"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Cermin Masa Lalu di Lorong Waktu
Malam itu, Baskara harus lembur di kantor kejaksaan untuk menyelesaikan berkas banding ayahnya. Arini sendirian di kamar, mencoba fokus membaca jurnal medis, namun hawa dingin yang familiar kembali menyelimuti ruangan.
Satria muncul di sudut kamar. Kali ini, auranya tidak seteduh di rumah sakit. Ada gurat kesedihan dan keposesifan yang mulai nampak di matanya.
"Hai, Mas Ganteng dari Jogja!" Mika tiba-tiba muncul, berputar-putar centil di depan Satria. Mika merapikan cheongsam-nya dan berpose secantik mungkin. "Kamu nyari aku ya? Aku kan yang paling manis di sini, bukan dokter kulkas itu."
Satria sama sekali tidak menoleh pada Mika. Matanya terpaku pada Arini yang pura-pura tidak melihatnya. "Menyingkirlah, Arwah Kecil. Aku tidak mencari hantu sepertimu. Aku hanya ingin kekasihku."
Mika langsung cemberut. "Ih, judes amat sih! Padahal aku udah dandan maksimal pakai aura perak!"
"Arini..." Satria berbisik, suaranya kini terdengar lebih nyata. "Kamu mungkin mengenakan pakaian modern itu, tapi jiwamu... cara kamu menatap... itu benar-benar dia. Lihatlah, biar kutunjukkan padamu kenapa aku begitu yakin."
Tiba-tiba, Satria meraih tangan Mika secara paksa. Mika berteriak kaget, namun sedetik kemudian, pandangan Mika dan Arini (secara batin) tersedot ke dalam sebuah lubang cahaya yang menyilaukan.
...****************...
Masa Lalu – Yogyakarta, Tahun 1940-an
Mika terbelalak. Ia kini berdiri di halaman sebuah bangunan megah bergaya kolonial yang kini menjadi museum di dekat Malioboro. Suasananya berbeda—kereta kuda berlalu lalang, dan orang-orang mengenakan kebaya serta kain jarik yang rapi.
Di sana, di bawah pohon tanjung, berdiri Satria yang masih hidup. Ia mengenakan seragam pejuang yang gagah. Di hadapannya, seorang wanita berdiri malu-malu.
Mika menutup mulutnya dengan tangan. "Ya Tuhan... Arini?"
Wanita itu memang sangat mirip dengan Arini. Bak pinang dibelah dua. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga melati kecil. Perbedaannya hanya satu: wanita itu terlihat sangat lembut dan tradisional, berbeda dengan Arini yang tegas dan modis.
"Aku akan kembali, Sekar," ucap Satria di masa lalu itu sambil memegang tangan wanita tersebut. "Tunggu aku di museum ini setelah perang berakhir."
Sekar tersenyum, senyum yang identik dengan senyum Arini saat sedang bahagia. "Aku akan menunggumu, Mas Satria. Selamanya."
...****************...
Kembali ke masa sekarang, Arini tersentak hingga jurnal di tangannya jatuh ke lantai. Mika terlempar kembali ke sisi tempat tidur dengan wajah pucat.
"Rin... kamu lihat kan?" Mika gemetar. "Wanita itu... dia bukan mirip lagi, itu kembaran kamu dari zaman dulu!"
Satria menatap Arini dengan tatapan penuh luka. "Sekar tidak pernah menungguku. Dia menghilang. Dan sekarang, aku menemukanmu di sini... tapi pria kaku itu selalu memelukmu."
Satria melirik ke arah foto pernikahan Arini dan Baskara di atas nakas. Tatapannya berubah menjadi tajam dan penuh kebencian. "Pria itu... dia tidak pantas memilikimu. Dia tidak tahu cara mencintaimu seperti aku mencintai Sekar selama delapan puluh tahun ini."
"Mika, bilang padanya," suara Arini akhirnya keluar, meskipun ia tidak menatap Satria secara langsung. "Katakan padanya aku bukan Sekar. Dan katakan padanya... jangan pernah sekali-kali dia berpikir untuk menyentuh suamiku."
Mika langsung berdiri tegak, meski ia masih sedikit ngeri dengan kekuatan Satria. "Denger nggak, Mas Ganteng? Arini itu sudah jadi Nyonya Jaksa! Jangan jadi pelakor gaib deh! Meskipun kamu ganteng, tapi kelakuan kamu mulai bikin aku ilfeel!"
Satria tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dingin sebelum perlahan memudar. "Dia adalah penghalang. Dan di duniaku, penghalang harus disingkirkan."
Arini menggenggam selimutnya erat-erat. Ia teringat nasehat Sang Ratu: Energi negatif akan menyerang jika mereka tahu kamu melihat. Satria memang tampan, tapi kecemburuannya adalah api yang bisa membakar segalanya.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Baskara masuk dengan wajah lelah namun langsung tersenyum saat melihat istrinya. "Belum tidur, Sayang?"
Baskara berjalan mendekat dan mencium kening Arini. Arini memeluk Baskara dengan sangat erat, lebih erat dari biasanya.
"Ada apa? Kamu gemetar?" tanya Baskara curiga.
"Hanya... kangen," dusta Arini, sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baskara.
Mika yang melihat itu hanya bisa menghela napas. "Duh, perang dunia ketiga bakal kejadian nih. Jaksa lawan Pejuang Zaman Dulu. Rin, mending kamu siap-siap, Satria kayaknya nggak bakal nyerah segampang itu."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