NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Yang Tidak Diakui

Lapangan utama Akademi Kerajaan Averion masih dipenuhi para murid.

Namun suasananya sudah berubah.

Cahaya dari pemanggilan sebelumnya perlahan meredup, tetapi bekas energi yang tertinggal di udara masih terasa jelas. Seolah lapangan itu baru saja menjadi saksi sesuatu yang tidak biasa.

Terutama dari kemunculan binatang roh Putri Mahkota Claudia.

Seraphiel.

Makhluk cahaya tingkat tinggi itu masih menjadi pusat pembicaraan diam-diam, bahkan ketika Claudia sudah tidak lagi berada di lingkaran pemanggilan.

Tidak ada yang benar-benar melupakannya.

Sakura berdiri di barisan kelas C.

Diam.

Tenang.

Matanya tidak mencari perhatian, tidak juga berharap apa pun. Seolah sejak awal ia sudah terbiasa tidak menjadi bagian dari sesuatu yang penting.

Di tempat ini, ia hanya satu hal:

orang yang tidak memiliki mana.

“Selanjutnya… Sakura.”

Suara pengawas terdengar datar, tetapi cukup untuk memecah keheningan.

Beberapa murid langsung saling berbisik.

“Dia masih dipanggil juga?”

“Bukankah sudah jelas hasilnya?”

“Ini hanya formalitas…”

Sakura melangkah maju.

Pelan.

Namun tidak ragu.

Setiap langkahnya tidak menunjukkan harapan, tetapi juga tidak menunjukkan ketakutan.

Lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa berjalan menuju sesuatu yang tidak akan mengubah hidupnya.

Ia berdiri di tengah lingkaran sihir.

Simbol besar di bawah kakinya menyala redup, merespons kehadirannya.

Namun cahaya itu tidak stabil seperti peserta lain.

Hanya… ada.

“Salurkan mana dan panggil resonansi jiwamu,” ucap pengawas.

Hening.

Detik pertama.

Tidak ada cahaya.

Detik kedua.

Tidak ada perubahan.

Detik ketiga.

Masih kosong.

Bisikan mulai muncul di antara murid.

“Sudah kubilang…”

“Dia benar-benar tidak punya mana…”

“Kenapa masih dipaksakan?”

Di sisi lain lapangan

Claudia memperhatikan tanpa ekspresi.

Tatapannya dingin, seperti menilai sesuatu yang sudah tidak penting.

“Sudah cukup,” ucapnya pelan.

“Tidak ada lagi yang perlu dilihat.”

Fuko berdiri di dekatnya, menyilangkan tangan.

“Benar. Hasilnya sudah jelas sejak awal.”

Nada suaranya datar, tanpa emosi.

Namun Yuki tidak ikut berkomentar.

Matanya tetap tertuju pada Sakura.

Bukan dengan kagum.

Bukan juga meremehkan.

Tapi seperti sedang mencari sesuatu yang tidak sesuai dengan logika yang ia pahami.

Di tengah lingkaran—

Sakura menarik napas pelan.

“Kalau bukan mana…”

“…apa sebenarnya yang ada di dalam diriku?”

Tiba-tiba.

Lingkaran sihir bergetar.

Bukan menyala.

Bukan meledak.

Tapi seperti sesuatu dari dalam sistemnya sedang ditolak.

“Apa ini…”

Pengawas utama langsung mengerutkan kening.

“Responnya tidak sesuai pola pemanggilan…”

Garis-garis di tanah mulai retak halus.

Bukan rusak secara fisik.

Tapi seperti struktur sihir itu sendiri tidak menerima keberadaan Sakura.

Udara di sekitarnya berubah.

Kosong.

Seperti ruang itu kehilangan “isi”.

Beberapa murid tanpa sadar mundur.

“Aku tidak suka ini…”

“Kenapa rasanya aneh…”

“Seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya ada…”

Dari retakan kecil di lingkaran

bayangan muncul.

Tipis.

Gelap.

Tidak stabil.

Seperti dunia menolak untuk membentuknya dengan benar.

Lalu

mata itu terbuka.

Gelap.

