, Beichen!" protes Qingyan, air matanya kini tumpah membasahi pipinya. "Kita baru saja bersatu kembali! Kita baru saja selamat dari neraka itu bersama-sama! Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi monster-monster dingin itu sendirian!"

"Ini bukan lagi tentang klan, Sayang," Beichen memotong dengan suara yang bergetar karena emosi.

"Mereka disebut 'The Sentinels'. Mereka datang bukan karena dendam politik, mereka datang untuk mengambil kembali 'baterai' mereka yang sudah terlalu lama hilang. Dan baterai itu ada di dalam darahku... dan mungkin mengalir di dalam diri Qingyu."

Beichen mengambil sebilah belati kecil dari ikat pinggangnya. Dengan satu gerakan cepat, ia menggores telapak tangannya sendiri. Darah perak-hitam yang kental menetes keluar. Anehnya, darah itu tidak jatuh ke lantai karena gravitasi, melainkan melayang-layang kecil di udara, berputar membentuk bola-bola kecil sebelum akhirnya membeku menjadi kristal hitam yang mengeluarkan hawa dingin yang menusuk.

"Kau lihat ini?" bisik Beichen. "Darahku sudah berubah. Aku bukan lagi pria yang kau kenal sepenuhnya. Jika kita tetap bersama, aku hanya akan menjadi suar yang menarik mereka kepada kalian. Aku harus memancing mereka menjauh."

Tiba-tiba, suara Tetua Agung terdengar melalui interkom dari sel penjara di bagian bawah kapal. Suaranya kering dan penuh ejekan. *"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Longwei! 'Mereka' tidak mengenal lelah, tidak mengenal lapar, dan tidak mengenal ampun. Kau hanyalah wadah sementara yang harus dikosongkan!"*

Suasana di kabin mewah itu seketika menjadi mencekam. Angin laut yang tadinya terdengar menenangkan kini berubah menjadi suara rintihan yang menyerupai ribuan jiwa yang tersiksa.

Beichen menarik Qingyan ke dalam pelukan terakhir yang sangat erat, seolah ingin mentransfer semua kekuatannya kepada wanita itu. "Satu pertempuran lagi, Qingyan. Hanya satu lagi. Setelah aku membereskan 'The Sentinels' ini, aku bersumpah... kita akan benar-benar menghilang. Kita akan tinggal di tempat yang tidak ada dalam peta mana pun, di mana hanya ada aku, kau, dan anak-anak kita."

Di kejauhan, di atas langit yang cerah tanpa awan, sebuah garis perak membelah angkasa dengan kecepatan yang mustahil. Itu bukan meteor, bukan juga pesawat tempur manusia. Itu adalah tanda bahwa babak baru yang jauh lebih gelap telah dimulai—sebuah babak yang akan memaksa umat manusia mempertanyakan kembali asal-usul keberadaan mereka di planet ini.

**BERSAMBUNG KE BAB 33**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!