Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 31 :Pegunungan kelabu
Fajar baru saja menyingsing di Valley, namun tidak ada ketenangan di ruang rapat rahasia istana. Theodore berdiri di depan peta besar benua, sementara Julian sibuk membongkar sisa-sisa sirkuit dari kepala Null-Striker yang berhasil dilumpuhkan semalam. George duduk di sudut ruangan, tangannya yang masih terbalut perban akibat luka bakar mana menggenggam erat gagang pedang hitamnya.
"Julian, sudah berapa lama kau mengotak-atik rongsokan itu? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya George dengan suara bariton yang masih terdengar serak.
"Sabar sedikit, Kak. Vektor ini benar-benar jenius yang gila. Dia menggunakan frekuensi mana negatif untuk menggerakkan mesin ini. Jika aku salah potong kabel, seluruh ruangan ini bisa terhisap ke dalam dimensi kehampaan." jawab Julian tanpa mengalihkan pandangan dari alat bedah kecilnya.
"Theodore, bagaimana dengan laporan dari perbatasan? Apa ada pergerakan lagi dari unit-unit logam itu?" tanya George lagi.
Theodore menggeleng pelan, ia menunjuk ke arah pelabuhan Barat di peta. "Sunyi senyap, George. Tapi itu yang justru menakutkan. Dia sengaja menarik mundur semua pasukannya setelah serangan di paviliun gagal. Dia ingin kita merasa bahwa ancaman sudah lewat."
"Dia tidak akan berhenti, Theodore. Pria seperti Vektor tidak mengenal kata menyerah, dia hanya mengenal kata kalkulasi ulang." ujar George dingin.
"Ketemu!" seru Julian tiba-tiba. Ia menarik sebuah chip kristal kecil yang berdenyut dengan cahaya ungu redup. "Ini adalah kotak hitam mereka. Semua perintah dikirim melalui sinyal dari satu titik koordinat tetap di Pegunungan Kelabu."
"Pegunungan Kelabu? Itu wilayah tak bertuan di perbatasan Barat Utara." Theodore mengamati peta. "Tempat itu penuh dengan gua kristal yang bisa meredam sinyal sihir. Pantas saja intelijen kita tidak pernah menemukannya."
"Aku akan berangkat sekarang juga." George berdiri, namun langkahnya terhenti saat Celestine masuk ke ruangan dengan wajah tegas.
"Kau tidak akan pergi sendirian, George. Tidak setelah apa yang terjadi kemarin." kata Celestine. Ia kini tidak lagi memakai gaun sutra, melainkan zirah ringan berwarna perak dengan simbol matahari di dadanya.
"Celestine, ini wilayah yang sangat berbahaya. Kau harus tetap di sini untuk menjaga Ibu dan sistem irigasi paviliun." George mencoba membujuk.
"Ibu Eleanor sudah dijaga oleh Master Eldric dan pasukan elit kavaleri. Dan soal paviliun, aku sudah memasang segel cahaya yang tidak bisa ditembus oleh residu kehampaan." Celestine melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah George. "Kau butuh cahayaku untuk melawan kegelapan Vektor. Kau lihat sendiri kemarin, mesin-mesin itu tidak bisa menyerap energiku."
George menatap Theodore dan Julian, mencari dukungan, namun keduanya justru mengangguk setuju dengan Celestine.
"Dia benar, Kak. Vektor merancang semuanya khusus untuk melawanmu. Kau adalah variabel yang sudah dia hitung. Tapi Kak Celestine? Dia adalah variabel acak yang bisa merusak seluruh persamaannya." Julian menjelaskan sambil memasukkan chip ungu itu ke dalam kantong pelindung.
"Baiklah. Tapi kita harus bergerak cepat dan senyap. Kita akan menggunakan kapal terbang kecil, bukan Aurora." putus George akhirnya.
"Aku sudah menyiapkannya di dek rahasia. Kapal 'Swift-Wing'. Kecil, cepat, dan punya modul kamuflase." kata Theodore. "Aku akan ikut bersama kalian."
"Kau Raja, Theodore. Kau tidak bisa meninggalkan tahta sesuka hati." potong George.
"Justru karena aku Raja, aku harus memastikan parasit seperti Vektor tidak punya kesempatan untuk menyentuh tanahku lagi. Urusan istana sudah kuserahkan pada dewan penasihat dan Jenderal kavaleri senior." Theodore mengambil pedang emasnya.
'Mereka semua sudah berubah. Tidak ada lagi yang ragu-ragu. Badai semalam benar-benar membangunkan singa di dalam diri mereka,' batin George dengan rasa bangga yang terselip di hatinya.
