NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Sorot Mata Tajam di Balik Lensa Kaca

Matahari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur Yogyakerto, tapi Rama Arsya Anta sudah memarkirkan motor sport hitamnya di ujung gang dekat pertigaan halte bus. Mesin motornya sudah dimatikan, namun sorot matanya dari balik kaca helm yang gelap terus bergerak liar memindai setiap kendaraan yang lewat. Sejak ancaman stiker Kobra Besi di lokernya kemarin, mode siaga satu Rama resmi diaktifkan. Ia bahkan menyuruh Galang dan anak-anak The Ghost untuk melakukan patroli senyap di perbatasan Wana Asri mulai tengah malam sampai subuh tadi.

Tak lama, sosok yang ditunggunya muncul. Nayla berjalan santai dengan tas ransel di punggung, memegang sekotak susu stroberi yang sudah menjadi ciri khasnya. Gadis berjilbab ungu itu mengerutkan kening saat melihat Rama sudah standby persis seperti satpam komplek.

"Rajin amat lo, Bos. Ini baru jam enam kurang seperempat. Ayam aja belum pada bangun," sapa Nayla sambil menyedot susunya.

"Naik. Jangan banyak protes," perintah Rama singkat, menyodorkan helm bogo hitam ke arah gadis itu.

Nayla memutar bola matanya malas, tapi tetap menerima helm tersebut. "Lo tahu nggak sih, sikap posesif dan panikan lo ini malah bikin kita kelihatan makin mencurigakan? Kalau mata-mata itu emang ada di sekolah, dia pasti ketawa ngakak lihat Ketua Klub Sains tiba-tiba jadi bodyguard dadakan anak baru."

Perkataan Nayla sukses membuat gerakan tangan Rama yang sedang memakai sarung tangan kulit terhenti. Sialnya, gadis bawel ini selalu punya logika yang menyebalkan tapi benar seratus persen. Kalau ia terlalu mengekang dan menempel pada Nayla di sekolah, orang-orang justru akan semakin curiga.

"Terus lo maunya gimana? Jalan kaki sendirian terus diculik anak buah Tora?" ketus Rama, menutupi rasa gengsinya.

"Ya nggak gitu juga," Nayla naik ke boncengan motor dengan lincah. "Kita berangkat bareng, tapi pas sampai di perempatan sebelum gerbang sekolah, lo turunin gue. Biar gue jalan kaki masuk ke pelataran, lo masuk duluan bawa motor. Di sekolah, kita pura-pura biasa aja. Lo balik jadi si cupu teladan, gue balik jadi anak pindahan yang nggak peduli sama lo. Kalau ada urusan penting, kita ketemu di perpustakaan atau komunikasi lewat chat."

Rama terdiam sejenak, mengolah rencana itu di kepalanya. "Oke. Tapi jam istirahat lo tetap nggak boleh keluyuran sendirian ke kantin belakang. Dan kalau ada cowok yang sok kenal atau nanyain macem-macem soal gue ke elo, langsung lapor."

"Iya, iya, bawel. Berangkat buruan, gue ada piket nyapu kelas pagi ini," tepuk Nayla pelan ke bahu Rama.

Sesuai rencana, Rama menurunkan Nayla di perempatan sebelum sekolah. Ia melaju lebih dulu memasuki area SMA Taruna Citra. Setelah memarkirkan motor di area khusus siswa kelas dua belas, Rama berjalan menuju koridor. Kacamata minusnya kembali bertengger rapi, kemejanya terkancing sempurna, dan rambutnya klimis. Topeng sempurnanya telah terpasang.

Namun, di balik lensa kacamata itu, tatapan Rama setajam silet. Ia memperhatikan setiap murid laki-laki yang berpapasan dengannya. Ia mencoba mengingat-ingat, siapa saja orang yang berada di sekitar loker kemarin siang?

