NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Hana berjalan menuruni tangga rumahnya.

Tatapan matanya pada Reiga jelas tidak seramah seperti biasanya. Hana terlanjur tenggelam atas persepsinya sendiri mengenai gosip mereka berdua. Reiga yang menunggu di bawah, tepat di samping Ferrari miliknya. Pria itu menunggu dengan cemas. Berharap Hana tidak semarah seperti bagaimana masa depan yang dilihatnya. Walau sepertinya dari raut wajah Hana, Reiga sudah bisa menebak kearah mana cerita ini berjalan.

"Hana, aku ..."

PLAK!

Hana menampar Reiga cepat dan kuat. Tanpa aba-aba. Pipi kiri pria itu memerah. Bekas tamparan begitu kontras dengan kulit Reiga yang putih. Reiga terkesiap bukan main atas tamparan yang jujur sedikit menyulut emosinya mulai naik ke permukaan.

"Ini memang tujuan kamu kan!? Skenario-nya bagus banget. Sayangnya kamu salah pilih pemeran," ketus Hana.

"Bukan aku!" seru Reiga.

"Bullshit!" pekik Hana.

Mereka beradu tatap. Sulit bagi Reiga untuk menahan inginnya memindai isi pikiran Hana. Dan betapa menyesalnya Reiga sekarang setelah melakukannya. Hana yang tengah mencaci dan memakinya dalam pikiran. Terasa begitu menyakitkan dalam hati Reiga.

"Kamu tahu berapa orang yang caci maki aku karena keisengan kamu, Rei!?" Hana setengah berteriak.

"Bukan aku, Hana," Reiga mencoba sekali lagi dengan suara memelas.

Belum pernah ia menurunkan harga diri sampai segininya untuk seorang perempuan. Belum pernah Reiga seberusaha ini hanya untuk mendapat maaf atas kesalahan yang bahkan tidak pernah diperbuatnya. Tubuhnya yang lelah, masih jetlag, makin terasa lelah berkat meladeni kemarahan Hana yang salah alamat.

"Calon istri kamu bahkan berpikir aku sengaja edit foto cuma untuk ganggu dia!?" Hana tampak amat marah pada bagian itu.

Calon istri?

Apa yang dimaksud Hana itu Lana?

"Lana bukan calon istri aku," ujar Reiga.

"Bo-do a-mat! Itu bukan urusan aku!" sahut Hana.

"Demi Tuhan, bukan aku yang menyebar foto kita. Aku tahu foto-foto itu ada aja tuh dari Dimas. Yang sialnya baru ngomong setelah pesawat aku mau boarding!"

Reiga mulai geregetan.

Ah, ternyata menahan amarah sesulit ini ya?

Dan kenapa juga ia harus menahan amarah di depan Hana? Sepenting itukah Hana baginya? Sejak kapan Hana jadi penting bagi Reiga?

"Jangan pernah ke sini lagi. Aku nggak mau liat muka kamu. Aku jijik sama cowok jenis kamu yang gunain kekuasaan dan kekayaannya cuma buat nyusahin orang!"

"Jaga bicara kamu ya, Han!" seru Reiga dengan intonasi suara lugas namun terdengar begitu dingin.

Hana terkesiap. Sosok Reiga yang baru dilihatnya. Amarahnya yang tadi meletup-letup sontak menciut bagai api disiram air.

"Saya baru turun dari pesawat, masih lelah, pusing dan jetlag tapi saya tetap nekat ke sini. Karena saya nggak mau kamu salah paham. Saya berharap apa yang saya lihat, nggak kejadian, tapi kayaknya saya salah. Kamu sama aja seperti yang lainnya. Hidup dengan persepsi sendiri. Cuma mau percaya apa yang dipercayai. Keras kepala dan nggak pernah mau mendengarkan," dingin Reiga mengatakannya.

Bukannya marah, Hana malah merasa bersalah. Dia sepertinya mulai sadar telah keterlaluan pada Reiga.

"Biar saya perjelas di sini!"

"Pertama, Alana Soediro bukan calon istri saya! Kedudukan dia, kamu, dan Nana sama di mata saya. Jujur, saya nggak berniat memilih salah satupun di antara kalian. Saya rasa pengalaman saya berurusan dengan perempuan sudah sangat membuat trauma.

