Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalah pahaman warga
"Kamu sudah selesai makannya?"
"Sudah, Tuan. Terima kasih," jawab Cantika pelan, suaranya masih lemah.
"Sekarang aku antar kamu pulang."
Cantika dan Arka hendak beranjak dari tempat itu. Namun, belum sempat mereka melangkah, keduanya terdiam sesaat. Suara langkah kaki gaduh terdengar mendekat. Bukan satu atau dua orang, melainkan seperti serombongan banteng yang sedang mengamuk. Sebelum Arka sempat bereaksi, pintu gubuk yang sudah reot itu didorong kasar hingga nyaris lepas dari engselnya.
"Nah! Ketangkap basah kalian!" teriak seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan sarung yang dikalungkan di lehernya.
Di belakangnya, belasan warga desa mulai dari bapak-bapak berbaju koko hingga ibu-ibu yang masih memegang sodet merangsek masuk ke dalam gubuk sempit itu. Udara yang tadinya pengap semakin sesak oleh bau keringat dan amarah.
Arka berdiri dengan kaget. "Apa-apaan ini? Siapa kalian?"
Cantika, yang masih lemas, langsung gemetar hebat. Ia berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meski pakaiannya masih sangat lengkap dan sopan. "Pak RT? Ada apa ini?"
Pria yang dipanggil Pak RT itu berkacak pinggang. Matanya menatap tajam ke arah Arka yang terlihat sangat kontras dengan setelan jas mahalnya. Lalu, pandangannya beralih ke lantai. Di sana tergeletak sapu tangan sutra biru milik Arka yang tadi digunakan Cantika untuk menghapus air mata, serta kotak makan mewah yang isinya tinggal separuh.
"Sudah, jangan banyak alasan!" bentak Pak RT. "Kami sudah curiga sejak tadi melihat mobil mewah parkir lama di dekat gubuk sepi ini. Dan sekarang lihat! Kalian berduaan di dalam gubuk tertutup, duduk berdekatan, plus ada barang-barang mencurigakan segala!"
"Mencurigakan? Barang apa yang kamu maksud?" tanya Arka dengan nada meninggi. Harga dirinya sebagai CEO mulai terusik. "Itu sapu tangan dan itu nasi kotak. Apa kalian tidak bisa membedakan antara mesum dan makan siang?"
"Halah! Jangan sombong karena kamu kaya, ya!" sahut seorang warga berambut gondrong. "Di kampung ini, laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dilarang berduaan di tempat tertutup. Apalagi ini gubuk pinggir jalan yang jauh dari rumah warga lainnya. Ini sudah melanggar norma!"
Arka mendengus tidak percaya. "Dengar ya, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang terhormat. Saya tadi hampir menabrak gadis ini. Dia pingsan karena lapar, jadi saya menolongnya. Saya memberinya makan. Itu namanya kemanusiaan, bukan mesum!"
"Kemanusiaan? Mana ada orang kaya mau repot-repot duduk di tanah becek begini kalau tidak ada maunya?" Pak RT mendekat sambil menunjuk wajah Arka. "Jangan kira kami bodoh. Kamu pasti mau memanfaatkan kemiskinan Cantika untuk memuaskan nafsumu, kan?"
"Jaga mulutmu!" bentak Arka. "Saya punya tunangan, punya harga diri, dan saya punya standar! Mana mungkin saya "
Kalimat Arka terhenti mendadak. Ia melirik Cantika yang kini menangis lagi, kali ini lebih kencang karena ketakutan dan rasa malu yang mendalam. Arka sadar kalimatnya barusan bisa sangat menyakiti hati gadis itu, tetapi ia terlalu panik untuk peduli.
"Pokoknya kami tidak mau tahu," kata Pak RT tegas. "Kampung kami tidak mau kena sial gara-gara perbuatan kotor kalian. Sesuai aturan di sini, siapa pun yang tertangkap basah berduaan seperti ini harus segera dinikahkan untuk membersihkan nama kampung!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arka. "Apa? Nikah? Kamu gila? Saya hanya di sini selama seratus dua puluh menit!"
"Mau lima menit atau satu jam, aturannya sama! Ayo, seret mereka ke balai desa!" perintah Pak RT.
