Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Mulai Mencari
Malam itu tidak lagi terasa seperti malam yang biasa karena ada sesuatu yang berubah sejak keputusan itu diambil bukan keputusan yang diucapkan dengan keras bukan juga sesuatu yang dibicarakan panjang lebar tapi sesuatu yang terbentuk diam diam di dalam kepala Arshaka dan ketika itu sudah terjadi tidak ada lagi ruang untuk mundur
Ia berdiri di ruang kerja dengan pencahayaan redup yang hanya berasal dari lampu meja dan layar perangkat di depannya ruangan itu sunyi tidak ada suara selain detak halus yang berasal dari perangkat elektronik yang terus berjalan menampilkan data yang sejak beberapa hari terakhir ia kumpulkan tanpa henti dan di antara semua informasi itu satu nama terus muncul berulang kali seolah sengaja menantang untuk ditemukan
Alven Arkana
Nama itu tidak lagi hanya sekadar identitas tapi sudah berubah menjadi target sesuatu yang harus dihentikan bukan nanti bukan perlahan tapi secepat mungkin sebelum semuanya keluar dari kendali yang masih bisa ia jangkau
Arshaka menatap layar itu lebih lama dari biasanya bukan karena ragu tapi karena ia memastikan bahwa setiap langkah yang akan ia ambil tidak menyisakan celah sedikit pun karena sekali ia bergerak tidak akan ada langkah kedua untuk memperbaiki kesalahan
Ia mengambil ponselnya lalu menekan nomor yang sudah ia hafal tanpa perlu melihat daftar kontak dan menunggu beberapa detik sebelum suara di seberang menjawab
“Aku butuh semua yang kamu punya tentang dia”
Nada suaranya rendah dan langsung pada tujuan tanpa basa basi tanpa penjelasan tambahan
Hening sejenak sebelum suara di seberang merespons dengan pertanyaan yang tidak ia jawab
“Semua berarti semua”
Lanjutnya dengan tekanan yang lebih jelas
“Pergerakan terakhir koneksi siapa saja tempat yang dia pakai aku tidak peduli seberapa kotor caranya aku cuma mau hasil”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi yang meledak tapi justru karena itu terasa lebih berat lebih pasti seolah tidak ada pilihan lain selain memenuhi apa yang ia minta
Ia menutup panggilan tanpa menunggu percakapan panjang karena baginya semua sudah cukup jelas tidak ada ruang untuk diskusi tidak ada ruang untuk menunda
Di sisi lain rumah tetap dalam keadaan tenang namun berbeda dari sebelumnya karena ketenangan itu sekarang bukan lagi terasa nyaman tapi lebih seperti pengawasan yang tidak terlihat setiap sudut terasa lebih tertutup setiap langkah terasa lebih diperhitungkan dan di dalam kamar Elora masih berada di tempat yang sama seperti sebelumnya tubuhnya bersandar pada bantal dengan kaki yang masih belum sepenuhnya pulih membuatnya tidak banyak bergerak bukan hanya karena rasa sakit tapi juga karena keinginannya sendiri yang mulai berkurang untuk pergi ke mana mana
Pintu terbuka perlahan dan Arshaka masuk dengan langkah yang sama seperti biasanya tenang dan terkontrol namun kali ini ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya sesuatu yang lebih dingin dari sebelumnya
Elora langsung menoleh saat melihatnya ada sedikit kelegaan yang muncul di wajahnya tanpa ia sadari karena kehadiran Arshaka kini bukan hanya sesuatu yang ia harapkan tapi sesuatu yang ia butuhkan
“Kamu dari mana”
Pertanyaannya keluar pelan
Arshaka berhenti beberapa langkah dari tempat tidur menatapnya sejenak sebelum menjawab
“Kerja”
Jawaban itu singkat
Namun tidak sepenuhnya menjelaskan
Elora menatapnya lebih lama seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan
“Kamu lagi nyari dia ya”
Kalimat itu akhirnya keluar
Tidak ragu
Tidak lagi ditahan
Arshaka tidak langsung menjawab namun dari cara ia menatap sudah cukup untuk memberi jawaban
“Iya”
Satu kata itu cukup
Dan langsung membuat suasana berubah
Napas Elora sedikit tertahan
“Kamu jangan terlalu jauh”
Kalimat itu keluar cepat hampir seperti refleks dari rasa takut yang belum benar benar hilang
Arshaka mendekat kali ini jaraknya lebih dekat dari sebelumnya hingga ia bisa melihat jelas perubahan kecil di wajah Elora
“Aku tidak akan berhenti sampai dia selesai”
Nada suaranya tetap rendah
Namun lebih dalam
Lebih berat
Elora menelan pelan
“Aku takut kamu kenapa kenapa”
Arshaka menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya berkata
“Kamu fokus ke diri kamu”
Jawabannya tidak menghindar tapi juga tidak memberi ruang untuk menghentikan apa yang sudah ia putuskan
Elora menggenggam sprei sedikit lebih erat
“Kamu janji bakal hati hati”
Arshaka tidak langsung menjawab
Karena ia tahu
Ia tidak akan berjalan dengan cara hati hati
Namun tetap ia berkata
“Aku tahu apa yang aku lakukan”
Dan itu bukan janji
Beberapa jam kemudian
Mobil hitam itu berhenti di lokasi yang tidak terlalu ramai sebuah bangunan yang terlihat biasa dari luar namun cukup untuk menarik perhatian jika seseorang tahu apa yang harus dicari
Arshaka keluar tanpa terburu buru langkahnya tenang namun setiap gerakan menunjukkan tujuan yang jelas matanya mengamati sekitar memastikan tidak ada hal yang luput sebelum ia akhirnya masuk ke dalam
Di dalam ruangan itu suasana berbeda lebih gelap lebih sempit dan penuh dengan orang orang yang tidak banyak bertanya tapi cukup tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara
“Dia ke sini”
Seseorang berkata tanpa perlu diperkenalkan
Arshaka berhenti beberapa langkah di depannya
“Kapan”
“Beberapa hari lalu”
Jawaban itu tidak memuaskan
Dan terlihat dari cara Arshaka menatap
“Sekarang di mana”
Hening
Sejenak
“Aku tidak tahu”
Kalimat itu baru selesai diucapkan ketika Arshaka sudah bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan tangannya mencengkeram kerah orang itu dengan kuat menariknya mendekat tanpa memberi waktu untuk bereaksi
“Jangan bilang tidak tahu kalau kamu masih mau bicara lagi”
Nada suaranya tetap rendah
Tapi kali ini ada sesuatu yang jauh lebih gelap
Sesuatu yang tidak lagi menahan
Ruangan itu langsung hening tidak ada yang berani bergerak karena semua orang di sana tahu satu hal bahwa Arshaka bukan seseorang yang datang untuk sekadar bertanya
Ia datang untuk mendapatkan jawaban
Dengan cara apa pun
Di tempat lain
Alven Arkana duduk santai di kursinya menatap layar yang menampilkan pergerakan kecil yang ia pantau dengan sabar senyum tipisnya tidak hilang bahkan ketika ia tahu bahwa sesuatu sudah mulai bergerak ke arahnya
“Jadi kamu akhirnya keluar”
Gumamnya pelan
Karena baginya ini bukan ancaman
Tapi bagian dari permainan yang sudah ia siapkan
Semakin Arshaka mendekat
Semakin mudah baginya untuk menarik semuanya ke arah yang ia inginkan
Malam itu tidak lagi hanya tentang mencari
Tapi tentang siapa yang lebih dulu menemukan
Dan ketika dua arah yang berbeda mulai bergerak menuju titik yang sama
Tidak ada yang bisa memastikan
Siapa yang akan keluar
Dan siapa yang akan jatuh
————
See you di bab selanjutnya ya!