NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Malam semakin tua, tetapi Pontianak belum benar-benar tidur.

Lampu-lampu jalan masih menyala di sepanjang tepi kota. Suara kendaraan sesekali melintas, lalu menghilang di kejauhan. Angin dari arah Sungai Kapuas bergerak pelan, membawa hawa basah yang dingin dan sedikit aroma lumpur sungai.

Namun di sebuah gang kecil tidak jauh dari warung kopi Pak Harun, lima orang lelaki berlari dengan wajah pucat.

Mereka adalah orang-orang yang baru saja menyerang warung Pak Harun.

Beberapa menit lalu, mereka datang dengan penuh percaya diri. Mereka mengira hanya perlu merusak meja, menendang kursi, memukul orang tua, lalu Raka Pratama akan datang seperti anak muda bodoh yang mudah dipancing.

Tapi sekarang, tidak satu pun dari mereka masih terlihat berani.

Salah satu dari mereka berjalan terpincang. Tangan kanannya menggantung lemas, bukan patah sepenuhnya, tetapi rasa sakit yang menjalar dari bahu sampai jari membuatnya hampir pingsan setiap kali mencoba menggerakkan lengan itu.

Pria itu bernama Joni.

Dialah yang memukul Pak Harun.

Raka tidak membunuhnya.

Namun sekarang, Joni justru berharap tadi Raka mematahkan tangannya saja.

Karena setiap kali ia berniat mengepalkan tangan, bayangan takhta emas dan pedang hitam keemasan muncul di kepalanya. Pedang itu tidak bergerak. Tidak menyerang. Hanya tertancap diam di depan takhta.

Tetapi diamnya pedang itu membuat jiwa Joni seperti dikuliti perlahan.

“Bang… kita ke mana?” tanya salah satu temannya dengan napas memburu.

Joni tidak menjawab.

Keringat dingin mengalir di wajahnya. Ia terus menoleh ke belakang, seolah Raka akan muncul dari kegelapan kapan saja.

Temannya yang lain memegang dada sambil berkata, “Kita lapor Bang Bram?”

Joni berhenti mendadak.

Mendengar nama Bram, wajahnya semakin pucat.

Ia tahu mereka harus melapor. Mereka tidak punya pilihan. Tapi bagaimana cara menjelaskan bahwa lima orang dewasa baru saja dibuat tidak berdaya oleh satu pemuda tanpa senjata?

Bagaimana cara menjelaskan bahwa suara mereka hilang hanya karena Raka berkata “diam”?

Bagaimana cara menjelaskan bahwa Raka tidak terlihat marah, tapi justru itulah yang membuatnya jauh lebih menakutkan?

Seorang teman Joni menggerutu pelan, mencoba menutupi rasa takutnya dengan amarah.

“Sial! Kalau nanti kita bawa lebih banyak orang, dia pasti—”

Kalimatnya terhenti.

Udara di gang itu tiba-tiba berubah dingin.

Joni perlahan mengangkat wajah.

Di ujung gang, seseorang berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip.

Raka Pratama.

Tidak ada suara langkah sebelumnya.

Tidak ada tanda kedatangannya.

Seolah sejak awal ia memang sudah berdiri di sana, menunggu mereka berhenti berlari.

Kelima preman itu membeku.

Joni langsung mundur satu langkah.

“Ra… Raka…”

Raka menatap mereka tanpa ekspresi.

Cahaya lampu jalan berkedip sekali lagi. Bayangannya memanjang di atas aspal basah. Matanya tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat dada kelima orang itu sesak.

Sistem berbisik di dalam jiwa Raka.

[Tuan mengikuti mereka.]

Raka menjawab dalam hati.

“Mereka menyentuh Pak Harun.”

[Benar.]

“Mereka datang karena diperintah.”

[Benar.]

“Tapi tangan mereka tetap bergerak.”

Sistem diam sesaat.

Lalu suaranya terdengar lebih dingin.

[Penghakiman ringan dapat dijatuhkan.]

Raka melangkah maju.

Kelima preman itu mundur bersamaan.

Joni mengangkat tangan kirinya, tubuhnya gemetar. “Bang Raka, ampun. Kami sudah pergi. Kami tidak akan kembali lagi.”

Raka berhenti beberapa langkah di depan mereka.

“Aku tahu kalian akan pergi.”

Joni menelan ludah.

Raka melanjutkan, “Tapi aku belum selesai.”

Gang itu mendadak hening.

Salah satu preman jatuh terduduk karena lututnya kehilangan tenaga.

Raka menatap mereka satu per satu. Mata Dewa terbuka perlahan. Aura merah gelap di tubuh mereka terlihat jelas. Tidak sekuat makhluk asing, tidak sedalam dosa pembunuh besar, tetapi cukup kotor untuk membuat pandangan Raka menjadi dingin.

