Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kaki mereka terasa terbenam ke dalam pasir hidup. Setiap langkah berat yang diambil seolah hanya memindahkan mereka dari satu titik kegelapan ke titik kegelapan lainnya yang persis sama. Pohon-pohon berdiri seperti patung-patung pembunuh yang bisu namun menelan napas. Hutan ini tidak ingin mereka dapat tersenyum sedikit pun. Hutan ini ingin mereka tetap di sini dan menangis, menjadi bagian dari kebusukan yang menjijikan dan hitam.
"Bos... kita sudah berputar untuk kesepuluh kalinya," suara Deri terdengar lirih. Napasnya pasrah, keringat bercucuran membasahi punggungnya, bercampur dengan lumpur dan getah pohon yang menempel di kulit. "Ini gak wajar, bos. Dunia ini... dunia aneh yang kita masuki ini sudah terlalu jauh."
Sulaiman menghentakkan kakinya keras ke tanah, wajahnya merah sedikit pucat, urat-urat di lehernya menonjol karena menahan amarah yang bercampur ketakutan. "Diam! DIAM!! Jangan banyak omong! Mata kalian yang rusak! Hutan gaib memang seperti ini!
Ruang dan waktu semakin melengkung, kini langkah kaki mereka bertambah kian berat seolah terbenam ke dalam pesir besi. Ketiga orang itu terus berjalan berjam-jam, namun posisi matahari, atau apa pun yang tersisa dari cahaya di balik deretan kanopi pohon raksasa tidak pernah bergerak sedikit pun. Mereka benar-benar terperangkap dalam sebuah loop mimpi buruk yang tak berujung.
Hingga tiba-tiba... sesuatu berubah.
Pemandangan yang tadinya adalah semak belukar yang liar dan tak terurus, tiba-tiba berakhir begitu saja. Laksana kemunculan garis tak terlihat yang memisahkan antara alam liar yang ganas dan sebuah area yang... teratur.
Sangat teratur.
"Eh... lihat itu," tunjuk Herman, suaranya tercekat kaget. Matanya membelalak tak percaya.
Di depan mereka terbentang sebuah area yang dibersihkan dengan rapi. Bukan tanah hutan yang berbatu dan berlubang, melainkan gundukan-gundukan tanah hitam yang diolah halus, disusun dalam barisan yang lurus, rapi, dan presisi seperti penggaris. Dan di atas tanah itu... tumbuh tanaman-tanaman yang subur. Daunnya lebat, warnanya hijau pekat yang hampir hitam, berkilauan seolah baru saja disiram air.
Sayuran...?
Yaah sayuran..!
Di tengah hutan belantara yang seolah terkutuk ini, ada sebuah kebun.
Jantung ketiga pria itu seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Harapan, meski tipis dan rapuh, mulai menjalar kembali. Jika ada kebun, berarti ada manusia. Berarti ada harapan keluar dari sini.
"Apakah kita sudah dekat dengan jalan keluar menuju desa?..." desis Deri, melangkah maju tanpa sadar.
Mereka berjalan mendekati area perkebunan itu. Udara di sini terasa berbeda. Lebih pengap, berbau tanah yang sangat gembur, bau pupuk kandang yang menyengat, dan ada semburat bau anyir yang samar, seperti bau besi tua yang bercampur dengan... kotoran manusia. Namun mereka mengabaikannya. Fokus mereka tertuju pada sosok yang sedang bergerak di tengah barisan tanaman itu.
Seorang pria tua.
Punggungnya bungkuk, kulitnya keriput seperti kertas dokumen yang sudah mengering selama ratusan tahun, warnanya gelap kehitaman terkena sinar matahari dan debu. Dia memakai sarung lusuh dan kemeja kotak-kotak yang warnanya sudah pudar. Di tangannya, dia memegang sebuah cangkul besi yang berat. Mata cangkul itu mengkilap tajam, terlihat sangat terawat, kontras dengan tubuh tua yang memegangnya.
