Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam yang Membakar Dingin
Gerbang Kastil Blackiron tidak dibuka dengan upacara penyambutan. Gerbang itu dibuka dengan kepanikan.
Suara tapak kuda Obsidian yang menghantam batu halaman depan terdengar seperti dentuman guntur yang memecah kesunyian sore. Para pelayan yang sedang membersihkan salju di halaman berlarian menyingkir saat kuda perang raksasa itu menerobos masuk tanpa mengurangi kecepatan, uap napasnya menyembur liar dari hidung yang memerah.
"Tabib!" Teriakan Kaelen menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang tinggi. "Panggil Tabib Aris! Sekarang!"
Kaelen tidak menunggu pelayan memegang tali kekang kudanya. Ia melompat turun dari pelana dengan gerakan tangkas, kakinya mendarat di tanah beku dengan mantap, namun tangannya tidak pernah melepaskan beban berharga yang ia bawa.
Elara berada dalam gendongannya, terbungkus rapat dalam jubah bulu serigala Kaelen yang berbau darah, keringat, dan hutan pinus. Wajah Duchess muda itu pucat pasi, bibirnya membiru, dan matanya terpejam rapat. Tubuhnya menggigil hebat, sebuah getaran konstan yang terasa menakutkan di dalam pelukan Kaelen.
Silas, yang mendengar keributan itu, berlari keluar dari pintu utama, wajah tuanya memucat saat melihat kondisi nyonyanya.
"Tuan! Apa yang..."
"Siapkan air panas di Kamar Biru!" potong Kaelen kasar, langkahnya lebar dan cepat menaiki tangga batu, mengabaikan Silas yang terseok-seok mengikutinya. "Dan nyalakan perapian sampai maksimal. Dia kedinginan. Tulangnya membeku."
Kaelen menendang pintu depan hingga terbuka. Ia tidak peduli pada lumpur dan salju yang terbawa masuk oleh sepatu botnya, mengotori karpet lorong yang baru dibersihkan. Pikirannya menyempit menjadi satu fokus tunggal: hangatkan dia.
Di dalam benaknya, bayangan Lyra yang membeku di reruntuhan kembali menghantui. Dingin adalah musuh. Dingin mengambil nyawa. Dan sekarang, tubuh kecil di pelukannya ini sedingin es.
Kaelen membawa Elara menaiki tangga utama, melewati galeri lukisan leluhur yang menatap dengan mata menghakimi, menuju Sayap Timur. Ia menendang pintu Kamar Biru hingga terbuka.
Ruangan itu hangat—berkat perbaikan pipa yang dilakukan Elara—tapi bagi Kaelen saat ini, rasanya masih kurang panas.
Ia membaringkan Elara di atas tempat tidur besar bertiang empat itu. Elara mengerang pelan saat punggungnya menyentuh kasur, matanya berkedip lemah.
"Kaelen..." bisiknya, suaranya serak dan nyaris hilang. "Sakit..."
"Aku tahu," jawab Kaelen, suaranya tegang. Ia membungkuk di atas Elara, jari-jarinya yang kasar dengan cekatan namun sedikit gemetar mulai membuka ikatan jubah bulu yang membungkus istrinya. "Bertahanlah. Kau tidak diizinkan mati hanya karena jatuh dari kuda."
Tabib Aris, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan tas kulit usang, berlari masuk ke ruangan dengan napas terengah-engah, diikuti oleh Martha yang membawa baskom air panas dan handuk bersih.
"Minggir," perintah Kaelen pada Martha, merebut handuk itu.
"Tuan, biarkan saya yang..." Martha mencoba memprotes, kaget melihat Tuannya yang biasanya anti-sentuhan kini bertindak seperti perawat.
"Keluar," geram Kaelen tanpa menoleh. "Kau, Tabib, periksa bahunya. Sisanya keluar!"
Martha dan pelayan lain mundur ketakutan, menutup pintu. Kini hanya tinggal mereka bertiga.
Kaelen menyelimuti tubuh bagian bawah Elara dengan selimut tebal, sementara Tabib Aris memeriksa bahu kiri Elara yang menghantam tanah tadi.