Begitu masuk ke kelas XII IPA 1, Dika sudah heboh sendiri di bangkunya, sibuk menyalin PR fisika milik teman sekelas. Rama duduk dengan tenang, mengeluarkan buku pelajarannya. Beberapa menit kemudian, Nayla masuk ke kelas dengan wajah datar, langsung menuju meja piket dan mengambil sapu tanpa melirik sedikit pun ke arah Rama. Sandiwara mereka berjalan mulus.

Siang harinya, bel istirahat berbunyi nyaring. Kelas langsung kosong dalam hitungan detik. Rama sengaja berlama-lama merapikan bukunya, memberikan kode lewat lirikan mata agar Nayla pergi ke perpustakaan lebih dulu.

Saat Rama berjalan menyusuri koridor utama menuju perpus, sebuah suara panggilan menghentikan langkahnya.

"Woy, Anta! Buru-buru amat lo. Nggak jajan ke kantin?"

Rama menoleh. Di depannya berdiri Raka, sang anggota OSIS seksi kedisiplinan, ditemani dua kroninya, Jodi dan Kevin. Mereka bertiga memblokir jalan setapak koridor. Senyum miring yang menyebalkan tercetak jelas di wajah Raka.

"Gue ada urusan di perpustakaan, Rak," jawab Rama sopan, nadanya sedatar mungkin. "Ada buku referensi yang harus gue pinjam buat tugas."

Raka melangkah maju, memangkas jarak. Matanya menatap Rama dengan kilat permusuhan yang tak pernah ditutup-tutupi. "Rajin bener. Atau... lo buru-buru mau nyusulin anak baru itu? Si Nayla?"

Dada Rama berdesir pelan, tapi ekspresinya tak berubah sama sekali. "Gue satu kelompok drama Bahasa Indonesia sama dia. Wajar kalau kami sering bahas tugas."

"Oh, tugas ya," Raka terkekeh meremehkan. Cowok sok jagoan itu menepuk-nepuk bahu Rama dengan tangan kanannya. "Gue cuma mau ngasih saran aja sih sebagai teman yang peduli. Lo kan aset kebanggaan sekolah kita, Ram. Jangan sampai lo rusak citra lo cuma gara-gara terlalu nempel sama cewek pindahan yang asal-usulnya nggak jelas. Gue dengar dari anak-anak, dia pindah ke sini karena bikin kasus di sekolah lamanya. Cewek bermasalah."

Otot rahang Rama mengeras. Umpatan kasar sudah berada di ujung lidah, siap dimuntahkan. Rasanya ia ingin sekali mencekik kerah seragam Raka dan membantingnya ke dinding saat itu juga. Namun, Rama sadar, bereaksi emosional hanya akan membongkar kedoknya.

"Gue bisa milih teman gue sendiri, Rak. Makasih sarannya," balas Rama dingin. Ia menepis tangan Raka dari bahunya perlahan, lalu melangkah ke samping untuk melewati ketiga cowok itu.

"Sombong banget lo mentang-mentang pinter," celetuk Jodi, salah satu kroni Raka, dengan nada memanas-manasi. "Eh, Anta! Lo hati-hati pulangnya. Muka lo lemes gitu, takutnya lo keserempet di jalan pas naik mobil jemputan lo yang mewah itu."

Langkah Rama terhenti seketika. Keserempet di jalan?

Ia menoleh perlahan ke arah Jodi. Cowok kurus tinggi itu sedang tersenyum sinis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kalimat itu terdengar sangat ambigu. Apakah itu sekadar ancaman kosong khas anak SMA pembenci orang pintar, atau sebuah kode peringatan dari seseorang yang tahu apa yang terjadi di aspal jalanan?

"Gue selalu hati-hati," jawab Rama pelan, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Jodi, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan di sana. "Justru orang yang mulutnya sembarangan yang biasanya celaka duluan."

