NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Rapat penting itu akhirnya selesai, tetapi tidak membawa kelegaan bagi Erlan. Ia justru duduk diam di kursinya, menatap kosong ke arah jendela ruang kerjanya. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan. Tangan kanannya mengetuk meja dengan ritme tidak teratur, tanda pikirannya sedang kacau.

“Semua ini membuang waktu,” gumamnya pelan, tetapi cukup terdengar oleh Adi dan Rama yang masih berdiri di hadapannya.

Adi dan Rama saling bertukar pandang. Mereka sudah terbiasa melihat sisi dingin Erlan, tetapi hari ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih personal.

Erlan menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Di saat aku seharusnya bersama Kirana,” lanjutnya dengan nada datar namun sarat emosi, “aku malah duduk di sini, mendengarkan laporan yang bahkan tidak ingin aku dengar.”

Rama mencoba bersikap profesional. Ia melangkah sedikit maju.

“Pak Erlan, itu memang bagian dari tanggung jawab Anda sebagai wakil direktur utama. Rapat tadi sangat penting untuk kelangsungan perusahaan.”

Erlan menoleh tajam. Tatapannya dingin, hampir menusuk.

“Tanggung jawab?” ulangnya pelan. “Aku tahu itu tanggung jawabku.”

Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan ke arah jendela. Pemandangan kota yang sibuk di bawah sana tidak menarik perhatiannya sama sekali.

“Aku dulu mati-matian untuk mendapatkan posisi ini,” katanya lagi, kali ini lebih lirih. “Aku pikir ini tujuan akhirku.”

Ia terdiam sejenak.

“Tapi apa yang aku dapatkan?” lanjutnya. “Aku kehilangan Linda. Aku bahkan tidak ada saat dia mengandung Kirana.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Adi menunduk sedikit. Ia mengingat jelas percakapan antara Erlan dan Linda pagi tadi. Kata-kata Linda masih terngiang di kepalanya. Dan ia tahu, itu bisa menjadi kunci untuk menghadapi bosnya yang keras kepala ini.

Erlan kembali ke meja dan duduk dengan kasar.

“Posisi ini,” katanya sambil menatap dokumen di depannya tanpa benar-benar melihat, “tidak ada artinya lagi.”

Rama mengerutkan kening, tetapi tidak berani menyela.

“Aku tidak peduli lagi dengan perusahaan ini,” lanjut Erlan. “Aku hanya ingin hidup tenang bersama Linda dan Kirana. Itu saja.”

Adi menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ini berisiko, tetapi jika tidak dilakukan sekarang, keadaan bisa semakin buruk.

“Pak,” ucap Adi hati-hati.

Erlan mengangkat alis, memberi isyarat agar ia melanjutkan.

“Jika Anda meninggalkan tanggung jawab ini…” Adi berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. “Saya rasa Bu Linda tidak akan setuju.”

Suasana langsung berubah.

Erlan menatapnya tajam. Kali ini bukan sekadar dingin, tetapi penuh peringatan.

“Maksudmu?”

Adi menelan ludah, tetapi tetap melanjutkan.

“Bu Linda tidak akan mau hidup dengan seseorang yang lari dari tanggung jawabnya,” katanya. “Jika Anda ingin bersama Bu Linda dan Kirana… Anda harus tetap menjalankan peran Anda dengan baik.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tatapan Erlan semakin tajam. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan mendekati Adi.

“Jangan,” katanya pelan namun tegas, “pernah menggunakan Linda untuk mengaturku.”

Adi refleks menunduk sedikit.

“Saya tidak bermaksud seperti itu, Pak. Saya hanya—”

“Cukup,” potong Erlan.

Namun Adi tidak mundur sepenuhnya. Ia tetap berdiri tegak, meski jelas ada ketegangan di wajahnya.

“Saya hanya ingin mengingatkan,” lanjutnya, “bahwa Bu Linda adalah alasan terbaik bagi Anda untuk tetap berjalan ke depan.”

Rama yang sejak tadi diam akhirnya mulai memahami arah pembicaraan ini. Ia mengingat detail kejadian pagi tadi yang sempat diceritakan Adi. Perlahan, sebuah ide muncul di pikirannya.

Jika Linda bisa membuat Erlan bergerak… maka itu bisa menjadi cara paling efektif untuk menjaga stabilitas kerja mereka.

Erlan akhirnya mengalihkan pandangan, kembali ke kursinya.

“Cukup,” katanya lagi, kali ini lebih tenang. “Aku tidak ingin membahas ini lagi.”

Suasana kembali hening.

Beberapa saat kemudian, Erlan membuka salah satu dokumen di mejanya, mencoba mengalihkan fokus.