Beberapa jam kemudian, kapal Swift-Wing meluncur membelah awan menuju arah Barat. Di dalam kabin yang sempit, suasana terasa tegang. Julian sibuk memantau radar transmisi, sementara Celestine sedang mengasah belati cahayanya.
"George, apa kau merasa ada yang aneh dengan udara di sekitar kita?" tanya Celestine tiba-tiba.
George memejamkan mata, merasakan aliran mana di atmosfer. "Terasa sangat berat. Seolah-olah ada magnet raksasa yang sedang menarik mana dari sekitar kita."
"Itu karena kita sudah memasuki zona pengaruh menara transmisi Vektor." Julian menunjuk ke arah luar jendela. "Lihat di bawah sana."
Di balik kabut tipis Pegunungan Kelabu, terlihat sebuah menara logam raksasa yang bentuknya menyerupai duri hitam yang menusuk langit. Di sekeliling menara itu, ribuan Null-Strikers berdiri dalam formasi yang sangat rapi, tidak bergerak sama sekali.
"Gila... dia sedang membangun pasukan dalam jumlah besar." Theodore berbisik ngeri.
"Itu bukan sekadar pasukan, Theodore. Itu adalah jaringan syaraf. Menara itu adalah otaknya. Jika kita bisa menghancurkan inti menara itu, semua mesin itu akan menjadi rongsokan tidak berguna." George menganalisa dengan cepat.
Tiba-tiba, suara statis terdengar dari speaker kapal.
"Selamat datang di laboratorium pribadiku, Jenderal Augustine. Dan ah, Raja Theodore, Putri Celestine, dan si kecil Julian... kalian membawakan semua subjek penelitianku dalam satu paket cantik." suara Vektor menggema, sangat tenang dan menyebalkan.
"Vektor! Tunjukkan dirimu! Berhenti bersembunyi di balik mesin-mesin ini!" teriak George ke arah speaker.
"Aku ada di mana-mana, George. Di dalam kabel-kabel ini, di dalam udara yang kau hirup, dan segera... aku akan berada di dalam inti manamu." Vektor tertawa kecil. "Silakan mendarat. Aku sudah menyiapkan karpet merah untuk kalian."
Kapal Swift-Wing dipaksa mendarat oleh tarikan magnetik yang sangat kuat ke sebuah landasan di puncak menara. Saat pintu terbuka, mereka disambut oleh lorong panjang yang dindingnya terbuat dari kaca, memperlihatkan proses pembuatan Null-Strikers yang mengerikan. Manusia-manusia malang yang telah dicuci otaknya terlihat dipasangi komponen mesin di dalam tabung-tabung cairan.
"Ini biadab... ini melanggar hukum alam!" Celestine menutup mulutnya karena mual melihat pemandangan itu.
"Ini adalah evolusi, Putri. Alam terlalu lambat untuk menciptakan kesempurnaan, jadi aku membantunya sedikit." Vektor muncul di ujung lorong. Ia tidak terlihat seperti pejuang; ia memakai jubah lab panjang, namun tangannya memegang sebuah tongkat yang ujungnya berisi kristal kehampaan yang berdenyut.
"Kau akan membayar untuk setiap nyawa yang kau rusak, Vektor." George menghunus pedang hitamnya, petir biru langsung meledak menyelimuti tubuhnya.
"Jangan terburu-buru, George. Kau ingin tahu rahasia kecilku? Kenapa mawar saljumu bisa terinfeksi begitu mudah?" Vektor melangkah maju dengan tenang. "Itu karena mawar itu merespons kebencian. Dan di dalam hatimu, George, masih ada setitik kebencian yang mendalam terhadap ayahmu, terhadap Orde, dan terhadap dirimu sendiri. Itulah pintu masukku."
'Dia mencoba menyerang mental kita. Jangan dengarkan dia!' batin George memperingatkan dirinya sendiri.
"George, jangan dengarkan dia! Dia hanya mencoba mengacaukan frekuensi manamu!" teriak Celestine sambil melepaskan gelombang cahaya untuk menetralkan aura negatif di ruangan itu.
"Cahaya yang manis. Tapi mari kita lihat, apakah cahaya bisa bersinar di dalam kehampaan total?" Vektor menghentakkan tongkatnya ke lantai.
Seketika, seluruh dinding kaca pecah dan kegelapan pekat menelan mereka. Theodore dan Julian terpisah dari pandangan George. Hanya ada suara mesin yang menderu dan tawa Vektor yang berpindah-pindah.
"Theodore! Julian! Celestine! Di mana kalian?!" teriak George.
