NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Di atas meja, berbagai hidangan yang dimasak Ningsih tersaji dengan warna merah merona yang sangat pekat. Ningsih sengaja menuangkan puluhan cabai rawit ke dalam setiap masakan, menciptakan bom waktu yang siap meledak di lidah para tamunya.

Baru tiga suapan masakan itu masuk ke dalam mulut, wajah Arumi dan ibunya langsung berubah merah padam. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis mereka.

"Uhuk! Uhuk! Mas... air, Mas! Pedas sekali!" pekik Arumi dengan suara serak, tangannya sibuk mengipas-ngipas mulutnya yang terasa seperti terbakar.

Ibu Arumi tidak kalah panik, ia langsung menyambar gelas air putih di dekatnya dan meneguknya sampai tandas.

"Astaga! Ini makanan atau racun?! Tenggorokanku rasanya mau putus!"

Sementara kedua tamunya heboh kepedasan, Ningsih justru duduk dengan sangat anggun. Ia menyendok sayur dengan tenang, mengunyahnya perlahan, dan menelannya tanpa ekspresi seolah hidangan di depannya hanyalah makanan biasa yang manis.

Di sampingnya, Luna kecil mati-matian menahan senyum, menundukkan kepala agar tawanya tidak pecah melihat wajah Arumi yang coreng-moreng karena kepedasan.

Hendra sendiri tidak berkutik. Lidah dan bibirnya sudah mati rasa, rasa panas menjalar hingga ke telinganya. Namun, demi menjaga gengsi di depan selingkuhannya, ia memaksakan diri untuk tetap menelan makanan itu meski perutnya mulai bergejolak.

"Mas Hendra! Lihat istri kamu!" amuk Arumi, tidak bisa lagi menahan wibawanya sebagai wanita berpendidikan. Ia menggebrak meja makan dengan kesal, menunjuk Ningsih dengan telunjuknya yang gemetar.

"Dia sengaja, kan?! Dia membuat aku sama Ibu kepedasan setengah mati begini! Bagaimana kalau besok aku sama Ibu sakit perut dan tidak bisa masuk kantor untuk mengurus proyek tendermu? Apa istrimu yang kampungan ini mau tanggung jawab?!"

Ibu Arumi ikut mengompori dengan sisa napasnya yang terengah-engah.

"Benar, Hendra! Istrimu ini tidak punya tata krama sama sekali dalam menyambut tamu penting! Sengaja mau mencelakai kami!"

Hendra yang merasa wajahnya ditampar di depan selingkuhannya langsung meletakkan sendok dengan kasar. Ia menatap Ningsih dengan mata melotot, bersiap membentak dan membela Arumi habis-habisan.

"Ningsih! Kamu keterlaluan ya! Kamu—"

"Sengaja?" potong Ningsih.

Sebelum Hendra sempat mengeluarkan makian makiannya, Ningsih meletakkan sendok dan garpunya dengan ketukan yang sangat pelan yang sanggup membungkam seisi ruangan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Arumi dan ibunya dengan senyuman santun yang teramat dingin.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Di rumah ini, mas Hendra selalu memintaku memasak hidangan yang penuh rasa dan berani. Mas Hendra sangat suka masakan pedasku, katanya itu melambangkan harga diri seorang pria yang kuat. Benar kan, Mas?"

Ningsih melirik Hendra yang langsung gelagapan dan terpaksa mengangguk kaku karena tidak mau dianggap pria lemah di depan Arumi.

Ningsih kembali menatap Arumi, tatapan matanya mengunci pergerakan wanita itu. "Aku kira, Arumi yang katanya calon istri kedua dan sangat memahami mas Hendra, juga bisa mengimbangi selera lidah calon suamiku. Ternyata, baru level pedas masakan rumahan saja sudah menyerah dan membawa-bawa urusan kantor? Bagaimana bisa kamu mendampingi mas Hendra di masa depan kalau hal sekecil ini saja sudah membuat mu menangis manja?"

"Kamu...!" Arumi kehabisan kata-kata, wajahnya semakin merah padam antara menahan pedas dan rasa malu yang luar biasa karena skakmat dari Ningsih.

