Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Orang di Balik Bayang
Wira berhenti tepat di ambang lorong bawah tanah itu.
Di depannya, ruang sempit yang mereka masuki dari tanah retak masih dipenuhi bau lembap dan debu tua. Di belakang, jalan yang baru saja mereka lalui sudah tertutup oleh bayangan dan lengkingan suara orang-orang yang mungkin mulai menyadari jejak mereka. Namun bukan itu yang paling membuat Wira menahan napas. Yang paling mengusik justru suara dari belakang tadi—suara laki-laki yang menyebut ayahnya, Danar, dan memancing mereka agar membuka pintu.
Ki Rangga mengangkat tangan, memberi tanda agar semua tetap diam.
Panca berdiri kaku di samping Wira, wajahnya tegang. Jaya mematikan lampu kecil yang dibawanya, lalu menatap ke arah celah sempit di dinding lorong. Raden Seta menahan napas sambil menggenggam naskah ibu Wira yang sudah mulai kusut di salah satu sudut.
“Masih ada suara?” bisik Panca.
Wira menajamkan telinga. Tidak ada langkah. Tidak ada gesekan. Hanya keheningan yang tidak sepenuhnya menenangkan, karena keheningan seperti itu biasanya hanya berarti satu hal: orang di luar sedang menunggu.
Ki Rangga menatap Wira. “Tetap di sini.”
Wira mengerutkan dahi. “Kau mau ke mana?”
“Melihat siapa yang ada di balik pintu itu.”
“Sendirian?”
Ki Rangga tidak menjawab. Ia justru menatap Jaya. “Jaga mereka.”
Jaya mengangguk singkat.
Raden Seta segera menyela, “Kalau dia memang sudah sampai sejauh ini, kita harus hati-hati. Orang itu tahu tempat ini.”
Ki Rangga menatap lorong gelap di depan. “Karena itu justru aku harus melihatnya.”
Wira menahan diri agar tidak ikut. Rasa ingin tahu dan takut bertabrakan di dadanya. Tetapi gurunya sudah melangkah maju perlahan ke arah pintu ruangan di depan lorong. Wira bisa melihat siluet Ki Rangga yang samar menembus cahaya tipis dari celah batu.
Pintu itu terbuka sedikit.
Lalu suara tadi terdengar lagi, lebih dekat.
“Akhirnya.”
Wira langsung menegakkan badan.
Suara itu tidak asing bagi Ki Rangga. Wira bisa melihat dari cara gurunya berhenti sejenak sebelum menjawab. Ada ketegangan yang tipis, hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat udara di lorong terasa semakin berat.
“Kau ternyata masih hidup,” kata Ki Rangga dari balik pintu.
Wira mendengar suara tawa pendek dari luar. Bukan tawa gembira. Lebih seperti tawa orang yang tidak terkejut oleh apa pun.
“Tentu saja.”
Wira mengerutkan dahi. Panca berbisik, “Siapa itu?”
Jaya mengangkat satu jari ke bibir, menyuruh diam.
Ki Rangga membuka pintu lebih lebar dan melangkah keluar beberapa langkah. Wira tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di sana, tetapi dari bayangan yang terpotong cahaya, tampak seorang pria berdiri di ujung lorong bawah tanah, mengenakan pakaian perjalanan gelap dan wajah yang sebagian tertutup kain. Tubuhnya tegap, dan cara dia berdiri menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.
“Masuk dari jalur mana?” tanya Ki Rangga datar.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Wira yang masih berdiri di belakang Ki Rangga. “Jadi ini anaknya.”
Wira langsung menegang.
Raden Seta menarik napas tajam. “Kau mengenalnya?”
Ki Rangga tidak menjawab. Itu justru membuat Panca dan Wira makin waspada. Pria di ujung lorong itu perlahan menurunkan kain penutup sebagian wajahnya. Cahaya redup menyorot garis rahangnya, bekas luka tipis di pelipis, dan mata yang tajam seperti sudah terlalu lama memeriksa orang lain dari bayang-bayang.
Lalu Wira melihat sesuatu pada wajah itu.
Bukan wajah yang ia kenal, tetapi ekspresi yang terlalu tenang.
Pria itu menatap Wira lama, lalu berkata, “Aku datang untuk menjemput apa yang dulu ditinggalkan.”
Wira merasakan tengkuknya dingin. “Siapa kau?”
Pria itu tidak segera menjawab. Ki Rangga justru bergerak sedikit maju, seolah ingin menutup jarak antara Wira dan orang asing itu.
“Namanya Arya,” kata Ki Rangga.
Panca langsung menoleh. “Kau tahu dia?”
“Pernah,” jawab Ki Rangga singkat.
Arya tersenyum tipis. “Hanya pernah?”
Ki Rangga menatapnya tajam. “Kalau kau datang di saat seperti ini, berarti kau tahu ada yang bergerak.”
Arya mengangguk. “Tentu saja. Aku juga tahu kalian sudah menemukan saksi.”
