NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERIGALA DI JALUR SUTRA

​Han Feng tidak lagi berjalan kaki seperti peziarah yang lelah. Begitu kakinya meninggalkan ceruk tebing, ia melesat. Tubuhnya seringan bulu, meluncur di antara dahan-dahan pohon raksasa yang tumbuh miring di lereng pegunungan. Setiap kali kakinya menyentuh permukaan kayu, tidak ada suara yang terdengar—hanya hembusan angin tipis yang tertinggal.

​Indranya kini berada pada level yang benar-benar baru. Di tengah kegelapan malam, ia bisa mendengar detak jantung tikus di balik semak-semak, suara kepakan sayap burung hantu di kejauhan, dan yang paling penting: suara denting logam serta teriakan kasar yang berasal dari dasar lembah.

​Bau darah dan debu jalanan terbawa angin sampai ke hidungnya. Han Feng mendarat di dahan pohon tertinggi yang menghadap langsung ke jalan setapak utama menuju Dataran Tengah. Di bawah sana, sebuah karavan besar sedang dalam masalah.

​"Serahkan semua peti giok itu, atau aku akan memastikan kepala kalian menjadi hiasan di tiang gerbang kota!" teriak seorang pria bertubuh raksasa dengan kapak besar di pundaknya. Ia adalah pemimpin bandit "Pasir Besi", kelompok tentara bayaran yang membelot menjadi perampok di wilayah perbatasan.

​Karavan yang dihadang bukanlah karavan sembarangan. Panji naga perak berkibar di atas kereta utama, meskipun kini tampak kusam tertutup debu.

​"Kalian menyerang karavan milik cabang Marga Feng? Apa kalian sudah bosan hidup?!" sahut seorang pria tua dengan luka gores di pipinya. Itu adalah Paman Kun, kepala pengawal karavan. Meski suaranya lantang, tangannya yang memegang pedang tampak gemetar. Pengawalnya yang tersisa hanya tinggal belasan, sementara bandit yang mengepung mereka berjumlah tiga kali lipat.

​Han Feng mengamati dari kegelapan. Ia tidak merasakan ikatan emosional melihat panji naga itu, namun ia butuh informasi. Masuk ke Dataran Tengah sendirian tanpa identitas yang jelas hanya akan memancing perhatian otoritas besar. Bergabung dengan karavan cabang adalah cara tercepat untuk menyelinap.

​"Bunuh mereka semua! Sisakan para wanita!" perintah pemimpin bandit itu.

​Pertempuran pecah kembali. Suara pedang yang beradu dan teriakan kesakitan memecah keheningan malam. Seorang bandit dengan seringai menjijikkan melompat ke arah sebuah kereta barang, mengincar seorang gadis pelayan yang meringkuk ketakutan di sudut. Pedang bandit itu terangkat tinggi, siap menebas.

​Wush!

​Tidak ada yang melihat bagaimana ia datang. Sedetik yang lalu, posisi itu kosong. Sedetik kemudian, sesosok pemuda berjubah hitam berdiri di antara bandit dan gadis pelayan itu.

​Han Feng tidak mencabut pedang besarnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya. Saat pedang bandit itu turun, Han Feng menangkap bilahnya dengan dua jari yang dialiri kilatan petir ungu tipis.

​Krak!

​Bilah baja itu hancur seperti kaca yang dipukul palu. Sebelum bandit itu sempat berteriak, telapak tangan Han Feng mendarat ringan di dadanya. Bunyi tulang rusuk yang patah terdengar renyah. Tubuh bandit itu terpental belasan meter, menabrak pohon hingga tumbang, dan tidak pernah bangun lagi.

​Seluruh medan tempur mendadak sunyi. Paman Kun dan pemimpin bandit berhenti bergerak, menatap pemuda yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.

​"Siapa kau?!" raung pemimpin bandit, sambil mengayunkan kapak besarnya.

​Han Feng tidak menjawab. Ia bergerak seperti asap. Setiap kali tangannya bergerak, seorang bandit jatuh. Ia tidak melakukan gerakan berlebihan; setiap serangan sangat efisien, mengincar titik syaraf atau sendi. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, sepuluh bandit terbaik sudah terkapar di tanah dengan tubuh yang kejang-kejang akibat aliran listrik sisa.

​Pemimpin bandit menyadari bahwa ia baru saja menabrak tembok baja. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan lari ke dalam hutan bersama sisa kawanannya. Han Feng tidak mengejar. Baginya, sampah seperti mereka tidak layak membuang energinya.

​Paman Kun mendekat dengan waspada, pedangnya masih setengah terhunus. Namun, saat ia melihat wajah Han Feng yang bersih, tenang, dan memiliki aura yang begitu dalam, ia secara tidak sadar menurunkan senjatanya.

​"Terima kasih atas bantuannya, Tuan Muda," ucap Paman Kun sambil membungkuk hormat. "Bolehkah kami tahu siapa penolong kami?"

​Han Feng menarik sedikit kerah jubahnya, menyembunyikan lencana naga perunggu di pinggangnya di balik kain. "Panggil aku Han. Aku hanya seorang pengembara yang ingin menuju Kota Sayap Naga. Aku butuh tumpangan."

