Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Bawah Tanah Pertama
Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit gudang tua kawasan pelabuhan itu memberikan kesan suram yang sempurna. Udara di sini terasa berat, bukan hanya karena kelembapan laut, tapi karena bau keringat, darah yang mengering, dan adrenalin yang memuakkan. Di tengah ruangan, sebuah arena yang dibatasi oleh pagar kawat berduri telah berdiri. Ini bukan arena olahraga; ini adalah The Pit, tempat di mana hukum negara tidak berlaku dan hanya mereka yang terkuat yang bisa membawa pulang uang taruhan.
Vittorio Genovese berdiri di sudut yang gelap, mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot-ototnya yang mulai terbentuk sempurna berkat pelatihan intensifnya. Di sampingnya, Karin tampak gemetar, meski ia berusaha keras menutupi ketakutannya dengan terus mengunyah permen karet.
"Juna, gue rasa ini ide paling buruk setelah ide lu makan seblak level tiga puluh kemarin," bisik Karin, matanya liar memperhatikan orang-orang bertato yang membawa parang dan botol keras. "Kenapa kita harus cari modal tambahan di tempat kayak gini? Kan dua miliar kemarin udah banyak banget!"
"Dua miliar itu modal untuk teknologi dan informasi, Karin," jawab Vittorio tanpa mengalihkan pandangan dari arena. "Malam ini, aku mencari sesuatu yang lebih berharga: loyalitas dari mereka yang tidak punya apa-apa lagi untuk dilepaskan. Aku butuh anjing-anjing perang, bukan sekadar hacker."
Vittorio tidak datang ke sini hanya untuk bertaruh. Ia datang untuk merekrut. Berdasarkan informasi dari Maya, The Pit adalah tempat berkumpulnya mantan tentara desersi dan petarung jalanan yang dikhianati oleh sistem. Orang-orang seperti itulah yang dibutuhkan Vittorio untuk membangun faksi pertamanya di Jakarta.
"Hadirin sekalian! Malam ini kita punya daging segar!" teriak seorang pria cebol dengan pelantang suara yang pecah. "Dia menyebut dirinya 'The Ghost'. Dan dia akan melawan juara bertahan kita selama enam minggu berturut-turut... SI BADAK DARI UTARA!"
Seorang pria raksasa dengan berat setidaknya 120 kilogram masuk ke arena. Otot-ototnya seperti gumpalan semen, dan dadanya dipenuhi bekas luka parutan. Penonton bersorak gila, uang-uang taruhan mulai berpindah tangan.
Vittorio melangkah masuk ke dalam pagar kawat. Saat gerbang dikunci di belakangnya, suara riuh penonton mendadak menjadi hening sesaat. Mereka melihat "The Ghost"—pemuda dengan tubuh yang relatif kurus dan wajah yang terlalu tampan untuk tempat kotor seperti ini.
"Mati lu, bocah!" teriak seorang penonton.
Si Badak menyeringai, memperlihatkan gigi yang hilang di bagian depan. "Lu salah alamat, Dek. Tempat penitipan anak ada di seberang pelabuhan."
Vittorio hanya diam. Ia mengambil posisi berdiri yang sangat santai, tangannya tergantung di samping tubuhnya. Matanya yang dingin menatap tepat ke arah jakun Si Badak—titik paling rentan pada pria sebesar itu.
Peluit ditiup.
Si Badak menerjang seperti banteng yang mengamuk. Tanah di bawah mereka terasa bergetar. Ia melayangkan pukulan overhead yang cukup kuat untuk menghancurkan tengkorak manusia. Namun, Vittorio tidak ada di sana saat pukulan itu mendarat.
Vittorio bergeser hanya beberapa sentimeter ke kiri, sebuah gerakan minimalis yang sangat efisien. Saat lengan Si Badak lewat di samping wajahnya, Vittorio menggunakan telapak tangannya untuk mengarahkan momentum lawan lebih jauh ke depan, membuat pria raksasa itu kehilangan keseimbangan.
Sebelum Si Badak sempat berbalik, Vittorio mendaratkan dua pukulan cepat ke arah ginjal. Duk! Duk! Suara itu terdengar seperti palu yang menghantam karpet tebal.
"Argh!" Si Badak mengerang, namun ia segera berputar dan mencoba memeluk Vittorio dalam bear hug yang mematikan.
Vittorio merunduk, meluncur di bawah ketiak raksasa itu, dan memberikan tendangan tajam ke arah saraf di belakang lutut Si Badak. Raksasa itu jatuh berlutut, menciptakan suara dentuman di lantai kayu yang rapuh.
"JUNA! HAJAR TERUS! JANGAN KASIH NAPAS!" teriak Karin dari luar pagar, ia bahkan sampai memanjat pagar kawat hingga hampir tersangkut.
Si Badak bangkit dengan amarah yang memuncak. Ia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang disembunyikan di dalam perbannya—sebuah pelanggaran aturan, namun di tempat ini, tidak ada yang peduli selama penonton terhibur.
Vittorio menyipitkan mata. "Kau butuh senjata untuk melawan seorang mahasiswa?"
Si Badak menyerang dengan serangkaian tusukan liar. Vittorio mundur perlahan, menghitung setiap milimeter jarak antara ujung pisau dan kulitnya. Ini adalah teknik The Ghost Step yang ia pelajari dari pembunuh bayaran di Rusia. Bagi penonton, Vittorio tampak seperti bayangan yang sulit disentuh.
Pada serangan kelima, Si Badak melakukan kesalahan fatal: ia terlalu jauh merentangkan tangannya dalam sebuah tusukan lurus.