Tanpa menunggu balasan mereka, Rama kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Kepalanya berputar cepat. Raka adalah orang yang kemarin menggeledah meja dan lokernya saat razia dadakan. Sangat mungkin Raka, atau Jodi yang membantunya, adalah orang yang menyelipkan stiker kobra itu. Tapi apa motifnya? Apa Raka diam-diam adalah kaki tangan Tora? Rasanya terlalu kebetulan kalau musuh bebuyutannya di sekolah juga adalah musuh bebuyutannya di jalanan.

Setibanya di perpustakaan, ia langsung menemukan Nayla di sudut langganan mereka. Gadis itu sedang asyik mencoret-coret buku catatannya.

Begitu Rama duduk, ia langsung menceritakan obrolannya dengan Raka dan Jodi barusan dengan suara berbisik.

"Jodi bilang gitu?" kening Nayla berkerut tajam. "Itu spesifik banget, Ram. 'Keserempet di jalan'. Itu bisa aja kode dari Kobra Besi."

"Makanya. Raka juga kemarin yang geledah kelas kita. Akses dia sebagai anak OSIS kedisiplinan bikin dia bebas keluar masuk kelas dan ruang guru. Dia bisa aja megang kunci master loker siswa," analisis Rama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan gelisah. "Gue harus selidikin si Raka sama Jodi sepulang sekolah nanti. Gue mau minta anak-anak The Ghost buat ngebuntutin mereka."

Nayla meletakkan pulpennya. "Jangan gegabah, Babu. Kalau lo langsung ngerahin preman lo buat ngikutin anak OSIS, malah bakal bikin heboh. Mereka bisa lapor polisi kalau ngerasa diancam preman jalanan. Ujung-ujungnya sekolah lo yang kena imbas."

"Terus gue harus diam aja nunggu stiker kobra kedua nangkring di meja gue?!" suara Rama sedikit meninggi karena frustrasi, hingga Bu Ratna dari kejauhan berdehem keras memberi peringatan.

Rama memejamkan mata, membuang napas kasar, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue nggak bisa tenang, Nay. Keselamatan lo ancamannya."

Nayla membalas tatapan itu dengan lembut. "Kita selidikin sendiri. Dari dalam. Besok ada ekskul gabungan kan pulangnya? Anak-anak OSIS pasti sibuk rapat di ruang sekretariat. Lo kan Ketua Klub Sains, lo punya alasan kuat buat keliling sekolah. Kita cari tahu, apa ada barang bukti atau hal mencurigakan di ruang OSIS yang nyambung sama Kobra Besi."

"Lo mau ngajak gue nyusup ke ruang OSIS? Lo gila? Itu sama aja bunuh diri kalau ketahuan," tolak Rama mentah-mentah.

"Siapa bilang nyusup? Kita masuk pakai cara elegan," Nayla tersenyum licik, senyum yang selalu membuat Rama merasa takjub sekaligus ngeri di saat bersamaan. "Lo percayain aja taktiknya sama majikan lo ini. Tugas lo sekarang, pastikan lo nggak gampang kepancing emosi kalau si Raka atau kroninya mancing-mancing lo lagi."

Rama mengusap wajahnya kasar. Terjebak dalam permainan detektif dadakan bersama gadis cerewet ini benar-benar tidak ada dalam agenda hidupnya. Tapi di sisi lain, usulan Nayla adalah yang paling masuk akal saat ini. Ia harus memastikan dari mana asal teror ini sebelum musuhnya mengambil langkah mematikan.

"Terserah lo. Tapi besok sore, gue yang jalan di depan. Kalau ada apa-apa, lo langsung lari," ancam Rama tegas, memberikan syarat mutlak.

Nayla hanya memberikan hormat ala militer dengan gestur bercanda. "Siap, Bos Besar!"

Dan di bawah deretan rak buku sejarah yang berdebu itu, rencana gila mereka resmi diketuk palu. Sang Ketua Klub Sains yang suci dan Si Gadis Pindahan yang nekat bersiap membongkar sarang ular yang diam-diam menyusup ke dalam sekolah mereka. Rama hanya berharap, permainannya kali ini tidak memakan korban jiwa, terutama jiwa gadis yang kini tertawa pelan di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!