Sekarang ditambah lagi sama kalian!"

"Kedua, BUKAN SAYA penyebar foto-foto kita.

Silahkan kamu selidiki sendiri. Saya nggak takut.

Karena saya nggak salah," tantang Reiga.

Sorot mata tajam Reiga sungguh membuat Hana mendadak canggung.

"Ketiga! Saya setuju. Kita nggak usah ketemu lagi. Ribet! Sesuai jadwal pertemuan aja. Itupun karena saya ingin menyenangkan Papa saya. Bukan karena alasan lain. Jadi kamu nggak perlu menghindar! Menghindar juga terserah kamu sih! It's none of my business!! Dan saya nggak peduli juga."

Reiga menghela napas panjang. Ia menatap Hana dengan tatapan kecewa.

"Makasih untuk tamparannya," tambah Reiga lalu berjalan menuju kursi pengemudi. Ia membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya. Ferrari itu pun meluncur pergi meninggalkan rumah Hana.

Sementara Hana masih terpaku diam. Ada secuil rasa menyesal telah membuat Reiga marah seperti tadi. "Apa sih lu, Han! Jangan cengeng! Jangan manja! Teguh, Han! Reiga pasti pelakunya!!" pekik Hana dalam hatinya.

"Dan apaan sih!? Norak banget! Lu nggak perlu merasa kayak lagi patah hati!!!" tambahnya meski faktanya, Hana bingung sendiri karena tidak bisa menyingkirkan perasaan tidak enak dalam hatinya atas sikap arogannya pada Reiga.

*

Rama mendekat kearah Tristan dan Syein di meja bartender. Mereka bertiga melihat kearah yang sama, salah satu sahabat mereka, Reiga. "Si Monyet kenapa tuh? Bengong kayak gagal proyek 100 juta dollar," tanya Rama.

Reiga memang paling jarang galau di antara mereka bertujuh. Bisa dibilang tidak pernah malah. Anak satu itu selalu tenang, teduh, dan tak beriak. Mungkin karena itu, pemandangan yang jarang mereka lihat dari Reiga ini menjadi sebuah tontonan menarik tersendiri.

"Patah hati," celetuk Syein yang duduk di pinggir sebelah kiri.

Ekspresi kaget Rama tak tertahankan.

"Sama siapa?? Si Monyet akhirnya jatuh cinta lagi!!?" tukas Rama hilarius.

Syein dan Tristan pun ikut tertawa.

"Elu udah datang-datang ngatain Reiga monyet, sekarang malah ngeledek lagi, Ram," ujar Tristan.

"Lu ikut ketawa juga, Nyet," ujar Rama seraya menoyor kepala Tristan yang malah nyengir.

"Cewek mana yang berhasil bikin Reiga si freezer 17 pintu sampai tekuk muka 15 lipat begitu?" Rama makin penasaran.

Tristan menatap Rama dengan tatapan 'masa sih lu nggak tahu?!' yang sangat mengganggu Rama.

"Lu seriusan nggak tahu, Ram?" tanya Tristan.

Rama berwajah senewen.

"Mana ada waktu dia baca berita gosip. Rama udah punya kesibukan baru sama yang di London," ledek Syein dengan sorot mata menyebalkan.

Rama langsung melotot kearah Syein.

"Diem nggak lu, Jir!" galak Rama.

"Wait ... Wait ... Apa nih!? Mulai rahasia-rahasiaan lu pada ya!" sebal Tristan yang paling anti ketinggalan berita para sahabatnya. Well, belakangan ini dia memang sedang sibuk kuliah lagi, lanjut ambil sub spesialis gizi anak.

"Belum waktunya launching, Tan. Masih di-ghosting," ledek Syein.

"Si Bangke! Gue tabok ya, Syein!" marah Rama yang sudah sering Syein lihat dari kecil lantaran selain bersahabat mereka juga adalah sepupu dekat. Kemarahan yang sudah tidak ada seram-seramnya di mata pemilik nama panjang Syailendra Radiputrodiningrat ini.

"Parah lu, Nyet. Anak orang di-ghosting!" sahut Tristan.

