NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 | Persiapan di Balik Layar

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Setelah peristiwa kecelakaan bus yang mengerikan itu, pihak sekolah memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar sementara waktu guna pemulihan mental siswa serta perbaikan fasilitas. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dan bersantai. Namun, tidak demikian halnya dengan Iris.

Di dalam ruangan pelatihan khusus yang disebut Shelter, yang terletak di kedalaman bawah tanah apartemennya, Iris tampak sangat serius dan fokus. Ia menggunakan waktu liburnya ini untuk berlatih lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya bergerak lincah menghindari serangan boneka latihan mekanis, sementara pikirannya berkonsentrasi penuh memproses data yang muncul di layar hologram.

"Nona Iris, pertahankan keseimbangan tubuh Anda. Ingat, tujuan utama latihan ini bukan hanya untuk menyerang, tapi juga untuk mendeteksi bahaya sebelum itu terjadi," ujar Kim yang berdiri di sisi ruangan sambil mengawasi perkembangan Iris melalui perangkat tablet di tangannya.

Iris mengangguk sambil mengatur napas. "Siap, Paman Kim. Aku mengerti."

Setelah sesi latihan fisik selesai, Kim mengajak Iris duduk di ruang tengah Shelter. Kali ini, materi yang diberikan Kim berbeda dari biasanya. Di layar monitor di hadapan mereka, muncul berbagai gambar dan data tentang zat-zat kimia berbahaya serta pola perilaku psikologis yang manipulatif.

"Hari ini, kita akan mempelajari materi baru. Mengingat modus operandi musuh yang tampaknya cenderung diam-diam dan halus, Anda harus memiliki kemampuan deteksi yang tajam. Pertama, tentang cara mengenali racun atau zat berbahaya melalui analisis bau, warna, hingga perubahan reaksi tubuh. Kedua, dan ini sama pentingnya, adalah cara mendeteksi ancaman psikologis atau kata-kata yang bertujuan meracuni pikiran," jelas Kim panjang lebar.

"Jadi, maksud Paman... musuh bisa saja menyerang lewat makanan, minuman, atau bahkan lewat ucapan sehari-hari yang terlihat biasa saja?" tanya Iris dengan wajah serius.

"Benar sekali. Serangan semacam ini jauh lebih berbahaya karena tidak terlihat kasat mata. Anda harus selalu waspada dan mengandalkan insting serta data yang ditunjukkan oleh sistem di dalam tubuh Anda," jawab Kim tegas.

Iris menyimak penjelasan itu dengan saksama, bertekad menguasai kemampuan baru ini agar bisa melindungi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya kelak.

................

Setelah berminggu-minggu disibukkan dengan latihan keras dan tekanan batin, Kim merasa bahwa Iris membutuhkan waktu untuk benar-benar beristirahat dan melepaskan penat. Oleh karena itu, pada akhir pekan, Kim mengajak Iris pergi ke sebuah taman hiburan besar yang sedang ramai dikunjungi keluarga dan anak-anak.

Sesampainya di sana, suasana yang ceria, warna-warni, dan suara tawa pengunjung seketika menyambut kedatangan mereka. Wajah Iris yang tadinya cemberut dan tegang perlahan berubah menjadi cerah kembali.

"Ayo, Nona Iris. Hari ini kita tidak membahas latihan atau pekerjaan rumah. Hari ini khusus untuk bersenang-senang," ujar Kim sambil tersenyum hangat.

Mereka berdua mencoba berbagai macam wahana. Mulai dari wahana ringan dan santai seperti kereta api kecil, bianglala raksasa yang menawarkan pemandangan indah dari ketinggian, hingga wahana yang lebih menantang adrenalin seperti komidi putar yang berputar cepat dan kereta luncur yang melaju kencang di atas rel yang berkelok.

Meskipun Kim yang biasanya tenang dan serius tampak sedikit kewalahan menghadapi wahana yang cukup ekstrem itu, namun ia tetap menemani Iris demi melihat keponakannya itu tertawa lepas.

"Wah, wah! Tahan napas, Nona Iris!" seru Kim saat kereta luncur yang mereka tumpuki meluncur turun dengan kecepatan tinggi.

Di sampingnya, Iris malah berteriak kegirangan. "Seru sekali, Paman Kim! Coba lihat pemandangan di bawah sana!"

Sepanjang hari itu, Iris tampak sangat bahagia. Tawa renyahnya terdengar terus-menerus di setiap sudut taman hiburan itu. Beban berat yang selama ini ia pikul seolah terangkat sejenak, digantikan oleh rasa senang dan kedamaian yang jarang ia rasakan.

"Terima kasih, Paman Kim. Ini hari yang sangat menyenangkan," ujar Iris saat mereka duduk beristirahat sambil menikmati es krim di sore hari.

Kim tersenyum lega melihat Iris kembali ceria. "Syukurlah kalau Anda suka. Selama Anda senang, itu sudah lebih dari cukup bagiku."

................

Di sisi lain, di ruang kerja pribadinya yang dingin dan megah, Stella duduk di kursi kebesarannya sambil menatap laporan data di layar komputernya dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.

"Kim ada di sana... Itu artinya pertahanan di sekitar Iris sangat kuat dan berlapis. Mencoba menyerang Iris secara langsung saat Kim sedang mengawasinya sama saja dengan mencari masalah dan memperpendek umur," gumam Stella pelan.

Stella berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota yang sibuk. Ia menyadari bahwa kekuatan yang dimiliki Kim dan sistem pertahanan yang ia bangun membuat Iris menjadi sasaran yang sangat sulit untuk dijangkau secara langsung.

"Jika tidak bisa menyentuh Iris secara fisik karena dijaga ketat oleh Kim, maka aku harus mencari jalan lain. Jika pertahanan fisiknya kuat, mari kita lihat seberapa kuat pertahanan di sekelilingnya. Orang-orang terdekatnya selain Kim... Itulah celah yang bisa kumanfaatkan," ujar Stella dengan nada dingin dan penuh rencana licik.

Stella segera kembali ke meja kerjanya dan mulai memberikan perintah baru kepada bawahannya.

"Pindahkan aset dan pasukan kita ke lokasi yang lebih strategis. Kita tidak akan menyerang sarang lebah itu secara langsung. Alihkan fokus pengawasan dan operasi kita ke lingkaran terdekat Iris selain Kim. Siapa saja orang-orang yang berarti bagi dirinya? Teman sekolah? Sahabat? Atau mungkin keluarga? Cari tahu kelemahan mereka, dan gunakan itu untuk menghancurkan Iris dari dalam," perintah Stella tegas.

Di layar monitornya, mulai bermunculan data-data profil orang-orang di sekitar Iris. Mata Stella menyipit tajam saat melihat wajah Bayu, Faisal, Sandra, dan beberapa nama lainnya.

"Permainan baru akan segera dimulai. Dan kali ini, targetnya bukan sang ratu, tapi bidak-bidak catur di sekelilingnya," gumam Stella dengan senyum misterius yang mengerikan.

Persiapan untuk rencana baru yang jauh lebih jahat dan licik pun mulai dilakukan secara diam-diam.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!