"Jangan, Pak! Tolong, jangan!" Cantika bersimpuh di kaki Pak RT. "Tuan Arka benar, dia cuma menolong saya. Saya yang salah, saya yang tidak tahu diri. Tapi tolong jangan paksa dia. Tuan Arka orang besar, saya cuma penjual keripik ...."
"Cantika, kamu diam saja!" bentak salah seorang warga perempuan. "Kamu itu korban atau memang sengaja menggoda dia? Daripada kamu jadi omongan orang selamanya, lebih baik kamu menikah saja sama orang kaya ini. Hidupmu juga bakal berubah, kan?"
Arka merasa seperti sedang berada di dalam film komedi satir yang buruk. Ia, Arka Pradipta, yang baru saja masuk majalah bisnis sebagai Young Leader of the Year, akan dipaksa menikah dengan seorang penjual keripik singkong hanya karena masalah nasi kotak?
"Saya tidak mau! Saya akan panggil pengacara saya sekarang juga!" Arka meraba sakunya mencari ponsel.
"Oh, mau panggil polisi? Silakan!" ancam warga berambut gondrong sambil merebut ponsel Arka. "Biar sekalian masuk koran kalau pengusaha sukses tertangkap mesum di gubuk singkong!"
"Hei! Kembalikan ponsel saya!"
Situasi semakin kacau. Arka dan Cantika ditarik paksa keluar dari gubuk. Di luar, kerumunan warga semakin banyak. Beberapa orang bahkan mulai mengambil foto dan video dengan ponsel mereka. Arka berusaha menutupi wajahnya dengan sisa tenaga, sementara Cantika hanya bisa tertunduk lesu, pasrah pada nasib yang mendadak menjadi sangat gelap.
### Di Balai Desa
Ruangan balai desa terasa sangat sesak. Udara pengap bercampur bau minyak kayu putih menusuk hidung Arka. Ia duduk di kursi kayu keras yang tidak nyaman, di samping Cantika yang masih tak henti-hentinya terisak. Di depan mereka, Pak RT, beberapa tokoh masyarakat, dan seorang pria yang disebut-sebut sebagai penghulu desa sudah menunggu dengan wajah serius.
"Ini benar-benar konyol," gumam Arka sambil menatap Pak RT dengan tatapan membunuh. "Saya bisa menuntut kalian semua atas pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Silakan tuntut kami nanti setelah kamu sah jadi suami Cantika," jawab Pak RT tenang, seolah tidak takut pada ancaman Arka. "Kami cuma mau menjaga ketertiban. Cantika ini yatim. Dia cuma tinggal sama ibu dan adik-adiknya. Kalau nama baiknya rusak, siapa yang mau tanggung jawab? Kamu mau kasih dia uang saja? Uang tidak bisa mengembalikan kehormatan, Tuan."
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa!" teriak Arka frustrasi.
"Buktikan di pengadilan kalau kamu bisa. Tapi sekarang, warga sudah melihat kalian berduaan. Di sini, hukum adat lebih cepat daripada hukum pengacara kamu itu," sahut warga lain dengan nada dingin.
Arka menoleh ke arah Cantika. Gadis itu tampak sangat hancur. Wajahnya yang pucat kini benar-benar putih seperti kertas. Ia tampak begitu kecil dan rapuh di tengah kemarahan warga.
"Cantika," panggil Arka pelan. Suaranya kini tidak lagi membentak, melainkan penuh tekanan. "Katakan pada mereka. Katakan kalau tidak terjadi apa-apa."
Cantika mendongak. Matanya yang sembab menatap Arka dengan rasa bersalah yang mendalam. "Saya sudah bilang, Tuanb... tapi mereka tidak percaya. Maafkan saya ... gara-gara saya, hidup Tuan jadi hancur seperti ini."
Arka memejamkan mata. Pikirannya melesat ke mana-mana. Jika berita ini sampai ke telinga dewan komisaris perusahaan, atau lebih buruk lagi, ke telinga ibunya yang sangat menjaga reputasi keluarga, kariernya bisa tamat. Saham perusahaannya bisa anjlok hanya karena skandal konyol di desa terpencil.
Tapi menikah? Menikah dengan gadis ini?
"Bagaimana, Tuan Arka? Mau menikah baik-baik atau kami serahkan kasus ini ke media sosial?" ucap Pak RT sambil menunjukkan layar ponselnya. "Saya yakin video tadi sudah mulai menyebar."