NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:667.2k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanikan Kayden

Kayden baru saja menyelesaikan mandinya. Pria itu melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, sementara sebuah handuk kecil di tangan digunakannya untuk mengeringkan rambut yang masih basah. Namun, langkahnya terhenti seketika saat pandangannya jatuh pada sosok bocah menggemaskan yang tengah duduk santai di atas tempat tidurnya sembari memegang ponsel miliknya.

Mata Kayden membulat sempurna. Dengan gerakan refleks yang penuh kepanikan, ia segera berlari menghampiri putri angkatnya itu dan merampas ponsel tersebut dari tangan mungilnya.

"Apaan sih Zaaay! Kenapa pegang-pegang ponsel Papa!" seru Kayden dengan nada tinggi, tak terima privasinya diusik.

Zayra tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru menatap Kayden dengan tatapan sinis, khas anak kecil yang merasa tidak bersalah. "Apa cih Papaaa, olang di pegang doang nda di culiiii. Beldlama kali jadi olang belondong catu ini," ucap Zayra yang membuat Kayden nyaris tersedak ludahnya sendiri.

"Heh, itu mulut! Tahu dari mana kata berondong, hah?!" desis Kayden kesal, wajahnya memerah menahan malu sekaligus marah.

"Dali ciapa lagi, dali Om Cingkong lah!" sahut Zayra enteng, merujuk pada Elvar dengan julukan aneh buatannya.

"Kamu—"

"Kay, kamu sudah punya anak?!"

Suara lembut namun sarat akan keterkejutan yang terdengar dari ponselnya membuat Kayden membeku. Ia menatap layar ponselnya dan melihat nama 'My Darling' masih terhubung dalam panggilan. Tenggorokannya mendadak terasa kering, dan jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.

Kayden menatap Zayra dengan tatapan nanar sebelum kembali fokus pada benda pipih di tangannya. Ia memejamkan mata kuat-kuat, merutuki kecerobohannya sendiri karena meninggalkan ponsel dalam keadaan tidak terkunci.

"Zira, dengar ... aku bisa jelaskan. Aku ...,"

Tuuut!

Sambungan terputus. Kayden membelalakkan matanya lebar. Zira mematikan teleponnya begitu saja. Itu artinya, wanita itu telah salah paham dan mungkin sedang memikirkan hal-hal buruk tentangnya sekarang. Kayden berusaha menghubungi kembali, namun panggilannya ditolak. Zira bahkan mematikan ponselnya.

Pria itu mendadak panik luar biasa. Ia menatap makhluk kecil di hadapannya yang baru saja menciptakan kekacauan besar dalam hubungan asmaranya.

"Zayraaaaa! Jangan angkat ponsel Papa sembarangan!" teriak Kayden dengan nada yang terdengar putus asa.

Zayra hanya mengedipkan matanya polos, sama sekali tidak merasa berdosa. "Nda cembalangan kok, Zayla cambil timang timang anakku cayang tadi poncel Papa. Calah Zayla dimana? Papa itu otaknya muntabel kata doktel jadi calahin olang telus," ucap Zayra yang membuat Kayden langsung memegang kepalanya, merasa migrain mendadak menyerang.

"Harus apa aku sekarang? Apa aku harus mendatangi rumah suaminya?" gumam Kayden pasrah.

"Makanya Tuan, yang lebih tua itu dihormati, bukan dipacari," celetuk Elvar yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, menambah beban pikiran Kayden.

"Diam kamu, Kambing! Asem ya, siapa juga yang pacaran!" desis Kayden kesal sembari melemparkan handuk kecilnya ke arah Elvar.

.

.

.

.

Sementara itu, alasan sebenarnya Zira mematikan ponselnya bukanlah semata-mata karena cemburu atau marah, melainkan karena Raka tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Zira segera berpura-pura tidur dengan membelakangi pintu. Namun, Raka tetap mendekat dan duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang masih digenggam erat oleh istrinya.

Dengan gerakan perlahan, Raka berbaring di belakang Zira dan melingkarkan lengannya, memeluk wanita itu dari belakang. Sentuhan itu membuat Zira tersentak dan langsung terduduk menjauh.

"Ada apa?" tanya Raka bingung melihat reaksi Zira.

"Buat apa kamu di sini?" tanya Zira dingin, menatap Raka dengan tatapan tajam.