Pria tua itu sedang mencangkul. Gerakannya lambat, metodis, dan sangat tenang. Wukk... tupp! Wukk... tupp! Wuuuuuukkk tup! Suara besi menembus tanah terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam. Dia seolah tidak menyadari kehadiran tiga orang asing yang sedang menatapnya dari pinggir kebun.
"Pak Tua!" panggil Sulaiman, suaranya sedikit meninggi karena gugup. Dia melambaikan tangan. "Assalamualaikum, Pak!"
Pria tua itu berhenti bergerak. Tubuhnya membatu sejenak. Kemudian, dengan sangat lambat, dia memutar lehernya ke arah sumber suara.
Gerakannya tidak manusiawi. Terlalu kaku, terlalu pelan, seperti boneka kayu yang engselnya berkarat.
Saat wajahnya terlihat jelas, bulu kuduk seluruh tubuh Sulaiman, Deri, dan Herman berdiri tegak serentak. Bukan karena wajahnya yang jelek atau berkerut, tapi karena matanya. Mata pria tua itu kosong. Bukan buta, tapi kosong, bukan tentang biji mata, tapi kosong secara makna. Tidak ada refleks, tidak ada kehidupan, hanya dua bola mata yang gelap dan datar, menatap lurus ke arah mereka tanpa ekspresi.
"Eh... kami tersesat, Pak," ucap Deri menjelaskan, mencoba tetap sopan meski dadanya bergemuruh. Dia lalu melangkah maju beberapa langkah masuk ke area kebun itu. "Boleh tanya, jalan keluar ke desa lewat mana ya, Pak?"
Sulaiman dan Herman masih berdiri di belakang, waspada. Insting keras Sulaiman mendenging bahaya. Ada sesuatu yang sangat salah dengan pria tua ini. Aura yang dipancarkan bukan aura kefanaan atau kelemahan, melainkan aura dingin yang sama dengan hutan ini. Aura kematian.
Pria tua itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Deri lekat-lekat. Sudut mulutnya perlahan terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman. Tapi senyuman itu tidak sampai ke mata. Itu adalah senyuman yang menyimpang, senyuman yang terdistorsi, seolah otot wajahnya dipaksa bergerak tak menyenangkan.
"Pergi..." suara pria tua itu keluar. Serak, dalam, dan bergetar, seolah suara itu datang bukan dari tenggorokan, tapi dari dalam tanah.
"Maaf, Pak? Kami cuma mau tanya jalan..." Deri semakin mendekat, tangan kanannya terulur ingin menyentuh bahu lelaki tua itu, berniat membantu atau setidaknya menarik perhatiannya. "Kami sudah berjalan berjam-jam, kaki kami..."
WUUUUUKKK!!!
Angin berdesir keras.
Dalam sepersekian detik, sosok yang tadi terlihat lemah dan bungkuk itu bergerak dengan kecepatan yang mustahil.
Pria tua itu mengayunkan cangkulnya dengan kekuatan tak terduga. Mata besi tajam itu meluncur di udara, mengarah tepat ke leher Deri! Suara desisan besi membelah udara terdengar nyaring dan mematikan.
"AWAS!!!" teriak Sulaiman.
Refleksnya masih cepat. Meskipun terkejut, tubuh kekarnya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Sulaiman menerjang tubuh Deri dengan bahunya sekuat tenaga, melempar anak buahnya itu menjauh beberapa meter hingga terguling di tanah gembur.
TRAAANG!!!
Cangkul itu menghantam tanah tepat di tempat di mana kepala Deri berada sedetik yang lalu. Besi itu menancap begitu dalam hingga setengah panjang gagangnya masuk ke dalam tanah hitam itu. Serpihan tanah berterbangan, dan bau anyir yang tadi samar kini menjadi sangat kuat.
Tanah itu... merah, kini merah. Di balik warna hitamnya, tanah yang dicangkul itu mengandung semburat warna merah yang pekat.