Syein tergelak tawa.

"Rama yang di-ghosting, Tan!" ucapnya lalu tawanya makin keras.

Rama sontak bermode bete mirip Reiga.

Sedangkan, Tristan takjub menatap Rama lalu mereka (Tristan dan Syein) tertawa bersama. "Anjir, ada apa dengan dunia?! Duo freezer di genk silly weirdo kompakkan galauin perempuan," ucap Tristan.

Mereka kembali tertawa.

"Sialan lu berdua!" seru Rama dengan dua mata menyipit.

"Jadi siapa?" Rama masih penasaran. "Adrianne Hana," kompak Tristan dan Syein.

Rama mencoba menggali informasi mengenai Adrianne Hana dalam kepalanya.

"Adrianne Hana yang artis kesukaannya Zidane?" tanya Rama setengah nggak percaya.

Tristan dan Syein mengangguk-angguk. Rama berdecak lalu tertawa geli.

"Si anjir! Sejak kapan Reiga main sama artis!?" cetusnya.

"Namanya juga cinta, Ram. Kayak lu aja kan? Bolak-balik London-Jakarta. Sekalipun takut naik pesawat juga jabanin aja dah. Love makes us stupid, dude," ujar Syein sekalian meledek sepupunya itu.

Wajah Rama sudah merah padam.

"Sini lu, Syein! Emang bangke dasar!" umpat Rama sebal sambil berusaha meraih Syein yang dihalau Tristan.

"Lu berdua bisa nggak sih empati sedikit sama Reiga. Belum pernah gue lihat dia dengan ekspresi nggak jelas kayak gini?" ucap Tristan.

Rama dan Syein menghela napas seraya melihat Reiga.

"Kok bisa gue kelewat berita besar kayak gini!!?" kesal Rama pada dirinya sendiri. "Ada fotonya nggak?" tambah Rama.

"Udah di take down sama dia. Eh, kirain ayang bakal nggak marah. Malah kayaknya diputusin nih," sahut Syein.

Rama mendengus sebal.

"Yang mana sih orangnya!?" sebal Rama yang paling sensitif kalau medengar sahabatnya dimainin.

"Matre si Hana sampai nggak mau dunia tahu dia pacarnya Reiga?" ketus Rama.

Syein terkekeh.

"Apaan sih lu, Ram!? Kita tuh belum tahu jelasnya. Jadi nggak usah berspekulasi. Santai aja, nikmati momen Reiga Reishard patah hati yang jarang kita lihat ini," ujar Syein cengengesan.

"Kasian si Reiga, malah disuruh nikmatin," ujar Rama tidak setuju.

Reiga bukannya tidak mendengar obrolan sahabatnya itu. Hatinya hanya terasa tidak baik. Amat sangat tidak baik. Marah bercampur sedih. Perasaan kampret yang ingin dienyahkannya tapi tak bisa.

"Hebat banget ya kamu, Han. Kamu bisa buat aku semarah ini tapi nggak berdaya untuk membenci kamu," gumam Reiga dalam hati.

Kedua matanya kembali memandangi layar handphone yang tengah digenggamnya.

Hana

Cowok brengsek! Kita nggak usah ketemu lagi! Orang asing memang akan selalu asing.

Pesan terakhir Hana yang diterimanya. Reiga masih ingat wajah tersenyumnya saat menerima pesan tersebut. Yang kemudian langsung berubah begitu membaca isinya. Berulang kali ia membacanya. Berulang kali pula Hana sukses menyakitinya. Rasanya kayak patah hati. Padahal pacaran aja belum. Kenal aja belum ada seminggu. Apa ini yang Papa rasakan saat nggak bisa menghentikan takdir perpisahan dengan Mama? Itulah yang ada di pikiran Reiga. Ah, rasanya ia ingin meninju siapapun yang terlibat dalam pembuatan artikel dan penyebaran foto-foto itu.

"Kenapa gue harus semerana ini hanya karena Hana marah sama gue?!"kesalnya dengan diri sendiri.

*

Lana berwajah sumringah seraya bercermin.

