Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
***
Pukul tujuh pagi, suasana di dalam rumah dinas itu terasa seperti medan perang yang teratur. Aroma kopi hitam kesukaan Bagas memenuhi udara, bersaing dengan bau sabun mandi bayi dan minyak telon. Laras, dengan napas yang sedikit tersengal, sedang berjongkok untuk memakaikan kaos kaki ke kaki mungil Gilang. Perut buncitnya yang berusia tujuh bulan benar-benar menghalangi ruang geraknya.
"Aduh, Gilang... diam sebentar, Sayang. Mamah susah pakainya kalau Gilang gerak terus," pinta Laras lembut, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Bagas keluar dari kamar dengan gagah. Seragam cokelat khakinya tampak sangat licin tanpa kerutan sedikit pun—hasil kerja keras setrika Laras semalam suntuk. Sepatunya mengkilap, dan aroma parfum maskulinnya segera mendominasi ruangan. Ia adalah sosok pemimpin yang sempurna, berwibawa, dan sangat disegani.
"Sudah siap semua, Ras?" tanya Bagas sambil merapikan baretnya di depan cermin ruang tamu.
"Sudah, Mas. Kopi dan sarapan sudah di meja. Bekal untuk rapat di kecamatan juga sudah Laras masukkan ke tas," jawab Laras sembari bangkit berdiri dengan tumpuan tangan pada kursi, wajahnya sedikit meringis menahan nyeri di tulang kemaluan yang kian menekan.
Bagas menghampiri Gilang dan Arka. Ia berjongkok gerakan yang tampak begitu mudah baginya namun sangat sulit bagi Laras. "Gilang, Arka... Bapak berangkat dulu ya. Jaga Mamah, jangan nakal. Ingat, ada adik bayi di perut Mamah."
"Bapak mau ke kantor ya? Mau naik motor besar?" tanya Gilang dengan mata berbinar.
"Iya, Bapak mau mengurus desa. Sini, cium tangan dulu," Bagas membiarkan kedua anaknya berebut mencium tangannya. Ia kemudian berdiri dan beralih pada Laras.
Bagas mengecup kening istrinya lama, lalu beralih ke perut besar Laras, mengelusnya dengan penuh kebanggaan. "Jaga dirimu baik-baik, Ras. Kalau ada warga yang datang, layani dengan baik seperti biasa. Aku mungkin pulang agak larut lagi."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," Laras mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim.
Begitu pintu depan tertutup dan suara motor besar Bagas menjauh, keheningan sejenak itu langsung pecah.
"TIDAAAK! Arka mau susu cokelat, bukan putih!" teriakan Arka memecah suasana.
Baru saja Laras hendak menarik napas, bencana pertama terjadi. Gilang yang sedang asyik bermain robot-robotan secara tidak sengaja menyenggol gelas susu di atas meja makan. Cairan putih kental itu tumpah menggenangi lantai, membasahi ujung daster Laras yang baru ia ganti.
"Ya Allah, Gilang..." Laras memejamkan mata sejenak, mencoba menelan kekesalannya. "Kenapa tidak hati-hati, Nak?"
"Maaf, Mah... robotnya tadi terbang," cicit Gilang takut-takut.
Bersamaan dengan itu, Arka mulai menangis kencang, melakukan gerakan tantrum di lantai karena susunya belum juga diganti. Laras merasa kepalanya berdenyut. Pinggangnya sisa kegiatan intim fajar tadi masih terasa linu, ditambah beban janin yang kian aktif menendang.
"Iya, Arka, tunggu sebentar. Mamah bersihkan lantai dulu supaya tidak licin," ucap Laras dengan suara yang mulai serak. Ia harus merangkak sedikit demi sedikit untuk mengelap lantai, sebuah siksaan fisik bagi ibu hamil tua.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar keras. "Permisi! Bu Kades! Assalamu'alaikum!"
Laras tersentak. Ia melihat jam dinding; baru pukul setengah delapan pagi. Dengan sapaan yang dipaksakan ramah, ia mengelap tangannya dan berjalan menuju pintu depan.
"Wa'alaikumussalam... Eh, Bu RT dan Bu Haji. Mari, silakan masuk," sapa Laras dengan senyum lebar yang menjadi topeng andalannya.
"Duh, maaf mengganggu pagi-pagi, Bu Kades. Ini kami mau menanyakan soal bantuan sosial untuk warga Dusun III. Pak Lurah tadi sudah berangkat ya?" tanya Bu Haji dengan nada menyelidik, matanya menelusuri ruangan yang sedikit berantakan karena mainan anak-anak.
