Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN
Arlon menyeringai puas melihat istrinya yang galak itu salah tingkah, lalu dia kembali duduk di ranjang, merasa tubuhnya jauh lebih segar dan kuat dari sebelumnya.
"Minggu depan ada Festival Persembahan Musim Semi, kan?" tanya Arlon tiba-tiba, mengubah topik.
"Iya, kenapa?" jawab Elena menoleh sambil memegang belatinya lagi.
"Aku yakin mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kita berdua," jelas Arlon, matanya berkilat licik.
"Terus kita mau kasih apa?" tanya Elena santai.
"Kita bakal kasih sesuatu yang nggak bisa dibeli pake uang, sesuatu yang bakal bikin Raja sadar, siapa yang sebenarnya pantas mimpin Belmont," jawab Arlon, terkekeh.
Elena menyeringai miring, dia sangat suka arah pembicaraan ini.
"Jadi, barang apa yang bisa bikin Raja Alaric terkesan, tapi nggak butuh modal koin emas sama sekali?" tanya Elena sambil duduk bersila di lantai.
Arlon bersandar pada tiang ranjang yang kusam, matanya menatap langit-langit paviliun nya.
"Raja itu sudah punya segalanya, El. Emas, tanah, kekuasaan, dia tidak butuh barang mewah lagi, tapi ada satu hal yang dia rindukan sejak sepuluh tahun lalu," jawab Arlon, pelan.
"Apa?" tanya Elena, melirik Arlon.
"Dia ingin tahu apakah leluhur Belmont masih merestui garis keturunannya, di festival nanti, ada ritual kuno, barang siapa yang bisa menyalakan Api Abadi, tanpa pemantik, dia dianggap sebagai pilihan langit," jawab Arlon, terkekeh pelan.
"Kedengarannya kayak trik sulap, kamu mau aku nyelipin batu api di saku kamu?" tanya Elena mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat sangsi.
"Bukan batu api, El," ucap Arlon terkekeh, lalu duduk di lantai tepat di hadapan istrinya.
"Api itu hanya bisa menyala kalau ada energi murni yang sangat panas. Selena dan Arkan nggak akan pernah bisa, karena hati mereka sudah busuk," lanjut Arlon, menatap Elena lekat.
"Dan kamu pikir, energi Naga kamu bisa?" tanya Elena, menatap telapak tangan Arlon.
"Bisa, kalau kamu mau bantu aku," jawab Arlon menatap Elena lekat-lekat, ada rasa penasaran di matanya.
"Jujur, aku sendiri masih bingung kenapa energi dari tubuhmu bisa sekuat itu, kamu ini sebenarnya apa, Elena? Rasanya bukan cuma sekadar energi biasa," tanya Arlon.
Elena mengerutkan keningnya, dia tidak pernah berpikir seperti itu, dia hanya pikir mungkin karena dirinya sudah dari kecil di latih menjadi mesin pembunuh, jadi dia memiliki energi yang cukup kuat.
"Mungkin karena aku banyak makan sayur," jawab Elena asal, membuat Arlon mendengus geli.
"Sudahlah, nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kita tes dulu, sini, pegang tanganku," ucap Elena, mengulurkan kedua tangannya.
Arlon menurut dan menggenggam kedua tangan Elena, kali ini Elena memejamkan mata, mengatur pola napasnya agar energinya mengalir lebih teratur.
"Fokus, Arlon, jangan cuma nyerap, tapi coba arahkan ke satu titik, anggap energi dari aku ini kayak air, dan kamu harus bikin bendungannya," ucap Elena, dengan mata tertutup.
"Rasanya mulai panas lagi, tapi kali ini lebih... tenang?" gumam Arlon, keringat mulai muncul di pelipisnya.
"Tahan, jangan di lepasin sekaligus, coba alirkan ke ujung jari telunjukmu," perintah Elena dengan nada suara rendah nya.
Arlon memejamkan mata rapat-rapat, dia bisa merasakan aliran hangat dari tangan Elena bergerak naik ke lengannya, berputar di dadanya, lalu turun ke tangan kanannya.
Pshhh...
Tiba-tiba, ada asap tipis keluar dari ujung jari Arlon, membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa gerah, seolah ada bara api yang disembunyikan di bawah lantai kayu.
"Hah... hah..."
Arlon melepaskan tangan Elena, dengan nafas terengah-engah, dan menyandar ke kaki ranjang, dengan wajah memerah padam.