Vittorio menangkap pergelangan tangan Si Badak, memutarnya 180 derajat hingga tulang radusnya terdengar retak. Dengan gerakan yang mengalir, ia merebut pisau itu, memutarnya di udara, dan menancapkannya tepat di permukaan meja kayu kecil yang ada di tengah arena—hanya beberapa milimeter dari tangan Si Badak yang kini gemetar.
Ia tidak membunuh pria itu. Ia justru melepaskan cengkeramannya dan memberikan satu tendangan memutar ke arah pelipis Si Badak.
BRAK!
Raksasa itu tumbang tak sadarkan diri. Hening menyelimuti gudang itu selama tiga detik sebelum akhirnya ledakan sorak-sorai pecah.
Vittorio keluar dari arena dengan napas yang tetap teratur, hampir tidak mengeluarkan keringat. Ia menuju ke ruang belakang yang bau apek, di mana ia dijanjikan akan bertemu dengan penyelenggara taruhan untuk mengambil uang kemenangannya.
Namun, di sana sudah menunggu empat orang pria dengan wajah yang jauh lebih serius daripada para preman di luar. Salah satu dari mereka adalah seorang pria paruh baya dengan kaki palsu dari besi, sedang mengasah belati.
"Pertarungan yang bagus, anak muda," ucap pria berkaki besi itu. "Aku belum pernah melihat teknik Systema sebersih itu di Jakarta. Siapa yang melatihmu? KGB?"
"Aku belajar dari pengalaman," jawab Vittorio pendek. "Mana uangku?"
Pria itu melemparkan sebuah tas berisi uang tunai senilai lima ratus juta rupiah—hasil taruhan yang sengaja Vittorio pasang untuk dirinya sendiri melalui Karin. "Namaku Tiger. Mantan komandan unit khusus yang dibuang karena menolak menembak warga sipil. Orang-orang di sini bekerja untukku. Dan sekarang, kau baru saja membuatku rugi besar karena juara bertahanku hancur."
Vittorio mengambil tas itu dan memberikannya pada Karin yang langsung memeluknya seolah itu adalah harta karun dunia. Vittorio kemudian menatap Tiger dengan tajam.
"Aku tidak tertarik pada uangmu, Tiger. Aku datang untuk menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada sekadar judi ilegal di pelabuhan yang bau ini."
Tiger mengangkat alisnya. "Oh ya? Apa itu? Jabatan di perusahaan startup-mu?"
"Kesempatan untuk memburu serigala," ucap Vittorio. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto: tato serigala yang terlilit rantai milik Lupi di Mare. "Organisasi yang akan segera mendarat di kota ini. Mereka akan mencoba menguasai pelabuhanmu, bisnismu, dan mereka akan membunuh siapa pun yang menghalangi. Bergabunglah denganku, dan aku akan memberimu sumber daya, persenjataan, dan tujuan yang nyata."
Tiger terdiam cukup lama. Ia melihat ke arah anak buahnya, lalu kembali ke Vittorio. "Kenapa kau pikir kami mau bekerja untuk seorang bocah?"
"Karena bocah ini tahu di mana letak gudang senjata milik Hadi Sujatmiko yang tidak dijaga malam ini," Vittorio menyeringai. "Dan karena aku tahu, kau sangat membenci pria yang menyebabkan kakimu menjadi besi seperti itu, bukan?"
Mata Tiger berkilat. Kebencian adalah bahasa universal yang sangat dipahami Vittorio. "Kau tahu banyak, Ghost."
"Aku tahu segalanya. Jadi, apa jawabanmu? Tetap menjadi hyena di gudang tua, atau menjadi pemburu bersamaku?"
Tiger berdiri, ia mengulurkan tangannya yang kasar. "Katakan apa yang harus kami lakukan pertama kali."
Malam itu, Vittorio kembali ke kost-an bukan hanya dengan tas penuh uang, tapi dengan komitmen dari sepuluh petarung paling brutal di Jakarta Utara. Karin berjalan di sampingnya dengan wajah yang masih pucat namun penuh semangat.
"Juna, lu beneran bakal jadi bos mafia ya?" tanya Karin pelan saat mereka sampai di depan gerbang.
"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan, Karin," jawab Vittorio.
"Tapi lu tadi keren banget... maksud gue, pas lu matahin tangan si raksasa itu... gue ngerasa aman banget berdiri di sana." Karin menunduk, wajahnya sedikit memerah. "Meskipun lu alien yang bikin darah tinggi, makasih ya udah nggak bikin gue jadi yatim piatu di pelabuhan tadi."
Vittorio tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Karin dengan lembut. "Masuklah. Besok kita punya banyak belanjaan yang harus dilakukan. Bang Mamat butuh seragam baru, dan kau... kau butuh daster yang tidak berlubang di ketiaknya."
"HEI! Daster ini vintage tau!" Karin berteriak, namun ia berlari masuk ke kamarnya dengan tawa yang riang.
Vittorio berdiri sejenak di teras, menatap kegelapan malam. Tiger dan anak buahnya adalah awal yang baik. Sekarang ia memiliki modal, informasi, dan otot. Namun, ia tahu bahwa di seberang samudra, musuh yang sebenarnya telah mencium keberadaannya.
Ia meraba bekas luka di tulang selangkanya. Mikrodit itu mungkin sudah mati, tapi ikatan darah dengan serigala Genoa itu masih hidup.
"Ayo datang," bisik Vittorio pada angin malam. "Pelabuhan ini sudah bukan milik kalian lagi."
Di kamar sebelah, Karin mulai menghitung uang taruhan dengan suara keras yang bisa terdengar sampai ke jalan, sementara Bang Mamat mulai membersihkan parangnya di pos jaga atas instruksi baru dari Vittorio. Perang belum pecah, tapi bidak-bidak catur telah tersusun rapi di atas papan. Dan kali ini, Sang Raja tidak akan bermain bertahan.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