Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 Kurang Menjaga Marwah
Mata Nandini memindai seluruh lampu indikator di dasbor mobil Santaka setelah ia memutar kunci kontak ke posisi ON. Semua menyala. Ketika mesin dinyalakan, semua mati, kecuali rem tangan. Aman.
Nandini juga mengecek hembusan AC. Ia turun untuk memeriksa asap knalpot dan ada tidaknya tetesan air di bawah mesin. Ia membuka kap untuk memastikan apakah suara mesin aman.
“Assalammu’alaikum Dini...”
“Astagfirullah, Ahsan! Kamu ngagetin aku. Wa’alaikumsalam.” Nandini mengelus dada.
Ahsan tersenyum simpul. Ekspresi wajah Nandini terlihat lucu baginya. Lucu sekaligus cantik. Kombinasi maut.
“Hehehe, kamu terlalu serius, jadi kaget. Sekarang kayaknya tiap pagi kamu yang manasin mobilnya Gus Taka?” Ahsan melihat-lihat mesin di dalam kap yang terbuka.
Nandini menutup kap mobil suaminya. “Iya, Gus Taka tau aku ndak bisa hidup tanpa mesin, hehehe...”
Ahsan mencebik. “Oh gitu... Oh ya Dini, kamu keren tenan kemaren. Kamu berhasil bikin tabligh akbar jadi beda warna.
Kamu bakal jadi idola baru buat jamaah. Baru dalam sejarah Al Fatih, ada perempuan yang auranya hampir setara sama Yai dan Gus.” Ahsan menatap Nandini sekejap, kemudian menunduk.
“Dhuh, lebay deh kamu, San. Mana ada kayak gitu. Biasa saja.” Gaya merendah Nandini jadi mirip Santaka. Suami istri memang saling mempengaruhi.
“Kamu mau cek motor aku juga ndak? Kita bisa diskusi soal motor aku. Kamu penyuka RX King kan? Aku juga punya.” Ahsan kembali menatap, agak lama, kemudian tertunduk.
“Oh ya? Wah, boleh. Eh tapi kapan ya waktunya. Kayanya ndak bisa ya, kamu kan ngajar di pondok.” Nandini menggaruk alisnya.
“Bisa diatur nanti.” Ahsan tersenyum manis. Ia memberanikan diri menatap Nandini lebih lama. Ia tahu ini dosa, tapi sepertinya ia kalah oleh bujuk rayu setan.
“Mbak, ini saladnya. Yuk kita makan bareng.” Santaka datang membawa sepiring salad. Ia terdiam melihat kehadiran Ahsan.
“Oh, ada Gus Ahsan. Lagi lewat atau bagaimana?”
“Iya Gus Taka. Kebetulan saya lewat, liat Mbak Dini manasin mobil. Saya mampir.”
Santaka merapatkan bibirnya. “Untung saya cepet datang ya. Ndak baik Gus Ahsan, dilihat abdi ndalem atau orang lain.”
“Hahaha, ini kan ruang terbuka. Jangan terlalu kaku lah. Saya kan sepupu Gus Taka. Masa pikirannya jelek.
Yo wis, saya pamit. Enak ya Gus Taka, mobilnya bakal aman terus karna punya istri kayak Mbak Dini.” Ahsan tersenyum dan membalikkan badan.
Santaka memandang kepergian sepupunya dengan pandangan yang tak dapat Nandini artikan. Nandini menipiskan bibirnya.
“Ahsan ngomong apa Mbak?”
Nandini terkesiap. “Ndak, ndak ngomong apa-apa. Liat-liat saya manasin mobil saja.” Nandini meringis.
Santaka menipiskan bibir dan mengangguk. “Jangan ditanggepin ya, Mbak." Mata Santaka kembali menatap ke arah kepergian Ahsan.
"Ya udah, buka mulutnya. Saya suapin salad. Biar sehat. Biar saya tenang kerja juga. Istri sudah makan masakan saya, sebelum saya tinggal.”
