NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17+++

Lampu-lampu kota mulai berpijar di balik kaca besar restoran rooftop yang dipilih Zidan. Tempatnya tidak terlalu formal, namun memiliki privasi yang cukup tinggi dengan sekat-sekat tanaman hias yang rimbun dan alunan musik saksofon yang rendah. Zidan memarkirkan motornya, lalu tanpa ragu, ia meraih jemari Shakira.

Genggaman tangan Zidan terasa mantap. Telapak tangannya yang besar dan hangat membungkus tangan mungil Shakira, menuntunnya masuk melewati pintu kaca. Shakira sempat sedikit kaku, namun ia tidak melepaskan genggaman itu. Ia justru merapatkan tubuhnya ke lengan Zidan saat mereka berjalan menuju meja di sudut balkon.

"Tumben ke tempat begini, Mas? Biasanya kan cuma martabak pinggir jalan," bisik Shakira saat pelayan sudah membukakan kursi untuknya.

Zidan duduk di hadapannya, masih belum melepaskan pandangan dari wajah istrinya yang terpapar cahaya lilin kecil di atas meja. "Sekali-kali, Ra. Aku mau liat istri aku cantik begini di tempat yang proper. Masa tiap hari liat kamu pake celemek atau daster putih kuntilanak terus?"

"Zidan!" Shakira mendelik, namun bibirnya tak bisa menahan senyum.

"Iya, iya, Sayang. Becanda," Zidan meraih buku menu, namun matanya tetap tertuju pada Shakira. "Pesen apa pun yang kamu mau. Malam ini nggak ada bahas skripsi, nggak ada bahas metodologi, dan nggak ada bahas revisi. Malam ini cuma ada kita."

Makan malam itu berlangsung dengan suasana yang jauh lebih hangat. Mereka mengobrol tentang banyak hal—tentang cita-cita Shakira membuka pastry shop sendiri, tentang impian Zidan memperbesar bengkelnya menjadi galeri motor kustom, hingga hal-hal konyol seperti tikus yang masuk ke kamar tempo hari. Gelak tawa kecil terus mengalir, meruntuhkan sisa-sisa kekakuan yang selama ini sering menjadi pembatas.

Saat perjalanan pulang, udara malam terasa semakin menusuk. Shakira memeluk pinggang Zidan dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di balik punggung suaminya. Dinginnya malam seolah menjadi alasan sempurna untuk tidak memberikan jarak satu inci pun.

Begitu sampai di rumah, suasana sunyi menyambut. Papa dan Mama sepertinya sudah beristirahat di kamar mereka. Zidan mengunci pintu depan, lalu menoleh ke arah Shakira yang sedang melepas jaket denimnya di ruang tengah.

"Capek banget ya?" tanya Zidan lembut.

Shakira mengangguk, ia menatap Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Capek, tapi... seneng. Makasih ya buat malam ini, Mas."

Zidan mendekat, langkahnya pelan namun penuh determinasi. Ia berdiri tepat di depan Shakira, jarak mereka kini begitu tipis hingga Shakira bisa mencium aroma parfum maskulin Zidan yang bercampur dengan udara malam.

"Mas...?" bisik Shakira, suaranya sedikit bergetar saat tangan Zidan terangkat mengusap pipinya yang kemerahan.

"Tadi pagi kan ada yang janji kasih bonus," gumam Zidan. Suaranya rendah, serak, dan penuh magnet. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Shakira. "Masih inget kan?"

Jantung Shakira mulai berdegup kencang, suaranya hampir hilang. "B-bonus apa? Kan tadi udah kencan..."

Zidan terkekeh pelan, hembusan napasnya terasa hangat di kulit leher Shakira. "Kencan itu hadiahnya. Bonusnya itu... yang ini."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Shakira untuk membantah, Zidan menunduk dan mendaratkan kecupan di kening istrinya, lama dan penuh perasaan. Kecupan itu kemudian turun ke kedua kelopak mata Shakira, lalu ke pipinya, hingga akhirnya bibir mereka bertemu dalam sebuah tautan yang lembut namun menuntut.

Shakira terkesiap, namun kali ini ia tidak mendorong. Ia justru melingkarkan lengannya di leher Zidan, membalas ciuman itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Rasa manis dari makan malam tadi seolah kalah dengan manisnya momen ini.

