NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Bianca, gadis yatim piatu yang berjuang sendiri. Hatinya terbagi antara Barra, cinta lama yang kandas karena kesalahpahaman yang sengaja diracik oleh Aza demi menghancurkan mereka. Atau Leo, sosok baru yang hadir membuatnya kembali tersenyum dan bangkit dari duka.

Bianca mengira pilihannya hanya soal cinta. Namun ia lupa, tak semua senyum itu tulus. Di balik kedekatan dan kebaikan, tersembunyi dendam, kebohongan, dan bahaya yang siap mengancam nyawanya.

Siapa yang akan ia pilih? Akankah membawa bahagia, atau justru awal mula kehancurannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Dunia Ini sempit

Seperti biasa, setiap pagi Leo datang menjemput Bianca di rumahnya untuk berangkat kuliah bersama. Tapi dari seberang jalan ada seorang pria yang memperhatikan Leo dan juga Bianca, siapa lagi kalau bukan Barra.

Barra masih tidak percaya dengan pernyataan Bianca kalau lelaki yang ada di sebelah Bianca adalah pacarnya. Pasalnya, Barra dan Bianca dulu sangat saling mencintai. Sangat aneh menurut Barra jika dalam waktu 1 tahun saja Bianca sudah tidak mencintainya lagi.

Barra terus mengikuti mereka sampai ke kampus. Leo yang sadar bahwa mereka diikuti, lalu memberitahu Bianca kalau Barra mengikuti mereka dari tadi.

Bianca curiga kalau Barra masih tidak percaya dengan ucapannya yang kemarin. Oleh karena itu, Bianca meminta tolong kepada Leo untuk sementara berpura-pura menjadi pacarnya. Dengan senang hati, Leo menerima permintaan Bianca.

Sesampainya di tempat parkir kampus, Leo turun untuk membukakan pintu mobil bagi Bianca. Saat Leo menggenggam tangan Bianca untuk membantunya keluar, Barra yang melihat kejadian itu merasa sangat marah hingga ia mengepalkan tangannya. Namun, Barra tidak bisa berbuat apa-apa karena Bianca sama sekali tidak mau mendengarkannya.

Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil mewah berwarna merah yang berhenti tepat di depan Leo dan Bianca. Bianca dan Leo merasa heran, mobil siapa ini karena mereka baru pertama kali melihatnya di kampus.

Seorang wanita keluar dari mobil itu. Leo dan Bianca terkejut melihat wanita itu adalah Aza. Dengan sangat bersemangat, Aza memanggil nama Bianca dan langsung datang memeluknya.

Bianca yang masih terkejut tersentak, lalu tersenyum kepada Aza dan membalas pelukan itu. Leo seketika pergi meninggalkan mereka berdua. Melihat Leo pergi, Bianca ingin menyusulnya namun ditahan oleh Aza karena ada banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Aza kepada Bianca.

Di taman kampus, Leo duduk sendirian sambil mengenang masa lalunya dengan Aza. Ternyata, Aza adalah mantan pacar Leo yang tiba-tiba pergi ke luar negeri untuk belajar dan memutuskan hubungannya dengan Leo agar ia bisa fokus mengurus karier dan pendidikannya.

Sebelum pergi, Aza pernah berkata kepada Leo bahwa mereka tidak cocok dan harus mengakhiri hubungan tersebut. Leo juga masih bingung kenapa Aza tiba-tiba kembali, dan menurutnya jangka waktu yang diambil Aza terbilang sangat singkat untuk masa belajar di luar negeri. Apakah ada alasan lain? Dan kenapa Aza serta Bianca saling mengenal dengan akrab?

Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Leo, dan ia bertekad akan segera mencari tahu jawabannya.

Bianca dan Aza duduk di kafe kampus sambil mengenang masa lalu. Barra juga masih mengawasi mereka dari kejauhan dengan harapan Aza akan membantunya berbicara dengan Bianca. Namun sayangnya, bukannya membantu Barra, Aza malah menceritakan keseruan dan kesenangan mereka selama di luar negeri. Hal itu justru membuat Bianca semakin membenci Barra, karena di sini Bianca menahan rasa sakit dan kesedihan sendirian, sedangkan Barra terlihat sangat bahagia di sana.

Bianca yang merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu pun berpamitan kepada Aza karena ia ingin mencari Leo, pacarnya. Aza spontan terkejut dan bertanya apakah pria yang ada di tempat parkir tadi adalah pacar Bianca. Sebelum pergi, Bianca membenarkan pertanyaan Aza tersebut.

Aza tersenyum senang mendengar pernyataan Bianca. Artinya, rencananya berhasil dan tidak sia-sia ia kembali ke Indonesia.

Aza pun teringat kembali rencananya untuk memisahkan Barra dan Bianca, di mana surat yang dititipkan Barra untuk Bianca dulunya telah diganti oleh Aza dengan surat yang isinya berbeda. Aza merasa semesta sedang berpihak padanya karena ternyata Bianca kini berpacaran dengan mantan kekasihnya, Leo.

Aza berpikir semua ini akan menjadi sangat mudah ke depannya.

Barra yang dari tadi menunggu Aza dan Bianca selesai berbicara, akhirnya langsung mendatangi Aza dengan harapan mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan Bianca.

Namun, Aza justru memasang wajah sedih dan meminta maaf kepada Barra karena ia tidak berhasil membujuk Bianca. Aza juga mengatakan kepada Barra kalau Bianca sudah memiliki pacar bernama Leo.