​Paman Kun melihat sekilas ke arah mayat-mayat bandit. Kekuatan pemuda ini tidak masuk akal untuk usianya. Meskipun curiga, ia tahu bahwa menolak orang sekuat ini adalah ide yang sangat buruk. Apalagi karavannya sudah sangat lemah.

​"Suatu kehormatan bagi kami, Tuan Han. Kami adalah karavan cabang Marga Feng dari wilayah perbatasan barat. Kami sedang menuju Kota Sayap Naga untuk menyerahkan upeti tahunan. Silakan bergabung dengan kami."

​Gadis pelayan yang tadi diselamatkan Han Feng mendekat dengan gemetar, membawakan secangkir teh hangat yang baru saja ia seduh di dalam kereta. "T-terima kasih, Tuan Han," bisiknya dengan wajah memerah.

​Han Feng menerima cangkir itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya. Ia hanya mengangguk tipis tanpa berkata-kata, sebuah gestur yang bagi orang lain terasa dingin, namun bagi gadis itu tampak sangat berwibawa.

​Karavan mulai bergerak kembali. Derit roda kayu dan guncangan kereta menjadi musik pengantar perjalanan. Han Feng duduk bersandar di tumpukan peti kayu di kereta barang paling belakang. Ia tidak lagi bermeditasi secara dalam; ia ingin merasakan denyut kehidupan Dataran Tengah.

​Ia mengeluarkan sebuah peta kasar yang ia pinjam dari Paman Kun. Matanya menyusuri rute perjalanan. Kota Sayap Naga hanyalah titik awal. Di sana, keluarga utama Feng akan mengadakan kompetisi besar—sebuah "pesta darah" untuk mencari talenta baru yang akan dikirim ke keluarga pusat di Dataran Tengah yang lebih dalam.

​"Ternyata sikut-menyikut di keluarga ini lebih parah dari yang Kakek Bo ceritakan," pikir Han Feng. Dari obrolan para pengawal yang ia dengar diam-diam, cabang-cabang keluarga Feng saling menjatuhkan agar bisa mendapatkan kursi di keluarga utama. Ini bukan sekadar keluarga; ini adalah kerajaan kecil yang penuh intrik.

​Di tengah perjalanan, Paman Kun mendekati kereta Han Feng. "Tuan Han, sepertinya Anda bukan orang biasa. Aura Anda... mengingatkanku pada para jenius dari keluarga utama, meskipun mereka biasanya jauh lebih sombong."

​Han Feng melirik pria tua itu. "Aku hanya ingin hidup tenang, Paman Kun. Selama tidak ada yang menggangguku, aku tidak akan mengganggu siapa pun."

​Paman Kun hanya bisa tersenyum getir. Ia tahu, seseorang dengan kekuatan seperti Han Feng tidak akan pernah bisa hidup tenang di Dataran Tengah.

​Tiga hari perjalanan berlalu dengan cepat. Gerbang Kota Sayap Naga yang megah mulai terlihat di cakrawala. Tembok kotanya terbuat dari batu giok hitam yang memancarkan energi pelindung. Namun, di gerbang masuk, suasana tampak berbeda dari biasanya.

​Puluhan utusan berkuda dengan seragam resmi keluarga utama Feng—jubah putih dengan sulaman naga perak—berdiri berjajar. Mereka menghentikan setiap karavan yang masuk.

​Saat karavan Paman Kun tiba di depan gerbang, seorang utusan muda dengan wajah angkuh melangkah maju. Ia memegang sebuah gulungan kertas yang berisi sketsa wajah.

​"Berhenti! Kami sedang mencari buronan yang diduga menyusup dari wilayah pinggiran. Dia membunuh putra Tetua Zhao dan mencuri harta pusaka," ucap utusan itu dengan nada memerintah.

​Han Feng yang duduk di belakang menarik topi jubahnya lebih rendah. Ia melihat sketsa itu. Meskipun tidak sempurna, kemiripannya dengan wajah aslinya mencapai tujuh puluh persen. Sketsa itu diambil dari proyeksi kristal saat ia menghancurkan Long Chen di gunung perbatasan.

​Paman Kun tampak pucat, ia menoleh sekilas ke arah kereta barang tempat Han Feng berada, lalu kembali menatap utusan itu.

​Han Feng mencengkeram gagang pedang di dalam cincin ruangnya. Ia bisa saja menghabisi semua orang di gerbang ini dalam sekejap, tapi itu bukan rencananya. Ia ingin masuk ke jantung keluarga mereka, dan menghancurkannya dari dalam.

​"Permainan dimulai lebih cepat dari yang aku perkirakan," gumam Han Feng pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin yang mematikan.

​Saat utusan itu mulai berjalan menuju kereta barang tempat Han Feng bersembunyi, sebuah ledakan energi tiba-tiba muncul dari arah lain kota, mengalihkan perhatian semua orang. Han Feng tahu, ini adalah kesempatannya untuk menghilang ke dalam keramaian.

​Langkah pertamanya di Dataran Tengah tidak akan dimulai dengan darah, melainkan dengan bayangan yang akan menelan mereka semua.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!