Nandini tersipu. Ia membuka mulutnya. Ia mulai terbiasa disuapi oleh sang suami. Memang lebih enak. Berkah dari Allah. Malah sekarang jika makan sendiri rasanya tak seenak jika disuapi Santaka.
*
*
Pagi ini para menantu membereskan perpustakaan sekaligus ruang kerja Mansur. Bentuk khidmah, pengabdian kepada mertua. Ada ribuan buku, berbahasa Indonesia atau Arab. Mansur adalah sosok kutu buku.
Lastri sedang menemani Mansur menerima tamu. Tamu ke pondok memang tak mengenal waktu, mereka bisa datang dari pagi hingga malam. Itu karena mereka bisa datang dari berbagai daerah.
Semua akan disambut dan dihargai secara adil. Mansur bukan orang yang membeda-bedakan penghargaan terhadap orang lain.
Nandini terdiam memandangi rak buku di sekeliling perpustakaan ini. Encer sekali otak mertuanya itu. Bisa melahap buku sebanyak ini.
“Mbak Dini, ayo jangan bengong saja. Bukunya ndak takut diliatin Mbak, terus akhirnya lari sendiri ke rak.” Sarah mulai merapikan buku di meja kerja Mansur.
Nandini memicingkan matanya. Ning Sarah ini, mulutnya pedes terus ya. Orang lagi mempelajari situasi. Lah dia sudah biasa ngerjain ini. Dasar Ning Polisi!
“Iya, Ning. Dini lagi kagum, Abi punya koleksi sebanyak ini. Mana ada yang bahasa Arab.”
“Abi kan kyai besar, jadi ilmunya harus lebih maju. Beliau ndak pernah berenti belajar, karena banyak yang belajar sama beliau.
Saya, Husna, suka dipinjemi buku. Buat nambah ilmu. Terutama ilmu fiqih, itu ilmu yang paling banyak Abi dan Umi suruh kita pelajari.”
Dhuh, aku ndak paham yang masuk ilmu fiqih itu gimana. Ning Sarah mau nyombong apa gimana?
Iparnya ini orang awam. Boleh status istri gus, tapi kan ilmunya nol.
“Nanti juga Mbak Dini dipinjemi buku sesuai minat Mbak Dini. Husna dan Ning Sarah memang fokus di fiqih. Mbak Dini bisa ambil tema akhlak.
Mbak Dini ada bakat jadi pembicara. Public speakingnya bagus. Kemarin tabligh akbar pecah banget.
Husna saja ndak pernah dapet tanggepan segitu ramenya.” Husna menumpuk buku sesuai nomor buku.
“Ning Husna, apaan sih? Itu kebetulan saja. Karna suasananya sudah rame dari pas Gus Yasa dan Abi. Jadi ke Dini kebawa rame.” Nandini meringis.
“Iya... Kalau modal melucu saja ya pasti jadi geger. Pembuktian pembicara bagus atau ndak itu diliat dari materinya.
Kalau dia bisa bawa materi yang berat, dengan cara ringan, baru bagus, hebat.
Kemaren kan ndak ada materi yang Mbak Dini omongin. Cuma guyon-guyon saja.” Sarah menatap datar ke arah Nandini.
“Iya Ning... Saya juga tau diri kok. Pujian Ning Husna itu berlebihan. Saya itu fakir ilmu, ndak punya ilmu agama. Pake jilbab saja baru pas nikah sama Gus Taka.
Beda kelas lah sama Ning Husna, apalagi sama Ning Sarah. Iya tho, Ning?” Nandini tersenyum pada Sarah dan Husna.
“Ndak Mbak Dini, Ning Sarah. Husna denger sendiri kalau Abi sama Umi juga muji Mbak Dini. Bagus. Bisa bawa penyegaran ke jamaah.
