"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
"Letakkan raket nyamuknya, Ismut. Makan dulu."
Alaric melangkah masuk ke dalam rumah dinas sambil membawa satu nampan anyaman bambu berisi piring seng dan satu gelas besar es teh manis. Bau gurih nasi goreng sosis pesanan Calla langsung merebak, mengalahkan aroma karbol lantai yang biasanya mendominasi rumah itu.
Calla yang sedang rebahan manja di sofa kulit hitam langsung menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar menatap kepulan asap dari nasi goreng.
"Wah! Pasukan logistik datang!" Calla buru-buru duduk, melupakan sejenak daster kuning matahari dan jepitan badainya. "Telur ceploknya setengah matang, kan, Paksu?"
"Sesuai perintah." Alaric meletakkan nampan itu di atas meja ruang tamu dengan posisi yang sangat simetris di tengah-tengah. "Cuci tangan dulu."
"Siap, Komandan!" Calla memberikan salam hormat militer yang asal-asalan, lalu buru-buru mengusap tangannya ke daster sebelum menyambar sendok.
"Calla, bukan ke daster. Di wastafel," tegur Alaric, suaranya berat tapi terdengar pasrah.
"Udah bersih kok, tadi kan cuma pegang raket nyamuk, bukan pegang lumpur," sahut Calla sambil menyuap satu sendok besar nasi goreng ke dalam mulutnya. Wajah cantiknya langsung mendongak, matanya merem melek. "Hmm! Enak banget! Ini kantin markas atau restoran bintang lima sih? Sosisnya melimpah!"
Alaric duduk di kursi tunggal di seberang Calla. Ia melepas baret merahnya, meletakkannya di lutut, lalu memperhatikan cara makan istri kecilnya yang sangat lahap sampai ada sebutir nasi menempel di sudut bibir mungilnya.
"Pelan-pelan. Tidak ada yang akan merebut makananmu," ujar Alaric datar, meski tangannya perlahan bergerak mengambil selembar tisu di atas meja dan menyodorkannya ke depan wajah Calla.
"Abisnya lapar banget. Semalem kan Calla habis olahraga malam nemenin Paksu lari maraton," kata Calla dengan nada enteng setelah menerima tisu tersebut.
Alaric mendadak berdehem keras, menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Itu bukan olahraga malam bersama. Saya latihan fisik, kamu berburu serangga."
"Sama aja tahu! Sama-sama buang kalori!" Calla terkekeh, lalu meminum es teh manisnya sampai tinggal setengah. "Oh ya, Paksu nggak makan? Masa cuma nontonin Ismut makan sih? Takut imannya goyah lagi ya lihat Ismut pakai daster?" Calla mengedipkan sebelah matanya, kembali mengaktifkan mode cegil-nya.
Alaric menarik napas dalam-dalam, mengabaikan godaan bocah berusia 21 tahun di depannya. Ia memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua lengannya yang kekar di atas lutut.
"Saya sudah makan di kantin tadi. Sekarang, ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Calla menghentikan kunyahannya sesaat, menatap Alaric curiga. "Hal penting apa? Paksu mau tagih uang kosan? Kan Calla udah janji bayar pakai jasa istri solehot!"
"Bukan masalah itu," potong Alaric cepat sebelum pembahasan melenceng terlalu jauh ke arah ranjang. "Ini tentang pernikahan kita. Karena kemarin kita menikah secara darurat di rumah sakit, secara hukum negara kita memang sudah sah. Namun, secara kedinasan militer, pernikahan kita belum terdaftar."
Calla memiringkan kepalanya, dahi mulusnya berkerut. "Maksudnya? Kita harus nikah ulang?"
"Bukan nikah ulang. Kita harus menyelesaikan berkas pengajuan pernikahan kantor. Di militer, seorang prajurit—terlebih seorang Komandan Pasukan Khusus—tidak bisa begitu saja membawa istri tinggal di rumah dinas tanpa persetujuan komando atas," jelas Alaric panjang lebar, suaranya beralih ke mode formal.
