Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.
Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.
Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.
Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.
Semakin dekat, semakin sulit berhenti.
Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:
Menjaga masa depannya...
atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Membencimu
BAB 32 — Aku Membencimu
Hujan deras turun lagi di kota London, seolah langit pun ikut menangisi kepedihan yang sedang terjadi.
Setelah menahan semuanya sendirian selama berminggu-minggu, setelah mendengar bisikan jahat, setelah dihina, dan setelah merasa ditinggalkan begitu saja... Alena akhirnya memutuskan untuk tidak diam lagi.
Dia butuh penjelasan. Dia butuh kejelasan. Sekarang juga.
Tanpa peduli hujan, tanpa peduli larut malam, Alena mengemudikan mobilnya dengan tangan gemetar menuju apartemen Adrian. Dia tidak peduli kalau nanti dilihat orang. Dia tidak peduli risiko. Yang dia pedulikan hanyalah satu hal: Mendengar kebenaran dari mulut pria itu sendiri.
BRAAK!
Pintu apartemen didorong keras oleh Alena. Dia masuk dengan napas memburu, baju basah kuyup, rambut berantakan, dan wajah yang memancarkan amarah serta keputusasaan.
Adrian yang sedang duduk termenung di sofa langsung melompat berdiri kaget. Wajahnya pucat melihat kedatangan gadis itu yang seperti hantu marah.
"Len?! Alena! Kenapa datang begini malam?! Kenapa basah kuyup begini?!" Adrian panik, langsung berlari mendekat ingin memeriksa keadaan gadis itu, ingin mengambilkan handuk, ingin merawatnya.
TAPI...
BYUR!
Dengan sekuat tenaga, Alena mendorong dada Adrian sekuat tenaga sampai pria itu mundur beberapa langkah terkejut.
"JANGAN DEKATI AKU!" teriak Alena keras, suaranya pecah dan parau karena menangis dan menahan emosi. "JANGAN BERSIKAP SEOLAH KAU PEDULI! JANGAN BERSIKAP SEOLAH KAU SAYANG! KAU PEMBOHONG! KAU PEMBOHONG BESAR!"
🗣️ Ledakan Rasa Sakit
Air mata Alena jatuh deras bercampur butiran air hujan di wajahnya. Matanya merah menyala menatap Adrian tajam-tajam, penuh kebencian dan kekecewaan yang sudah menggunung terlalu lama.
"Di mana kau selama ini, hah?! Di mana?!" teriak Alena sambil memukul-mukul dada Adrian berulang kali dengan kepalan tangannya yang kecil namun penuh tenaga amarah. "Saat aku dihina?! Saat aku dikata-kataini jahat?! Saat aku sendirian menangis setiap malam?! KAU DI MANA?!"
"Len... dengar aku dulu, ini semua salah paham..." Adrian mencoba memegang tangan gadis itu untuk menghentikan pukulan itu, tapi Alena menepisnya kasar.
"SALAH PAHAM APA LAGI?!" potong Alena histeris. "Selama berminggu-minggu ini kau menghilang! Kau membisu! Kau bersikap seolah aku tidak pernah ada! Kau biarkan aku dimakan fitnah sendirian! Kau biarkan aku merasa seperti sampah! Dan sekarang kau mau bilang salah paham?!"
Alena mundur beberapa langkah, menjaga jarak seolah Adrian adalah penyakit menular yang paling berbahaya.
"Aku percaya padamu, Adrian! Aku percaya begitu saja! Kau bilang kau cinta, kau bilang kita akan hadapi bersama, kau bilang jangan takut... TAPI NYATANYA?! SAAT MASALAH DATANG, KAU YANG PERTAMA KALI LARI MENJAUH! KAU YANG PERTAMA KALI MENINGGALKANKU!"
🤐 Mulut Terkunci
Wajah Adrian pucat pasi. Dadanya sesak sekali melihat gadis yang dia cintai memandangnya dengan tatapan begitu kotor dan jijik.
Dia ingin berteriak mengatakan yang sebenarnya!
'AKU MELAKUKAN INI KARENA AKU SAYANG KAU! AKU MELAKUKAN INI DEMI MENYELAMATKAN KAU DARI SOPHIA! AKU MELAKUKAN INI KARENA TRAUMA MASA LALUKU!'
Tapi mulutnya terkunci rapat. Lidahnya kelu.
Bagaimana caranya menjelaskan?
Bagaimana caranya bilang kalau Sophia mengancam akan menghancurkan mereka berdua kalau dia tidak kembali padanya?
