NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Maya duduk melamun di sebuah kursi tunggu di depan kamar perawatan ibunya,hari ini ia berhasil melunasi seluruh tagihan rumah sakit bahkan sampai dua Minggu ke depan,tapi hari-hari selanjutnya menghantui nya, selama ini ia hidup dan bergantung pada suaminya.Semua biaya hidupnya dari uang Arlan.

" Ada apa,nak..?" Suara seorang pria paruh baya membuyarkan lamunannya,ia lalu mendongak dan menatap wajah tua sang ayah.

Maya tersenyum tipis,membuang jauh-jauh raut khawatir dan cemasnya." Tidak apa-apa,yah...Maya hanya memikirkan keadaan ibu saja."

Sang ayah sudah di samping putri satu-satunya itu,ia lalu menggenggam tangan Maya yang terkepal, kebiasaan yang sudah begitu di hapal oleh sang ayah saat putrinya itu sedang khawatir atau ketakutan.

" Apa yang terjadi,sayang ...katakan pada ayah,meski tidak bisa banyak membantu tapi ayah akan menjadi pendengar yang baik."

Maya merasakan tenggorokannya tercekat. Genggaman tangan ayahnya selalu menjadi pelabuhan paling aman, namun kali ini rasa aman itu bercampur dengan rasa bersalah yang luar biasa. Ia tidak ingin ayahnya yang sudah renta ikut menanggung beban batin atas kehancuran rumah tangganya.

"Ayah..." Maya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Maya sudah memutuskan untuk berpisah dengan Mas Arlan."

Genggaman tangan sang ayah sempat mengeras sesaat, namun pria tua itu tidak menampakkan keterkejutan yang berlebihan. Ia justru mengusap punggung tangan Maya dengan ibu jarinya, gerakan yang begitu menenangkan.

"Jika itu yang terbaik untuk ketenangan batinmu, Ayah mendukungmu," jawab Ayah pelan. "Ayah tahu, setahun ini bukan waktu yang mudah bagimu. Ayah melihat binar matamu hilang sejak wanita itu masuk ke rumah kalian."

Air mata yang sejak tadi Maya tahan akhirnya jatuh juga. "Maya takut, Yah. Selama ini Maya tidak bekerja, Maya hanya mengurus rumah. Sekarang, tabungan dari menjual perhiasan Nenek hanya cukup untuk biaya rumah sakit Ibu. Setelah ini... Maya tidak tahu harus memberi makan Ayah dan Ibu pakai apa."

Ayah tersenyum, sebuah senyuman yang penuh ketabahan. Beliau membawa kepala Maya ke pundaknya, membiarkan putrinya menangis di sana.

"Nak, saat kau kecil, Ayah hanya seorang buruh pabrik. Kita sering makan nasi dengan garam, tapi kau tetap tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan hebat," bisik Ayah. "Uang bisa dicari, tapi harga diri yang sudah diinjak-injak tidak bisa dibeli kembali. Jangan takut miskin, takutlah jika kau kehilangan dirimu sendiri."

Maya terisak pelan. "Tapi Ibu masih butuh obat-obatan mahal, Yah..."

"Ayah masih punya kebun kecil di kampung yang belum dijual. Ayah juga masih kuat untuk bertani lagi. Dan kau..." Ayah menjauhkan sedikit wajah Maya untuk menatap matanya. "Kau adalah lulusan terbaik di jurusanmu dulu sebelum Arlan memintamu berhenti bekerja. Kau punya otak yang encer, Maya. Jangan biarkan kemampuanmu mati hanya karena seorang pria pernah memberimu kemewahan."

Kata-kata ayahnya seolah menyuntikkan nyawa baru ke dalam dada Maya. Benar. Sebelum menjadi istri Arlan, ia adalah Maya yang ambisius, Maya yang pernah memenangkan kompetisi riset, Maya yang punya mimpi besar.

"Maya akan cari kerja, Yah. Apa saja," ucap Maya sambil menghapus air matanya dengan tegas. "Maya tidak akan membiarkan Arlan melihat kita hancur."

"Itu baru putri Ayah," puji sang ayah. "Sekarang, masuklah. Temani Ibumu. Biar Ayah yang menjaga di sini. Ingat, Nak... badai pasti berlalu, tapi hanya mereka yang berani menerjangnya yang akan melihat pelangi."

Maya mengangguk mantap. Saat ia berdiri untuk masuk ke ruang perawatan, ia melihat sekilas dari jendela koridor rumah sakit, mobil mewah Arlan baru saja memasuki area parkir dengan terburu-buru.