"Dengar, Lan. Lu udah menunggu momen ini hampir selama 2 tahun. You have to give your best! Nggak mau tahu! Lu harus impress Reiga semaksimal mungkin!! Lu nggak mau kan kalah sama Hana yang udah nyolong start dari lu!!" ucapnya menyemangati diri sendiri.

Lana lantas mengatur napas. Ia berdiri.

Tangannya meraih tas kecil di samping botol parfum-nya. Setelahnya Lana berjalan keluar kamar dengan penuh percaya diri. Begitu yakin ia cinta selama 2 tahunnya pada Reiga akan berbalas malam ini. Begitu keluar, Reiga sudah ada di depan. Berdiri seraya menyandar di samping Ferrari-nya.

"Hai," sapa Reiga dengan tangan kanan terangkat, melambaikan tangan.

"Hai," balas Lana dengan senyum paling lebar.

Lana tidak langsung berjalan mendekat. Ia berharap Reiga memuji penampilannya malam itu terlebih dahulu. Gaun putih panjang berkilau dengan model backless pada bagian belakangnya. Lana sengaja membawa jas hitam yang ditaruh di lengan kanannya.

"Ayo dong, Rei. Puji aku!" serunya dalam hati.

Namun Reiga tak bergeming. Sebelum ke sini ia telah memutuskan satu hal. Reiga ingin mengakhiri semua drama ini. Tidak lagi ingin bersikap hatinya baik-baik saja dan membiarkan Lana melambung dengan harapan kosong tanpa jaminan itu. Lebih dari itu semua, jujur saja, Reiga agak ill-feel dengan sikap Lana yang mengirim pesan pada Hana seakan mereka memiliki hubungan khusus.

"Yuk. Nanti kemalaman flight-nya," ujar Reiga mematakan hati Lana. Raut wajah Lana mendadak muram. Reiga pura-pura tidak melihatnya. Pria itu memilih untuk membukakan pintu mobil. Lana tersenyum sopan. "Thank you," ucapnya pelan lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya ditutupkan Reiga.

Tak lama kemudian, Ferrari itu bergerak meninggalkan rumah Lana. Hening tanpa obrolan. Reiga baru sadar kalau hanya saat bersama Hana ia berubah menjadi manusia yang berisik. Chessy dan clingy tak tertolong. Ah, Hana lagi. Kenapa ia bisa serindu ini dengan manusia yang menamparnya begitu keras kemarin?

"Kita naik jetpri kamu, Rei?"

Lana mencoba memecahkan hening di antara mereka.

"Kan kamu yang minta," jawab Reiga.

Lana tersenyum. Antara senang Reiga menurutinya dan canggung dengan kalimat yang nyaris terasa begitu dingin dari Reiga. Kedua mata Lana tidak sengaja melihat karet rambut dekat kaki kanannya. Lana mengambilnya. Karet rambut dengan hiasan kelinci putih ber-mahkota yang tengah memegang wortel besar. Hati Lana sontak nyeri. Ini pasti punya Hana. Sepupunya itu memiliki kebiasaan yang aneh. Seperti mengoleksi barang yang sama sejak kecil. Salah satunya karet rambut dengan hiasan kelinci yang sangat diingat Lana. Mereka memang tidak pernah akrab. Well, Lana memang selalu menganggap Hana sebagai lawannya. Kompetitor-nya. Yang tidak pernah bisa dikalahkannya. Dari dulu. Memang sangat menjengkelkan. Hanya Arnold lah yang membuat Lana bisa mencicipi kemenangan atas Hana dengan telak dan mutlak.

"Taruh di laci dashboard aja, Lan. Hana pasti nggak sadar kuncir rambutnya jatuh," ucap Reiga.

"Benar kan! Ini memang punya Hana. Siapa lagi yang naik mobil ini kalau bukan Hana? Tapi gue bakal pastikan, yang kemarin adalah terakhir kalinya lo naik mobil ini, Han, "tekad Lana bicara dalam hati.