"Lalu soal tanggung jawab kantor," Ningsih terkekeh pelan, sebuah tawa elegan yang sangat meremehkan. "Arumi, kamu itu hanya sekretaris di perusahaan suamiku. Jika besok kamu sakit dan tidak masuk kerja, mas Hendra tinggal mencari sekretaris baru yang kompeten atau mungkin lebih cantik dan seksi. Jadi, tidak perlu berlebihan sampai mengemis tanggung jawab dariku. Silakan habiskan makanannya, mubazir kalau dibuang."

"Ningsih! Cukup! Jaga bicaramu!" bentak Hendra yang merasa posisinya semakin tersudut oleh ketegasan istrinya.

Ningsih beralih menatap Hendra. Senyumannya hilang, digantikan oleh tatapan mata seorang wanita yang sudah tidak memiliki rasa takut sedikit pun.

"Aku sudah menjaga bicaraku dengan sangat sopan sejak tadi, Mas. Aku sudah menuruti kemauanmu untuk memasak banyak. Jika tamu-tamumu ini tidak punya kapasitas untuk menikmatinya, itu bukan salahku. Luna, ayo ikut Mama ke atas. Udara di bawah sini mendadak terasa sangat kotor," ucap Ningsih.

Ia berdiri, menggandeng tangan Luna yang tersenyum puas, lalu melangkah meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Di meja makan, Arumi menangis sesenggukan karena harga dirinya hancur lebur diinjak-injak oleh Ningsih, sementara Hendra hanya bisa memegangi kepalanya yang pening, menyadari bahwa istrinya yang biasa penurut kini telah berubah menjadi sosok yang teramat mengerikan.

"Mas, pokoknya aku nggak terima ya! Kamu harus menghukum istri kamu itu!" amuk Arumi, tangannya memukul-mukul dada Hendra dengan kasar sembari menangis histeris. Air mata buatannya mulai merusak riasan tebal di wajahnya. "Udah aku bilang berulang kali, ceraikan dia, Mas! Gimana aku bisa tahan jadi madunya kalau belum apa-apa dia udah sekejam ini sama aku?!"

Arumi sengaja mengeraskan suaranya, berakting menjadi korban demi memancing amarah Hendra agar pria itu segera mendepak Ningsih.

Rina, ibu Arumi, ikut berdiri dan melipat tangan di dada dengan angkuh. Ia menatap Hendra penuh ancaman.

"Benar, Hendra! Ibu saja sudah berbaik hati setuju kamu menjadikan anak Ibu sebagai istri kedua, meskipun kamu sudah punya istri kampungan seperti dia. Apa kamu mau Ibu berubah pikiran sekarang? Kamu mau Ibu mendatangi orang tuamu dan menceritakan hubungan kalian selama ini, hah?!"

Hendra mendadak panik. Ancaman mertuanya itu benar-benar mengena pada titik kelemahannya.

"Ibu tolong tenang dulu. Arumi, sayang, dengerin aku," bujuk Hendra, langsung memeluk pinggang Arumi untuk menenangkannya. "Tenanglah, aku pasti akan bicara keras dengan Ningsih nanti. Tapi kalau untuk menceraikannya sekarang, aku belum bisa. Kamu tahu sendiri masih ada Luna. Orang tuaku juga sangat menyayangi mereka berdua. Aku tidak bisa sembarangan ambil keputusan tanpa alasan yang pas."

Mendengar jawaban itu, Arumi langsung naik pitam. Ia mendorong dada Hendra dengan sentakan kuat hingga pegangan pria itu terlepas.

"Kamu nyebelin, Mas! Bilang saja kamu masih cinta sama dia, kan?! Kamu nggak mikirin perasaanku yang terhina begini!"

"Arumi, pelankan suaramu," bisik Hendra frustrasi, berulang kali melirik ke arah tangga, takut Ningsih tiba-tiba turun. Ia menarik napas dalam, mencoba memutar otak. "Aku sedang mencari cara dan alasan yang tepat untuk menceraikannya tanpa membuat orang tuaku curiga. Begini saja, malam ini kalian berdua menginaplah di sini, di kamar tamu. Besok pagi-pagi sekali, akan aku antar kalian pulang. Ya?"

Arumi melirik ibunya, lalu mendengus kasar sebelum akhirnya mengangguk terpaksa.

"Awas ya kalau besok pagi Mas nggak negur perempuan itu! Aku bakal benci sama kamu selamanya!"

"Iya, iya, Sayang. Aku janji," ucap Hendra.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!