"Tidak ada tulang yang patah, Yang Mulia," lapor Tabib Aris setelah meraba bahu Elara dengan hati-hati . "Hanya dislokasi ringan dan memar otot yang parah. Tapi yang saya khawatirkan adalah suhunya. Nyonya mengalami hipotermia tingkat sedang dan syok trauma."
"Obati," perintah Kaelen singkat. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegang tangan kanan Elara yang sedingin es di antara kedua tangannya yang besar dan hangat. Ia menggosoknya perlahan, mencoba mentransfer panas tubuhnya sendiri ke tubuh istrinya.
"Saya akan memberikan ramuan penurun demam dan penghangat darah," kata Tabib Aris sambil meracik bubuk di gelas. "Tapi tubuhnya harus dihangatkan secara fisik. Pakaian basahnya harus dilepas."
Kaelen terdiam sejenak. Ia menatap Elara yang menggigil, matanya setengah terbuka menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Pakaian Elara—celana berkuda dan tunik wol—basah oleh salju yang mencair dan keringat dingin.
Tabib Aris tampak ragu. "Haruskah saya panggil pelayan wanita untuk..."
"Tidak perlu," potong Kaelen. Suaranya serak. "Berikan ramuannya, lalu pergi. Aku yang akan mengurusnya."
Tabib itu mengangguk patuh, meminumkan ramuan pahit itu ke bibir Elara yang gemetar, lalu membungkuk dan mundur keluar ruangan.
Pintu tertutup. Keheningan turun, berat dan intim.
Kaelen menatap istrinya. Ini bukan tentang nafsu. Sama sekali bukan. Ini adalah tentang kelangsungan hidup. Ia tidak mempercayai orang lain untuk menyentuh Elara saat ini. Rasa posesif yang aneh telah menguasainya sejak di hutan tadi. Elara hampir mati di bawah pengawasannya, jadi sekarang dia yang harus memastikan Elara hidup.
"Maafkan aku," bisik Kaelen kaku.
Dengan gerakan lambat dan hati-hati, Kaelen mulai melepaskan kancing tunik Elara yang basah. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gagang pedang kini harus berurusan dengan kancing mutiara kecil yang licin. Ia menahan napas, berkonsentrasi penuh agar tidak menyakiti bahu Elara yang memar.
Ia melepaskan pakaian basah itu satu per satu, meletakkannya di lantai. Ia tidak menatap tubuh Elara dengan pandangan pria yang lapar, melainkan dengan pandangan seorang penjaga yang memeriksa kerusakan pada benteng yang dilindunginya. Kulit Elara putih pucat, dengan memar biru besar mulai terbentuk di bahu kirinya.
Kaelen mengambil handuk hangat yang direndam air panas, memerasnya, lalu mulai menyeka kulit Elara.
Ia menyeka lengan Elara, lehernya, lalu wajahnya yang kotor oleh tanah hutan. Gerakannya canggung tapi lembut . Setiap sapuan handuk hangat itu membuat Elara menghela napas panjang, kerutan kesakitan di dahinya perlahan mengendur.
"Hangat..." gumam Elara dalam igauannya.
"Ya, hangat," jawab Kaelen pelan, seolah berbicara pada anak kecil. "Kau aman sekarang. Beruang itu mati."
Setelah tubuh Elara kering dan bersih, Kaelen memakaikan gaun tidur flanel tebal yang sudah disiapkan Martha di dekat perapian. Ia menyelimuti Elara dengan dua lapis selimut bulu angsa, lalu menambahkan jubah bulu serigalanya sendiri di bagian paling atas.
Tugas selesai.
Seharusnya Kaelen pergi. Seharusnya dia kembali ke ruang kerjanya, meminum wiski untuk menenangkan sarafnya yang berantakan, dan melupakan kejadian hari ini.
Tapi kakinya tidak mau bergerak.
Ia menarik kursi bersandaran tinggi ke sisi tempat tidur. Ia duduk di sana, siku bertumpu pada lutut, tangan saling menggenggam erat hingga buku-bukunya memutih. Matanya terpaku pada wajah Elara yang kini mulai memerah karena demam.
Jam demi jam berlalu. Matahari terbenam, digantikan oleh kegelapan malam. Badai di luar mereda, menyisakan keheningan yang menyelimuti kastil.