Reiga mendengarnya dan ia makin yakin untuk mematahkan hati Lana malam ini juga. Perjalanan mereka berlanjut kembali sepi. Bahkan setelah Ferrari Reiga sampai di hanggar. Reiga membukakan pintu untuk Lana seperti gentleman tapi tidak menggandengnya, tentu Lana makin kecewa. Kepercayaan dirinya terkikis perlahan. Belum lagi Reiga yang terlalu diam dalam pesawat jet. Well, Reiga memang pendiam. Tapi diamnya Reiga malam ini berbeda dari yang biasa Lana amati selama ini. Reiga memang tidak seramah biasanya. Senyum pria itu mendadak mahal. Ekspresinya datar seperti tengah banyak pikiran. Lana benci pada dirinya sendiri yang menyimpulkan Reiga tengah bertengkar dengan Hana. Mood jelek-nya ini berasal dari Hana yang mungkin tengah marah dengannya.

"Does he fall in love with her?"

Hana terengah. Dia tidak suka tenis. Sialnya, event olahraga yang digelar Cuy Entertainment berkonten tenis dengan judul headline 'Tenis Bersemi Kembali'. Kalau tahu yang dipertandingkan adalah olahraga tenis, Hana tidak akan mau ikut. Malah dia tergabung dalam pertandingan beregu. Siapa nama teman satu tim-nya? Zidane? Sam bilang Zidane adalah sahabatnya Niyo dan sahabatnya orang yang tidak ingin Hana sebut namanya. Sudah macam Voldemort saja si Reiga sampai Hana tidak ingin mengucap namanya. Sialnya si Zidane membatalkan latihan bareng perdana ini karena ada operasi jantung yang harus ditanganinya. Iya. Zidane adalah seorang dokter spesialis jantung lulusan Harvard. Hana cukup kaget saat Sam bilang selain Zidane adalah fans beratnya, pria itu juga satu angkatan di Harvard Medical School. Yang mana ya?

Sam memandangi Hana yang terlihat tidak bersemangat di tengah lapangan. "Nyet! Minum dulu," teriak Sam.

Hana mengangguk lalu menghentikan latihannya. Berjalan menuju bench. Ia meraih air mineral dingin yang disodorkan Sam. Setelah duduk menyender, Hana baru minum. Walau tahu Hana mungkin akan badmood jika ia tanyai mengenai kejelasan foto antara dirinya dan Reiga, Sam tetap ingin bertanya.

"Putus sama Reiga?"

BYUR!

Hana langsung menyemburkan air yang memenuhi rongga mulutnya. Serta mengganjar Sam dengan tatapan tajam.

"Enggak!"

Ah, shit! Kenapa jawabnya enggak!? Hana menyesali pilihan kata yang akan membuat status hubungannya dengan Reiga samar. Padahal jelas-jelas nggak punya hubungan apa-apa.

"Udah berapa lama lo sembunyikan ini semua dari gue, Han?"

"Apaan sih, Sam!? Gue pulang kalau lo masih bahas si Kampret satu itu!" ancam Hana.

Sam terkekeh.

"Ini lu marah karena si kampret satu itu lagi dinner di Marina Bay sama Lana ya?" ledek Sam.

Raut wajah Hana berubah.

Ia baru ingat, hari ini jadwal dinner Reiga dan Lana. Malam minggu. Dan kenapa hatinya jadi beneran kesal, tak rela.

"Gue kira Reiga itu gay loh. Nggak tahunya suhu, simpanannya kaliber Adrianne Hana," ujar Sam dengan raut wajah menyebalkan.

"Anjir! Gue dibilang simpanan!" gerutu Hana tak terima atas kiasan buruk yang diberi Sam padanya.

Sam tergelak.

"Secara nggak langsung lo ngaku nih kalo ada apa-apa sama Reiga," ledek Sam.

"Emangnya kalau gue jawab gue nggak ada apa-apa sama Reiga, lu bakal percaya gue, Sam?" Hana memilih minum kembali. Badannya terasa pegal. Sama seperti hatinya yang sangat pegal menanggapi gosip konyol ini. Semua orang membicarakannya. Baik di depan, di media online, maupun dibelakangnya. Hana paling ingat ucapan dua pegawai rumah produksi milik Arnold ketika ia berada di salah satu bilik kamar mandi.

"Gue kira selama ini Hana suka sama Pak Arnold loh. Eh, nggak tahunya doi udah punya cowok!"

Pegawai yang satu lagi tertawa dengan nada mengejek.

