NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Skenario Hari Sabtu

Mentari Sabtu pagi menyelinap perlahan melewati celah gorden berbahan beludru tebal di kamar utama mansion Wijaya, menyorotkan garis-garis cahaya keemasan yang mengawali akhir pekan.

Bagi kebanyakan orang, Sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu—sebuah jeda manis untuk bersantai. Namun, bagi Renard Wijaya, ketenangan hanyalah angan kosong yang kian menjauh.

Terutama sejak Arumi Andini, perempuan yang terikat kontrak dengannya, mulai mengisi hari-harinya dan mengusik sudut ruang pribadinya.

Pukul enam tiga puluh pagi, Renard sudah tampil sangat rapi.

Ia mengenakan kemeja kasual berwarna hitam pekat dengan lengan yang digulung asal hingga sebatas siku, memperlihatkan urat-urat lengannya yang kokoh.

Pria itu menatap pantulannya di cermin sambil merapikan kerah dengan gerakan cepat.

Rencananya hari ini sudah sangat matang. Ia akan melesat ke kantor secepat mungkin, mengurung diri di ruang kerja, dan berkutat dengan tumpukan laporan keuangan triwulan.

Baginya, menenggelamkan diri dalam deretan angka dan grafik di hari libur jauh lebih aman daripada harus terperangkap dalam satu ruangan yang sama bersama Arumi.

Perempuan itu belakangan ini seolah memiliki hobi baru, yakni meruntuhkan wibawa dan pertahanan diri sang miliarder hanya lewat seulas senyum tulus yang penuh makna.

Sayangnya, skenario pelarian sempurna Renard kandas berantakan tepat saat ujung sepatunya menginjak anak tangga terakhir menuju ruang makan di lantai satu.

"Batalkan semua jadwalmu hari ini, Renard. Kita akan pergi keluar bersama," cetus Mama Sofia mutlak.

Nada suaranya tidak memberikan ruang sedikit pun untuk negosiasi, bahkan sebelum Renard sempat menarik kursi atau menyentuh cangkir espresso-nya yang masih mengepulkan uap panas.

Beliau duduk dengan sangat anggun di ujung meja makan, mengenakan gaun rumah berbahan sutra yang memancarkan keanggunan khas nyonya besar.

Di pangkuannya, si Oyen—anak kucing liar yang kini hidup layaknya bangsawan—tampak nyaman meringkuk dan mendengkur pelan.

Renard mematung di tempatnya.

Keningnya berkerut dalam saat menatap sang ibu. "Mama, aku ada agenda pertemuan internal dengan tim legal jam sepuluh nanti. Ini masalah mendesak terkait pembebasan dan akuisisi lahan untuk proyek baru di selatan."

Mama Sofia sama sekali tidak bergeming.

Beliau mengangkat cangkir keramiknya, menyesap teh kamomil perlahan dengan gerakan elegan yang terukur, lalu melempar tatapan tajam yang mengancam—sebuah tatapan otoriter yang sudah sangat Renard pahami sejak ia masih kecil.

"Mama tidak mau mendengar alasan apa pun," balas Mama Sofia tenang namun menusuk.

"Pihak rumah sakit bilang masa pemulihan Mama bisa jauh lebih cepat kalau hati Mama merasa tenang dan senang. Dan hari ini, Mama baru bisa merasa bahagia kalau melihat putra tunggal Mama menemani istrinya berbelanja keperluan wisuda. Pilih lahan proyekmu itu, atau pilih kesehatan Mama?"

Renard menghela napas panjang sembari mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat di pelipisnya menonjol. Menghadapi dewan komisaris yang paling licin sekalipun tidak pernah membuatnya merasa sefrustrasi dan seakan tidak berdaya seperti ini.

Namun, di hadapan ibunya—wanita yang menjadi alasan utama ia membangun kerajaan bisnisnya—segala kecerdikan negosiasi dan aura intimidasinya seolah menguap begitu saja tanpa sisa.

Saat ia sedang menata hatinya yang dongkol, ekor matanya menangkap sebuah pergerakan.