"Ribet amat ya jadi istri tentara. Emang harus ngapain aja?" Calla menyendok kerupuknya dengan malas.
"Banyak dokumen yang harus kamu tanda tangani. Surat pernyataan, pemeriksaan latar belakang keluarga, tes kesehatan, hingga wawancara mental ideologi di markas besar." Alaric mengeluarkan sebuah map tebal berwarna kuning dari balik punggungnya, lalu meletakkannya di samping piring Calla.
Calla melirik map tebal itu dengan horor. "Hah?! Map segede gaban gitu harus diisi semua?! Paksu, Calla itu lulusan kuliah Australia jurusan seni, bukan hukum! Lihat kertas banyak gitu langsung pusing!"
"Saya yang akan bantu mengisinya. Tugasmu hanya menyiapkan pasfoto terbarumu."
"Pasfoto? Ukuran berapa? Background-nya harus warna apa? Calla cuma punya foto estetik buat feeds Instagram, Paksu." Calla cemberut, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan di dada.
"Foto formal. Ukuran empat kali enam, berlatar belakang merah. Kamu harus mengenakan pakaian yang rapi dan sopan. Tidak boleh memakai daster, tidak boleh memakai pakaian mini," ujar Alaric, sengaja memberi penekanan pada kata terakhir sambil melirik daster kuning matahari yang dikenakan Calla.
Calla mendengus, namun sedetik kemudian matanya kembali berbinar nakal. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan, lalu menatap Alaric dengan pandangan menggoda. "Merah ya latar belakangnya? Wah, pas banget dong sama warna baret Paksu! Berarti kita jodoh dunia akhirat!"
Alaric memalingkan wajahnya sebentar, menahan diri agar tidak tersenyum. "Itu aturan standar kedinasan, Calla. Bukan karena baret saya."
"Ih, kaku banget sih! Sekali-kali bilang 'iya, Ismut sayang' gitu kenapa, sih?" Calla mengerucutkan bibirnya lagi. "Terus, kapan kita harus urus berkasnya?"
"Siang ini, setelah jam istirahat pangkalan selesai. Saya akan mengantarmu ke studio foto di luar pangkalan untuk mengambil foto, setelah itu kita langsung ke kantor staf personel."
Calla langsung melotot, menunjuk dirinya sendiri. "Siang ini?! Paksu gila ya?! Calla belum dandan, belum catok rambut, baju-baju di koper juga belum dibongkar! Mana bisa dandan kilat kayak tentara mau upacara?!"
"Saya beri waktu dua jam dari sekarang. Cukup?" Alaric melirik jam tangan taktis hitam di pergelangan tangan kirinya.
"Enggak cukup! Minimal tiga jam! Estetika muka Calla itu aset negara, Paksu, nggak bisa buru-buru!" jerit Calla histeris.
Alaric berdiri dari duduknya, mengenakan kembali baret merahnya dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi. Ia menatap istri kecilnya dari atas ke bawah dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.
"Satu setengah jam, Callanta. Kurang dari itu, saya akan menyuruh prajurit jaga untuk menjemputmu di depan pintu."
"Hwaaa! Paksu kejam! Tega banget sama Ismut!" Calla langsung menjatuhkan kepalanya ke bantal sofa, pura-pura menangis sesenggukan ala tangisan bombay andalannya.
Alaric hanya memandangnya datar, sudah mulai kebal dengan drama kilat istrinya. "Gunakan waktumu dengan baik, Istri Solehot. Saya tunggu di mobil jam satu tepat."
Tanpa menunggu balasan, Alaric berbalik tegap dan melangkah keluar rumah dengan senyum yang akhirnya lolos di sudut bibirnya. Sementara di dalam rumah, Calla langsung bangkit berdiri dengan panik, mengabaikan sisa nasi gorengnya demi menyelamatkan penampilan di depan kamera nanti siang.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