NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5—Laporan Ke Malik Dan Gadis Kembang Desa

Sementara itu di mansion yang tampak megah, seorang pria berjas elegan dan tampak megah sedang menikmati makanan mewah yang dihidangkan sebelum dua orang preman bawahan setia dia datang.

“Bos Malik!”

Malik tidak bergeming. Ia masih tenang memotong sepotong daging wagyu medium rare di atas piring porselennya. Aroma truffle oil menyeruak di ruangan itu, sangat kontras dengan bau keringat dan ketakutan yang dibawa oleh Gito dan Dullah yang baru saja tiba.

"Kalian mengganggu selera makan saya," ucap Malik datar tanpa menoleh.

Gito, dengan tangan yang terbungkus kain lusuh dan wajah yang bengkak sebelah, jatuh tersungkur di atas lantai marmer. "M-maaf, Bos. Tapi ini darurat. Lahan di Sukacita... bocah itu... Aris..."

Malik meletakkan pisaunya perlahan. Bunyi denting logam di atas piring terasa sangat nyaring di kesunyian ruangan. Ia menyeka bibirnya dengan serbet kain sutra sebelum akhirnya menoleh. Matanya yang dingin menatap kondisi kedua anak buahnya yang hancur.

"Aris? Pemuda yang tempo hari kalian hajar sampai pingsan itu?" Malik sedikit menaikkan alisnya. "Bagaimana bisa satu tikus kecil membuat dua anjing penjaga saya pulang dalam keadaan cacat seperti ini?"

"Dia bukan manusia lagi, Bos!" sela Dullah dengan suara gemetar. "Dia punya semacam... ilmu hitam atau teknologi aneh. Semalam lahan itu penuh sampah, tapi subuh tadi... separuhnya bersih! Tanahnya jadi subur, dan dia memukul kami seolah-olah kami ini cuma balita!"

Malik terdiam sejenak. Ia bukan tipe pria yang percaya takhayul. “Sangat tidak masuk akal, jangan mengada-ngada.”

“Kami serius!”

"Terus dia bilang apa?" tanya Malik tenang.

"Dia bilang... tanah itu bukan lagi tempat sampah. Dia nantangin kita Bos Malik," bisik Gito takut-takut. "Dia bilang, semua sampah yang dikirim, bakal dibalikin lewat muka kami."

Malik tiba-tiba tertawa. Tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. "Menarik. Sangat menarik. Idealisme anak muda memang selalu menghibur sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa uang bisa membeli hukum, dan kuasa bisa menghapus nama seseorang dari kartu keluarga. Mereka pikir sedang melawan siapa? Terus bagaimana kabar desa itu?”

“Kudengar sekarang mereka sedang gotong royong, kayaknya mereka mulai berkumpul dan bekerja sama buat melawan kita bos!”

“Satu demi satu sampah berkumpul. Gak guna banget, di negara gini kekuasan dan uang bisa membeli segalanya. Modal uang papa juga kelar!”

Malik bangkit dari kursinya, merapikan jasnya yang tanpa noda. Ia berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.

***

Di lahan satu hektar, suasana justru tampak kontras. Semangat gotong royong warga Sukacita benar-benar luar biasa. Aris tidak menyangka bahwa harapan bisa menjadi bahan bakar yang lebih kuat daripada bensin.

Berkat kerjasama antar warga 50% sampah sudah hilang hampir separuhnya, deretan sampah yang berserakan tertata rapi oleh pastik yang masing-masing plastik berisi 1 kg gram. Total sudah adalah tiga puluh plastik. Artinya 30 kg.

Namun para warga juga menyadari satu hal setelah mengambil sampah.

“Apakah lahan ini memang sebersih ini?”

“Aneh sekali dengan populasi sampah sebanyak ini bagaimana bisa tanah ini masih subur begini.”

“Ehem,” aris berdeham. “Karena ini adalah lahan kakek … lahan dari surga, jadi wajar dong.”

Beberapa orang cuma terkekeh menganggap itu sebagai guyonan anak muda.

Hari sudah semakin sore, Aris memahami bahwa semangat para warga juga mulai menurun karena energi yang menurun. Mereka kebanyakan pak tua, dan beberaga gadis manis muda.

“Oke kurasa cukup sampai sini saja, bapak-bapak, ibu-ibu, dan rekan rekan saya.

“Kalian sudah bekerja keras hari ini. Terima kasih banyak karena sudah mau percaya sama saya dan keluarga saya,” ucap Aris sambil membungkuk hormat.

​Para warga mengusap keringat, wajah mereka yang tadinya kusam karena keputusasaan kini tampak lebih cerah. Wak Darmo menepuk bahu Aris kuat-kuat. “Kami yang terima kasih, Ris. Kamu sudah kasih kami alasan buat berani lagi.”

​ Setelah para warga membubarkan diri dengan janji akan kembali besok pagi, Aris segera beralih ke tumpukan plastik yang sudah tertata rapi. Tangannya gemetar karena semangat yang meluap.

100 kg sudah terkumpul 50 kg dengan bantuan gotong royong bahkan misi yang harusnya selesai dalam 7 hari dipangkas waktunya begitu cepat, Aris senyum-senyum sendiri dengan 50 kg sampah dia bisa punya ciaran tingkat dewa sebanyak 50 ml, saat dia ingin meraih semua sampah itu.

Seseorang tiba-tiba mengulurkan tangan, memberikan sebuah botol minuman mineral. Itu seorang anak gadis. Kembang desa dari sukacita, anak pak Wak Darmo sekaligus teman masa ciliknya.

“Ini, diminum dulu, Ris. Kamu dari tadi belum istirahat,” suara tu lembut memecah keheningan sore.