Mendengar hal itu, Barra langsung merasa marah dan berkata bahwa ia tidak percaya Bianca bisa secepat itu melupakannya. Setelah itu, Barra pergi meninggalkan Aza.

Aza tersenyum sinis. Di dalam hatinya ia berkata: "Kalau Bianca tahu alasan sebenarnya Lo pergi ke luar negeri itu untuk menemani nyokap Lo berobat, mungkin saja dia akan memaafkan Lo. Tapi sayangnya, yang dia tahu hanyalah Lo pergi meninggalkannya tanpa kejelasan, bahkan mengakhiri hubungan hanya lewat sepucuk surat."

"Sungguh dunia ini sangat sempit ya. Mantan pacar gue kini menjalin hubungan dengan Bianca, dan mantan pacarnya Bianca, yaitu Barra, akan segera menjadi milik gue sepenuhnya," ucap Aza sambil tersenyum licik.

Sementara itu, Bianca masih mencari keberadaan Leo namun belum menemukannya. Akhirnya Bianca menelepon Leo dan menanyakan di mana ia berada. Leo menjawab bahwa ia sedang ada di taman kampus.

Bianca langsung mematikan ponselnya dan segera menemui Leo di taman.

Melihat Leo yang sedang melamun, Bianca bertanya: "Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Leo menjawab bahwa ia baik-baik saja dan tidak sedang memikirkan apa-apa. Namun, Bianca merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Leo.

Bianca pun langsung bertanya: "Apakah kamu mengenal Aza?"

Leo merasa bingung harus menjawab apa. Sebab ia memang mengenal Aza, dan jika ia berbohong, bisa saja nanti Aza sendiri yang akan memberitahu Bianca. Akhirnya, Leo memilih untuk mengatakan yang sejujurnya namun secukupnya saja.

Leo menjawab: "Iya, aku mengenal Aza. Ibunya Aza berteman baik dengan ibuku, karena itulah kami saling mengenal."

Bianca kembali bertanya: "Terus kenapa tiba-tiba kamu pergi begitu saja saat Aza datang?"

Leo pun mencari alasan yang masuk akal: "Aku hanya ingin memberi ruang agar kalian bisa mengobrol dengan leluasa, soalnya aku lihat kalian terlihat sangat akrab."

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang memanggil nama Bianca dari belakang. Ternyata itu adalah Dinda. Dinda langsung menghampiri mereka dengan wajah kesal dan marah karena merasa dilupakan. Padahal baru saja Leo dan Bianca terlihat berbaikan kembali. Leo dan Bianca hanya tertawa melihat tingkah lucu Dinda.

Dinda kemudian ingin mengajak Bianca bicara berdua dan meminta izin kepada Leo untuk membawa Bianca pergi sejenak.

"Nona manisku aku bawa dulu ya, Leo. Sampai jumpa," ucap Dinda sambil menarik tangan Bianca untuk pergi dari sana.

Leo hanya tersenyum malu karena diejek oleh Dinda mengenai panggilan sayangnya kepada Bianca.

Leo pun menjawab dengan nada bercanda: "Jangan lupa Lo kembalikan nona manis gue dengan selamat ya," ucap Leo kepada Dinda.

Dinda dan Bianca pun meninggalkan Leo yang masih duduk di taman.

Dinda membawa Bianca ke sudut kampus untuk menanyainya. Dinda ingin memastikan apakah pria yang membuat Bianca bereaksi aneh kemarin adalah Barra, siswa baru di kampus mereka. Bianca menjelaskan kepada Dinda bahwa benar orang itu adalah Barra, dan ia juga menegaskan bahwa ia tidak ingin lagi berurusan atau berhubungan dengan Barra.

Oleh karena itu, Bianca berharap Dinda mengerti dan meminta Dinda untuk menjauhkan diri juga agar tidak terlibat dengan Barra. Dinda menganggukkan kepala tanda mengerti dan akan menuruti permintaan sahabatnya itu.

Kelas pagi pun dimulai. Dinda dan Bianca mengikuti pelajaran dan duduk bersebelahan karena mereka berada di kelas yang sama.

Di ruangan kelas lain, atau bisa dibilang kelas VIP karena di dalamnya berkumpul anak-anak dari keluarga konglomerat, Aza, Leo, dan juga Barra berada di kelas yang sama. Aza masuk ke dalam kelas tanpa menyapa Leo seolah-olah mereka tidak saling mengenal sama sekali. Aza duduk di dekat Barra, namun Barra sama sekali tidak mempedulikannya. Yang ada di pikiran Barra saat ini hanyalah bagaimana cara agar ia bisa bicara dan berdamai dengan Bianca.

Setelah jam kuliah selesai, Barra mulai mencari informasi mengenai Bianca kepada teman sekelasnya. Ia pun mengetahui bahwa Bianca memiliki teman dekat bernama Dinda. Barra juga berhasil mencari nomor telepon Dinda dan segera mendapatkannya. Bagi Barra, mencari informasi semacam itu bukanlah hal yang sulit.

Barra pun mencoba menghubungi nomor telepon Dinda.

Dinda mengangkat teleponnya dan bertanya siapa yang meneleponnya. Tanpa bertele-tele, Barra langsung memperkenalkan dirinya.

Mendengar suara itu, Dinda langsung terkejut dan segera mematikan sambungan telepon serta memblokir nomor Barra agar tidak bisa menghubunginya lagi. Ia melakukan hal itu karena mengingat pesan Bianca agar ia tidak boleh berurusan dengan Barra. Barra pun merasa bingung dan kehabisan akal. Apa yang akan dilakukan Barra selanjutnya?

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!