Ia melirik ke arah lorong tangga, tampak Arumi baru saja turun dengan langkah ringan. Perempuan itu mengenakan gaun kasual sederhana berwarna putih gading.

Pakaian itu tidak mahal, namun entah bagaimana menempel sempurna di tubuh Arumi, membuatnya terlihat begitu anggun, bersih, dan membumi di saat yang bersamaan.

"Baiklah," desis Renard akhirnya dengan nada yang sangat terpaksa, sembari memalingkan wajah ke arah jendela luar agar tidak ketahuan sedang mencuri pandang ke arah istrinya. "Hanya sampai makan siang. Setelah itu, aku benar-benar harus kembali ke kantor."

Tiga puluh menit kemudian, mobil SUV hitam mewah milik keluarga Wijaya membelah padatnya jalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan paling bergengsi di jantung Jakarta Pusat.

Di sepanjang perjalanan, formasi duduk di dalam mobil sudah diatur sedemikian rupa.

Mama Sofia sengaja mengambil tempat di kursi belakang, memaksa Renard menyetir sendiri kendaraannya bagaikan sopir pribadi, sementara Arumi duduk terdiam di kursi penumpang tepat di sampingnya.

Suasana di dalam kabin mobil yang kedap suara itu terasa agak kikuk namun dihiasi kehangatan yang canggung

Mama Sofia terus-menerus berceloteh ceria dari kursi belakang, membicarakan tren mode hingga resep kue, yang sesekali ditanggapi dengan tawa dan jawaban lembut oleh Arumi.

Sementara Renard? Pria itu hanya fokus menatap jalanan, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras mengabaikan aroma vanila samar dari rambut Arumi yang terus-menerus menyapa indra penciumannya.

Setibanya di area pusat perbelanjaan, mereka langsung disambut oleh valet dan diantarkan ke lantai atas.

Begitu masuk ke sebuah butik papan atas milik desainer ternama, Mama Sofia langsung menarik tangan Arumi dengan penuh semangat.

Aroma wewangian mewah menguar di udara.

Pakaian-pakaian yang terpajang di sana tidak memiliki label harga yang menggantung—sebuah tanda tak kasatmata bahwa tempat itu memang hanya diperuntukkan bagi kalangan kelas atas yang tidak perlu melihat nominal saat berbelanja.

"Pilihlah beberapa gaun terbaik yang ada di sini untuk acara yudisium dan perayaan wisudamu nanti, Sayang," ujar Mama Sofia dengan mata berbinar antusias.

Tangannya lincah memilah gantungan baju berbahan sutra premium dan sifon halus.

Arumi mematung.

Ia tersenyum kecut, sementara hatinya mendadak diselimuti rasa tidak enak yang luar biasa.

Di atas kertas kontrak yang tersimpan rapat di laci, ia hanyalah seorang istri sewaan. Menerima bantuan fasilitas medis VVIP untuk ibunya yang sedang sakit sudah lebih dari cukup dan membuatnya berutang budi seumur hidup; menghabiskan uang puluhan juta rupiah hanya untuk gaun mewah yang tidak terlalu ia butuhkan terasa sangat melampaui batas baginya.

"Ma, baju Arumi di rumah masih banyak yang bagus dan layak pakai. Untuk acara kampus nanti, pakai kemeja atau blus yang sederhana saja sudah sangat cukup," tolak Arumi dengan intonasi sehalus mungkin.

Kakinya perlahan melangkah mundur, berusaha menjauh dari deretan pakaian yang memancarkan aura mahal tersebut.

Melihat penolakan menantunya yang terus-menerus merendah, Mama Sofia mendecak sedikit gemas. "Aduh, kamu ini terlalu sederhana. Tunggu sebentar ya, Mama mau tanya pelayan di sebelah sana dulu, siapa tahu mereka menyimpan koleksi warna lain di ruang penyimpanan khusus," ucap Mama Sofia sembari melepaskan tangan Arumi dan melangkah mantap menuju meja resepsionis, diikuti oleh dua orang pelayan berpakaian seragam rapi.