"Ya wajar sih kalau Hana move on. Anjrit! Pacarnya, Reiga Reishard! Beruntung banget si Hana. Lu tahu sendiri kan gimana keluarga Reishard dan kekayaannya yang nggak ngotak itu!"

Obrolan santai tanpa maksud apapun di antara dua teman sembari merapikan riasan yang mulai pudar menjelang siang yang sukses membuat Hana merasa jadi pengemis, gadis matrealistis, dan tidak berguna.

Sam. "Gue senang sih kalo lu sama Reiga," celetuk

Hana berdecak.

"Kenapa!? Karena hidup gue bakal terjamin selamanya!?" sinis Hana.

"Buset! Sinis banget lu, Han," sahut Sam kaget.

Hana kembali berdecak.

"Semua orang berpikiran tentang gue kayak gitu sekarang. So don't blame me!" tukas Hana terdengar ketus.

Sam terkekeh.

"Is that bad to be his girlfriend? Banyak loh perempuan yang mau ada di posisi lu sekarang! Salah satunya Lana!" ujar Sam begitu ekspresif.

Hana memperhatikan wajah sahabatnya itu. Hana bisa melihat Sam serius mempromosikan Reiga padanya. Sahabatnya itu cenderung agresif terselubunh setiap ingin Hana mengikuti maunya.

"Sebegitu istimewanya kah Reishard sampai lu pun meyakinkan gue segininya, Sam!?" sinis Hana.

"Iya," jujur Sam mengejutkan Hana.

Samanta tidak berkilah. Langsung mengaku.

"Kenapa?"

Kini tensi emosi Hana tidak setegang tadi.

"You deserve a man like him, Nyet!" pekik Sam dramatis.

Kening Hana mengerut.

"Perjelas," ujar Hana.

Samanta menghela napas. Ia sampai memutar duduknya agar bisa lurus menghadap Hana.

"Niyo cerita, Reiga untuk pertama kalinya cancel meeting demi seorang cewek misterius and somehow mereka semua, tujuh cowok dalam genk mereka senang banget dengarnya. Karena si freezer ini nggak pernah punya hubungan apapun dengan cewek manapun sejak putus dari mantannya pas SMA. Udah lama banget kan, Nyet?" jawab Sam yang ceritanya sepertinya belum selesai.

Hana tidak kaget. Dia sudah tahu cerita ini dari Reiga sendiri.

"Belum move on kali," sinis Hana.

Sam berdecak.

"Ya masa dia belum move on tapi mau aja nganterin cewek eror yang nangisin cowok lain yang kelasnya di bawah dia sampai dibawa naik jetpri-nya dan cuma makan bomboloni sambil bengong di Chinese Garden," sindir Sam menohok Hana yang entah mengapa tergelitik sampai tidak sanggup menahan tawanya yang keluar tertahan. Samanta begitu jago menggambarkan keadaan Hana saat itu.

"Gue nggak paksa dan minta dia ikut. Dia yang maksa mau ikut," bela diri Hana.

Sam. "Makin jelas ya hubungan lu sama dia," ledek

"Sialan!" tukas Hana.

"Pernah nggak Arnold kayak gitu?"

Hana tersentak dengan pertanyaan itu. Ya. Arnold juga bukan siapa-siapanya. Sama halnya seperti Reiga. Malah Arnold unggulan dalam lamanya waktu mengenal Hana ketimbang Reiga. Tapi pria itu miskin inisiatif dan kurang empati. Atau Arnold memang tidak pernah sepeduli itu dengan Hana? Saat Hana bahkan pernah menemani pria itu menginap di rumah sakit saat Mama-nya Arnold dirawat karena tipes. Menyedihkan banget kalau diingat.

"Enggak kan!?" seru Sam semangat.

"Biasa aja kali ngomongnya," sebal Hana.