Tinggal belajar lebih giat, dipoles. Bisa dakwah. Mulai dari anak-anak dan ibu-ibu saja dulu.” Husna mengelus lengan Nandini.
Nandini tersenyum kepada Husna, ipar yang begitu suportif. “Terima kasih Ning Husna. Tapi Dini belum terpikir dakwah. Ilmu Dini masih nol, cetek.
Bahaya umat kalau model kayak Dini jadi ustadzah. Masih belum pantas jadi panutan. Dini jadi tim hore saja. Di belakang layar.”
Sarah menipiskan bibirnya. Bukannya ia tak mengetahui perihal pujian Mansur dan Lastri atas kegemilangan penampilan kilat Nandini di Tabligh Akbar, namun ia tak sependapat dengan mertuanya.
Penampilan Nandini memang segar, tapi kurang bisa menjaga marwah. Tak sesuai tradisi yang dipertahankan terkait penampilan perempuan Al Fatih di depan umum.
Boleh saja isi materinya dibalut lelucon agar lebih mudah diterima. Masalahnya humor Nandini terlalu akrobatik.
Terlalu banyak permainan mimik dan gestur. Tak anggun seperti perempuan bermarwah pada umumnya.
“Bagus itu Mbak Dini, tau diri itu kunci dari tawadhu. Ndak sombong cuma karna dipuji. Menghindarkan diri dari sombong.” Sarah mencebikkan bibir.
Husna meringis. Ngilu mendengar kata-kata kakak iparnya.
Nandini mengerutkan dahi. Ini Ning Polisi muji atau nyerang aku sih?
“Lagi pula, saya rasa Mbak Dini perlu belajar tentang marwah. Kelakuan Mbak Dini di Tabligh Akbar kemaren itu kurang elok.
Kurang bisa menjaga marwah.” Sarah tersenyum sinis pada Nandini.
“Bagian mana kurang menjaga marwah, Ning Sarah? Dini pakai pakaian syar’i. Dini ndak mendesah apalagi joget-joget.
Umi dan Abi juga ndak bilang apa-apa.” Nandini menatap tajam Sarah.
“Ya itu. Becandanya kurang pas sebagai istri gus. Walaupun Mbak Dini bukan ning, tapi aturan yang mengikat sama.
Mana ada istri gus cengar cengir kaya Mbak Dini kemarin. Terus nyindir Gus Taka, kalau Mbak Dini itu istri satu-satunya. Ndak pantas!
Belum dadah-dadah kayak Miss Universe dan promosiin bapaknya Mbak Dini sendiri.”
Nandini memejamkan matanya. Mengapa Sarah ini begitu aktif menyerangnya?
Padahal harusnya Sarah paham kalau Nandini masih dalam proses belajar. Kalau ada salah, beri tahu saja secara baik-baik.
“Iya Ning Sarah, terima kasih atas masukannya. Insyaa Allah Dini jadikan pelajaran.”
Husna tersenyum ke arah Nandini. Ia kembali mengelus lengan adik iparnya itu.
“Harus itu. Kalau diberi nasehat harus nerima dan perbaiki diri,” sengit Sarah. Nandini hanya merespons dengan anggukan. Ia malas ribut.
“Gus Taka suka nasehatin Mbak Dini kan? Yang kemarin ndak dibiarkan saja kan?
Gus Taka itu suka seenaknya, jangan sampai Mbak Dini juga seenaknya.” Sarah mencibir.
“Ning Sarah, ini sudah di luar kepatutan! Gus Taka itu suami yang baik. Dia sudah berusaha mendidik Dini dengan baik. Jangan bicara buruk tentang suami Dini!”
Nandini mendongakkan dagunya. Walaupun belum mencintai Santaka, ia tak suka ada orang yang menjelekkan suaminya itu.
“Nah kan? Mana boleh sikap seperti ini di Ndalem. Ada adik melawan kakak. Kalian memang benar-benar seenaknya!” Sarah meninggikan suaranya.
“Cukup, Ning Sarah!”
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj