Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
Pagi itu datang dengan tenang, membawa cahaya matahari yang lembut menyelinap masuk ke setiap sudut rumah besar itu. Udara terasa segar, berbeda dari dinginnya malam yang panjang. Di ruang makan, meja telah tertata rapi dengan berbagai hidangan yang disiapkan sempurna, seolah segala sesuatu di tempat itu selalu berjalan tanpa cela.
Cameron duduk di ujung meja, mengenakan kemeja putih yang kembali rapi seperti biasanya. Wajahnya telah kembali pada ekspresi khasnya yang tenang, dingin, dan sulit ditebak. Secangkir kopi hitam berada di hadapannya, masih mengepul pelan. Namun pagi itu, fokusnya tidak sepenuhnya tertuju pada sarapan.
Tanpa sadar, pandangannya tertarik ke arah luar. Melalui jendela besar di ruang makan, ia melihat Giana berdiri di halaman depan dengan Cayden dalam gendongannya.
Wanita itu membungkus bayi tersebut dengan kain tipis, lalu berdiri menghadap sinar matahari pagi. Gerakannya pelan dan penuh kehati-hatian, seolah setiap detail kecil sangat ia perhatikan.
Cameron mengernyit tipis. “Apa yang dia lakukan?” tanyanya pada akhirnya.
Bibi Sarah yang berdiri tidak jauh dari meja segera menoleh. “Menjemur Cayden, Tuan.”
“Menjemur? Memangnya Cayden baju yang harus dijemur?” tanya Cameron tak mengerti, ia jelas tidak terbiasa dengan hal tersebut. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah perawat. “Apakah itu diperbolehkan? Apakah tidak bahaya bagi Cayden?”
Perawat itu sedikit terkejut, namun tetap menjawab dengan sopan. “Tidak apa-apa, Tuan. Justru itu baik untuk kesehatan bayi, selama tidak terlalu lama. Sinar matahari pagi membantu pertumbuhan dan menjaga kondisi tubuh bayi.”
Cameron terdiam sejenak, mencerna penjelasan itu. Hal-hal seperti itu memang bukan sesuatu yang ia pahami. Setelah beberapa detik, ia hanya mengangguk singkat, lalu kembali pada sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, sesekali pandangannya masih melirik ke arah luar.
Beberapa menit kemudian, Giana terlihat kembali masuk ke dalam rumah. Ia menggendong Cayden dengan hati-hati, memastikan bayi itu tetap nyaman dalam pelukannya. Langkahnya tenang saat melewati ruang makan, lalu mulai menaiki tangga menuju lantai atas.
Namun baru beberapa anak tangga, suara Cameron menghentikannya.
“Giana.”
Giana berhenti dan menoleh. “Ya?”
“Kau mau ke mana?” tanya Cameron dengan nada datar namun jelas menuntut jawaban.
“Aku ingin memandikan Cayden,” jawab Giana jujur. “Setelah itu, mungkin ia akan tidur lagi.”
Jawaban itu membuat Cameron menatap tajam ke arah perawat. Tatapannya dingin dan tegas, seolah tanpa perlu kata-kata pun sudah cukup memberi tekanan.
Perawat itu langsung menunduk, merasa bersalah karena sudah membiarkan Giana melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tugasnya.
Melihat itu, Giana segera angkat bicara. “Tidak, tidak. Jangan salahkan dia,” ucapnya pelan namun jelas. “Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Aku yang ingin melakukannya sendiri.”
Cameron tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Giana beberapa detik, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat. Lalu, dengan suara tegas, ia memanggil perawat.
“Ambil Cayden dan mandikan dia. Kenapa kau membiarkan Giana melakukan semuanya sendirian? Jika dia melakukannya sendirian, apa gunanya aku membayarmu?” titah Cameron tegas.
Perintah itu membuat suasana seketika berubah. Perawat itu mengangguk patuh dan segera mendekat. Dengan hati-hati mengambil Cayden dari pelukan Giana.
Sementara itu, Cameron kembali menatap Giana. “Duduklah,” katanya singkat.
Giana sedikit terkejut, tetapi tidak membantah. Ia menuruni tangga perlahan, lalu berjalan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengikuti. Bagaimanapun juga, pria itu kini adalah majikannya.
Cameron meliriknya sekilas sebelum kembali pada makanannya. “Tugasmu hanya satu. Mau masih ingat apa tugasmu, kan?” tanyanya kemudian.
Giana mengangkat pandangannya sedikit, lalu mengangguk.
“Iya, aku mengingatnya.”
“Lalu? Apa yang kau lakukan tadi? Aku tidak ingat sudah memerintahmu untuk melakukan semuanya,” lanjut Cameron dengan nada tenang namun tegas. “Ada orang lain yang dibayar untuk itu. Aku tidak ingin kau kelelahan. Jika kau tidak dalam kondisi baik, maka kau tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Cayden.”
Kalimat itu membuat Giana terdiam. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ada sesuatu dalam nada itu yang terdengar seperti perintah, tetapi juga seperti perhatian yang tidak ingin diakui.
Tanpa banyak bicara, ia hanya mengangguk pelan. “Maaf.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Cameron menyesap kopinya dalam diam sementara Giana tetap menunduk, takut menatap wajah tampan Cameron yang kini terlihat galak menurutnya.
Beberapa saat kemudian, Cameron meraih tas kerjanya yang berada di samping kursi. Ia mengeluarkan sebuah map, lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan Giana.
“Bacalah dulu lalu tandatangan,” katanya singkat.
Giana menatap map itu sejenak sebelum akhirnya membukanya. Matanya mulai menyusuri isi dokumen tersebut, baris demi baris, hingga napasnya tertahan.
Matanya membesar. “Ti-tiga puluh juta … per bulan?” gumamnya pelan, seolah tak percaya dengan nominal gaji yang akan diterimanya.
“Kenapa? Apakah terlalu sedikit?” tanya Cameron, meletakkan cangkir kopinya pelan. “Katakan saja, berapa jumlah yang kau inginkan? Aku akan—”
“Tidak! Bukan itu!” sela Giana cepat. “Ini … ini terlalu besar bagiku.”
30 juta bukanlah jumlah yang kecil. Bahkan bagi Giana, angka itu terasa terlalu besar untuk sesuatu yang ia lakukan.
Namun rasa terkejutnya belum berhenti di situ. Ia membuka halaman berikutnya dan kembali terdiam. Sebuah rumah dijanjikan kepadanya setelah masa kontrak berakhir.
Tangannya sedikit gemetar saat memegang kertas itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Cameron dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Ini … ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku—”
“Tidak,” potong Cameron cepat. Tatapannya tajam dan tegas, tidak memberi ruang untuk penolakan.
Giana terdiam. Ia ingin menolak, ingin mengatakan bahwa semua itu terlalu berlebihan. Namun tatapan Cameron membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Akhirnya, ia hanya bisa menunduk.
Tangannya perlahan mengambil pena. Dengan napas yang sedikit tertahan, ia menandatangani kontrak tersebut.
Satu keputusan yang mengikatnya pada kehidupan yang sama sekali baru.
Cameron memperhatikan tanpa komentar. Ia memilih menghabiskan kopinya sebelum akhirnya berangkat bekerja.
Sementara itu, di dalam diri Giana, sesuatu perlahan berubah. Ia tidak tahu apakah ini awal dari sesuatu yang baik atau justru sebaliknya.