Zidan melepaskan tautan itu sejenak, menatap mata Shakira yang tampak sayu dan berkaca-kaca di bawah temaram lampu ruang tengah. "Masih mau pasang guling pembatas malam ini?"

Shakira menggeleng pelan, wajahnya merah padam. "Gulingnya... udah aku buang ke lantai semalam, Mas."

Zidan menyeringai nakal, ia menyisipkan tangannya di bawah lutut Shakira dan mengangkat tubuh istrinya itu dalam satu gerakan sigap. "Kalau gitu, nggak perlu ada pembatas lagi buat malam ini. Dan malam-malam seterusnya."

Zidan membawa Shakira menaiki tangga menuju kamar mereka. Begitu pintu kamar tertutup, dunia luar seolah lenyap. Tidak ada lagi mekanik tengil, tidak ada lagi mahasiswi judes. Yang ada hanyalah sepasang suami-istri yang akhirnya memutuskan untuk menyerahkan hati mereka sepenuhnya.

Di dalam kamar yang remang-remang, Zidan meletakkan Shakira di atas ranjang. Ia menatap istrinya dengan penuh kasih sebelum mematikan lampu nakas.

"I love you, Mas Karatan," bisik Shakira saat Zidan menariknya kembali ke dalam dekapan.

"I love you more, Nyonya Zidan. Tidur yang nyenyak... atau mau begadang bareng aku?" goda Zidan di sela kecupannya.

***

Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah ventilasi dapur, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas lantai keramik. Suasana di sana sudah sangat hidup dengan bunyi denting sudip yang beradu dengan wajan, serta aroma harum tumisan bumbu yang menggugah selera.

Shakira, dengan rambut yang dicepol asal namun tetap terlihat cantik, tampak tertawa lepas saat mendengarkan cerita Mama Zidan tentang masa kecil suaminya yang ternyata sangat nakal dan sering menangis kalau tidak dibelikan mainan mobil-mobilan.

"Masa sih, Ma? Zidan yang sok jagoan itu dulu cengeng?" tanya Shakira sambil membalik tempe goreng di penggorengan.

"Beneran, Ra! Dia itu kalau nggak diturutin bisa guling-guling di depan bengkel Papanya. Makanya Papa sering gemes sendiri," jawab Mama sambil memotong sayuran, ikut tertawa renyah.

Di tengah obrolan seru itu, muncul sosok pria dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur. Zidan berjalan gontai sambil mengucek matanya, masih mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek santai. Ia menguap lebar tanpa ditutupi tangan, menampakkan wajah "nyawa belum kumpul" yang sangat kontras dengan penampilannya yang garang saat memegang kunci pas.

"Sayang...?" panggil Zidan dengan suara serak khas bangun tidur. Langkahnya terhenti di ambang pintu dapur, matanya mencari sosok istrinya. "Aku cariin di kamar nggak ada, ternyata kamu udah di sini ya, lagi ngegosipin aku sama Mama."

Shakira menoleh sebentar lalu menjulurkan lidahnya. "Geer banget! Siapa juga yang ngegosipin kamu."

"Alah, nggak usah bohong. Tadi kedengeran sampe depan kamar mandi suara ketawa kalian," Zidan mendekat, lalu menyandarkan bahunya di kusen pintu dapur. "Bikinin Mas kopi ya, Ra. Kepala aku masih agak berat nih, butuh asupan kafein biar nyawanya utuh."

Mama Zidan hanya geleng-geleng kepala melihat putranya yang manja. "Bikin sendiri kenapa sih, Dan? Istri kamu lagi repot masak ini."

"Nggak mau, Ma. Kopi buatan Shakira itu ada bumbu cintanya, beda rasanya kalau bikin sendiri," kilah Zidan dengan alasan klise yang sukses membuat Shakira mendengus, meski ada sedikit rona merah di pipinya.

"Ya udah, tunggu di depan sana. Jangan di dapur, sempit tahu!" usir Shakira halus.

Sepuluh menit kemudian, Shakira melangkah menuju ruang tamu membawa secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul tipis. Zidan sudah duduk bersandar di sofa panjang, kakinya diangkat satu ke atas paha, matanya terpejam namun mulutnya bersiul kecil.

"Nih. Kopi kamu. Awas panas," ujar Shakira sambil meletakkan cangkir itu di atas meja kayu.