Aris menoleh, namanya Sari. Gadis, gadis yang dulu sering bermain layangan saat masa ciliknya, gadis yang sering diajak main untuk menjajah sawah dan main kemana-mana, selepas dia mengadu nasib di pusat kota. Mereka jarang komunikasi.

Dan sekarang sari tumbuh jadi gadis cantik, bak kembang desa. Tubuhnya mungil, wajah dia manis dan seputih susu. Rambutnya dikucir kuda, dia pakai kebaya sederhana bermotif bunga yang menampilkan keangunan alami ala gadis desa.

Matanya bulat dan bening menatap Aris dengan binar penuh kekaguman, rasa rindu, sekaligus khawatir.

“Makasih, Sari. Lama gak jumpa.”

“Masih ingat ternyata? Kukira setelah ke pusat kota kamu lupa sama aku.”

“mana mungkin aku lupa sama gadis cantik kayak kau.”

Sari merona malu, efek dari cahaya sore menambahkan kemolekkan si gadis.

“Dih, efek ke kota buat kamu jadi suka gombal!” Serunya menepuk pundak Aris.

“Dan maaf, ya. Aku gak bisa bantu lahan kakekmu saat selama kamu pergi. Aku sama Emi sudah berjuang semampu, tapi para preman yag bringas terus bertambah dan backingan di bos malik itu gak main-main, maaf ya.”

Aris menatap Sari dengan lembut, sorot matanya melembut, kontras dengan ketegasan yang ia tunjukkan pada warga tadi. Ia melihat guratan rasa bersalah di wajah manis gadis itu, sebuah beban yang seharusnya tidak dipikul oleh pundak mungilnya.

Jadi selama dia pergi ke pusat kota dan mengadu nasib gadis teman masa ciliknya sedang mempertahankan tanah miliknya. Dia merasa terharu dan tersanjung.

​ “Gak perlu minta maaf, Sari. Kamu sama Emi sudah hebat bisa bertahan sampai sejauh ini,” Aris tersenyum tulus, jemarinya tanpa sadar menyentuh botol mineral dingin pemberian Sari. “Sekarang aku sudah pulang. Biar aku yang selesaikan sisanya. Kalian cukup berdiri di belakangku saja.”

​Sari tertegun, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar nada protektif dalam suara Aris.

Namun sebelum, dia membalas. Emilia adiknya sudah kembali terlebih dahulu disusul oleh ibunya di belakang.

“Lihat bu, kak Aris seperti rumor beneran memukul mundur para preman itu!”

Ibunya, Bu Ratna, berdiri mematung di pinggir jalan setapak. Matanya menyapu hamparan tanah cokelat yang kini terlihat lembap dan subur, sangat jauh berbeda dengan lautan plastik hitam yang menyiksa mata mereka selama bertahun-tahun.

"Aris... ini... bagaimana mungkin?" suara Bu Ratna bergetar. Ia menutup mulut dengan tangannya, air mata mulai menggenang.

 Sebagai anak dari seorang petani yang dulu menggarap lahan ini, dia tahu betul bau tanah yang sehat. Dan bau ini—bau tanah yang baru saja dimurnikan Aris—terasa bahkan lebih hidup daripada tanah terbaik yang pernah ia sentuh.

Emilia, yang berdiri di samping ibunya, langsung berlari kecil menuju area yang sudah bersih. Ia berjongkok, menyentuh tanah cokelat itu dengan ujung jarinya.

 "Kak! Ini gila! Padahal malam tadi kita cuma beresin 10 kg dan sedikit memangkas gunungan di sana, tapi kenapa sekarang rasanya... satu hektar ini kayak mau hidup lagi? Kakak ngapain aja?”

Aris gak menjawab mana bisa dia bilang ‘ini efek samping dari cairan dewa’ dia bisa dikira gila dan mana ada yang percaya gituan!

Emi mendongak, matanya yang bulat kemudian menangkap sosok Sari yang berdiri sangat dekat dengan abangnya. Sebuah seringai usil muncul di wajah sang adik.

"Ehem! Wah, Kak Sari ternyata sudah di sini duluan ya?" goda Emi sambil mengerlingkan mata.

 "Pantas saja Kak Aris semangat banget bersih-bersihnya, ternyata ada asupan mineral dari kembang desa."

Sari kembali merona hebat, lebih merah dari cahaya senja di ufuk barat. "E-Emi! Apaan sih, ini cuma kasih minum karena Aris kelihatan capek!"

"Heleh, masa cuma kasih minum sampai tatap-tatapan begitu?" Emi tertawa kecil, membuat suasana yang tadinya tegang karena kerja fisik menjadi sedikit lebih rileks. Namun, tawa Emi terhenti saat ia melihat tumpukan plastik yang tertata sangat rapi di dekat Aris.

 "Tapi kak, serius... aku gak nyangka warga mau bantu. Berita kamu ngehajar Gito sama Dullah beneran jadi topik hangat di pasar tadi!"

Bu Ratna mendekat, mengusap bahu Aris dengan penuh kasih. "Ibu bangga kamu pulang, Ris. Tapi Ibu juga takut... Malik bukan orang sembarangan.."

Aris menggenggam tangan ibunya, memberikan rasa tenang yang kuat. "Jangan takut, Bu. Aris bakal lakuin sesuatu, ini tanah kakek gak bakal dibiarin jatuh jadi lahan sampah.”

Ibu Aris terkejut dan berbinar, melihat satu-satunya anak lelaki semata wayangnya dia yakin satu hal. Dia adalah satu-satunya harapan!

1
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
ラマSkuy
kembali jadi warga biasa, kaya pria so.....
ラマSkuy: maaf gak dilanjut kata katanya, ada tukang bakso bawa HT jadi ngeri 🤣🤣🤣
total 2 replies
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
👻🤣👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!