Raka mengerutkan keningnya dalam. "Tentu saja tidur, Sayang. Ini kan kamarku juga," jawab Raka merasa heran dengan perubahan sikap istrinya yang semakin hari semakin sulit ditebak.

Baru saja Zira ingin membuka suara untuk mengusir suaminya, pintu kamar diketuk dari luar. Zira menatap pintu itu, lalu kembali menatap Raka dengan senyum sinis yang menusuk.

"Sana, kesayanganmu pasti mencarimu," desis Zira.

Raka menghela napas kasar, merasa lelah dengan situasi ini. "Kamu saja yang temui dia. Nanti kalau aku yang temui, kamu malah marah lagi," ucap Raka dengan nada pelan, mencoba meredam ketegangan.

"Mengesalkan," desis Zira sembari bangkit dan melangkah menuju pintu.

Ia membuka pintu dengan sentakan cepat. Di sana berdiri Ivy, mengenakan gaun malam tipis yang dibalut cardigan. Zira melipat tangannya di dada, menatap wanita di depannya dengan tatapan menghakimi. Seolah-olah Ivy adalah parasit yang datang hanya untuk meminta jatah waktu dan perhatian.

"Apa Raka sudah tidur, Kak?" tanya Ivy pelan, suaranya terdengar sangat lemah.

Zira mendengus dingin. "Untuk apa cari suamiku? Ini sudah tengah malam, apalagi yang mau kamu adukan kali ini? Sakit perut? Pusing? Atau mual yang dibuat-buat?"

Ivy meremas kedua tangannya dengan gugup, matanya berkaca-kaca. "Hmm Kak ... aku merasa tidak enak di perutku, aku ...,"

Zira menoleh ke arah Raka yang masih duduk diam di atas ranjang. "Pergilah, Raka. Dia merindukan sentuhanmu pada tubuhnya yang murahan itu," ucap Zira dengan nada yang sangat tajam, membuat Raka dan Ivy tersentak syok.

"Sayang! Apa yang kamu bicarakan sih?!" Raka segera berdiri dan mendekat, menatap Ivy yang kini menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Zira tidak gentar. Ia sedikit mengibaskan rambut panjangnya dan menatap Ivy dengan penuh intimidasi. Suasana di koridor kamar itu mendadak menjadi sangat dingin dan menyesakkan.

"Perlu kuingatkan padamu, Ivy. Statusmu di rumah ini hanyalah ibu pengganti. Setelah anak itu lahir, kamu akan angkat kaki dari sini dan pergi selamanya dari kehidupan kami. Jangan pernah lupa, kamu itu aku yang bayar! Mengerti? Rahimmu itu aku yang beli!" ucap Zira dengan penekanan di setiap katanya, suaranya rendah namun mematikan.

"Pahami posisimu di rumah ini. Kamu bukan siapa-siapa bagi suamiku. Kejadian satu malam yang tidak sengaja itu, anggap saja sebagai mimpi buruk untuk rumah tanggaku. Jika kamu mau tetap tinggal di sini dengan tenang, berhenti mencoba mendekati milik orang lain. Pahami batasmu," lanjut Zira dengan tatapan yang seolah ingin menel4njangi semua kebusukan Ivy.

Perkataan Zira bagaikan pedang yang menghujam jantung Ivy, memaksanya untuk bangun dari dunia fantasi yang ia bangun sendiri. Raka pun terpaku, menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya. Ia tidak menyangka Zira bisa sekasar dan sedingin itu.

"Sayang, tak seharusnya kamu mengatakan hal serendah itu padanya ...," gumam Raka mencoba membela.

"Oh, tidak seharusnya?" Zira tertawa hambar. "Kalau begitu, bawa dia pergi dari sini sekarang juga! Besok, aku akan mengajukan perceraian kita. Tidak perlu menunggu anak itu lahir. Kita rebutkan saja hak asuhnya di depan hakim!"

Zira mendorong tubuh Raka dengan kasar hingga pria itu mundur beberapa langkah, lalu ia menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras yang mengguncang koridor.

Raka yang mendengar kata cerai langsung dilanda kepanikan luar biasa. Ia segera menggedor pintu kamar yang terkunci rapat itu.

"Sayang! Zira! Buka pintunya! Dengarkan aku dulu!" seru Raka dengan nada memohon.