"Nah mari kita bandingkan dengan Reiga. He did it, Han! Lu nggak tahu kan betapa sibuknya dia. Tapi dia memilih lu. Reiga memprioritaskan untuk menemani lu ketimbang kerjaannya yang bernilai milliaran dollar itu. He chooses you, sweetheart! Itu yang paling penting dalam sebuah hubungan. Inget kan omongan lu waktu gue putus sama Dendi tiga tahun yang lalu, Nyet? Nggak ada orang yang benar-benar sibuk, semua itu cuma tentang prioritas aja," Ucapan Sam sungguh menohok Hana sampai tembus belakang. Untunglah ini Sam menohoknya dengan sebuah kalimat. Kalau berupa pedang, mungkin Hana sudah jadi sundel bolong sekarang.

"Sekarang lu masih tanya gue kenapa gue senang dengar lu sama Reiga?"

Hana menghela napas panjang. Faktanya dia tidak punya hubungan apapun sama Reiga. Bahkan jika kesempatan itu ada, Hana sendirilah yang telah menguburnya semalam. Dengan sebuah pesan, tamparan, dan cacian menyakitkan yang dilakukannya.

Apa Hana menyesalinya?

Mungkin Hana tidak ingin mengakuinya, tapi jauh dalam lubuk hatinya. Di sebuah sudut yang berusaha dicapainya. Hana menyesal. Hana menyesali semua hal buruk dan tak pantas yang dilakukannya pada Reiga. Baik langsung maupun lewat pesan. Padahal pria itu berniat baik dan selalu bersikap baik. Bahkan sekarang Hana merindukan gombalan cetek Reiga padanya.

Dalam hening, Lana dan Reiga menikmati gegap gempita kembang api yang jauh lebih berisik dari mereka. Dinner mereka berjalan lancar namun sepi. Tanpa makna. Lana tidak membayangkan momen yang ditunggunya jadi segaring dan tidak menyenangkan begini. Tentu ada satu orang yang selalu diumpatnya dalam hati. Manusia yang di kambing hitamkan olehnya. Adrianne Hana.

"Rei, aku ada salah ya?"

Lana membuka obrolan. Reiga yang berdiri di samping kanannya menoleh.

"Kok ngomong begitu?"

"Ya abis dari tadi kamu diam aja. Nggak kayak biasanya," jawab Lana balas menatap Reiga. Mencoba tersenyum.

"Maaf ya, Lan. Well, hati aku emang lagi nggak enak sih," ucap Reiga mulai melancarkan maksud hatinya dibalik dinner ini.

Lana terdiam. Berharap apa yang barusan terlintas dalam pikirannya tidak akan pernah keluar dari mulut Reiga. Salah satu cara agar itu tidak terjadi adalah dengan tidak menanyakannya. Namun hati manusianya berkhianat dan mengikuti emosinya.

"Kenapa? Ada masalah?"

Reiga mengulum senyum tipis.

"Berkat pesan kamu, ada manusia yang paling aku inginkan untuk jadi bagian hidup aku mendadak tampar aku dan nggak mau ketemu aku lagi," jawab Reiga.

Hati Lana remuk seketika. Reiga menyebutnya begitu gamblang, 'manusia yang paling aku inginkan', kalimat itu cukup mentasbihkan posisi Lana. Dia yang tidak punya kesempatan. Dia yang selalu berakhir sama. Lana yang si yang selalu kalah dari Hana.

"Aku suka kamu, Rei," ucap Lana nekat dengan kedua bola mata berkaca.

"Sejak pertama kali kita ketemu di ruangan Zidane. Saat wajah kamu muncul dari balik pintu yang terbuka. I do fall in love with you, Rei," aku Lana membuang jauh harga dirinya.

"Maafin aku ya, Lan," ucap Reiga tenang.

Tanpa ada sorot mata simpati dari kedua matanya. Sebuah gestur yang makin menyakiti Lana. Hari ini hatinya patah. Dua tahun penantiannya terasa percuma.

"Gue bersumpah lo akan merasakan patah hati yang gue rasakan malam ini, Han!" ucap Lana.

Reiga terhenyak mendengar kalimat penuh kebencian dalam pikiran Lana untuk Hana.

"Lan," panggilnya.

"Aku harap kamu nggak lagi ikut campur urusan aku sama Hana. Karena aku paling nggak bisa sabar sama orang yang menyakiti orang yang aku sayang," ucap Reiga tegas.

Lana tersentak. Gigi gadis bergemeretak dengan dua tangan mengepal di dua sisi tubuhnya.

***

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!