Tanpa pantulan cahaya.

Tanpa emosi.

Hanya kekosongan yang dalam.

Makhluk itu mulai terbentuk.

Panjang.

Ramping.

Seperti ular.

Namun tidak sepenuhnya nyata.

Kadang terlihat jelas.

Kadang seperti menghilang di antara ruang.

Seolah keberadaannya tidak diizinkan berada di dunia ini secara penuh.

“Fenomena apa ini…” gumam pengawas.

“Ini tidak tercatat dalam sistem pemanggilan Akademi…”

Suaranya kali ini terdengar lebih rendah.

Lebih waspada.

Sakura menatap makhluk itu.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit berubah.

Bukan takut.

Tapi seperti mengenali sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.

“…Noctyra.”

Nama itu muncul di pikirannya tanpa ia ucapkan.

Seperti sesuatu yang sudah ada di dalam dirinya sejak lama, tetapi baru sekarang “terbangun”.

Makhluk itu bergerak.

Mengelilingi Sakura.

Tidak agresif.

Tidak jinak.

Hanya… hadir.

Seolah ia tidak peduli dengan dunia di sekitarnya.

Fuko mengernyit.

“Itu bahkan tidak bisa disebut binatang roh.”

“Tidak ada struktur mana sama sekali.”

“Tidak ada bentuk stabil.”

Yuki perlahan menggeleng.

“Bukan lemah…”

“Lebih seperti… tidak diizinkan oleh sistem dunia ini.”

Pengawas utama menatap lama.

Hening beberapa detik.

“…tidak terdaftar dalam sistem pemanggilan.”

Salah satu pengawas lain langsung menegang.

“Itu tidak mungkin…”

“Semua makhluk roh seharusnya berasal dari sistem ini…”

Claudia akhirnya berbicara.

Nada suaranya dingin dan tajam.

“Jadi ini dia.”

Matanya menyipit sedikit.

Makhluk itu melintas di belakang Sakura, seperti bayangan yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya.

“…hanya bayangan rusak.”

“Yang bahkan tidak mampu membentuk wujud utuh.”

Ia mendecih kecil.

“Menyedihkan.”

Kata itu jatuh tanpa emosi.

Tanpa keraguan.

Tanpa rasa ingin tahu.

Hanya penolakan total.

Makhluk itu berhenti di depan Sakura.

Sejenak.

Tidak bergerak.

Seperti sedang “melihat” sesuatu dalam dirinya.

Lalu perlahan

ia mulai memudar.

Bukan menghilang.

Tapi kembali ke retakan tempat ia muncul.

Seolah dunia ini menolaknya untuk bertahan lebih lama.

Lingkaran sihir kembali tenang.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada tanda hasil.

Pengawas utama akhirnya berbicara.

“…akan dicatat.”

Ia berhenti sejenak.

“Sebagai anomali yang tidak dapat diklasifikasikan.”

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorakan.

Tidak ada pengakuan.

Sakura berdiri di tengah lingkaran.

Sendirian.

Namun kali ini, bukan hanya karena ia lemah.

Tapi karena sistem itu sendiri tidak tahu di mana harus menempatkannya.

Saat ia kembali ke barisan kelas C

murid-murid secara otomatis memberi jarak.

Bukan karena takut.

Bukan karena hormat.

Tapi karena sesuatu dalam diri mereka tidak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

Dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan…

selalu terasa mengganggu.

Di kejauhan

Claudia berbalik.

“Buang waktu.”

Suaranya dingin.

“Bahkan tidak layak disebut kegagalan.”

Yuki menatap sekali lagi ke arah Sakura.

Lama.

Diam.

Seperti ada sesuatu yang tidak cocok dengan dunia yang ia pahami.

Dan di dalam diri Sakura

untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari satu hal.

Bukan dia yang tidak diakui dunia ini.

Tapi dunia ini yang tidak memiliki tempat untuknya.

---------

Hai semua

mimin mau bilang maaf dulu jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.

Jangan terlalu berharap ya

Mimin baru mencoba kembali setelah beberapa lama..

terima kasih🥰🥰🥰

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!