"Aku di sini, George! Jangan bergerak, aku akan mencoba menerangi area ini!" suara Celestine terdengar dari arah kanan.
"Target pertama: Sang Raja." suara Vektor terdengar dingin.
Tiba-tiba, terdengar dentuman logam dan teriakan Theodore. George mencoba berlari ke arah suara itu, namun sebuah Null-Striker raksasa muncul dari kegelapan dan menghantamnya dengan tinju berat.
"Argh!" George terlempar menghantam dinding logam.
"George, fokus! Gunakan petirmu untuk mencari jejak mananya!" Julian berteriak dari suatu tempat. "Dia menggunakan perangkat pengacau sensor, tapi dia tidak bisa menyembunyikan panas dari intinya!"
George mengatur napasnya. Ia memejamkan mata, mematikan semua inderanya kecuali rasa terhadap aliran listrik. 'Di sana... sepuluh meter di depan, sedikit ke kiri.'
"Dapat kau!" George meluncur seperti kilat, pedangnya menebas kegelapan.
"CLANG!"
Pedang George beradu dengan tongkat kristal Vektor. Vektor tampak terkejut karena George bisa menemukannya begitu cepat. "Refleks yang mengesankan, Jenderal. Tapi kau lupa satu hal. Aku tidak bertarung sendirian."
Dua Null-Striker muncul dari samping George, siap menghujamkan bilah energi mereka. Namun, sebelum mereka sampai, dua anak panah cahaya menghantam sensor mata mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!" Celestine berdiri di samping George, tangannya bersinar terang seperti matahari kecil.
"Julian! Theodore! Sekarang!" teriak George.
Theodore muncul dari balik bayangan dan menghantam kaki salah satu robot, sementara Julian melemparkan granat magnetik ke arah pusat kontrol di dinding.
"BUM!"
Lampu ruangan kembali menyala. Vektor mundur beberapa langkah, wajahnya kini menunjukkan sedikit kemarahan. "Kalian... kalian mengacaukan laboratoriumku!"
"Kami tidak hanya akan mengacaukan laboratoriummu, Vektor. Kami akan menghancurkan seluruh ambisi gilamu." George menunjuk Vektor dengan pedangnya.
"Ini belum berakhir! Kalian pikir menghancurkan tempat ini akan menghentikanku? Aku telah mengunggah kesadaranku ke dalam jaringan global!" Vektor tertawa histeris sambil menekan sebuah tombol di tongkatnya.
"Dia akan meledakkan menara ini! Kita harus pergi sekarang!" teriak Julian sambil melihat indikator di jam tangannya.
"Tidak sebelum aku memastikan dia benar-benar tamat!" George hendak menerjang, namun Theodore menahannya.
"George! Pikirkan Celestine dan Ibu! Kita tidak bisa mati di sini hanya untuk mengejar bayangan! Julian benar, menara ini akan runtuh dalam tiga puluh detik!" seru Theodore.
George menatap Vektor yang perlahan-lahan larut ke dalam aliran data digital di menara itu. "Ini bukan akhir, George Augustine! Kita akan bertemu lagi di setiap kabel dan setiap mesin yang kau sentuh!"
"Cepat! Masuk ke kapal!" George akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menarik Celestine menuju Swift-Wing.
Mereka meluncur keluar dari landasan tepat saat menara itu meledak dalam bola api ungu yang raksasa. Gelombang kejutnya hampir menjatuhkan kapal mereka, namun Julian berhasil menstabilkan kemudi.
Di dalam kapal, semuanya terdiam, napas mereka memburu. Puncak Pegunungan Kelabu kini dipenuhi oleh sisa-sisa logam yang terbakar.
"Apakah dia... benar-benar mati?" tanya Celestine pelan.
"Tubuh fisiknya mungkin hancur. Tapi apa yang dia katakan tadi soal mengunggah kesadaran... itu mengkhawatirkanku." jawab Julian sambil menatap layar radarnya yang masih menunjukkan gangguan statis.
George duduk di kursi belakang, memegang tangan Celestine. "Apa pun yang dia rencanakan, kita sudah tahu cara melawannya. Kita tidak lagi berjuang sendirian."
"Benar. Dan kita punya sesuatu yang tidak dia miliki." Theodore menoleh ke arah mereka sambil tersenyum tipis. "Kita punya sesuatu untuk dijaga, dan itu membuat kita tidak terkalahkan."
Swift-Wing bergetar hebat saat melewati awan panas sisa ledakan. Di dalam kabin, George masih menatap ke arah reruntuhan menara yang kini tertutup kabut ungu. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit mencengkeram sandaran kursi hingga kayunya berderit.
