NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PENYERGAPAN DI LEMBAH KEMATIAN

Kabut tipis menyelimuti Lembah Kematian, sebuah celah raksasa yang membelah pegunungan di pinggiran ibukota Benua Pusat. Di tempat ini, tanahnya berwarna abu-abu pucat, sisa-sisa dari ribuan prajurit yang tewas dalam perang unifikasi ribuan tahun silam. Qi di lembah ini terasa statis dan mencekam, seolah-olah waktu sendiri enggan mengalir di sini.

Han Jian bergerak di barisan depan, langkahnya ringan namun waspada. Di belakangnya, Han Shuo mengikuti dengan jubah peraknya yang tersampir rapi, sementara Pangeran Xuan mengenakan pakaian perjalanan sederhana untuk menyamarkan identitas kerajaannya.

"Peta ini menunjukkan bahwa pintu masuk makam berada di dasar celah terdalam lembah ini," bisik Pangeran Xuan sambil memeriksa gulungan kulit naga emas di tangannya. "Namun, ayahku telah menempatkan lapisan sensor yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun yang memiliki aura kerajaan. Itulah sebabnya aku membutuhkanmu, Han Jian. Energimu asing bagi sistem keamanan kekaisaran."

Han Jian tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Tulang Emas Abadi di dalam tubuhnya mulai bergetar pelan, menangkap frekuensi gesekan logam yang sangat halus di balik tebing-tebing batu.

"Ada tamu yang tidak diundang," ucap Han Jian dingin.

Syuut! Syuut! Syuut!

Dari celah-celah tebing yang curam, puluhan bayangan hitam meluncur turun. Mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tubuh mereka diselimuti oleh kabut hitam yang pekat. Ini bukan prajurit biasa; mereka adalah Pasukan Pembunuh Bayangan Permaisuri, unit elit yang hanya bergerak atas perintah wanita paling berkuasa di kekaisaran, Ibu Suri Wei.

"Pangeran Ketujuh," sebuah suara wanita yang tajam dan berwibawa terdengar dari atas bukit. Sesosok wanita cantik dengan gaun hitam ketat dan cadar transparan muncul. Di tangannya, ia memegang kipas besi yang berlumuran racun. "Ibu Suri sudah menduga kau akan berkhianat. Serahkan peta itu dan kembali ke istana untuk menerima hukumanmu, atau biarkan lembah ini menjadi makam pribadimu."

"Komandan Yan," Xuan mendesis, matanya penuh kebencian. "Permaisuri benar-benar tidak sabar untuk menyingkirkan semua pesaingnya."

"Bunuh laki-laki di sampingnya, bawa Pangeran hidup-hidup!" perintah Komandan Yan.

Dua puluh pembunuh bayaran menyerang serentak. Mereka tidak menggunakan pedang besar, melainkan belati pendek yang dirancang untuk mencari titik lemah di antara persendian.

Han Jian melangkah maju, menghalangi jalur serangan mereka. Ia tidak mengeluarkan tombaknya; ia ingin menguji kekuatan Resonansi Tulang barunya pada musuh yang memiliki kecepatan tinggi.

KRAK!

Han Jian menangkap pergelangan tangan pembunuh pertama yang menyerang. Dengan satu sentakan kecil, ia menyalurkan getaran frekuensi tinggi melalui jarinya. Tulang lengan pembunuh itu hancur menjadi bubuk seketika, meski kulitnya tidak robek sedikit pun.

Pembunuh itu berteriak kesakitan, namun Han Jian sudah berpindah ke sasaran berikutnya.

"Penyatuan Tulang: Dinding Getaran!"

Han Jian menghentakkan kaki kirinya ke tanah. Gelombang energi emas meluas secara melingkar. Para pembunuh yang berada dalam jangkauan lima meter tiba-tiba merasa tubuh mereka menjadi sangat berat. Sumsum tulang mereka seolah-olah ditarik oleh magnet raksasa, membuat koordinasi motorik mereka kacau.