Baru saja Shakira hendak berbalik kembali ke dapur, tangan Zidan dengan sigap menangkap pergelangan tangannya. "Duduk sini dulu bentar, Sayang. Buru-buru banget sih."

Shakira berusaha menarik tangannya, meski tidak terlalu kuat. "Aku mau bantuin Mama masak, Mas. Nanti Mama sendirian di dapur nggak enak. Nggak usah aneh-aneh deh, ini masih pagi!"

Zidan menarik pelan tangan Shakira hingga istrinya itu terpaksa duduk di sampingnya. Ia kemudian menatap wajah Shakira dengan tatapan nakal yang sangat khas, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang masih sedikit pucat.

"Loh, aneh-anehnya kan belum, Ra. Lagian ini kan masih ruang tamu, ada Papa sama Mama di sekitar sini," bisik Zidan, ia memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci saja. "Aneh-anehnya nanti malem, kalau kamu emang udah siap sepenuhnya. Gimana? Mas siap melayani dengan sepenuh hati kok."

"Mas! Apaan sih! Mulutnya disekolahin nggak sih!" pekik Shakira tertahan. Ia memukul pelan bahu Zidan, wajahnya kini sudah merah padam sempurna sampai ke telinga. Ia segera berdiri, merasa jantungnya sudah mulai tidak beraturan lagi temponya.

Zidan tertawa terbahak-bahak, sangat puas melihat reaksi istrinya yang selalu sukses ia bikin salting. Ia meraih cangkir kopinya dan menyesapnya pelan. "Hahaha! Kenapa sih, Ra? Kan cuma nawarin jasa. Lagian kan kita udah sah, mau aneh-aneh sampai jungkir balik juga boleh."

"Zidan Ardiansyah! Sekali lagi ngomong gitu, kopinya aku kasih garem ya!" ancam Shakira sambil berjalan cepat kembali ke dapur tanpa menoleh lagi.

Zidan masih terkekeh, ia menatap punggung Shakira yang menjauh dengan tatapan penuh kemenangan. Baginya, menggoda Shakira di pagi hari adalah "sarapan" terbaik yang bisa meningkatkan mood-nya sebelum berangkat ke bengkel.

"Manis banget istrinya orang," gumam Zidan pada diri sendiri.

"Istri kamu sendiri, Dan!" teriak Papa Ardi yang tiba-tiba muncul dari balik koridor sambil membawa koran pagi.

Zidan tersentak hampir tersedak kopinya. "Eh, Papa. Ngagetin aja."

"Makanya, jangan kebanyakan gombal pagi-pagi. Kasihan Shakira, mukanya sampe kayak udang rebus tadi lewat di depan Papa," Papa Ardi duduk di kursi seberang Zidan. "Gimana kencan semalam? Sukses?"

Zidan nyengir lebar, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sukses dong, Pa. Berkat saran Papa juga kemarin, bannya yang bocor jadi berkah buat aku."

"Baguslah. Jaga baik-baik istrimu. Shakira itu anak baik, tapi ya memang butuh kesabaran ekstra buat ngadepin gengsinya yang setinggi langit," pesan Papa Ardi bijak.

"Siap, Pa. Mas Zidan siap bersabar demi masa depan yang cerah," jawab Zidan dengan nada mantap, meski hatinya masih terngiang-ngiang bagaimana lembutnya suara Shakira saat memanggilnya "Mas" semalam.

Di dapur, Shakira mencoba menenangkan detak jantungnya sambil memotong bawang. Meskipun ia sering memarahi Zidan, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia mulai menikmati setiap godaan dan perhatian yang diberikan suaminya. Panggilan "Mas" yang awalnya terasa berat di lidah, kini mulai terasa alami—sebuah tanda bahwa dinding pertahanan yang ia bangun selama ini telah benar-benar runtuh oleh ketulusan seorang mekanik yang ia sebut "Karatan" itu.

"Ra, kenapa potong bawangnya sambil senyum-senyum gitu?" tanya Mama curiga.

"Eh? Enggak kok, Ma. Ini... bawangnya perih di mata!" kilah Shakira, meski semua orang tahu bahwa ia sedang berbohong demi menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap.

***

Cielah Zidan Shakira 🤣🤣🤣

Bonus Double hari ini buat kalian.

Menurut kalian cerita ini ngebosenin nggak?

Ada yang mau disampaikan ke aku??

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!