"Susah banget, El, rasanya energi kamu itu terlalu murni, tubuhku hampir nggak kuat nampung nya," ucap Arlon lirih.
"Wajar, ini pertama kalinya kamu coba kontrol secara sadar, tapi tadi itu kemajuan," jawab Elena menyeka keringat di dahi Arlon dengan lengan bajunya.
Arlon menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Elena dengan tatapan heran.
"Kadang aku mikir, kamu itu dikirim buat jagain aku atau buat bikin aku jadi monster?" tanya Arlon, terkekeh kecil.
"Aku ini investasi jangka panjang kamu, Pangeran. Jadi pastikan kamu tidak mati duluan sebelum aku dapet semua imbalannya," jawab Elena sambil berdiri dan membersihkan debu di gaunnya.
"Tapi sebelum mikirin festival atau apa pun itu, badanmu harus siap dulu, Arlon," lanjut Elena cepat sambil meletakkan belatinya dengan bunyi tak yang keras di meja.
"Maksudmu? Bukannya tadi kita sudah latihan energi?" tanya Arlon mengernyit, menatap tubuhnya sendiri yang masih terbalut kemeja tipis.
"Energi itu cuma bahan bakar, Arlon, tapi mesinnya, yaitu tubuhmu sendiri, yang sialnya masih karatan karena racun yang sudah bertahun-tahun ada menggerogoti tubuh mu itu," jawab Elena pedas.
"Tadi di lapangan panahan, tanganmu gemetar hebat setelah melepas satu anak panah, itu bukan cuma karena racun, tapi karena ototmu sudah lama tidak digunakan," lanjut Elena, melangkah mendekati ranjang dan menarik tangan Arlon agar pria itu kembali berdiri.
"Lalu kita mau ngapain jam segini? Di luar masih hujan deras," tanya Arlon menghela napas, dia tahu Elena benar.
"Justru itu, di paviliun ini tidak akan ada yang lihat," jawab Elena menunjuk area kosong di tengah ruangan yang lantainya sudah agak miring.
"Lepas jubah luarmu, kita mulai dengan gerakan dasar," lanjut Elena, tegas.
Arlon menurut, meski gerakannya masih lambat, dia mulai melepas jubah nya, menyisakan kemeja putih yang kini memperlihatkan betapa kurusnya pundak pangeran itu akibat bertahun-tahun diracuni.
"Sekarang, coba pukul aku," perintah Elena santai, sambil memasang kuda-kuda ringan, kedua tangannya terbuka di depan dada.
Arlon tertegun, dan melotot kan matanya.
"Apa? Memukulmu? El, aku tahu kamu kuat, tapi aku tidak mau menyakiti mu," ucap Arlon, menggeleng kan kepala nya.
"Jangan banyak bicara. Pukul saja, gunakan sisa energi tadi," tantang Elena dengan senyum meremehkan yang sengaja ia buat untuk memancing emosi Arlon.
Benar saja, Arlon menggeram pelan, lalu dia melangkah maju, mencoba melayangkan tinju ke arah bahu Elena.
Bagi Elena yang selama hidup nya di latih, bagi Elena gerakan Pengeran Arlon terbaca.
Elena hanya perlu sedikit menggeser kakinya ke samping, lalu dengan satu gerakan cepat, dia menangkap pergelangan tangan Arlon dan memutarnya ke belakang.
Hap
"Akh!" Arlon memekik kecil saat wajahnya hampir mencium lantai.
"Terlalu lambat," bisik Elena di telinga Arlon sambil menekan punggungnya.
"Kamu menyerang seperti orang yang sedang meminta izin, di dunia nyata, musuhmu tidak akan memberikan izin untuk membunuh mereka," ucap Elena, dingin.
Elena melepaskan kuncian nya, membiarkan Arlon berbalik sambil memegangi pergelangan tangannya.
"Kamu benar-benar tidak punya rasa kasihan ya?" ucap Arlon, dengan nafas memburu.
"Kasihan tidak akan membuatmu tetap hidup di istana ini, Arlon," jawab Elena, tegas.
"Lagi. Kali ini fokuskan panas di kakimu. Tendang aku!" perintah Elena kembali ke posisi semula.
Sebelum kembali menyerang Elena, Arlon memejamkan mata sejenak, dia mencoba merasakan sisa kehangatan dari pelukan Elena tadi, begitu dia merasakan sensasi panas itu mengalir ke bawah, dia menerjang maju, tendangannya kali ini lebih cepat dan bertenaga.