Maya menarik napas dalam, memalingkan wajahnya, dan masuk ke kamar ibunya tanpa menoleh lagi. Ia tidak lagi peduli apa yang diinginkan pria itu. Pintu hatinya bukan lagi sekadar terkunci , ia telah menghancurkan kuncinya dan membuang serpihannya ke dasar laut. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk membangun kembali hidupnya dari nol.

Maya belum sempat menutup pintu kamar perawatan ibunya sepenuhnya saat suara gaduh dari arah koridor lobi utama mengalihkan perhatiannya. Suara langkah kaki yang terburu-buru, teriakan panik, dan instruksi medis yang saling bersahutan memecah keheningan rumah sakit.

Dari celah pintu, Maya melihat Arlan. Pria itu tampak berantakan jas mahalnya tersampit asal di lengan, kancing kemeja atasnya terbuka, dan wajahnya pucat pasi. Ia sedang membimbing brankar dorong bersama beberapa perawat. Di atas brankar itu, Dion terbaring lemas dengan wajah kebiruan dan napas yang tersenggal.

"Cepat! Tolong anak saya! Dia tiba-tiba sesak napas setelah makan malam tadi!" teriak Arlan, suaranya parau karena ketakutan.

Maya membeku di balik pintu. Instingnya sebagai seorang wanita yang pernah merawat Dion selama setahun ini bergejolak. Ia tahu Dion memiliki alergi kacang yang parah, sesuatu yang sering kali dianggap remeh oleh Sarah karena wanita itu terlalu malas membaca label komposisi makanan.

Namun, di belakang Arlan, muncul Sarah yang berlari dengan sisa-sisa gaun pestanya semalam. Ia menangis histeris, namun tangisannya terdengar sumbang di telinga Maya.

"Ini semua karena Mbak Maya!" Sarah berteriak di tengah koridor, mencoba mengalihkan pandangan orang-orang dan Arlan. "Kalau saja Mbak Maya tidak pergi dan tetap memasak di rumah, Dion tidak akan makan makanan sembarangan! Ini salah Mbak Maya!"

Arlan yang sedang panik tampak terpengaruh. Ia menoleh ke arah Sarah dengan tatapan kosong, seolah sedang mencari seseorang untuk disalahkan atas rasa takutnya. "Kenapa Maya harus pergi di saat seperti ini..." gumam Arlan, seakan lupa bahwa dialah yang mengusir istrinya sendiri ke gudang.

Maya menyaksikan adegan itu dengan hati yang mendingin. Dahulu, ia pasti akan berlari keluar, memeluk Dion, dan mencoba menenangkan Arlan. Tapi sekarang? Melihat Sarah yang masih sempat-sempatnya memfitnahnya di depan ruang darurat membuat sisa-sisa rasa kasihannya menguap.

"Maya? Ada apa di luar?" tanya Ayahnya dari dalam kamar.

Maya memegang gagang pintu dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Ia melihat Arlan yang kini duduk bersimpuh di depan pintu IGD, menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi, sementara Sarah terus merengek di sampingnya meminta perhatian.

"Bukan apa-apa, Yah," jawab Maya tenang. Ia menutup pintu kamar ibunya dengan rapat, mengunci suara gaduh di luar sana. "Hanya orang-orang yang sedang memanen apa yang mereka tanam."

Maya berjalan mendekati ranjang ibunya, mengusap dahi sang ibu dengan lembut. Di luar sana, Arlan mungkin sedang menghadapi mimpi buruknya, tapi di dalam sini, Maya baru saja memulai mimpinya sendiri.

Setiap teriakan Sarah di koridor itu justru semakin menguatkan tekad Maya. Ia menyadari satu hal. Arlan tidak pernah benar-benar mencintainya atau Sarah. Arlan hanya mencintai kenyamanan yang ia berikan. Dan kini, setelah kenyamanan itu ditarik paksa, Arlan hanyalah pria malang yang tidak tahu cara menghadapi dunianya sendiri.

"Sudah saatnya kita pulang ke rumah kita sendiri setelah Ibu sehat nanti, Yah," bisik Maya pada ayahnya. "Rumah yang tidak ada pelayan, tidak ada tuan, hanya ada kita."

Ayah Maya tersenyum, mengerti bahwa putrinya baru saja melewati ujian batin terakhirnya. Maya tidak lagi membalas dendam dengan kata-kata atau tindakan kasar , ia membalasnya dengan ketidakpedulian yang mutlak. Dan bagi pria seperti Arlan, diabaikan oleh wanita yang dulu memujanya adalah siksaan yang lebih berat daripada kematian.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!