Pemerasan.

Pemukulan.

Ancaman.

Perusakan.

Mereka bukan orang baik yang tersesat.

Mereka terbiasa membuat orang kecil takut.

Dan yang paling membuat Raka muak, mereka baru memohon setelah orang yang mereka sakiti tidak lagi lemah di hadapan mereka.

Joni berlutut cepat.

“Ampun, Bang. Kami cuma disuruh Bang Reza. Kami cuma ikut perintah.”

Raka menatapnya.

“Cuma ikut perintah?”

Joni mengangguk cepat. “Iya, Bang. Sumpah. Kami tidak punya pilihan.”

Raka diam beberapa saat.

Lalu ia berjalan mendekat.

Joni semakin menunduk. Dahinya hampir menyentuh aspal basah.

Raka berjongkok di depannya.

“Waktu Pak Harun menyuruh kalian berhenti, apa kalian berhenti?”

Joni tidak bisa menjawab.

Raka melanjutkan, suaranya tetap pelan.

“Waktu Bu Lestari memohon di pasar, apa orang-orang kalian peduli?”

Tubuh Joni gemetar.

“Bang…”

Raka menatapnya tanpa belas kasihan.

“Jangan jual kata perintah untuk menutupi pilihanmu sendiri.”

Udara di gang menekan turun.

Lampu jalan berkedip semakin cepat.

Empat preman lain mulai menangis ketakutan. Salah satu dari mereka mencoba merangkak mundur, tetapi tubuhnya tiba-tiba tertahan, seolah ada tangan tak terlihat menekan bahunya ke tanah.

Raka berdiri perlahan.

“Mulai malam ini, kalian tidak akan menyentuh orang biasa lagi.”

Joni mengangkat wajah dengan mata penuh harap.

“Terima kasih, Bang. Terima kasih. Kami benar-benar—”

“Tapi sebelum itu,” potong Raka.

Harapan di wajah Joni langsung hancur.

Raka mengangkat satu tangan.

Cahaya emas gelap muncul di ujung jarinya, membentuk garis tipis seperti benang panas. Garis itu bergerak di udara, lalu membelah menjadi lima titik cahaya kecil.

Sistem berbisik.

[Cap Takhta Rendah terbentuk.]

[Efek: rasa sakit akan muncul setiap kali target berniat menindas orang biasa.]

[Durasi: hingga Tuan mencabutnya.]

Raka menatap kelima preman itu.

“Aku tidak peduli kalian bekerja untuk siapa.”

Kelima titik cahaya melesat.

Masing-masing masuk ke dada mereka.

Kelima preman itu menjerit.

Kali ini suara mereka terdengar jelas, memenuhi gang sempit itu. Tubuh mereka melengkung, tangan mencengkeram dada, mata melebar seperti melihat sesuatu yang tidak bisa ditanggung akal.

Di dalam kepala mereka, takhta emas muncul.

Di depan takhta itu, Pedang Penghakiman Absolut tertancap diam.

Lalu satu suara agung yang bukan suara Raka bergema di dalam jiwa mereka.

Jangan sentuh yang tidak bersalah.

Jeritan mereka perlahan berubah menjadi isakan.

Raka menurunkan tangan.

Tidak ada darah.

Tidak ada luka luar.

Namun kelima lelaki itu terbaring di aspal seperti baru saja dicabut dari neraka.

Raka melangkah melewati mereka.

Joni menahan napas ketika Raka berhenti di sampingnya.

“Sampaikan pada Bram.”

Joni gemetar. “I-iya, Bang…”

Raka menatap jalan gelap di depan.

“Kalau dia ingin menemuiku, datang sendiri.”

Joni mengangguk cepat.

Raka melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Dan sampaikan pada Reza Mahendra.”

Nama itu membuat udara semakin berat.

“Nama Mahendra tidak bisa melindungi orang yang menyentuh milikku.”

Setelah mengatakan itu, Raka pergi meninggalkan gang.

Kelima preman itu tidak langsung bangun.

Mereka tetap terbaring di tanah, menggigil seperti orang yang baru selamat dari sesuatu yang seharusnya membunuh mereka.

Di dalam dada mereka, tanda mahkota retak berdenyut pelan.

Tidak terlihat oleh mata biasa.

Tapi cukup untuk membuat jiwa mereka mengingat rasa takut.

Di warung kopi yang sudah mulai sepi, Pak Harun duduk sambil menempelkan kain basah ke sudut bibirnya.

Raka kembali beberapa menit kemudian.

Pak Harun menatapnya saat pemuda itu masuk.

“Kau mengejar mereka?”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!