Han Shuo tidak tinggal diam. Ia melesat dengan pedang peraknya, menebas setiap pembunuh yang gerakannya telah diperlambat oleh Han Jian. Darah merah membasahi tanah abu-abu lembah.

"Monster!" Komandan Yan yang melihat pasukannya dibantai dengan mudah, akhirnya kehilangan kesabaran. Ia melompat dari bukit, kipas besinya terbuka dan melepaskan ribuan jarum beracun yang membentuk badai hitam.

Han Jian menarik napas dalam-dalam. Ia memusatkan seluruh pendar emasnya pada dadanya. "Hanya besi fana..."

Jarum-jarum itu menghantam tubuh Han Jian dengan suara ting-ting-ting, seolah-olah mereka menabrak lonceng tembaga raksasa. Tidak ada satu pun jarum yang berhasil menembus kulitnya. Han Jian justru meraih segenggam jarum yang jatuh dan melemparkannya kembali ke arah Komandan Yan dengan kekuatan fisiknya yang masif.

Komandan Yan terpaksa menggunakan seluruh Qi-nya untuk menangkis serangannya sendiri. Ia terdorong mundur hingga kakinya terperosok ke dalam tanah.

"Siapa kau sebenarnya?!" teriak Yan, wajahnya pucat pasi. "Tidak ada manusia yang memiliki tubuh sekeras ini tanpa perlindungan Qi pelindung!"

"Namaku adalah peringatan terakhir bagi kekaisaranmu," jawab Han Jian.

Ia melesat, muncul di depan Komandan Yan dalam kedipan mata. Han Jian mencengkeram kipas besi Yan dan meremasnya hingga menjadi bola logam yang tak berbentuk. Sebelum Yan bisa melarikan diri, Han Jian mendaratkan satu pukulan di perutnya—bukan untuk membunuh, tapi untuk menghancurkan Dantian-nya secara permanen.

Komandan Yan terkapar, seluruh kultivasinya musnah dalam satu detik. Para pembunuh bayaran yang tersisa, melihat pemimpin mereka dikalahkan dengan begitu hina, segera mundur ke dalam kegelapan kabut.

Pangeran Xuan mendekati Han Jian dengan tatapan takjub. "Aku tahu kau kuat, Jian, tapi melihatmu menghancurkan Pasukan Bayangan tanpa berkeringat... kau benar-benar di luar nalar."

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Han Jian sambil menyapu debu dari bahunya. "Permaisuri sekarang tahu kita di sini. Dia akan mengirim pasukan yang lebih besar, atau bahkan memanggil Jenderal Surgawi lainnya."

"Pintu masuknya ada di sana," Han Shuo menunjuk ke sebuah celah sempit di balik air terjun kering di ujung lembah. "Di balik itu adalah pintu makam yang hanya bisa dibuka dengan darah Tulang Emas."

Mereka sampai di depan sebuah pintu raksasa yang terukir dengan relief peperangan kuno. Di tengah pintu tersebut terdapat sebuah lubang kecil berbentuk telapak tangan.

Han Jian meletakkan tangannya di sana. Ia memicu aliran darah emasnya. Seketika, relief di pintu itu mulai bergerak. Suara mekanisme kuno yang berat berderit, debu ribuan tahun jatuh dari langit-langit gua.

Pintu itu terbuka, menyingkapkan sebuah jalan menurun yang memancarkan cahaya biru kehijauan yang misterius. Aroma kemenyan purba dan energi yang sangat tua menyambut mereka.

"Selamat datang di tempat di mana semuanya dimulai," ucap Han Shuo dengan nada muram. "Di dalam sini bukan hanya harta, tapi juga kebenaran tentang mengapa klan kita dikutuk untuk tidak memiliki Dantian."

Han Jian melangkah masuk pertama kali, tombaknya sudah di tangan. Ia tahu bahwa di dalam makam ini, musuhnya bukan lagi manusia, melainkan jebakan para dewa dan sisa-sisa penjaga dari era Kaisar Pertama. Namun, dengan Tulang Emas di tubuhnya dan dendam di hatinya, ia merasa tidak ada satu pun dewa yang bisa menghentikannya.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!