Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Selendang Merah dan Tanah Kuburan
Matahari pagi di Desa Larangan tidak membawa hangat. Cahayanya pucat, tersaring kabut tipis yang tidak mau hilang meski jam sudah menunjukkan pukul 07.00.
Rani duduk di pojokan posko. Dia tidak menangis, tidak juga bicara. Sejak subuh tadi, setelah mengucapkan kalimat "Besok malam... giliran siapa?" dengan suara bukan suaranya, dia hanya menatap kosong ke arah jendela. Sesekali bibirnya bergerak komat-kamit, melafalkan sesuatu dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Bahasa Jawa kuno, kata Disa yang orang Solo.
"Ran, kamu laper? Mau makan?" Siska menyodorkan roti sobek dengan tangan gemetar.
Rani menoleh pelan. Matanya yang biasanya bulat dan ceria, kini sipit dan sayu. Dia tersenyum, tapi senyumnya dingin, bukan senyum Rani yang kami kenal.
"Aku sudah makan, Siska," jawabnya. Suaranya serak, berat, seperti suara orang tua. "Tadi malam. Tanahnya masih basah. Anyir."
Kami berlima serentak mundur. Andre bahkan sampai jatuh dari kursi. Tanah? Makan tanah?
"Ini nggak beres," bisik Disa ke aku. Wajah ketua KKN kami itu pucat pasi. "Kita harus lapor Pak Sarmo."
Pak Sarmo datang satu jam kemudian. Dia hanya melirik Rani sekilas, lalu menghela napas panjang. Tidak ada raut terkejut sama sekali. Seolah dia sudah menduga ini akan terjadi.
"Ini sudah dimulai," katanya lirih. "Selendang itu sudah memilih. Dia suka yang rambutnya panjang dan penakut."
"Selendang apa, Pak? Maksud Bapak apa?" Aku sudah tidak peduli lagi soal sopan santun.
Pak Sarmo tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah hutan di belakang posko. "Kalau kalian mau menolong teman kalian, cari Mbah Tirah. Rumahnya di ujung jalan setapak, di balik pohon beringin kembar. Tapi ingat... jangan pergi lewat dari jam 12 siang. Lewat dari itu, yang kalian temui di hutan bukan Mbah Tirah."
Siska yang paling sayang sama Rani langsung berdiri. "Aku yang pergi. Kalian jaga Rani di sini."
"Tidak!" Disa melarang. "Terlalu berbahaya sendiri."
"Aku ikut," kataku. "Berdua lebih aman."
Tepat jam 11.30, aku dan Siska menyusuri jalan setapak ke hutan. Udara makin dingin setiap langkah kami masuk ke dalam. Pohon-pohonnya tinggi, meranggas, menutupi matahari. Suara kami berdua satu-satunya suara di sana.
Rumah Mbah Tirah adalah gubuk kecil dari bambu. Di depannya, duduk seorang nenek bongkok dengan rambut putih semua. Dia sedang menumbuk sesuatu di lumpang batu. Bau kemenyan dan bunga kantil menyengat dari dalam gubuknya.
Sebelum kami sempat menyapa, Mbah Tirah sudah bicara duluan tanpa menoleh.
"Kalian anak KKN yang baru. Yang satu sudah dipinang, ya?"
Aku dan Siska merinding. Dari mana dia tahu?
"Mbah, tolong temanku..." Siska langsung berlutut. "Rani kerasukan. Dia ngomong aneh sejak tadi malam."
Mbah Tirah akhirnya menoleh. Matanya putih semua, buta. Tapi tatapannya terasa menembus sampai ke tulang kami.
"Bukan kerasukan, Nduk," katanya. "Dia sedang dipinang. Sama Laras."
"Laras siapa, Mbah?"
Mbah Tirah menunjuk ke arah sumur tua di belakang balai desa, meski dia buta dan posisinya membelakangi desa. "Laras. Anak KKN 7 tahun lalu. Anaknya cantik, rambutnya panjang. Dia dibunuh Pak Kades yang lama karena menolak dinikahi. Jasadnya dibuang ke sumur itu. Tapi selendangnya... selendang merahnya... tidak ikut dikubur. Selendang itu yang gentayangan, mencari tumbal pengganti tiap purnama."
Darahku berdesir. "Jadi Rani mau... dijadiin tumbal?"
Mbah Tirah mengangguk pelan. "Selendang itu sudah melilit leher temanmu. Tujuh hari dari sekarang, pas purnama, dia akan narik temanmu ke sumur. Kecuali..."
"Kecuali apa, Mbah?!" Siska mencengkeram tangan Mbah Tirah.
"Kecuali kalian temukan tulangnya Laras di dasar sumur. Dan kembalikan selendang itu ke pemiliknya. Tapi ada syaratnya." Mbah Tirah menggenggam tangan Siska, kuku-kukunya yang panjang menancap di kulit. "Harus ada yang turun ke sumur. Sukarela. Nyawa bayar nyawa."