“Tentang rumah kemarin,” katanya tiba-tiba, tanpa menatap mereka. “Sudah diperiksa?”

Adi segera menjawab, bersyukur topik pembicaraan berubah.

“Sudah, Pak. Saya sudah mengecek semuanya. Kondisinya sangat baik.”

“Perabotan?”

“Sedang dalam proses pengisian, Pak. Semua yang Anda minta sedang disiapkan. Mulai dari furnitur, peralatan dapur, hingga fasilitas tambahan.”

Erlan mengangguk pelan.

“Pastikan semuanya yang terbaik.”

“Baik, Pak.”

“Dan…” Erlan berhenti sejenak, lalu menatap Adi. “Jika sudah siap, antar Linda ke sana.”

Adi langsung mengangguk.

“Saya akan menjemput Bu Linda dan Kirana besok.”

Erlan tampak puas. Ia kembali menatap dokumen di depannya.

“Kalian bisa kembali bekerja.”

Adi dan Rama saling berpandangan, lalu mengangguk.

“Baik, Pak.”

Mereka berdua keluar dari ruangan dengan langkah tenang, meskipun begitu pintu tertutup, ekspresi mereka langsung berubah.

Rama menghela napas panjang.

“Bos kita benar-benar berubah,” katanya pelan.

Adi hanya mengangguk.

Di lorong kantor yang sepi, Rama menoleh ke arah Adi.

“Kamu punya kontak Bu Linda?”

Adi menggeleng.

“Tidak langsung.”

Rama mengangkat alis.

“Lalu bagaimana kita bisa… menggunakan situasi ini?”

Adi tersenyum tipis.

“Aku bisa mendapatkannya dari Anita.”

Rama terlihat bingung.

“Anita?”

“Sahabat Bu Linda,” jawab Adi santai.

Rama menyipitkan mata, memperhatikan ekspresi Adi.

“Kamu terlihat terlalu santai membicarakan ini,” katanya. “Ada sesuatu?”

Adi hanya tersenyum, tidak langsung menjawab.

“Kamu sedang menjalin hubungan dengan dia?” tanya Rama langsung.

Adi tertawa kecil.

“Tidak seperti itu.”

“Lalu?”

“Perusahaan akan mengontraknya sebagai affiliate,” jelas Adi. “Dia akan membantu mempromosikan produk lewat siaran langsungnya.”

Rama mengangguk pelan, mulai mengerti.

“Jadi kamu mendekatinya karena pekerjaan?”

Adi mengangkat bahu.

“Sebagian.”

“Sebagian?”

Adi tersenyum lagi.

“Dia orang yang menyenangkan untuk diajak bicara.”

Rama menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

“Padahal pekerjaanmu saja sudah cukup membuat orang tidak punya kehidupan sosial.”

Adi tertawa pelan.

“Itu memang masalahnya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap ke depan.

“Aku bahkan kesulitan mencari waktu untuk sekadar mengenal seseorang sejak bekerja dengan Pak Erlan.”

Rama mendengus pelan.

“Sekarang kamu punya alasan.”

“Dan kesempatan,” tambah Adi.

Rama terlihat sedikit kesal. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

“Beruntung sekali kamu.”

Adi menoleh.

“Kenapa?”

Rama menghela napas panjang.

“Aku akan dijodohkan.”

Adi terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan ekspresi netral.

“Pilihan orang tua?”

Rama mengangguk.

“Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya.”

Adi berpikir sejenak, lalu berkata,

“Itu tidak selalu buruk.”

Rama langsung menoleh tajam.

“Kalau tidak buruk, bagaimana kalau kamu saja yang dijodohkan?”

Adi tersenyum santai.

“Aku tidak keberatan, kalau memang orangnya cocok.”

Rama mendecak pelan.

“Kamu terlalu santai.”

Adi tertawa kecil.

“Mungkin.”

Ia melangkah lebih dulu, lalu menoleh sedikit ke arah Rama.

“Lagipula,” katanya ringan, “aku sudah punya seseorang yang sedang aku incar.”

Rama berhenti sejenak.

“Serius?”

Adi hanya tersenyum tanpa menjawab lebih jauh, lalu melanjutkan langkahnya.

Rama menggeleng pelan, tetapi tidak bisa menahan sedikit rasa penasaran.

Sementara itu, di dalam ruangannya, Erlan masih duduk diam di balik mejanya.

Dokumen di depannya terbuka, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.

Bayangan Linda dan Kirana terus muncul di benaknya.

Ia menghela napas panjang, lalu menutup matanya sejenak.

“Tanggung jawab…” gumamnya pelan.

Tangannya perlahan mengepal.

Jika itu memang satu-satunya cara agar ia bisa tetap bersama mereka…

Maka ia tidak punya pilihan selain bertahan.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!