Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Pelelangan Segudang Harta*
Ling Fan tiba di Kota Tianxuan yang ramai dan segera menuju Pelelangan Segudang Harta untuk menjual hasil buruannya. Setelah berhasil meyakinkan penjaga dan Tuan Penilai Zhang, ia menjual Inti Binatang Raja seharga enam ratus empat puluh batu spiritual secara tunai demi memenuhi kebutuhan mendesaknya. Di dalam ruang lelang, Ling Fan bertemu dengan Zhao Fu dari Klan Zhao dan menyaksikan keangkuhan Huang Ling dari Klan Huang yang membeli kembali inti miliknya dengan harga tinggi sementara telur hitam di dadanya mulai berdenyut semakin kuat.
Ling Fan berdiri di depan kedai bakpao yang mengepulkan aroma gurih dengan mata berbinar.
“Berapa harga untuk satu bakpao ini, Kakek? Aku ingin yang paling besar dan penuh dengan daging.”
“Satu keping perak untuk satu bakpao, Anak Muda. Tapi jika kau punya dua batu spiritual, aku akan memberimu lima buah sebagai bonus karena kau terlihat sangat lapar.”
“Luar biasa nikmat! Kakek, kau tidak tahu betapa menderitanya lidahku selama tujuh tahun ini hanya mengecap bubur hambar di sekte yang pelit itu.”
“Hati-hatilah di kota ini, Anak Muda. Wajahmu yang polos itu bisa menjadi sasaran empuk bagi orang-orang jahat dari Klan Huang yang suka menipu pendatang baru.”
“Terima kasih atas nasihatnya, Kek. Doakan saja aku tidak tertipu, melainkan akulah yang akan membuat mereka merasa telah tertipu oleh penampilanku ini.” Ucap Ling Fan sambil melahap bakpao keduanya dengan sangat lahap hingga pipinya menggembung, sementara kakek penjual itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku pemuda berpakaian kumal tersebut.
Di depan pintu masuk pelelangan, dua penjaga bertubuh besar menghalangi jalannya dengan tombak perak yang bersilangan tepat di depan dada Ling Fan.
“Berhenti di sana, Bocah! Tempat ini hanya untuk tamu yang memiliki harta setidaknya seratus batu spiritual. Apakah kau punya uang sebanyak itu di kantongmu yang tampak kosong?”
“Paman, aku membawa Inti Binatang Raja Tanduk Emas yang baru saja diambil dari sarangnya. Jika kau mengusirku sekarang, majikanmu di dalam akan sangat marah karena kehilangan barang langka ini.”
“Mohon maafkan kelancangan kami, Tuan Muda! Silakan langsung menuju ruang penilaian di lantai satu, Tuan Penilai Zhang sedang menunggu di sana.” Jawab penjaga itu dengan suara yang gemetar karena takut setelah Ling Fan membisikkan niatnya sambil memperlihatkan sedikit cahaya emas dari balik kantong kainnya.
Ling Fan melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum akan bau cendana, menemui Tuan Penilai Zhang yang sedang sibuk dengan timbangan emasnya.
“Tuan Penilai Zhang, aku ingin menjual beberapa barang buruan dari Lembah Ular Hijau. Berapa harga yang bisa kau berikan untuk barang-barang ini?”
“Kualitas yang sangat mengagumkan! Ini benar-benar Inti Raja dari Kondensasi Qi Tingkat Puncak. Aku bisa memberimu harga enam ratus batu spiritual secara tunai jika kau tidak ingin menunggu proses lelang yang lama.”
“Setuju, Tuan Zhang. Enam ratus batu spiritual ditambah beberapa puluh lagi untuk inti biasa dan taring ular ini sudah lebih dari cukup bagiku untuk saat ini.” Sahut Ling Fan sambil meletakkan kantong kainnya di atas meja giok dan menerima enam keping kristal spiritual yang berkilauan sebagai pembayaran tunai.
Setelah menyelesaikan transaksi, Ling Fan naik ke lantai dua dan duduk di samping seorang pemuda gemuk bernama Zhao Fu yang sedang asyik memakan kue kacang.
“Hei, Teman! Kau terlihat sangat santai duduk di sini dengan pakaian seperti itu. Apakah kau tidak takut diperhatikan oleh Tuan Muda Huang Ling yang sombong itu?”
“Mengapa harus takut? Kakak Zhao, kakiku hanya sedang keram karena terlalu banyak berjalan, jadi aku tidak sempat berdiri untuk memberi hormat kepada orang yang tidak kukenal.”
“Kau benar-benar gila! Tapi aku suka keberanianmu. Ngomong-ngomong, namaku Zhao Fu, dan jika kau butuh bantuan untuk berurusan dengan pedagang licik, panggil saja aku!” Seru Zhao Fu sambil menyodorkan piring kuenya kepada Ling Fan yang segera mengambil satu dan memakannya tanpa rasa sungkan sedikit pun.
Suara juru lelang di panggung utama menghentikan percakapan mereka saat barang paling berharga mulai diperkenalkan kepada seluruh tamu yang hadir.
“Dan inilah barang puncaknya! Inti Binatang Raja Tanduk Emas! Harga pembukaan dimulai dari lima ratus batu spiritual!”
“Tujuh ratus batu spiritual! Dan jangan ada seorang pun yang berani menaikkan harga jika kalian masih ingin melihat matahari esok pagi di kota ini!”
“Lihat itu, tujuh ratus batu spiritual hanya untuk satu inti! Kau tahu tidak, betapa bodohnya orang yang menjual inti ini ke pelelangan hanya dengan harga murah sebelumnya?” Bisik Zhao Fu kepada Ling Fan dengan wajah penuh rasa heran melihat Huang Ling dari Klan Huang yang memberikan penawaran sangat tinggi.
Ling Fan hanya tersenyum tipis mendengar perkataan itu.
“Ayo kita pergi, Kakak Zhao. Perutku mulai lapar lagi dan sepertinya melihat orang kaya membuang uang membuatku ingin segera mencari makan enak di luar sana.”
“Tentu! Aku akan mentraktirmu bakpao daging paling enak di pasar selatan sebagai imbalan atas lelucon hebatmu hari ini!” Jawab Ling Fan sambil melangkah keluar dari gedung pelelangan diikuti Zhao Fu yang tertawa meledak-ledak.
Biarkan saja mereka tertawa untuk saat ini. Mereka tidak tahu bahwa uang yang baru saja mereka keluarkan sekarang berada di dalam kantong 'bocah dekil' yang mereka hina ini. Pikir Ling Fan dengan penuh rasa puas sementara di balik jubah birunya, telur hitam itu kembali memberikan detakan kuat seolah sedang mencoba memecahkan cangkangnya dari dalam.
Sabar sedikit lagi, Teman Kecil. Begitu kita sampai di tempat yang aman, aku akan membantumu melihat dunia ini untuk pertama kalinya. Bisik Ling Fan dalam batinnya sambil mengelus permukaan telur tersebut sebelum benar-benar hilang di tengah keramaian Kota Tianxuan.