Pulang dari rumah Mbah Tirah, kepalaku penuh. Nyawa bayar nyawa. Siapa yang mau sukarela turun ke sumur angker sedalam 15 meter?
Sesampainya di posko, kami menemukan Andre sedang berdiri mematung di balai desa. Wajahnya pucat, tangannya menunjuk ke satu pigura foto besar di dinding. Pigura foto wisuda KKN angkatan 7 tahun lalu.
Di barisan paling depan, ada seorang gadis cantik berambut panjang, memakai kebaya wisuda dan... selendang merah yang melingkar di lehernya.
Selendang yang persis sama dengan yang sekarang ada di kamar Rani.
Dan di belakang gadis itu, berdiri Pak Sarmo. Jauh lebih muda, tapi sorot matanya sama. Di sebelah Pak Sarmo, berdiri seorang lelaki gemuk dengan senyum licik. Di bawah foto itu ada tulisan: "Kepala Desa Periode 2015-2019".
Andre berbisik dengan suara bergetar, "Bim, Pak Sarmo... dia ada di foto ini. Dia kenal Laras. Dia tahu semuanya dari awal."
Aku mendekat ke pigura itu. Benar. Pak Sarmo, 7 tahun lebih muda, berdiri dengan wajah datar di barisan belakang. Dia bukan Kepala Desa waktu itu, tapi dia ada di sana. Menyaksikan.
"Dan yang gemuk ini," Disa yang baru datang menunjuk lelaki di sebelah Pak Sarmo, "ini Pak Broto. Mantan Kades yang kata Mbah Tirah bunuh Laras. Dia kabur setahun setelah kejadian itu. Katanya sih ke Kalimantan."
Jadi Pak Sarmo menutupi pembunuhan? Atau dia terlibat? Kepalaku makin pusing.
Kami berempat berlari kembali ke posko. Rani masih di sana, duduk di kursi bambu dengan posisi sama seperti kami tinggalkan. Tapi ada yang beda.
Di pangkuannya, ada selendang merah itu. Dia mengelus-elusnya seperti mengelus kucing.
"Rani..." Siska memanggil pelan.
Rani mendongak. Senyumnya mengembang, tapi kosong. "Dia bilang namanya Laras," katanya dengan suara serak itu. "Dia bilang... dia kangen. Dia mau aku temenin dia di bawah. Di dalam sumur. Dingin, tapi tenang katanya."
"Bajingan!" Andre menggebrak meja. "Dia mau narik Rani ke sumur!"
Tiba-tiba, Rani berdiri. Gerakannya kaku seperti boneka kayu. Dia berjalan ke arah pintu, melewati kami tanpa menoleh.
"Mau ke mana kamu, Ran?!" Disa menghadang.
Rani menoleh. Matanya yang tadinya kosong kini melotot, hitam seluruhnya tanpa ada putihnya. Selendang merah di tangannya mulai melayang sendiri, padahal tidak ada angin.
"Ke rumahku," desisnya. Suaranya bertumpuk, antara suara Rani dan suara perempuan lain. "Laras sudah menunggu di sumur. Waktunya pulang."
Dia mendorong Disa dengan kekuatan yang tidak manusiawi. Tubuh Disa terlempar sampai menghantam dinding.
Aku dan Andre langsung menubruk Rani, berusaha menahannya. Kulitnya dingin seperti mayat. Dia meronta dengan kekuatan tiga orang dewasa.
Dari luar, sayup-sayup terdengar lagi alunan gamelan. Padahal ini masih jam 2 siang. Gamelan itu mengalun, memanggil, cepat dan mendesak.
Di tengah pergumulan, Rani menatap tepat ke mataku. Dengan suara Laras yang pilu, dia berbisik, "Satu tumbal tidak cukup, Bima. Sumur itu lapar. Dia minta dua. Kamu... atau dia?"
Setelah kalimat itu, tubuh Rani lemas dan jatuh pingsan di pelukanku. Gamelan berhenti. Selendang merah itu terjatuh ke lantai, tidak bergerak lagi.
Kami berlima terduduk lemas di lantai posko. Napas kami satu-satu. Baru siang hari kedua, tapi kami sudah seperti tinggal di neraka.
Disa yang memegangi bahu memar akibat didorong Rani, membuka suara dengan gemetar. "Kita tidak bisa nunggu purnama. Kita harus turun ke sumur itu malam ini. Sebelum Laras mengambil Rani... atau salah satu dari kita."
Di luar, langit Desa Larangan yang tadinya cerah, tiba-tiba mendung. Mendungnya gelap, tidak wajar, seolah malam datang 4 jam lebih cepat.