Raden Seta langsung menegang. “Jadi kau memang bagian dari mereka?”
Arya menoleh padanya. “Bukan.”
“Kalau begitu kau siapa?” tanya Wira, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan.
Arya memandang Wira dengan sorot yang sulit dibaca. “Orang yang dulu melihat bagaimana nama keluargamu dihapus.”
Ruangan mendadak sunyi.
Wira mengencangkan rahangnya. “Kau ada di sana?”
“Ya.”
“Dan kau diam saja?”
Arya tidak langsung menjawab. Ada jeda pendek yang membuat Wira semakin muak. Lalu pria itu berkata, “Kalau aku bicara saat itu, aku mungkin sudah mati. Dan kalian mungkin tidak punya jalan sama sekali sekarang.”
Panca mendengus. “Jawaban hebat untuk orang yang datang dari bayang-bayang.”
Jaya bergerak setengah langkah ke depan. “Kalau begitu katakan saja apa yang kau mau.”
Arya menatap Jaya sebentar, lalu kembali ke Wira. “Aku mau memberitahu bahwa Danar belum selesai dalam cerita ini.”
Wira membeku.
Nama ayahnya kembali disebut, kali ini oleh orang yang tampak benar-benar tahu. Wira menatap Arya tak berkedip. “Kau kenal ayahku?”
“Lebih dari sekadar kenal.”
Wira menunggu.
Arya mengangkat tangan pelan, lalu menunjuk ke arah ruang di belakang mereka. “Tempat yang kalian buka tadi bukan ruang terakhir. Ada bagian lain. Dan jika kalian terus menunggu, orang-orang yang mengejar kalian akan sampai lebih dulu.”
Raden Seta langsung menatapnya tajam. “Kau tahu arah ke sana?”
“Ya.”
Ki Rangga menyipitkan mata. “Dan kenapa kau baru muncul sekarang?”
Arya tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak hangat. “Karena aku harus memastikan anak itu memang sudah sampai.”
Wira merasakan kemarahan naik perlahan. “Aku bukan barang yang harus diuji.”
“Kalau begitu buktikan,” jawab Arya tenang.
Wira maju setengah langkah sebelum Ki Rangga menahannya dengan tangan.
“Jangan terpancing,” kata gurunya pelan.
Wira menatap Ki Rangga. “Dia tahu ayahku. Dia tahu ibu. Dia tahu tempat ini.”
“Dan itu belum tentu berarti dia kawan,” kata Ki Rangga.
Arya menghela napas. “Aku juga tidak bilang aku kawan.”
Panca langsung mendecak. “Nah, bagus. Jelas sekali.”
Hening sebentar.
Lalu dari ujung lorong, terdengar suara lain. Suara langkah. Tidak satu. Lebih dari dua. Mereka datang dari arah belakang, dari jalur yang tadi mereka lewati.
Jaya langsung menyalakan lampu kecil kembali. Cahaya kekuningan memantul di dinding batu dan menampakkan debu yang bergetar di udara.
“Sudah ada yang masuk,” katanya.
Raden Seta memucat. “Mereka menyusul.”
Arya menoleh cepat ke arah suara itu. “Aku tidak punya banyak waktu.”
Ki Rangga menatapnya. “Kau sengaja mengantar mereka ke sini?”
Arya tidak langsung menjawab. Wira menangkap perubahan kecil di matanya. Bukan rasa bersalah, tapi semacam ketegangan yang sudah dipersiapkan sejak awal.
“Aku mengantar kalian ke pilihan,” kata Arya.
Wira mengerutkan dahi. “Pilihan apa?”
Arya memandang Wira. “Tetap di sini dan menunggu sampai mereka menemukan kalian, atau ikut aku lewat jalur yang hanya diketahui orang-orang lama.”
Ki Rangga mengangkat alis. “Kenapa aku harus percaya?”
Karena,” jawab Arya, “aku satu-satunya yang masih tahu ke mana Danar pergi setelah malam penghapusan.”
Wira seperti dipukul dari dalam.
Ki Rangga langsung menatap Arya. “Kau tahu?”
Arya mengangguk. “Dan aku tahu satu hal lagi. Danar tidak menghilang sendirian.”
Raden Seta menegakkan tubuh. “Maksudmu?”
“Dia dibawa,” kata Arya.
Wira menahan napas. “Dibawa ke mana?”
Arya menatapnya lama. “Ke tempat yang sekarang sedang kalian cari. Tapi bukan sebagai tamu.”
Panca langsung menggerutu, “Aku tidak suka kalimat itu.”
Jaya menatap lorong belakang. “Kita harus bergerak.”
Ki Rangga masih menatap Arya. “Apa alasanmu datang?”
Arya terdiam sebentar sebelum menjawab, “Karena aku ingin memastikan anak Danar tidak jatuh ke tangan orang yang sama.”
Wira memalingkan wajah sebentar. Kata-kata itu menancap dalam. Ia belum tahu apakah harus mempercayai Arya, tetapi kenyataan bahwa orang itu tahu nama ayahnya dan tahu sesuatu yang lebih besar membuatnya sulit menolak.