"Apa kau sudah gila, Pak Tua?!" teriak Deri panik, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal hebat. Dia baru saja selangkah luput dari kematian. Lehernya bahkan bisa merasakan hembusan angin dingin dari mata cangkul yang tajam itu.
Sulaiman segera berdiri di depan Deri dan Herman, tubuhnya membentang melindungi mereka. Matanya menatap ke arah pria tua itu. "Kau mau apa, hah?! Kami cuma bertanya jalan!"
Pria tua itu perlahan mencabut cangkulnya dari tanah. Gerakannya kembali menjadi lambat, santai, seolah serangan tadi hanyalah hal biasa. Dia menatap mereka, dan kali ini, senyumannya semakin lebar. Terlalu lebar, hingga mulut itu tampak seperti celah yang menganga di wajah keriputnya.
Dan di saat itulah... teror psikis yang sesungguhnya dimulai. Intensitasnya meningkat berkali-kali lipat, menghancurkan batas-batas kewarasan akal sehat.
Pemandangan di sekitar mereka mulai berubah. Bukan perlahan, tapi seketika.
Herman menjerit kecil saat menatap barisan tanaman sayur yang tadi terlihat subur dan hijau.
"A a a apa itu... itu... itu sayur apa?!"
Tanaman-tanaman itu bukan lagi sayuran biasa. Daun-daunnya yang hijau berubah bentuk menjadi rambut-rambut hitam panjang yang menjuntai, bergoyang-goyang meski tidak ada angin. Batangnya berubah menjadi tulang-tulang manusia yang memutih, berdiri tegak menyangga daging yang menggantung.
Dan akarnya... akarnya menjalar keluar dari tanah, berupa urat-urat merah berdenyut yang saling terhubung, menyerap sesuatu dari dalam tanah yang penuh belatung.
"Jangan lihat! Itu halusinasi!" teriak Sulaiman, tapi suaranya ragu. Karena dia sendiri juga melihatnya.
Dia melihat apa yang sedang dicangkul oleh pria tua itu. Tanah yang digali itu bukan tanah biasa. Di dalamnya terlihat tumpukan-tumpukan benda putih yang tersusun rapi. Tulang-belulang. Ribuan tulang manusia yang dihancurkan, digiling, dicampur menjadi tanah gembur untuk menyuburkan "tanaman" ini.
"Ini tanah milikku..." suara pria tua itu bergema, tapi bukan hanya dari mulutnya. Suara itu datang dari segala arah, dari dalam tanah, dari daun-daun, dari udara. "Aku merawat mereka. Aku memberi mereka makan. Dan kalian... kalian datang untuk menjadi pupuk yang baru."
"Gila! Kau orang gila!" Sulaiman mencoba menarik anak buahnya untuk mundur. "Mundur! Kita pergi dari sini!"
Tapi kaki mereka tidak bisa bergerak. Bukan karena terikat, tapi karena tanah di bawah kaki mereka terasa lengket, seperti aspal panas yang mulai mengeras.
Pria tua itu berjalan mendekat. Gagang cangkul di tangannya terlihat semakin panjang, semakin besar, berubah menjadi sebatang tongkat besi raksasa yang ujungnya tajam mengkilap.
Deri tiba-tiba memegang kepalanya. "Aduh... kepalaku... rasanya mau pecah!"
Dia melihat pria tua itu berubah bentuk. Sekarang ada dua pria tua. Lalu tiga. Lalu puluhan. Semuanya sama, semuanya memegang cangkul, semuanya berjalan mengelilingi mereka dalam lingkaran yang semakin mengecil.
Cangkul... cangkul... cangkul... kata-kata itu berputar-putar di kepala mereka. Suara hentakan cangkul ke tanah terus terulang di telinga mereka, menjadi semakin keras, menjadi seperti dentuman meriam yang menggetarkan gendang telinga dan meremukkan tulang-temulang mereka.