Bagaimana caranya bilang kalau ketakutan terbesarnya adalah melihat Alena hancur?
Kalau dia cerita sekarang, itu sama saja menyeret Alena masuk lebih dalam ke dalam pusaran bahaya itu. Itu sama saja mengakui bahwa hubungan mereka memang berisiko mati.
"Alena... kumohon... percaya padaku. Aku punya alasan yang sangat kuat. Aku melakukan ini bukan karena aku tidak sayang, tapi justru karena..."
"TERUS KENAPA KAU TIDAK BILANG?!" teriak Alena memotong lagi, air matanya makin deras. "Kenapa diam saja?! Kenapa biarkan aku berpikir yang buruk-buruk?! Kenapa biarkan Sophia datang dan bilang kalau aku cuma mainan sementara?!"
Nama Sophia itu seperti garam yang ditaburkan di luka yang basah.
Wajah Adrian berubah kaget dan marah besar. "Sophia bicara apa padamu?!"
"Dia bilang kau memang begitu orangnya! Dia bilang kau suka mempermainkan wanita lalu membuangnya saat bosan atau takut! Dan sekarang... aku percaya dia benar! SEMUA YANG DIA KATAKAN ITU BENAR!"
💔 Kata-kata yang Menusuk
"TIDAK! ITU BOHOOOONG!" teriak Adrian frustasi, menarik rambutnya sendiri karena merasa begitu tidak berdaya. "AKU TIDAK PERNAH MEMPERMAINKAN KAU! AKU CINTA KAU, LENA! AKU CINTA KAU LEBIH DARI APAPUN!"
"CINTA? JANGAN MENGUCAPKAN KATA ITU! KAU TIDAK TAU ARTINYA CINTA!" Alena tertawa getir, tawanya yang penuh air mata terdengar sangat menyedihkan dan menyakitkan.
"Cinta itu tidak meninggalkan orang yang disayang saat dia paling butuh sandaran! Cinta itu tidak membiarkan orang yang dicintai menangis sendirian dalam kegelapan! Cinta itu tidak bersikap dingin seolah tidak pernah terjadi apa-apa!"
Alena menatap Adrian lekat-lekat, tatapan itu menghujani pria itu dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku benci diriku sendiri yang terlalu bodoh! Aku benci diriku yang terlalu percaya omong manismu! Aku benci pernah memberikan hatiku, tubuhku, dan waktuku untuk pria yang tidak punya nyali untuk membela hubungannya sendiri!"
"ALENA, JANGAN!!"
"Kau pengecut, Adrian! KAU PENGECT BESAR!" Alena meludahkan kata-kata itu dengan penuh emosi. "Kau takut menghadapi risiko! Kau takut nama baikmu rusak! Kau takut kehilangan jabatan dan harta! Jadi daripada berjuang, lebih mudah bagimu membuangku kan?! Lebih mudah bagimu berpura-pura tidak kenal aku kan?!"
🥶 Hati yang Membeku
Adrian terdiam. Badannya gemetar. Kata-kata itu benar, tapi juga salah. Dia memang takut, tapi bukan takut untuk dirinya sendiri... dia takut untuk Alena. Tapi caranya salah. Caranya menyakiti hati gadis itu lebih dalam dari pisau manapun.
"Len... maafkan aku... aku... aku hanya ingin melindungimu..." bisik Adrian lemah, suaranya pecah.
"Melindungi caramu adalah dengan menyakiti aku?!" Alena menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat. "Cukup! Sudah cukup aku mendengar alasan! Aku tidak mau dengar lagi! Aku muak! Aku lelah!"
Alena mundur perlahan menuju pintu. Tubuhnya lemas, jiwanya hancur. Cinta yang dulu membara hangat, kini berubah menjadi abu dingin yang menyakitkan.
Dia menatap Adrian untuk terakhir kalinya. Tatapan itu kosong. Tidak ada cinta. Tidak ada rindu. Hanya ada luka dan kebencian yang mendalam.
Dengan suara bergetar hebat, dengan air mata yang tak henti mengalir, Alena mengucapkan kalimat yang paling menyakitkan yang pernah terucap dari bibirnya:
“Aku membencimu…”
"Aku benci pernah mengenalmu. Aku benci pernah mencintaimu. Dan aku berharap... aku berharap tidak pernah bertemu denganmu di dunia ini."
KLIK.
Pintu terbuka.
Pintu tertutup.
Meninggalkan Adrian berdiri sendirian di ruangan yang gelap, hancur oleh kata-kata itu.
---- gimana nih teman teman apa kalian suka, makin greget banget nih huff---