"George, tenanglah. Kau sudah melakukan apa yang kau bisa. Menara itu hancur." Celestine mengusap pundak George, mencoba menyalurkan kehangatan untuk meredam aura dingin yang memancar dari tubuh tunangannya.
"Dia belum mati, Celestine. Aku bisa merasakannya. Saat pedangku beradu dengan tongkatnya, rasanya bukan seperti menebas manusia. Tidak ada getaran kehidupan di sana." George menoleh ke arah Julian. "Julian, periksa jaringan frekuensi di sekitar sini. Apakah ada lonjakan data setelah ledakan?"
Julian dengan cepat menekan tombol-tombol pada panel instrumen kapal. Dahinya berkerut, matanya bergerak cepat mengikuti grafik yang naik turun di layar kristal. "Tunggu... ini aneh. Ada transmisi terenkripsi yang keluar tepat dua detik sebelum menara meledak. Arahnya menuju... satelit komunikasi kuno di orbit rendah?"
"Satelit? Sejak kapan Orde punya akses ke teknologi luar angkasa?" Theodore yang sedang mengemudikan kapal ikut menoleh dengan wajah tegang.
"Vektor bukan Orde biasa, Theodore. Dia adalah sisa-sisa dari era 'Kehampaan Besar' yang menguasai teknologi transmisi jiwa." Julian menjelaskan sambil mencoba mencegat sinyal tersebut. "Sial, sinyalnya menghilang. Dia sudah masuk ke jaringan global Valley."
"Artinya, dia bisa muncul di mana saja? Di sistem pertahanan kota? Di laboratorium Eldric?" tanya Celestine dengan nada cemas.
"Mungkin lebih buruk. Dia bisa ada di setiap perangkat alkimia yang terhubung dengan transmisi mana." jawab Julian pelan.
George berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap daratan Valley yang mulai terlihat di cakrawala. "Jika dia ada di jaringan, maka dia akan mengincar jantung pertahanan kita. Theodore, perintahkan dewan untuk segera mematikan semua menara transmisi mana jarak jauh. Kita harus kembali ke sistem manual sementara waktu."
"Itu akan melumpuhkan ekonomi dan komunikasi kita, George. Rakyat akan panik." bantah Theodore.
"Lebih baik rakyat panik daripada mereka terbangun dengan Null-Strikers di depan pintu rumah mereka karena sistem gerbang kita diretas oleh Vektor!" sahut George dengan tegas.
'Dia tidak akan menyerang dengan pasukan lagi. Dia akan menggunakan ketakutan dan sabotase,' batin George.
Tiba-tiba, lampu di dalam kapal Swift-Wing berkedip-kedip. Layar instrumen Julian berubah menjadi statis dan memunculkan wajah digital yang terdistorsi. Itu adalah wajah Vektor, namun terbuat dari ribuan baris kode biner yang bersinar ungu.
"George... apakah kau merindukanku?" suara Vektor terdengar dari speaker kapal, namun suaranya kini terdengar seperti ribuan suara yang digabungkan.
"Vektor! Keluar dari sistem kapal kami!" teriak Julian sambil mencoba memutus sambungan kabel secara manual.
"Kapal ini terlalu kecil untukku, Julian. Aku sedang menjelajahi tempat yang lebih menarik. Tahukah kalian bahwa irigasi di Paviliun Mawar memiliki sistem sensor otomatis yang terhubung ke gudang kimia pusat?" Vektor tertawa, suara tawanya memantul di seluruh kabin.
"Apa yang kau lakukan pada Ibu?!" George berteriak, matanya berkilat petir.
"Aku hanya memberikan sedikit 'nutrisi' tambahan. Jika kalian tidak sampai dalam sepuluh menit, mawar kristal itu akan melepaskan gas kehampaan yang akan menidurkan seluruh penghuni istana... selamanya."
"Putus komunikasinya, Julian! Sekarang!" perintah Theodore sambil memacu mesin Swift-Wing hingga batas maksimal.
Julian memotong kabel utama, membuat layar kembali gelap, namun suasana di dalam kapal tetap mencekam. Theodore mengarahkan moncong kapal lurus menuju istana Valley.
"Kita tidak akan sempat, Theodore! Jaraknya masih terlalu jauh untuk kecepatan kapal ini!" teriak Julian.
George menatap Celestine. "Celestine, kau ingat teknik 'Jembatan Cahaya' yang kita pelajari di menara?"
"George, itu sangat berisiko! Jika frekuensi petirmu tidak selaras dengan cahayaku, kita akan hancur menjadi partikel!" Celestine memegang tangan George dengan erat.