Langkah-langkah di lorong belakang semakin dekat.
Arya mengangkat kepala. “Keputusanmu sekarang.”
Ki Rangga menatap Wira. “Kita tidak punya waktu untuk ragu.”
Wira menarik napas dalam. Ia menatap Arya, lalu lorong belakang yang mulai dipenuhi suara. Jika mereka bertahan di sini, pengepung akan menemukan mereka. Jika ikut Arya, mereka masuk ke arah yang belum tentu aman. Tetapi setidaknya akan bergerak.
Wira menggenggam papan kayu ibunya lebih erat. “Kalau kau bohong, aku akan ingat wajahmu.”
Arya menatapnya, lalu mengangguk sekali. “Itu adil.”
Panca langsung mengangkat tangan. “Aku suka rencana yang melibatkan ancaman, sungguh sangat menenangkan.”
Jaya memadamkan lampu kembali. “Bergerak sekarang.”
Arya memutar tubuh dan menekan batu pada dinding lorong yang semula tak terlihat berbeda. Sebagian batu bergeser ke samping, menyingkap celah sempit yang lebih gelap dari lorong sebelumnya.
“Masuk,” kata Arya.
Wira menatap celah itu. Udara yang keluar darinya lebih dingin, lebih tua, dan membawa bau yang berbeda. Bukan sekadar tanah. Ada aroma kayu terbakar lama dan kain usang.
Ki Rangga memberi isyarat agar Wira masuk duluan. Wira menunduk lalu melangkah ke dalam. Jaya menyusul, diikuti Panca yang masih menggerutu. Raden Seta terakhir kali menatap Arya dengan penuh curiga sebelum ikut masuk.
Arya masuk paling akhir lalu menutup celah batu di belakang mereka.
Dalam sekejap, dunia di belakang tertutup.
Mereka kini berada di lorong baru yang lebih sempit namun kering. Dindingnya dipahat lebih halus, menandakan jalur ini memang dibuat dengan tujuan tertentu. Wira menyalakan napas pelan, berusaha menenangkan detak jantungnya. Di belakang, suara langkah orang-orang yang mengejar kini terdengar teredam, lalu hilang sama sekali.
Panca menyandarkan punggung ke dinding. “Aku benar-benar lelah dengan orang-orang yang muncul tiba-tiba dan tahu terlalu banyak.”
Jaya menatap Arya. “Kalau begitu jelaskan jalur ini.”
Arya menatap mereka satu per satu, lalu berkata, “Ini lorong yang dipakai untuk keluar dari tempat lama menuju sisi timur. Dan kalau kita cepat, kita masih bisa sampai sebelum mereka menutup pintu lain.”
Wira menatapnya. “Pintu lain?”
Arya mengangguk. “Tempat kalian cari belum selesai. Ruang saksi bukan akhir. Ada ruang penghubung. Tempat Danar dibawa sebelum semuanya dipindahkan.”
Wira merasakan dada sesak lagi. Ayahnya dibawa. Bukan mati, bukan hilang begitu saja. Dibawa. Kata itu membuat segalanya terasa lebih hidup dan lebih menyakitkan.
Ki Rangga memandang Arya. “Kalau begitu, pimpin.”
Arya mengangguk singkat.
Mereka pun kembali bergerak. Lorong baru itu membawa mereka turun sedikit lalu berbelok tajam ke kanan. Di beberapa titik ada ukiran tanda lama yang nyaris tak terlihat. Arya tampak mengenali semuanya tanpa ragu. Wira memperhatikan itu dalam diam, mencoba menilai apakah orang ini benar-benar sekutu atau hanya satu lapisan baru dari rahasia yang lebih besar.
Akhirnya Arya berhenti di depan pintu batu kecil yang hampir tertutup debu. Ia menempelkan telapak tangan ke ukiran di sampingnya, lalu menggeser satu batu sempit di bawah.
Terdengar bunyi klik.
Pintu itu terbuka.
Di baliknya tampak lorong lebih luas dengan dinding kayu dan beberapa tangga kecil ke atas. Cahaya samar dari celah di ujung sana memberi tahu bahwa mereka sudah dekat dengan permukaan.
Arya menoleh. “Lewat sini.”
Wira memandangi lorong itu lalu menatap wajah Arya. Ada banyak hal yang belum ia percayai, tapi satu hal jelas: orang ini tahu lebih banyak dari yang lain, dan sepertinya benar-benar ingin membawa mereka ke tempat berikutnya.
“Kalau kau bohong,” kata Wira pelan, “aku tidak akan lupa.”
Arya menatapnya lalu menjawab, “Kalau aku bohong, kau akan tahu saat kita sampai.”
Itu bukan jawaban yang menenangkan.
Namun Wira tetap melangkah.
Di belakang mereka, lorong-lorong tua kembali menutup suara langkah pengejar. Dan di depan, jalan menuju rahasia yang lebih besar mulai terbuka lagi.
bukin pusing aja