Begitu Mama Sofia berada di luar jangkauan pendengaran, Renard—yang sejak tadi hanya mematung kaku di dekat pintu masuk layaknya manekin berwajah galak—segera mengambil langkah cepat mendekati Arumi.

Ia tidak membuang waktu.

Tanpa ragu, tangan besarnya mengambil sebuah gaun brokat modern berwarna emerald green dari rak terdekat. Gaun itu memiliki potongan leher tinggi yang sangat elegan—warna dan gaya yang secara kebetulan persis dengan blus yang dipakai Arumi saat mengurus berkas beberapa hari lalu.

Renard merundukkan tubuh tegapnya sedikit, menipiskan jarak di antara mereka hingga bahunya hampir bersentuhan dengan lengan Arumi.

Ia memastikan suaranya hanya bisa ditangkap oleh istrinya seorang.

"Jangan permalukan aku di tempat umum dengan penolakan konyolmu itu, Arumi," bisik Renard. Suara baritonnya sangat rendah, berat, dan dipenuhi ketegasan yang mutlak.

"Acara kelulusanmu nanti pasti akan dihadiri oleh beberapa petinggi universitas dan relasi bisnis penting Wijaya Group. Kalau istri seorang CEO Renard Wijaya tampil ala kadarnya seperti orang yang tidak diurus, reputasiku yang akan jadi taruhannya. Jangan mendebatku lagi di depan Mama. Anggap saja gaun ini murni bagian dari biaya operasional kelangsungan pernikahan kontrak kita. Ambil ini dan berhenti mengeluh."

Pria itu menyodorkan gantungan gaun hijau zamrud tersebut ke tangan Arumi dengan gerakan cepat, lalu buru-buru kembali berdiri tegak dengan wajah sedingin es, berakting seakan-akan mereka tidak baru saja membicarakan rahasia besar di tengah butik mewah.

Arumi mengerjap perlahan saat menerima gaun itu. Alih-alih merasa kesal dengan ucapan ketus suaminya yang selalu berlindung di balik kata reputasi, matanya justru berbinar menahan tawa geli.

Setelah mendengar cerita masa lalu dari Mama Sofia kemarin sore, Arumi kini sadar betul bahwa pria arogan di hadapannya ini sebenarnya sangat memperhatikan detail; ia bahkan mengingat warna apa yang cocok untuk kulit Arumi.

Sikap ketusnya hanyalah tameng, karena pria itu harus repot-repot berbisik sedekat itu demi menjaga rahasia sekaligus mempertahankan sisa-sisa gengsinya.

Arumi tidak mundur.

Ia justru melangkah maju satu tapak kaki, kembali mengikis jarak aman yang baru saja diciptakan Renard. Perempuan itu mendongak berani, menatap tepat ke dalam sepasang mata elang sang suami yang mendadak melebar karena panik dengan jarak yang tiba-tiba terkikis.

"Terima kasih atas biaya operasionalnya, Tuan Muda yang rupanya sangat menjaga rahasia dan reputasi saya," goda Arumi setengah berbisik dengan nada manis yang sengaja ditarik panjang, sementara ekor matanya secara terang-terangan melirik ke arah kedua daun telinga Renard.

Dan benar saja. Seperti sebuah reaksi kimia yang tak terbantahkan, dalam sekejap mata rona merah padam yang amat pekat menjalar cepat dari balik kerah kemeja Renard, naik dan membakar habis seluruh permukaan telinganya.

Pria raksasa bisnis itu tersentak mundur satu langkah seolah baru saja tersengat aliran listrik. Wajahnya menegang kaku karena salah tingkah yang luar biasa hebat akibat tertangkap basah sedang peduli.

"C-cepat masuk ke ruang ganti! Jangan banyak bicara yang tidak penting!" ketusnya dengan suara berbisik yang terdengar sangat gugup.

Renard lalu buru-buru memalingkan wajahnya secara dramatis ke arah deretan sepatu hak tinggi di sudut lain ruangan, berusaha melarikan diri dengan payah dari tatapan jenaka Arumi yang seolah sudah mampu membaca seluruh isi hatinya yang mulai luluh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!