"Kita tidak punya pilihan. Vektor ingin kita terlambat agar dia bisa menghancurkan mental kita. Kita harus melompati ruang." George berdiri di depan pintu keluar kapal. "Theodore, buka pintu pendaratan!"
"Kau gila, George! Kita berada di ketinggian tiga ribu kaki!" seru Theodore, namun ia tetap menekan tombol pembuka pintu.
Angin kencang menderu masuk ke dalam kabin. George merangkul pinggang Celestine. Petir biru mulai meledak-ledak di sekujur tubuh George, sementara Celestine memejamkan mata, memfokuskan seluruh cahaya mataharinya hingga tubuh mereka berdua bersinar seperti bintang jatuh.
"Julian, Theodore, sampai jumpa di bawah!" seru George.
Mereka berdua melompat keluar dari kapal. Di udara, petir George membentuk jalur linier yang panjang, sementara cahaya Celestine membungkus mereka seperti peluru emas. Dalam sekejap, mereka meluncur melintasi langit Valley dengan kecepatan yang melampaui suara, meninggalkan dentuman sonik yang memecah awan.
'Sedikit lagi... bertahanlah, Ibu! Bertahanlah, Eldric!' batin George sambil menahan panas yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
Hanya dalam hitungan detik, mereka mendarat di tengah Paviliun Mawar dengan ledakan energi yang cukup besar hingga membuat tanah bergetar. George segera berdiri dan berlari menuju pintu laboratorium Eldric yang sudah tertutup kabut ungu tipis.
"Eldric! Ibu!" George menghantam pintu dengan bahunya, namun pintu itu tersegel secara digital.
"Cahaya Pemutus!" Celestine menembakkan laser kecil dari jarinya tepat ke arah panel kunci.
Pintu terbuka, dan mereka menemukan Eldric serta Eleanor tergeletak pingsan di lantai, sementara tangki nutrisi di sudut ruangan mengeluarkan uap ungu yang pekat.
"Celestine, bersihkan udaranya! Aku akan mematikan tangkinya secara manual!" perintah George.
George berlari ke arah tangki, namun tiba-tiba kabel-kabel di sekitar ruangan bergerak seperti ular, mencoba melilit kakinya. Vektor sedang mengendalikan infrastruktur laboratorium.
"Kau terlambat, George... racunnya sudah masuk ke paru-paru mereka," suara Vektor terdengar dari pengeras suara darurat.
"Belum!" George mengepalkan tangan kristalnya, melepaskan gelombang elektromagnetik skala besar (EMP) yang meledak dari pusat tubuhnya. "MATI KAU, PARASIT!"
Seluruh peralatan elektronik di ruangan itu meledak seketika. Kabel-kabel yang tadinya bergerak jatuh tak bernyawa. Kabut ungu berhenti mengalir karena mesin pompanya hancur. Celestine segera menciptakan pusaran angin cahaya yang menyedot sisa-sisa uap beracun keluar melalui jendela.
"Ibu... Ibu, bangunlah!" George memangku kepala Eleanor.
Eleanor terbatuk, matanya terbuka perlahan. "George... kenapa kau... sangat berisik..."
George bernapas lega, ia memeluk ibunya dengan erat. Eldric juga mulai tersadar dan meraba-raba kacamatanya yang jatuh.
"Jenderal... apa yang terjadi? Aku tadi sedang mencampur obat, lalu semuanya menjadi gelap..." gumam Eldric bingung.
"Vektor meretas sistemmu, Master. Tapi semuanya sudah berakhir untuk sekarang." George berdiri, wajahnya menunjukkan ketegasan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Swift-Wing mendarat di pelataran. Theodore dan Julian berlari masuk dengan pedang terhunus.
"Apa mereka selamat?" tanya Theodore terengah-engah.
"Ya. Tapi Vektor benar-benar ada di dalam jaringan kita sekarang. Dia bukan lagi musuh di perbatasan, dia adalah hantu di dalam rumah kita sendiri." jawab George.
"Julian, kumpulkan semua ahli teknologi yang tersisa. Kita akan membangun 'Dinding Api Alkimia'. Tidak boleh ada satu pun sinyal yang masuk atau keluar tanpa izin manual dariku." perintah Theodore.
George menatap mawar kristal yang kini bersinar redup di tengah kekacauan. Ia menyadari bahwa pernikahan mereka mungkin harus ditunda lagi, karena perang ini telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar adu pedang.
"Vektor ingin kita takut pada teknologi kita sendiri. Dia ingin kita terisolasi." George menoleh ke arah teman-temannya. "Tapi dia lupa, kekuatan kita bukan pada mesin. Kekuatan kita ada pada satu sama lain."