"Iya, Bu, Mas Bagas baru saja berangkat ke kecamatan. Ada rapat penting," jawab Laras tetap santun meski kakinya terasa kebas karena berdiri terlalu lama. "Mari duduk dulu, saya buatkan minum sebentar."
"Ah, tidak usah repot-repot, Bu Kades. Kami cuma sebentar. Tapi itu... Arka kenapa menangis kencang sekali? Apa tidak sebaiknya didiamkan dulu? Sebagai istri pemimpin, kita harus selalu terlihat tenang, ya kan?" sindir Bu RT dengan senyum tipis.
Laras hanya bisa mengangguk, hatinya perih. Mereka tidak tahu bahwa di balik dinding ini, Laras adalah buruh tanpa upah yang bekerja 24 jam.
**
Setelah para tamu pulang dan drama susu tumpah berhasil diatasi, Laras merasa tenaganya nyaris habis. Ia memutuskan untuk membawa kedua anaknya ke halaman belakang untuk mendapatkan sinar matahari pagi—dan sedikit ketenangan untuk dirinya sendiri.
Laras duduk di kursi kayu tua di bawah pohon mangga. Arka yang sudah tenang kini bersandar di perut besarnya, sementara Gilang asyik mengorek tanah dengan sekop plastik.
"Mamah..." Gilang mendongak, wajahnya cemong karena tanah. "Adik bayi di dalam perut Mamah itu kapan keluarnya? Gilang mau ajak main bola."
Laras tersenyum, mengelus rambut Gilang. "Sebentar lagi, Sayang. Dua bulan lagi. Tapi nanti kalau sudah lahir, Gilang harus bantu Mamah jaga Adik, ya? Jangan rebutan mainan."
"Kalau Adik nangis, nanti Gilang kasih robot," janji Gilang polos, membuat tawa kecil lolos dari bibir Laras.
Arka mendongak, tangan kecilnya mengelus perut Laras yang tegang. "Adik... bangun... nenen..." celotehnya.
Melihat tawa dan kepolosan kedua anaknya, rasa perih di hatinya perlahan memudar. Namun, saat tatapannya kosong menatap jemuran yang menggunung, pikiran Laras melayang ke masa lalu.
Laras teringat hari di mana ia mengenakan seragam SMA untuk terakhir kalinya. Enam tahun lalu. Ia adalah siswa yang cerdas, memiliki mimpi untuk kuliah di kota besar.
Namun, ayahnya yang merupakan tetua desa memiliki janji dengan keluarga Bagas. Perjodohan itu tak terelakkan. Bagas, pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya, adalah menantu idaman semua orang, kecuali dirinya saat itu.
Ia ingat bagaimana ia menangis di malam pertama pernikahan mereka, merasa asing dengan tanggung jawab yang tiba-tiba menindih pundaknya. Sementara teman-teman sebayanya mengunggah foto-foto liburan kuliah di media sosial, Laras justru bergelut dengan mual di awal kehamilan pertamanya di usia 19 tahun.
Aku baru dua puluh tiga tahun, batinnya mirih. Tetapi badanku terasa seperti wanita usia empat puluh tahun.
Ada rasa iri yang menyelinap saat ia membayangkan kehidupan tanpa beban. Tanpa harus memikirkan seragam suami yang harus licin, tanpa harus melayani nafsu suami di saat raga ingin mati rasa, dan tanpa tuntutan untuk terus menambah keturunan hanya karena status 'anak tunggal' sang suami.
"MAMAH! Lihat! Gilang dapat cacing!" teriak Gilang kegirangan, membuyarkan lamunan Laras.
Laras tersentak, lalu tertawa kecil melihat ekspresi lucu anaknya. Ia sadar, meski jalannya tidak ia pilih sendiri, dua bocah di depannya dan satu nyawa di rahimnya adalah alasan jantungnya tetap berdetak. Mereka adalah obat bagi jiwanya yang lelah.
Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah dan sinar matahari yang menghangatkan kulitnya. Ia tahu, sebentar lagi ia harus bangkit, menghadapi tumpukan cucian, memasak makan siang, dan bersiap menjadi "Ibu Kades" lagi.
"Ayo, anak-anak... masuk yuk. Mamah harus masak lodeh buat Bapak," ucap Laras sambil berusaha berdiri, tangannya mendekap perut bawahnya yang terasa kram ringan.
Dunia mungkin mengenalnya sebagai istri beruntung dari seorang kepala desa yang disegani, namun di halaman belakang ini, ia hanyalah seorang Laras—wanita muda yang sedang memberikan seluruh hidupnya untuk orang-orang yang ia cintai, meski ia sendiri seringkali lupa bagaimana cara mencintai dirinya sendiri.
****
Bersambung