Ivy yang merasa terhina mencoba menarik lengan Raka, berharap pria itu akan memberikan pembelaan atau pelukan hangat untuk menenangkannya. Namun, yang didapatnya justru sebuah sentakan kasar. Raka menepis tangan Ivy dengan penuh kemarahan.

"BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK PAHAMI POSISIMU YANG HANYA SEBAGAI RAHIM BAYARAN?! KENAPA KAMU HARUS MEMANCING AMARAHNYA!" teriak Raka tepat di depan wajah Ivy.

Degh!

Dunia Ivy seolah runtuh saat itu juga. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung. Kalimat Raka barusan jauh lebih menyakitkan daripada makian Zira. Di mata Raka, ternyata ia memang tidak lebih dari sebuah alat produksi. Sementara itu, Raka tetap mengabaikannya, terus mengetuk pintu kamar Zira sembari memohon maaf, mencoba meraih kembali hati pemilik hidupnya yang kini telah tertutup rapat.

Di balik pintu, Zira menyandarkan tubuhnya, air matanya jatuh namun bibirnya tersenyum getir. Ia telah melepaskan semua bebannya, dan kini ia hanya ingin melihat bagaimana kehancuran itu dimulai.

______________

1
Syifa Azhar
Sophia jangan ngeyel,lain dulu lain sekarang.dulu kamu menyukai kayden dan dia masih singgel sih ok aja,to sekarang kayden dah punya istri.jadi perempuan harus punya harga diri masa mau sama laki orang,emang didunia cuma ada kayden???hello .... dunia gak cuma seluas daun kelor sayang🤣🤣
Laila Isabella
Luar biasa
Mulaini
Akhirnya Kayden bisa gooolll juga ke gawang Zira hehehe...
Uba Muhammad Al-varo
Sofia dengar tuh apa kata Diva,jadi orang jangan egois, orang udah nggak mau kok dipaksa, yang ada kamu dicap cewek murahan Sofia /Curse//Curse/
Nur Rofikoh
ya ampun ini jadi malam nya kay dan zira... anaknya di rumah bikin opa sarden pusing tujuh keliling...
faridah ida
semoga Zira hamil nanti nya ...
faridah ida
laah gak sadar diri nih sih Sofia .. jelas2 sudah di tolak dan di cuekin sama Kay , dasar muka tembok ..
kaylla salsabella
oooo ternyata Sofia cinta bertepuk sebelah tangan🤣🤣🤭🤭🤭
D_wiwied
lebih seru baca komen disini 😆 byk reader yg ga terima lho mbak sopiah kamu mengklaim diri lbh kenal duluan sm Kay, lah dia mlh sdh hidup seatap sm istrinya sejak msh bocil 🤭😆
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
hehe sok lah gaskeun🤣🤣🤣
j4v4n3s w0m3n
aduhhh kay zira udah.bilang kan dia gak suka di.bohongin la lo zira nanya malah gak di jawab hadeuhhhh cari masalah aja lo kay kay.....baru jg nikah udah ada rahasia.rahasiaan ..padahal mah ngomong we atu ya ...tapi ya namanya juga kehidupan ya meski di novel ge kudu aya spanengnya juga 🤣🤣🤣itu yg bikin greget🤭🤭🤭👍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
pasrah ajalah kay sama yg udah pro
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
iddddiiiihhhhh sok tempe kau. dari si kay msh pake popok kemana2, si kay udah ama zira begok.
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒: dia g tau suruh baca novel ny tentang Xander ka
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah kau cinta si kay dari usia dewasa, si kay cinta zira dari dia masih lari2 sambil terkencing2
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
Puji Sri Lestari
salah ketik itu ya
Humaira
semangat semangat, hadirkan kayden junior 😍😍😍
A R
pedang2an 🙈🙈🙈
A R
kalahh kamuuuu.. kayden sdh suka zira dari msh bodelll 😂😂😂😂
~Ni Inda~
Denger y Kay
Hbs ni jujur sejujur²nya sm Zira...jelasin siapa itu perempuan pirang
Bilang aja klw dia emang ngejar²mu biar Zira jg menyiapkan amunisi
Jgn ada yg ditutup²i
Meski sedikit menurutmu tp klw gak tuntas bs jd mslh besar
Denger Kay...dengeeerrr
Aysss...pen kujewer kupingmu Kay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!